A-Gama

  
Agama dari asal katanya berarti ~A: tidak; dan GAMA:kacau~. Jadi secara bebas agama berarti sesuatu yang dibuat untuk mengatasi ketidakteraturan atau kekacauan.

Menurut pandangan saya, agama bukanlah sesuatu yang turun dari Allah. Bahwa agama diijinkan Allah, saya setuju. Namun, pada dasarnya agama hanyalah buatan manusia dan merupakan sebuah ‘CARA’ untuk memahami hal-hal yang berhubungan dengan keilahian pencipta semesta.

Saya tidak memfokuskan hidup saya untuk mempelajari agama, namun agama mempunyai bagian yang cukup besar dalam kehidupan saya. Saya memiliki keyakinan bahwa tidak ada satupun agama yang diciptakan dengan maksud buruk dan mengajarkan hal-hal buruk. Bagaimana mungkin mengajarkan hal buruk bila bertujuan untuk mengatasi kekacauan?. Jadi, bila ada sesuatu yang mengajarkan hal-hal buruk bisa dikatakan itu bukanlah agama dan tidak muncul dari agama.

Namun dalam perkembangan kemanusiaan secara khusus dan kehidupan alam bumi pada umumnya, banyak sekali hal buruk yang terjadi dengan mengatasnamakan agama. Manusia seringkali bertindak irrasional, bahkan brutal hanya untuk menunjukkan bahwa agama yang dianutnyalah yang paling benar.

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan agamanya karena agama hanyalah sebuah ‘CARA’. Bila kita percaya surga dan neraka atau kehidupan setelah kematian, menurut saya agama tidak akan membuat seseorang masuk surga. Agama bukanlah keselamatan dan tujuan, ini hanyalah sebatas ‘CARA’.

Jadi, apa yang sedang diributkan sebagian orang di media sosial atau bahkan di kancah perpolitikan dunia? Apakah benar-benar tentang agama? Ataukah “hal lain” yang meng-kambing hitam-kan agama? Apa benar mereka ini membela agama sebagai bagian membela Tuhan Allah?(karena Tuhan Allah pembela manusia dan terletak pada posisi teratas dalam kehidupan, jadi kita tidak akan sanggup membela Dia).

Agama diciptakan bukan untuk menimbulkan kekacauan, justru sebaliknya untuk mengatasi kekacauan. Lalu, kenapa masa kini banyak kekacauan yang timbul dalam konteks agama?(saya tidak perlu menyebutkan satu persatu, bila Anda punya hati nurani pasti tau hal-hal kacau yang saya maksudkan). 

Menurut saya, kekacauan yang terjadi bukan karena agamanya, namun manusianya karena kita adalah subjek(pelaku)nya. Sedangkan agama hanyalah objek semata dan tidak akan ada fungsinya bila tidak dijalankan oleh para subjek. Ketidakpuasan, kerakusan, egosentris, merasa paling benar, dan sifat buruk lainnya merupakan dasar dari perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia. Agama bukanlah sesuatu yang sakti, konsep ini tidak akan mampu bertahan dalam terpaan kejahatan manusia. Lalu sampai kapan kita pura-pura tidak tahu dan acuh terhadap semua pembodohan oleh manusia berlatar “agama” ini?

Tulisan ini hanyalah opini dan pendapat pribadi saya sebagai salah satu manusia(subjek) yang juga memiliki agama(objek). Pemikiran ini muncul sebagai keprihatinan sekaligus rasa muak saya terhadap kelakukan manusia yang mengaku beragama namun justru menimbulkan kekacauan. Saya hanya berharap kehidupan akan lebih baik lagi di masa depan dan kedamaian Ilahi akan dapat kita rasakan bersama sebagai manusia. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Salam kasih!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s