Melayangnya Perbedaan dan Keseragaman

Tiba-tiba pikiran ini melayang keluar dari fokus yang seharusnya saya prioritaskan. Mata memang tertuju pada jalan tol yang macet tak terkira, tangan menggenggam setir mengendalikan laju mobil yang perlahan bergerak, namun segenap pikiran melihat sisi lain kehidupan yang sama sekali “kurang tepat” dipikirkan saat menyetir mobil.

Sesaat saya berpikir tentang negara Indonesia yang begitu membanggakan sekaligus melelahkan untuk dipikirkan. Terbayang seluruh aspek yang begitu kompleks dimiliki oleh Indonesia dengan segudang permasalahannya. Korupsi sudah mengambil bagian mungkin sekitar 40% dari keseluruhan masalah yang dimiliki Indonesia, belum lagi kemajemukan penduduk yang membuahkan banyak sekali perpecahan, karakter bangsa yang hingga detik ini masih “naik-turun”, bahkan masalah alam Indonesia yang kaya tapi kurang disadari kekayaannya, ditambah masalah-masalah lain dari berbagai bidang (kalau dulu istilahnya ipoleksosbudhankamrata). Begitu banyaknya permasalahan di negara tercinta ini dan saya menyadari bahwa SANGAT TIDAK MUDAH menjadi pengurus,penyelenggara, maupun pengawas jalannya negara Indonesia.

Tapi, di tengah kesemrawutan ini Tuhan sangat baik pada kita. Rakyat Indonesia mungkin dibiarkan jatuh, namun tidak sampai tergeletak. Dia menghadirkan sosok-sosok revolusioner yang modern dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mereka muncul sebagai “oasis” di tengah kekeringan dan kerinduan akan hadirnya sosok karismatis yang memiliki kecintaan dan kerelaan berjuang demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Sebut saja nama-nama seperti Ahok, Ganjar Pranowo, Tri Risma, Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil, Susi Pujiastuti, yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita ketahui keberadaannya. Selain itu, satu sosok lain yang paling fenomenal 3 tahun belakangan ini adalah Joko Widodo yang saat ini menjadi Presiden di Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Secara personal, saya memang tidak mengenal mereka. Namun, saya bangga memiliki pemimpin seperti mereka. Bagi saya, tidak peduli apa latar belakang mereka dan siapa mereka di masa lalu, tapi kinerja dan hasil kerja mereka sudah saya saksikan dan rasakan sendiri. Jujur (mungkin saya lebay), Indonesia jadi lebih baik dengan kehadiran mereka.

Tetapi, euforia kebahagiaan munculnya sosok-sosok ini tentu tidak hadir sendirian. Pada sisi lain, kebencian pada keberadaan mereka pun mengalir dengan sangat deras. Bahkan, sekalipun mereka sudah berbuat yang terbaik masih saja mendapat celaan. Apalagi bila mereka berbuat sesuatu yang dianggap salah atau menyimpang, langsung akan menjadi bulan-bulanan hujatan. Saya mengerti, kritik itu sangat diperlukan! Namun, seharusnya bukan untuk menjatuhkan, melainkan membangun dan mencerahkan.

Belum genap satu tahun menjabat Presiden saja, berbagai kebijakan Jokowi sudah menuai hujatan dan cemooh. Bahkan muncul sebuah jargon bertajuk #salahjokowi. Selain itu, Ahok yang menjadi gubernur pengganti Jokowi pun pernah dihujat habis-habisan, padahal resmi menjabat saja belum. Alasan agama dan ke”cina”an pun dilancarkan berbagai pihak picik sebagai kontroversi jabatan baru Ahok.

Permasalahannya, PERBEDAAN nampaknya belum mampu diterima oleh sebagian penduduk Indonesia. Jangankan agama, berbeda cara pandang saja kadang menjadi alasan untuk satu pihak menjatuhkan pihak lainnya. Padahal (andai semua masih ingat), semboyan lambang negara kita adalah “Bhinneka Tunggal Ika” dimana persatuan pun dapat diwujudkan walaupun memiliki banyak PERBEDAAN. Lalu, bila tidak dapat menerima dan menghormati perbedaan, apa negara ini akan dibangun di atas landasan KESERAGAMAN?

Terkait hadirnya sosok para pemimpin revolusioner tadi dan kondisi nyata bangsa kita yang sedang disusupi virus “KESERAGAMAN”, pemikiran saya mengarah pada pertanyaan “seberapa mampukah bangsa Indonesia menerima PERBEDAAN yang menjadi ciri khas luhurnya sejak masa lalu?”. 

Seiring antrian macet yang semakin terurai lancar, pertanyaan sebelumnya pun meluas liar hingga mobil terhenti di garasi rumah.

“Apakah bangsa Indonesia dapat MENERIMA pemimpin yang berkualitas tinggi, cinta tanah air, rela berkorban demi Indonesia, karismatik, idealis positif, namun TIDAK PERCAYA adanya Tuhan?”

phosphone | mind | 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s