Review: DRAGON BLADE



This is my first blog about movie review….okay, i’ll try…hehhee

Dragon Blade, sebuah karya layar lebar yang menurut gw cukup memberi kesegaran di tengah serangan film-film mainstream “barat” di awal tahun 2015.

Secara umum gw puas dengan interpretasi sang sutradara pada cerita yang ingin disampaikan. Ide ceritanya menarik dan konsep filmnya pun cukup menghibur (layaknya film-film jackie chan sebelumnya). Makna sejarah yang ingin disampaikan pun rapih tersampaikan di tiap narasi dan dialog para pemainnya. Soal tampilan gambar di film ini, gak perlu diragukan “kolosal” banget dan pemandangan padang pasir Jalur Sutera berhasil digambarkan dengan apik (baik secara digital maupun asli).

Terlepas dari benar ada atau tidaknya kota hilang “regvm”, pesan yang paling melekat di ingatan gw adalah di akhir film, dimana dua orang ilmuwan asia yang bertugas mencari kota hilang ini sepakat untuk tetap menyimpan rahasia kota tersebut walaupun mereka sudah menemukannya. Hal ini buat gw agak politis, dan bisa diterjemahkan sebagai bentuk perlawanan bangsa Asia terhadap dominasi negara-negara barat yang selalu ingin menguasai (sekalipun pada situs-situs sejarah Asia).

Kembali lagi ke isi film, menurut gw hal lain yang mencolok adalah sisi sejarah yang ditonjolkan. Entah benar atau tidak, sang penulis cerita tampak seperti ingin lebih menjelaskan situasi Jalur Sutera pada masa itu ketimbang konflik cerita yang dibangun di film. Memang keduanya disampaikan bersamaan, tapi sisi sejarah situasi Jalur Sutera lebih dominan teringat di benak gw setelah nonton film ini.

Yang terakhir dan ini merupakan kelemahan terbesar film yang katanya berbiaya sangat besar ini adalah pemilihan pemainnya. Gw gak ada masalah dengan Jackie chan yang kocak, John cusack yang heroik, atau Adrien Brody yang kejam dan dingin. Bahkan gw juga gak ada masalah dengan pemilihan pemain dari anggota boyband Asia seperti Vanness Wu atau Siwon. Masalah gw justru ada di pemilihan para pemain pembantu dan cameo-cameo dalam film seperti para budak pembangun Gerbang Angsa Liar, tentara-tentara romawi, dll. Mereka terlihat kaku seperti pemain film amatir yang main di film-film “murahan”. Mereka keliatan baca script banget dan ekspresinya pun terkesan dipaksakan (contohnya waktu ada adegan nyanyi-nyanyi bareng dan adegan saling olok antar bangsa di Gerbang Angsa). Sorry kalo kasar, tapi menurut gw untuk film epik kolosal sekelas Dragon Blade sangat disayangkan kalo pake pemain-pemain pendukung model ini. Ini “failed” terbesar yang gw rasa saat nonton film ini. Sayang, karena ekspektasi kesan megah (seperti film Troy atau 14 Blades) harus di”racun”in sama hal-hal nyampah macem cameo-cameo gagal ini.

Overall, gw apreciate banget sama Dragon Blade karena berani angkat tema yang gak terlalu populer dengan biaya yang besar. Dari skala 10, buat gw film ini punya nilai 7.5. Cukup untuk ngehibur hari-hari penat kalian yang pusing sama kerjaan. Hehehehe.

C u guys, keep enjoy your life.

Godbless!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s