Review: WHIPLASH


Hello guys,

Jujur, awal gw tertarik nonton film ini hanya karena dapet salah satu gelar di piala Oscar untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik. Gw gak ada ekspektasi lebih tentang film ini, layaknya film tentang musisi lainnya. Secara pribadi, film tentang musisi selalu menarik buat gw (secara gw musisi juga), tapi sering juga hasilnya mengecewakan dan gw malah tambah ngerasa film-film tentang musisi adalah “second class” movie. FYI, film tentang musisi yang terakhir gw tonton sebelum Whiplash adalah Begin Again, dan menurut gw film itu jd bagus karena unsur drama yang dibangun (bukan karena unsur musiknya). Sama juga kaya film Ray yang jadi keren karena cerita sejarah personal Ray sebagai artis musik kulit hitam buta yang kontroversial (bukan unsur musiknya). Sedangkan, ketika gw nonton film seperti August Rush yang nonjolin musiknya justru jadi kerasa kurang greget. So, gw punya kesimpulan awal bahwa film tentang musisi itu sepertinya dianggep “second class” di Hollywood.

Kesimpulan ini ada di kepala gw sampe akhirnya gw nonton film Whiplash. Awalnya gw terpancing sama tekanan parah yang diperankan oleh J.K Simmons, dia emang layak dapet oscar. Gw gak nyangka, nonton film musik bisa setegang nonton film thriller. Terakhir gw liat peran semacem ini baru di film Inglorious Bastards (Christoph Waltz) dan dia dapet oscar untuk perannya ini. Kembali ke J.K Simmons, awalnya memang yang terbayang di gw adalah peran dia di film Spiderman, tapi setelah liat keseluruhan perannya di Whiplash, gw angkat topi buat J.K Simmons.

Lepas dari alasan utama gw nonton Whiplash, gw salut sama visualisasi setiap detil di film ini. Gw bukan seorang drummer, tapi gambar-gambar yang ditampilkan bisa bikin gw ngerasain pegelnya, susahnya, capeknya dan pusingnya jadi seorang drummer dalam tekanan. Drummer bukan posisi dalam band yang populer untuk dijadikan peran dalam film musisi (biasanya vokalis, pianis, atau gitaris). Tapi Whiplash udah ngerubah pandangan ini, dan sekarang drummer pun sangat menarik untuk diangkat ke dalam film musik seperti ini. Semua ini bisa gw rasain berkat kualitas gambar dan detil gambar yang disajikan. Menurut gw, hampir semua gambar mendukung unsur drama yang dibangun. Keren!

Berikutnya adalah isi film yang “musisi” banget. Isi film ini berbobot dan menarik bukan karena unsur dramatis yang dibentuk, tapi karena unsur musikalitas yang disampaikan. Sepertinya si pembuat film ingin memyampaikan kalau musik Jazz yang berkualitas itu ada di dalam tiap detilnya. See, bukan unsur pacaran, broken home, atau kematian yang membuat film ini jadi menarik, melainkan unsur musik itu sendiri. Disamping itu, tekanan-tekanan dalam cerita semuanya berhubungan dengan musik sehingga gw bisa merasa bahwa jadi seorang musisi itu nggak selalu senang-senang, santai, mabok, atau pesta pora, tapi juga ada disiplin, keteguhan hati, prinsip dan tekanan yang bisa buat cowok pun keluar air mata. Seperti yang gw bilang di awal, bahkan gw nonton film musik serasa nonton thriller.

Dalam setiap kelebihan tentu ada kekurangan, dan menurut gw kekurangan Whiplash ada di ending yang menyisakan pertanyaan seperti apa akhir hubungan dari rivalitas Andrew dan Fletcher sang guru. Ya, mungkin ini hak prerogatif si pembuat film untuk “menggantungkan” cerita seperti ini, tapi buat gw untuk film yang udah keren dari awalnya seperti ini, sayang kalo harus ditutup tanpa konklusi.

Intinya, gw puas nonton Whiplash karena kecerdasan yang ada dalam film ini. Tidak mudah mengemas sebuah film tentang musisi dan musiknya sampai jadi menarik, apalagi posisi yang diperankan adalah seorang drummer yang tidak populer. Buat gw, skala 1-10, Whiplash punya angka 8. Keren!

Enjoy your life…

Godbless

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s