SUKU DANI, TUAN RUMAH LEMBAH BALIEM

Seorang lelaki paruh baya berdiri tegak di tengah lapangan luas dengan gagahnya. Ia seperti menunggu sesuatu yang sepertinya tidak lama lagi akan terjadi. Tubuh yang kekar berkulit hitam legam begitu mencolok terlihat diantara rerumputan hijau. Pria ini berdiri tanpa sehelai kain pun melekat di tubuhnya. Ia hanya berhiaskan gelang-gelang kayu, sebuah penutup kepala, bulu-bulu burung dan sebuah benda berbentuk kerucut panjang yang menutupi kemaluannya. Wajah sang pria nampak tenang tetapi memancarkan sikap keras yang dimiliki pria tersebut. Sosok itu adalah sebuah penggambaran seorang prajurit suku Dani, Papua.

IMG_2303

Suku Dani merupakan suku asli Papua yang mendiami wilayah pegunungan tengah pulau Papua, Indonesia. Suku yang besar dan terkenal hingga mancanegara ini berasal dari lembah Baliem, sebuah lembah yang sangat luas di daerah pegunungan tengah, dengan ibukota Wamena. Warga suku Dani dikenal sangat menyukai peperangan dan berwatak keras. Namun demikian, suku yang masih hidup tradisional ini mempunyai jiwa yang lembut dan sangat mahir dalam bidang seni. Bahkan, keramahan seringkali terpancar di wajah mereka ketika pertama bertemu wisatawan dari luar Wamena. Mereka biasanya menyambut dengan teriakan khas mereka “wa…wa……wa…..wa…..”, yang memiliki arti damai sejahtera bagi kamu.

Berbagai hasil kesenian yang sangat unik banyak sekali dimiliki oleh suku yang mulai dikenal oleh para ilmuwan Eropa pada awal tahun 1900-an. Berbagai ukiran-ukiran kayu, tari-tarian, naynyian, bahkan pernak-pernik seperti gelang, kalung, atau tas Noken (sejenis tas yang dibuat dari tali akar tumbuhan yang dianyam) menjadi kerajinan primadona yang semakin mangangkat nama besar suku Dani. Walaupun hidup secara tradisional, namun suku ini sudah cukup cerdas untuk menjual barang-barang kesenian ini dengan harga yang tergolong mahal. Mereka mendapatkan pengetahuan ini dari wisatawan-wisatawan yang silih berganti datang ke Lembah Baliem.

Secara umum, warga suku Dani mempunyai matapencaharian bercocok tanam ubi dan sayur-sayuran. Kondisi cuaca Baliem yang sejuk membuat berbagai tanaman sayur akan tumbuh dengan subur di tanah sekitar pegunungan tengah. Ketika panen, para kaum wanita Suku Dani pun akan menjual hasil panennya ke pasar-pasar di kota Wamena. Selain bercocok tanam, bagi kaum pria, mereka lebih suka berburu hewan-hewan liar seperti rusa atau babi hutan untuk dijadikan bahan makanan mereka. Suku Dani juga hidup dari beternak babi karena khusus bagi sebagian besar daerah di Papua, harga seekor Babi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

IMG_2347

Hal unik lain dari keberadaan suku Dani adalah sistem kekerabatan yang dimiliki. Warga suku Dani memiliki sistem keluarga komunal, tidak seperti masyarakat Indonesia modern yang sistemnya keluarga inti dimana satu keluarga berisi ayah, ibu, dan anak saja. Dalam sistem keluarga komunal, keluarga suku Dani dibagi menjadi komunitas yang terdiri dari 8-10 orang dan tinggal dalam satu area rumah yang disebut Silimo bersama komunitas keluarga lain. Hal ini membuat dalam satu Silimo dapat berisi sekitar 30-40 orang. Beberapa Silimo yang digabungkan akan menjadi sebuah satu kesatuan Kampung yang merupakan anggota dari sebuah Klan. Pada akhirnya, klan-klan inilah yang merupakan kumpulan suku Dani dan tersebar luas di seluruh wilayah Lembah Baliem.

Kerumitan sistem kekerabatan ini pula lah yang menjadi alasan kuat mengapa Suku Dani menyukai peperangan. Banyaknya komunitas yang terbentuk membuat mereka jadi lebih agresif ketika kelompok, kampung, bahkan klan mereka merasa direndahkan oleh kelompok lainnya. Biasanya pemicu terjadinya perang adalah perebutan tanah, pencurian ternak, dan persaingan untuk mendapatkan perempuan. Bagi mereka, nyawa seperti tidak ada harganya ketika melakukan peperangan. Namun seiring perkembangan dunia modern, kini mereka sudah mengenal sistem ganti rugi uang untuk menyelesaikan masalah. Ganti rugi ini dapat mencapai milyaran rupiah. Nyawa melayang pun dapat dihindari dan perang hanya menjadi sebuah tradisi yang direkonstruksikan ketika saat-saat tertentu saja.

IMG_2425

Walaupun dalam beberapa aturan adat mereka mau untuk menyesuaikannya dengan aturan pemerintah modern yang berlaku, masih banyak pula tradisi mereka yang tetap mereka pertahankan hingga kini. Salah satunya adalah cara mereka berpakaian, mereka masih mempertahankan adat mereka yang tidak menggunakan kain sehelai pun. Untuk kaum pria hanya memakai Koteka, sejenis labu panjang yang digunakan untuk ‘membungkus’ kemaluan dan rok rumbai-rumbai dari akar-akar tumbuhan yang dipakai kaum wanita menutupi tubuh bagian bawah mereka. Selebihnya, Suku Dani lebih bangga bertelanjang dada dalam kehidupan sehari-hari mereka. Selain pakaian, tempat tinggal Honai (rumah khas Papua dengan atap jerami, berdinding kayu, dan berbentuk jamur) pun masih mereka pertahankan. Mereka juga lebih fasih berbahasa asli daripada bahasa Indonesia dalam komunikasi antar mereka sehari-hari.

IMG_2426

Di tengah kehidupan Suku Dani yang masih sangat tradisional, mereka memiliki nilai-nilai kehidupan yang luar biasa. Sikap penghormatan mereka terhadap alam patut kita acungi jempol. Mereka sangat menghormati lingkungan mereka dan tidak akan sekalipun mereka rusak hanya untuk kepentingan modernisasi. Suku Dani percaya bahwa ketika mereka menghormati alam, sebaliknya alam pun akan menghormati serta menghargai hidup mereka. Sikap inilah yang layak dijadikan teladan bagi orang-orang kota seperti kita yang sudah terlalu banyak menghirup racun modernisasi dan lupa akan pentingnya menjaga alam. Padahal, seperti halnya Suku Dani, hidup kita pun banyak sekali ditopang oleh lingkungan alam ini.


@phosphone I dani I 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s