PELAJARAN HIDUP DARI BADUY, SUKU ASLI KANEKES

Banten, 13-14 September 2014

Matahari yang terik bersinar memberi panas yang sedikit berlebihan pada tubuh. Angin yang bertiup pun ikut menyemarakkan panas hari ini. Tiupan semilir bercampur debu terpaksa kunikmati demi menyejukkan tubuh yang sudah memanas ini. Rasa lapar sudah tak kuhiraukan, aku hanya membutuhkan air untuk hausku. Deretan warung yang berjajar seolah tak memberi solusi apapun untuk siang panasku ini. Aku kini berada di stasiun Rangkasbitung, Banten. Inilah awal perjalananku bersama rombongan pecinta petualangan menuju desa dimana suku Baduy tinggal.

IMG_5609 

Suku Baduy adalah sebuah sub-suku dari suku Sunda yang sejak dahulu sudah mendiami wilayah Jawa Barat, tepatnya di daerah Kanekes, Lebak, Banten. Kini, setelah Banten menjadi propinsi tersendiri, wilayah tinggal suku Baduy pun menjadi bagian dari Banten. Sebenarnya, nama Baduy bukanlah sebutan asli suku ini. Mereka lebih senang disebut sebagai urang Kanekes atau orang asli Kenekes dalam bahasa Indonesia, sesuai nama tempat mereka bermukim. Sedangkan, nama Baduy sendiri adalah sebutan para peneliti Belanda yang pernah mengeksplorasi suku ini. Mereka menyamakan suku ini dengan suku Badawi Arab yang juga mempunyai ciri hidup nomaden seperti orang-orang dari Kanekes ini. Akhirnya sebutan ini pun meluas dan orang asli Kanekes pun dikenal sebagai suku Baduy.

Perjalanan menuju Kanekes tidaklah sebentar. Aku berangkat jam 08.00 dari stasiun Tanah Abang menuju Rangkasbitung dan tiba sekitar jam 10.15. Setelah sampai di Rangkasbitung, aku dan rombongan istirahat 1 jam kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum (mobil Elf) menuju kampung pertama Baduy di wilayah Nangrang selama kurang lebih 2 jam. Sampai di Kampung Nangrang sekitar jam 13.15 dan beberapa orang dari suku Baduy Dalam pun sudah menyambut rombongan ini. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar untuk mempersiapkan perjalanan menuju Baduy dalam dengan berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam.

Perlu diketahui, Kampung Nangrang adalah sebuah perkampungan yang dimiliki oleh suku Baduy luar. Masyarakat Baduy memang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu, Tangtu, Panamping, dan Dangka. Tangtu adalah suku Baduy yang biasa disebut sebagai Baduy Dalam dan mereka terkenal masih memegang teguh berbagai aturan adat dan tradisi nenek moyang mereka secara kuat. Mereka pun membatasi pergaulan mereka dengan dunia modern. Berikutnya adalah Panamping, mereka biasa dikenal sebagai Baduy Luar yang lebih terbuka pada dunia modern dan kehidupan di luar Baduy. Sedangkan kelompok Dangka adalah suku Baduy yang memang benar-benar berada di luar Kanekes dan biasanya mereka sudah tidak terikat oleh aturan-aturan adat Baduy.

Kami siap untuk berjalan kaki menuju Kampung Cibeo, sebuah kampung Baduy Dalam yang seringkali dikunjungi para wisatawan. Sebenarnya, ada 3 Kampung Baduy Dalam, yaitu Cibeo, Cikeusik, dan Cikertawana. Namun, yang paling sering dikunjungi oleh orang luar adalah Cibeo. Perjalanan pun dimulai, aku menjejakkan kakiku di tanah merah dan berbatu dengan kontur yang berbukit-bukit. Kondisi wilayah ini terkesan gersang dan panas, tidak ada pohon besar dan rimbun layaknya hutan tropis pada umumnya. Namun, semangatku tidak akan melemah hanya karena panas terik di bukit-bukit gersang ini. Hingga akhirnya aku melihat sebuah kumpulan bangunan seperti rumah-rumah kecil tanpa penghuni. Aku pikir ini adalah sebuah kampung hingga aku sadar rumah-rumah ini berbentuk rumah panggung kecil tanpa pintu masuk yang besar. Aku tanya beberapa orang Baduy Dalam yang mendampingi perjalanan kami tentang apa sebenarnya bangunan-bangunan ini. Ternyata ini adalah kompleks lumbung padi yang dimiliki oleh suku Baduy. Biasanya, setiap kampung memiliki satu hingga tiga kompleks lumbung padi untuk menyimpan hasil pertanian mereka.

