Review: NASI GORENG LEGENDA TAPI BIASA AJA

Ceritanya gini,malem mingguan kemarin gw muter-muter di wilayah Monas dan sekitarnya. Setelah nonton bioskop di Taman Ismail Marzuki, Cikini, perut kerasa laper banget. Akhirnya gw kepikiran untuk nyobain nasi goreng yang katanya paling terkenal se-Jakarta. Namanya Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Berbekal informasi nama besar dan menu andalan berbau kambing inilah, gw akhirnya menyambangi ikon kuliner Jakarta ini.

Sampai di Jalan Kebon Sirih, gak perlu khawatir kesasar. Parkiran mobil udah berderet panjang dan dimana ada titik palinh ramai, itulah tempat kuliner ini berada. Gw baru dapet parkiran sekitar 20 meter dari “TKP” dan jujur aja aroma kambing udah bisa gw cium sejak pertama buka pintu mobil. Aroma khas kambing berpadu dengan suasana yang terlihat masih ramai, padahal waktu udah lebih dari jam 12 malam. Nama besar nasi goreng ini bukan berarti membuat lapak berjualan mereka menjadi restoran besar. Nasi Goreng Kambing ini dijajakan di warung tenda yang berukuran sedang sekitar 2×10 meter di pinggiran sebuah gang kecil.

Nggak pake banyak eksplorasi, karena naga dalam perut udah kelaperan, gw pun langsung pesan dua porsi nasi goreng termasyur di Jakarta ini. Ketika pesan, satu hal yang paling “eye catching” dan khas banget adalah Nasi Goreng yang dimasak sekaligus dalam wajan super besar. Masak di wajan raksasa jadi epik karena gw merasa hal ini unik sekaligus terlihat “geli” dengan jumlah nasi yang banyak banget.



Tapi terlepas dari wajan ini, hal yang paling buat gw penasaran adalah rasa Nasi Goreng Kambing legendaris ini. Kesan pertama di aroma sih udah mantap, tempat dan ciri khas wajan raksasa juga udah “megang” banget. Akhirnya tanpa menunggu lebih dari 10 menit, Nasi Goreng Kambing pesenan gw pun jadi (karena masak nasi gorengnya “berjamaah” jadi cepet jadinya). Oia sebelumnya, pelayan warung yang semuanya laki-laki ini menaruh satu piring yang isinya timun dan potongan Kol, ini acar khas mereka yang nggak “biasa”. Nasi Goreng Kambing ini dihidangkan layaknya nasi goreng dorongan biasa, dengan pengaturan yang berantakan dan telor dadar pelengkapnya. Satu hal khas lain yang mencolok adalah 3 potongan daging kambing goreng yang melengkapi cara penyajian Nasi Goreng ini.

Nasi goreng siap! Sendokan pertama pun mengarah langsung ke dalam mulut yang sudah terbuka lebar. Perut ini seakan tidak sabar menanti masuknya makanan yang katanya jagoan Jakarta ini. Sendokan pertama sudah masuk dan berkesan BIASA!! Gw masih berpikir mungkin penyesuaian lidah gw aja. Sendokan kedua pun gw lancarkan dan hasilnya TAMBAH BIASA AJA!! Oke kali ini sendokan ketiga mungkin lebih memperjelas rasa Nasi Goreng legendaris ini. Sendokan ketiga masuk mulut, nasi goreng pun melewati lidah dan kerongkongan, perut pun memberi respon TAWAR DAN KURANG NIKMAT!!!

Tiga kali sendokan memberi kesan yang kurang baik mengenai rasa nasi goreng kambing ini. Tanpa bermaksud menjatuhkan ikon kuliner Jakarta ini, gw pun mulai mengkaji apa sebenarnya yang membuat rasa makanan ini jadi BIASA aja. Pertama, mungkin cara memasak Nasi Goreng ini yang “berjamaah” di wajan raksasa. Mungkin memasak dengan beberapa pesanan yang dijadikan satu memang sudah jadi ciri khas tukang nasi goreng. Tapi, dengan jumlah yang terlihat “geli” banyaknya ini bikin bumbu yang jadi kunci rasa kurang bercampur dengan baik. Bahkan, ada beberapa nasi yang masih terlihat putih karena belum tercampur bumbu dan kecap. 

