KAPTEN UNTUNG

Seorang nakhoda kapal yang biasa dipanggil Kapten Untung baru saja memerintahkan awak kapalnya untuk menarik jangkar kapal dan pergi meninggalkan negeri Kayalangkania. Sebuah negeri indah yang telah membuat Kapten Untung hidup nikmat dengan berlimpah kekayaan dan buaian para gadis di dalamnya. Sebagai seorang pelaut sejati, ia harus terus berlayar layaknya nafas yang tak kunjung berhenti. Bila ia berhenti, itu sama artinya dengan memilih mati. Sebuah pribadi yang keras, iya betul bahwa Kapten Untung adalah sebuah pribadi yang sangat keras dengan kepribadian yang kata awak kapalnya sangat berprinsip. Namun demikian, tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik kerasnya Sang Kapten, ia adalah pribadi yang sangat rapuh dan seringkali merasa hilang arah. Padahal dalam berlayar, salah satu tanggung jawabnya adalah memastikan arah yang harus ditempuh kapal agar tidak tersesat. Wajar bila Kapten Untung memiliki karakter seperti ini, karena ia memiliki masa lalu yang tidak sedap untuk dikenang.

Kapten Untung memang seperti hidup sebatang kara, namun sebenarnya pada masa silam ia memiliki sebuah keluarga bahagia, seorang istri cantik dan 2 orang putri yang sangat lucu. Tetapi semua kebahagiaan ini sirna ketika sebuah meteor menerpa desa tempat keluarga Kapten Untung tinggal. Tragisnya, kedua orang putrinya tewas di hadapannya karena tertimpa pecahan batu besar hasil ledakan meteor. Istrinya hanya luka-luka ketika itu, namun setelah bencana berlalu, kesedihan akan kehilangan dua orang putri membuat istri Sang Kapten tertekan jiwanya dan memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri di tiang sokoguru rumah keluarga bahagia itu pada saat Kapten Untung pergi berlayar.

Deburan ombak terdengar begitu beringas menerpa setiap sisi kapal. Angin berhembus dengan kencangnya dan mengoyakkan tiap pori kulit. Mata Sang Kapten terpicing tajam ke arah samudera lepas dan tanganya pun erat menggenggam kemudi kapal. Tidak lama, Sang Kapten pun berteriak kepada para awak untuk segera mengembangkan layar kapal dan bersiaga. Tampaknya Sang Kapten ingin memanfaatkan angin untuk menambah laju kapalnya. Pelayaran kali ini adalah pelayaran tanpa tujuan, namun tak satupun dari awak kapal yang mengetahui hal ini kecuali Kapten Untung sendiri.

Samudera semakin mengganas, kapal pun terombang-ambing tanpa jejak, seluruh awak kapal bersiaga untuk yang terburuk, namun Kapten Untung tetap berdiri tenang di belakang kemudi kapal. Matanya tetap memandang ke depan dan tidak satupun dari orang-orang di sekitarnya yang mengetahui apa isi dari pikiran Kapten Untung. Ia hanya terdiam tanpa kata dan berusaha terus maju menantang tusukan-tusukan ombak lautan yang semakin menggila. “Kapten…kapten….apa yang harus kami lakukan?”, teriak salah seorang awak kapal.

Mendengar teriakan awak kapalnya tidak membuat Kapten Untung segera menjawab. Ia masih terdiam seribu bahasa dengan mata yang tajam menatap hantaman ombak yang semakin besar. Seluruh awak kapal semakin bertanya-tanya,”Kapten ini bagaimana ya? kita sudah hampir mati, tapi ia tetap tidak memerintahkan apa-apa.”

Awak kapal lainnya pun bergunjing, “mungkin Kapten Untung sudah gila dan memang berencana bunuh diri di lautan sinting ini…”

Sementara itu, beberapa yang membela Kapten Untung pun menyanggah, “Gila kalian!! Dia itu Kapten kalian, seharusnya kalian mendukungnya, bukan malah mencacinya.”

Ada juga yang memiliki pendapat, “Sudahlah, kalau kalian mau mengkritik silahkan, tapi coba kalian beri solusi ke Kapten…”

Suasanya diantara para awak kapal memang sudah tidak menentu, mereka mengalami krisis kepercayaan pada sang Kapten. Tiba-tiba Kapten Untung pun berteriak,”Diaaaaaammmm, tenanglah….badai akan segera mereda”

Tidak lama pun badai serta angin besar mereda dan air laut pun kembali tenang. Awan hitam terbuka, suara burung mulai terdengar, kapal itu sudah melewati masa krisisnya. Pada dasarnya seluruh awak kapal bahagia dengan kondisi ini, namun masih terdapat sebuah tanya di benak mereka, kenapa Sang Kapten Untung hanya berdiam diri selama badai tanpa perintah kepada anak buahnya. Hal ini mereka pikirkan benar-benar hingga salah seorang awak kapal senior pun memberanikan diri mendekati Kapten Untung dan bertanya perihal tersebut.

Mendengar pertanyaan itu terlontar dari lidah awak kapalnya, Kapten Untung tersenyum kecil dan berkata, “Kalian ini percaya padaku atau tidak? Kita ada di tengah laut dan aku memimpin kalian. Sebelumnya sudah aku perintahkan untuk membentangkan layar dan bersiaga, ini berarti perintah terakhir yang harus dijalani. Kalau tidak ada perintah lain lagi, kenapa kalian harus bertanya apa perintah selanjutnya? Siapa Kapten di Kapal ini? Aku atau Kalian?. Sudahlah, kalian tidak mati.”

Jawaban sekaligus pertanyaan Kapten Untuk sontak membuat seluruh awak kapal terdiam dan berpikir keras tentang pemikiran Sang Kapten. Wajah mereka seperti bingung harus menanggapi peryataan dan pertanyaan Kapten dengan cara apa. Sedangkan Kapten Untung melangkah pergi meninggalkan awak kapalnya menuju kamar untuk beristirahat. Di dalam kamar, Kapten Untung langsung duduk dengan peluh keringat sebesar biji jagung dengan sejumlah pemikiran di kepalanya. Sejujurnya, ia pun khawatir dengan keadaan badai tersebut, ia juga panik namun tidak ingin membuat awak kapalnya kehilangan semangat untuk berjuang hidup.

Kapten Untung mengambil sebatang cerutu, membakarnya, sambil mengurai pertanyaan yang ada di benaknya satu demi satu.

  • APA AKU MAMPU UNTUK MEMIMPIN AWAK KAPAL INI MENGHADAPI BADAI LAINNYA?
  • KENAPA AKU HARUS BEGITU MEMIKIRKAN MEREKA?
  • APA KEPUTUSAN YANG KUAMBIL SUDAH BENAR?
  • BAGAIMANA BILA USAHAKU MENGALAMI KEGAGALAN?
  • SIAPA YANG AKAN MEREKA PERCAYA BILA AKU TIDAK ADA?
  • KEMANA SEBENARNYA KAPAL INI BERLAYAR?

Namun semua pertanyaan ini mengarah dan diakhiri dengan sebuah pernyataan dari Sang Kapten…

AKU TIDAK INGIN KEHILANGAN LAGI ORANG-ORANG YANG KUSAYANGI

Dari Catatan Kapten Untung yang seringkali merasa Rugi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s