IMG_5625

Suku Baduy, baik luar maupun dalam dikenal sebagai suku yang mempunyai mata pencaharian bertani. Mereka membuka ladang dengan membakarnya, bercocok tanam di area tersebut dan setelah panen biasanya mereka akan berpindah tempat mencari lokasi lainnya. Mereka umumnya menanam ubi, pisang, sayur-sayuran, bahkan padi. Uniknya, padi yang biasa kita kenal ditanam di sawah dengan pengairan cukup dapat mereka tanam di ladang gersang tanpa pengairan memadai. Namun, mereka menjelaskan bahwa untuk menanm padi ada masa tanamnya, terutama pada saat musim hujan. Sebuah kearifan lokal yang kupelajari dari sistem pertanian Baduy adalah bahwa mereka tidak akan meninggalkan area ladang yang mereka gunakan bertani dalam keadaan tandus. Setelah digunakan mereka akan menanam kembali ladang tersebut dengan pepohonan agar kembali seperti semula. Setelah mereka yakin area tersebut pulih, barulah mereka pindah mencari area ladang lainnya. Hal ini terkait dengan kepercayaan nenek moyang mereka yang sangat mengutamakan kondisi tanpa perubahan dalam hal apapun. Mereka juga tidak akan merubah kontur tanah untuk berladang, baik dengan bajak atau sistem terasering. Selanjutnya, hasil dari kepercayaan mereka ini akan kita temui di setiap sisi kehidupan suku Baduy lainnya.

Perjalanan masih terus kutempuh dalam situasi panas dan gersang. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan makanan yang kumakan ketika di stasiun pun sudah tidak terasa lagi manfaatnya. Aku sudah lapar lagi. Aku bertahan dengan air minum yang kubawa sajak berangkat dan terus kujaga secara irit agar cukup sampai tiba di Kampung Cibeo. Bukit demi bukit kulewati hingga rombongan kami sampai di sebuah desa yang baru dibangun. Rombongan kami pun beristirahat sejenak di desa ini. Menurut pemuda Baduy yang mendampingi rombongan kami, desa ini baru dibangun sebagai konsekuensi dari hidup nomaden yang mereka jalani.

IMG_5532

Suku Baduy memiliki tradisi hidup berpindah-pindah. Hal ini bukan disebabkan oleh sekedar keinginan berpindah namun lebih karena alasan jumlah penduduk sebuah kampung. Mereka tidak berpindah secara terpisah, namun satu kampung akan pindah setelah kepala kampung atau yang disebut Pu’un memutuskan pindah. Jumlah penduduk dalam satu kampung tidaklah tetap, setiap tahun tentu akan bertambah. Layaknya masyarakat Indonesia pada umumnya, angka kelahiran lebih tinggi daripada angka kematian di Baduy. Hal ini menyebabkan ketika kampung mereka sudah tidak cukup lagi menampung warganya, kampung akan pindah ke wilayah yang lebih luas tampungannya. Kondisi ini akan terus berlangsung sesuai arahan dari pu’un atau kepala kampung.

IMG_5543

Rombongan kami akhirnya tiba di sebuah jembatan unik yang terbuat dari bambu. Jembatan ini unik karena pondasinya yang tidak mengandalkan tanah, namun terlihat menggantung di atas empat tonggak bambu besar yang juga terikat pada beberapa pohon di sekitarnya. Bangunan ini pun masih dipengaruhi oleh tradisi kepercayaan Baduy yang tidak akan pernah merubah alam sekitar mereka. Tidak lama setelah kami sampai, seorang Baduy pendamping kami mengatakan bahwa setelah melewati jembatan ini kami akan memasuki wilayah Baduy Dalam dan ini berarti seluruh peralatan yang berhubungan dengan teknologi seperti Pad, Handphone, bahkan kamera foto sudah tidak boleh digunakan lagi. Kami hanya diperbolehkan menggunakan senter dan jam tangan sebagai penunjuk waktu.