Kedua, memang aroma khas kambing dan sedikit rasa nuansa nasi kebuli terasa di makanan ini, tetapi nggak berani dan terkesan “malu-malu”. Berkaitan dengan analisa pertama, seharusnya proporsi bumbu dipersiapkan dengan baik sehingga berbanding tepat dengan banyak nasi yang dimasak. Mengingat jumlah nasi yang dihabiskan hingga kira-kira 1-2 kuintal setiap malamnya, seharusnya bumbu pun dipersiapkan dalam jumlah banyak. Hal ini perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas rasa otentiknya. 

Ketiga, kemungkinan yang membuat rasa nasi goreng ini biasa aja adalah kurangnya improvisasi, riset dan perbandingan pada para pesaing nasi goreng lainnya di Jakarta. Nasi goreng adalah makanan malam yang banyak dijajakan di seluruh penjuru Jakarta. Menurut gw, udah banyak nasi goreng lain yang rasanya sama kayak nasi goreng kebon sirih ini, bahkan lebih enak dengan rasa yang nggak terlupakan. Beberapa diantaranya adalah nasi goreng PSJ di Universitas Indonesia, atau nasi goreng Golek yang rasanya tergolong unik, dan juga masih banyak lagi nasi-nasi goreng enak di Jakarta. Nah, sebagai salah satu kuliner legendaris di Jakarta uang namanya besar sejak lama, nggak ada salahnya berimprovisasi dan membuat perbandingan dengan nasi-nasi goreng lain. Kemudian, tanpa meninggalkan rasa khas otentik Nasi Goreng Kebon Sirih, improvisasi dilakukan supaya kuliner ini tetap dapat menjadi primadona di Jakarta.

Ini tiga hal yang jadi pemikiran gw ketika makan Nasi Goreng Kebon Sirih yang legendaris tapi rasanya BIASA. Sayang sebenernya, kalo makanan dengan resep warisan leluhur ini dibiarkan terus larut dalam popularitas dan meninggalkan kualitasnya. Belum lagi harga per porsi yang gak sebanding dengan kualitas rasa Nasi Gorengnya. Masa 1 porsi Rp 30.000? Kalo beli Nasi Goreng enak langganan gw di Depok bisa dapet 2 porsi. Mungkin ada beberapa dari kalian yang berpikir gw “lebay” karena hal sepele gini aja dipikirin banget. Guys, warisan kuliner buat gw bukan hal biasa. Kuliner ini adalah warisan, sehingga perlu dipertahankan dan diperjuangkan supaya bisa terus kadi warisan bagi generasi selanjutnya.

By the way, akhirnya makan gw pun gak habis. Makanan sisa dan terpaksa gw tinggal gitu aja. Perut emang kenyang, tapi kepuasan rasa nggak gw dapetin. Namun, bagaimanapun juga gw salut sama pemilik Nasi Goreng Kebon Sirih yang begitu legendaris ini. Buat kalian yang belum pernah nyobain, dateng aja ke warung tenda mereka di jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat. Mereka biasanya buka dari sore-sore jam 18.00 sampai larut malam. Tetep cintai kuliner Indonesia sebagai bagian warisan budaya Bangsa Indonesia.

God bless.

phosphone | Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih | Jakarta | 2015



Advertisements

4 thoughts on “Review: NASI GORENG LEGENDA TAPI BIASA AJA

  1. Sama… Yang jadi pertanyaan, “Kenapa sampai sekarang tetap ramai?” karena secara rasa sudah sangat biasa dan bahkan cenderung tidak berasa… Apa semua orang sudah terlalu terdoktrin dengan sebuah “nama besar”? atau memang lidah kita yang salah? #tanyakenapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s