MANUSIA CIPTA, RASA, DAN KARSA


Manusia dikaruniai banyak anugerah yang jauh lebih kompleks daripada makhluk hidup bumi lainnya. Tuhan memberikan ciri penting yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain dalam hal cipta, rasa, dan karsa. Namun, apakah ini serta merta akan selalu menjadi kelebihan manusia? Tampaknya tidak demikian…

Terkadang, ketika melihat ikan berinteraksi dengan sesamanya tanpa memikirkan perasaan itu rasanya tenang sekali. Burung-burung yang terbang bebas di angkasa pun tampak bahagia dengan kebebasannya, mereka hidup tanpa harus terpenjara dalam “keharusan” bekerja seperti manusia. Saat melihat pohon pun tampak satu sosok kokoh yang tetap terlihat kokoh bahkan ketika akarnya tercabut dari tanah tempatnya berpijak. Makhluk-makhluk ini tidak punya cipta,rasa,dan karsa layaknya manusia, namun mereka terlihat mampu beradaptasi dan menikmati kehidupannya.

Bagaimana dengan makhluk bercipta, berasa, dan berkarsa yang bernama manusia? Kita justru sering lebih banyak mengeluh dan tidak berusaha menikmati semua yang kita alami. Manusia lebih senang berpolitik dengan segala aspek kehidupan kita. Saat sang ikan menikmati dinginnya air tempatnya hidup,manusia justru memaksakan diri untuk berpanas ria mencari pekerjaan demi sesuap nasi (begitu istilahnya). Saat sang burung terbang bebas dan menjelajah alam yang dianggapnya sebagai bumi, manusia justru terkungkung oleh perasaan takut dan gelisah (yang saat ini dikenal dengan kata “galau”). Bahkan,ketika pepohonan tampak kokoh berdiri diantara terpaan badai, manusia justru memilih “curhat” dan memperlihatkan semua kepahitan hidup yang kita rasakan. Semua ini terjadi karena kita manusia memiliki cipta, rasa, dan karsa. Hal ini adalah sebuah anugerah dari sang Maha Kuasa, namun dapat menjadi musibah ketika kita tidak bijak mempergunakannya. Hal ini positif namun belum tentu berdampak positif pada kehidupan manusia.


Manusia, sang makhluk penguasa bumi ternyata belum tentu berkuasa sepenuhnya atas alam bumi. Kadang, kita masih dikuasai oleh diri kita sendiri sehingga menghambat tiap inci langkah yang akan kita jalani. Manusia tak sesantai ikan di air, manusia tak sebebas burung terbang di langit, manusia tak sekokoh pepohonan. Namun, kita dapat belajar dari semua makhluk ini agar kita dapat hidup menjadi manusia seutuhnya yang memiliki anugerah cipta, rasa, dan karsa dari Sang Kuasa.

phosphone | cibubur | 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s