Masyarakat Baduy Dalam memang sangat tabu dengan teknologi. Hal ini juga terkait dengan kepercayaan mereka terhadap pengaruh luar. Sistem adat Baduy Dalam memang tidak memperbolehkan mereka menggunakan berbagai alat-alat modern, bahkan sabun dan odol pun tidak dapat digunakan ketika aku mandi dalam wilayah Baduy Dalam. Ini adalah aturan wilayah yang memang sudah mereka pertahankan sejak nenek moyang mereka, apabila melanggarnya tentu ada hukuman yang dapat dijatuhkan. Biasanya hukuman tersebut berupa sangsi sosial, namun dalam skala berat pelanggar akan diusir dari Kampung Baduy Dalam menuju Baduy Luar atau daerah lainnya. Beberapa informasi yang kuperoleh menyebutkan bahwa kepercayaan ini berhubungan juga dengan asal-usul penduduk Kanekes yang merupakan bagian dari kerajaan Pajajaran di masa lalu. Raja telah menjadikan wilayah Kenekes sebagai tempat suci dan mengharuskan setiap penduduk (sekarang adalah masyarakat Baduy Dalam) untuk menjaga kesucian tempat tersebut dari pengaruh luar, asing, dan modernitas. Banyak versi yang menjelaskan tentang isoasi hidup yang diberlakukan di Baduy Dalam, namun secara pribadi aku melihat ini sebagai sebuah eksistensi keberadaan suku mereka. Ada unsur harga diri di dalam tradisi ini, dimana mereka berpegang teguh pada adat sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap pengaruh luar yang mereka anggap tidak lebih baik dari gaya hidup suku Baduy.

IMG_5563

Hanya sekitar 15 menit setelah melewati jembatan bambu, aku dan rombongan pun sampai di Kampung Cibeo, Baduy Dalam. Situasi yang asri, damai, tentram pun segera kami rasakan setibanya di tempat ini. Kegersangan sama sekali tidak kurasakan di Kampung yang dikelilingi oleh pepohonan rindang ini. Udara yang semula panas dan gerah sudah tidak lagi kurasakan, berganti sejuk, nyaman dan teduh. Suara burung-burung kecil yang bernyanyi pun jelas kudengar, mereka seakan terbang berkeliling menyambut rombongan ini. Beberapa warga desa pun menyambut kami, semuanya menyapa kami dan tersenyum menyiratkan ucapan selamat datang. Keramahan suku Baduy memang sudah banyak dikenal, namun satu hal yang berbeda adalah keikhlasan yang muncul dalam senyuman mereka.

Suku Baduy Dalam adalah kelompok Tangtu yang masih memegang teguh tradisi serta adat nenek moyang mereka hingga saat ini. Mereka cukup mudah dikenali dari pakaian mereka yang berwarna biru tua atau putih dengan celana pendek dan ikat kepala putih untuk pria serta kain “kemben” berwarna biru tua untuk para wanita. Kulit wajah mereka terlihat bersih sekali, baik pria maupun wanitanya. Keceriaan tampak terpancar dari wajah mereka, tidak seperti manusia kota yang berwajah penuh masalah dan sulit tersenyum. Orang-orang Kanekes ini sekali lagi mengajariku untuk hidup bersyukur dengan apapun yang sudah diberikan, tidak kurang dan tidak berlebihan. Mungkin ini yang membuat mereka selalu terlihat bahagia menjalani hidup, walaupun sangat jauh dari ukuran hidup layak di jaman modern ini.

Satu hal menarik khas warga Baduy Dalam adalah mereka tidak pernah menggunakan alas kaki ketika berjalan kemana pun. Bahkan ketika mereka bepergian hingga ke Jakarta atau Bandung dengan berjalan kaki, mereka tidak pernah menggunakan alas kaki. Menurut mereka, alas kaki adalah produk modern dan hasil karya cipta pemikiran manusia. Kembali ke kepercayaan mereka, Sang Pencipta sudah menciptakan manusia dengan segala perangkat yang cukup, termasuk kaki dan telapaknya. Bagi mereka ini sudah sangat cukup dan tidak perlu ditambah lagi dengan alas kaki seperti sandal atau sepatu. Setelah kupikir-pikir, tradisi mereka ini ada benarnya karena berjalan tanpa alas kaki akan membuat mereka lebih sehat. Seperti halnya refleksi, kaki mereka setiap hari dihadapkan dengan medan yang terjal dan ekstrim, tentu saja ini dalam waktu yang lama akan membuat mereka kebal terhadap berbagai kotoran yang membahayakan tubuh.

Tidak lama setelah sampai di Kampung Cibeo yang berpenduduk sekitar 500 jiwa, rombongan kami pun diarahkan ke rumah-rumah warga tempat kami akan menginap. Rombongan kami yang terdiri dari pria dan wanita pun dipisah ke rumah-rumah berbeda. Hal ini dilakukan karena menurut adat setempat, kaum wanita dan pria yang bukan suami-istri dilarang keras untuk tinggal satu rumah. Aku pun diarahkan menuju sebuah rumah yang berada tepat di tengah Kampung Cibeo. Rumah ini milik seorang Bapak yang ingin disapa sebagai Ayah Ardi. Salah seorang anaknya yang bernama Armani pun mengajakku berbincang sesaat setelah aku menaruh barang-barangku ke dalam rumah.

IMG_5504

Rumah Baduy sebenarnya adalah rumah yang sangat sederhana namun cukup besar ukurannya. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan rumah yang kita kenal pada umumnya, terdiri dari pintu, jendela, lantai dan atap. Bangunannya seperti rumah panggung dengan ukuran sekitar 10×15 meter persegi. Bagian dalam rumah ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah yang paling besar dan berfungsi sebagai ruang menerima tamu, memasak dan makan. Ruangan ini menghampar begitu saja tanpa sekat apapun dan beralaskan lantai dari bambu. Ruangan kedua berukuran lebih kecil dan dibatasi sekat dinding kayu. Sekilas ruangan ini seperti kamar dan bersifat lebih pribadi. Ruangan ini adalah rumah yang sebenarnya, tempat tinggal sang pemilik rumah beserta keluarganya. Ruangan terakhir adalah mezzanin yang terletak di bagian atap rumah Baduy. Bagian ini berfungsi sebagai gudang dan tempat menyimpan benda-benda rumah tangga seperti alat kebersihan atau alat-alat memasak. Rumah Baduy sepenuhnya terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, atap daun kelapa kering, dan dinding anyaman bambu atau yang kita kenal sebagai “gedhek”. Namun, hal yang paling unik dari rumah Baduy adalah cara membangunnya yang tidak menggunakan paku satu pun. Semua mereka kerjakan dengan sistem knockdown dan saling mengkaitkan antar kayu pondasi rumah. Lagi-lagi hal ini terkait dengan sistem kepercayaan mereka yang tidak percaya pada produk-produk buatan manusia modern.

Aku banyak berbincang dengan Armani, anak Ayah Ardi, pemilik rumah yang kutinggali. Dia bercerita banyak tentang kehidupan Baduy dan segala aturan yang mereka miliki. Tidak hanya itu, Armani juga bercerita tentang pengalamannya baru-baru ini bepergian ke Jakarta beserta Ayah dan kedua abangnya. Mereka diajak jalan-jalan oleh seorang kawan mereka di Jakarta ke Central Park, salah satu mall besar di wilayah Jakarta Barat. Mereka sangat senang, bahkan mereka sempat nonton bioskop di Central Park. Hal ini membuktikan bahwa di balik isolasi yang mereka miliki mereka juga membuka diri terhadap dunia luar ketika mereka tidak berada di tanah Kanekes. Aku pun melanjutkan pembicaraan dengan bertanya apakah Armani sudah menikah, ternyata Armani masih berusia 17 tahun dan belum menikah. Selanjutnya, Armani pun menjelaskan sistem pernikahan yang ada di Baduy.

Sistem pernikahan yang ada di Baduy adalah pernikahan yang didasarkan pada perjodohan. Jadi, orang tua akan memilih jodoh untuk anaknya dan mengenalkannya. Orangtua mereka akan mengadakan pengenalan selama satu tahun dan kemudian berlanjut ke acara lamaran. Uniknya, jodoh mereka harus mempunyai hubungan keluarga sebagai sepupu. Sekilas mirip sistem pariban di Batak, namun lingkup Baduy memang lebih sempit karena kedua orangtua pasangan bisa saja kakak-beradik kandung. Suku Baduy tidak mengijinkan pacaran, bila salah satu ada yang tidak setuju, maka perjodohan dapat dibatalkan namun harus sebelum lamaran dilaksanakan. Tradisi ini sudah dilakukan selama beratus-ratus tahun dan tidak dapat mereka hindari. Armani pun mengatakan bahwa ia hanya pasrah dengan keadaan.

Tidak terasa aku dan Armani berbincang, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Beberapa teman dari rombongan kami pun mengajakku untuk mandi di sungai, tentunya tanpa sabun, sampo, atau odol. Suku Baduy memang tidak pernah menggunakan semua produk kimia ini, tapi hebatnya kulit mereka tampak bersih dan sehat. Aku pun beranjak ke sungai yang berada tepat di sisi Kampung. Aliran air yang tidak deras mengalir di sela-sela bebatuan. Air sungai ini pun tampak segar dan sangat tepat untuk melepas lelah seharian perjalanan di bawah terik matahari yang begitu panas. Aku pun melepas semua kain yang melekat di tubuh hingga tersisa celana dalam. Setelah itu, aku ceburkan diriku ke dalam sungai yang tidak dalam ini. Segarnya luar biasa, aku dan beberapa laki-laki di rombongan kami pun menikmati relaksasi khas pedesaan ini. Perlu diketahui, sungai ini adalah penunjang kehidupan Kampung Cibeo. Mereka mandi, buang air, sekaligus mengambil air untuk minum serta makan dari sungai ini. Namun, mereka sudah mengkavling-kavlingkan wilayah sungai sesuai kebutuhan mereka. Wilayah untuk mandi berada di tengah, dekat dengan jembatan kampung.  Wilayah untuk mengambil air berada paling atas yang memiliki air paling bersih, sedangkan untuk buang air berada di aliran terbawah dimana tidak akan ada yang mengambil air untuk minum disitu. Kampung Cibeo sangat bergantung pada keberadaan sungai ini, bahkan ada tempat khusus bagi Pu’un atau kepala kampung untuk mandi.

IMG_5607IMG_5570

Setelah kami mandi-mandi di sungai, kami pun kembali ke rumah tempat kami tinggal. Ternyata makan malam pun sudah siap dan kami pun berkumpul siap untuk makan malam. Sebelumnya, aku dan rombongan berterimakasih terhadap Ayah Ardi sebagai tuan rumah kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah serta makan malam. Kami banyak berbincang dan bertanya tentang seputar kehidupan suku Baduy. Hal yang paling menarik untuk kutanyakan adalah tentang kepercayaan dan adat mereka. Aku bertanya kenapa mereka sangat mengisolasi diri dari kehidupan modern dan begitu kuat mempertahankan adat-istiadat mereka, namun jawabannya semua sama bahwa memang itulah yang sudah diajarkan oleh orangtua dan leluhur mereka.

Walaupun masih pukul 20.00 tapi situasi sepertinya sudah sangat larut. Mungkin ini disebabkan oleh ketiadaan listrik dan alat-alat teknologi lainnya. Suku Baduy hanya mengandalkan api di oncor untuk penerangan sehingga suasana pun tampak begitu hening. Biasanya, pukul 21.00 Kampung sudah sangat sepi, semua sudah masuk ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Hanya ada beberapa warga kampung yang berkeliling menjaga keamanan kampung dan mereka laki-laki. Tidak ada hiburan televisi, komputer, atau telepon seperti yang biasa orang kota lakukan. Bagi mereka, pukul 21.00 sudah malam, waktunya tidur dan mereka akan kembali terbangun untuk beraktifitas pada pukul 04.00 dini hari. Kondisi ini tidak lazim bagiku yang sering begadang hingga larut, namun bila dipikirkan kembali, suku Baduy justru melakukan yang benar. Tuhan menciptakan malam sebagai waktu kita beristirahat dan siang untuk kita bekerja, kondisi tubuh kita pun dirancang demikian, namun manusia justru sering membalik-balik keadaan dan membuatnya sebagai sebuah kondisi yang tidak pada tempatnya lagi. Akhirnya, pelajaran hari ini ditutup dengan istirahatku dalam keheningan api oncor di suasana yang tenang, damai, dan tentram.

IMG_5595

Matahari membias di sela-sela dinding anyaman bambu, silaunya membuat mataku terpaksa membuka. Udara sejuk seperti merasuk ke tiap ruang pori-pori kulit, menyadarkanku dari tidur yang lelap. Aroma kopi tercium wangi dan sekali lagi aku terpaksa bangun dari mimpiku. Tanpa berpikir lagi, aku segera beranjak dari lantai bambu ini dan menyeduh kopi hitam seperti rombongan lainnya. Aku keluar rumah, menikmati indahnya matahari pagi sambil berpikir sempurnanya pagiku di Kampung Cibeo ini.

Aku dan rombongan berencana kembali pagi ini sekitar pukul 08.00. Kami harus berjalan sekitar 5 jam lagi dari Kampung CIbeo untuk mencapai Kampung Ciboleger, kampung yang menjadi pintu masuk kawasan suku Baduy. Setelah aku bersantai sejenak menikmati pagi yang sempurna ini, aku pun bersiap untuk pulang. Barang-barang sudah aku “packing” kembali seperti ketika berangkat. Tidak seperti beberapa rombongan lain yang mandi di sungai, pagi ini aku memutuskan untuk tidak mandi karena udara yang dingin. Terbayang seperti apa rasanya air sungai bercampur dengan udara pagi yang dingin ini. Sebelum berpamitan, aku dan rombongan menyempatkan diri untuk sarapan. Makanan pagi ini adalah ikan sarden, mie instan, abon, dan tentu saja nasi. Hal ini kami lakukan supaya tenaga kami pulih dan siap untuk melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Setelah sarapan, rombongan ini pun siap pulang. Kami berpamitan dengan seluruh warga Kampung Cibeo yang telah menerima kedatangan kami dan belajar banyak tentang kehidupan mereka.

Aku akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Waktu 5 jam yang diperkirakan belum ada apa-apanya dibanding kenyataan perjalanan yang harus kuhadapi. Kira-kira 3 gunung harus kulewati untuk mencapai Kampung Ciboleger. Jalanan ekstrim yang menanjak dan turunan yang curam pun kulewati bersama rombongan yang didominasi kaum perempuan ini. Suasana gersang dan panas pun kembali kutemui seperti halnya ketika berangkat. Matahari pagi yang bersahabat sudah tidak terasa lagi, berganti matahari yang ganas bersinar hingga masuk ke pori-pori kulit. Namun dengan berbekal coklat batangan dan sebotol air minum, aku tetap berjuang melewati perjalanan berat ini sambil merenungkan setiap pelajaran hidup yang kupelajari selama di wilayah Baduy Dalam.

Suku Baduy, khususnya masyarakat Baduy Dalam telah memberikan banyak sekali pelajaran hidup bagi orang kota yang terbiasa hidup ‘enak’ sepertiku. Sepintas, Suku Baduy memang terlihat serba terbatas, tanpa listrik, tidak ada hiburan, banyak aturan, makan seringnya sayuran, tidak ada gaya-gayaan, dan situasi terbatas lainnya. Namun, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang penuh rasa syukur. Dengan sistem kepercayaan yang mereka miliki, mereka percaya bahwa apa yang sudah mereka terima, itulah yang harus mereka gunakan untuk hidup. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak puas atas kehidupan yang mereka jalani. Walaupun menurutku ini semua adalah sebuah pertahanan eksistensi, namun kepatuhan suku Baduy terhadap nilai-nilai luhur kehidupan amat patut dicontoh. Semua yang kupelajari di Baduy adalah sebuah introspeksi atas segala kehidupan yang kujalani sebagai ‘orang kota’ yang katanya lebih modern dan beradab.

IMG_5594IMG_5532

Aku sampai di Ciboleger sekitar pukul 12.00, lebih cepat daripada perkiraan. Akhirnya, aku melihat kendaraan bermotor lagi dan kehidupan modern seperti sebelumnya. Aku pun langsung makan siang, karena perjalanan 4 jam cukup menguras tenagaku. Sambil bersantai, beberapa dari rombongan ini memutuskan untuk mandi…ya, mandi dengan menggunakan sabun dan sampo seperti biasanya. Sebagian lagi ada yang membeli oleh-oleh khas Baduy, seperti kerajinan gelang, gantungan kunci, ataupun madu hutan khas Baduy. Kami berangkat kembali pada pukul 13.00 dengan naik mobil elf menuju stasiun Rangkasbitung. Pukul 14.30 kereta menuju stasiun Tanah Abang sudah siap berangkat membawa aku dan rombongan kembali ke peradaban kota kami yang ternyata tak lebih baik dari peradaban suku Baduy. Pengalaman ini tidak akan kulupakan, menjadi sangat berharga ketika aku menyadari bahwa rasa syukur atas apa yang sudah kumiliki memang jauh lebih baik daripada rasa ingin memiliki hidup yang serba berkelimpahan.


@phosphone I baduy I 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s