Ketaatan berasal dari kata taat yang memiliki pengertian patuh atau tunduk terhadap sesuatu, misalnya Tuhan, manusia, bahkan sesuatu yang tidak hidup seperti aturan atau hukum. Menurut kamus bahasa Indonesia online, ketaatan adalah sebagai berikut:

  
Namun, untuk arti keempatnya menurut saya masih kurang tepat, mengingat ketaatan tidak hanya menghasilkan kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber hal-hal buruk. Sebagai contoh, bila seseorang taat pada seorang penjahat, tentu yang dilakukannya akan berbuah jahat sesuai keinginan orang jahat tersebut.

Terkait arti ketaatan ini, dalam pemahaman saya ketaatan sendiri memiliki jenis yang berbeda. Hal ini dapat dibedakan menurut sebab munculnya ketaatan dalam diri seseorang. Ada 2 jenis yang saya amati seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita:

1. Ketaatan karena takut. Jenis ini bagi saya adalah jenis yang paling “hina” karena mencerminkan kepalsuan yang dimiliki manusia. Ketaatan jenis ini terjadi hanya karena perasaan takut bila memilih untuk tidak taat. Sebagai contoh, orang yang taat beribadah hanya karena takut dosa dan takut masuk neraka, orang yang memakai helm karena takut ditilang, dan lain sebagainya. Menurut saya, fondasi ketaatan jenis ini tidak kuat dan hanya bergelar “pencitraan” semata. Kelemahannya adalah pada pemaknaan ketaatan itu sendiri sehingga apabila suatu waktu faktor ketakutan itu sudah berkurang atau hilang, maka dapat dipastikan ketaatan tersebut sudah pasti memudar.

2. Ketaatan karena cinta. Ketaatan ini adalah jenis yang paling sempurna karena berdasar atas sesuatu yanh tidak dapat diukur dan merasuk dalam diri seseorang. Cinta adalah dasar yang sifatnya abadi, oleh karena itu ketaatan jenis ini pun jauh lebih kuat dan bertahan lama dibandingkan jenis sebelumnya. Contoh ketaatan jenis ini adalah kebalikan dari jenis pertama, misalnya orang yang sangat taat pada Tuhan karena mencintai sosok Tuhan yang dipercayainya, orang yang sangat taat menyebrang di Zebra cross karena mencintai peraturan yang bertujuan positif bagi kehidupannya (supaya aman dan tidak terjadi kecelakaan), dan lain sebagainya. Jenis ketaatan ini akan bertahan lebih lama karena alasan tidak takut, bosan, atau marah terhadap obyek taat tidak akan mampu melunturkan semangat ketaatannya. Bagaimanapun juga, cinta akan jauh lebih kuat dibandingkan perasaan lainnya.

Dua jenis ketaatan yang saya pahami di atas juga memiliki konsekuensi bagi subyek pelakunya masing-masing. Ketaatan yang muncul karena takut biasanya akan membentuk karakter yang kaku, oportunis, dan cenderung memberontak. Sebaliknya, ketaatan yang muncul karena cinta akan menghadirkan sosok setia, bertanggungjawab, dan cukup fleksibel.

Namun, perlu diingat bahwa 2 jenis ketaatan ini tetap berada dalam bingkai perihal baik dan buruk. Artinya,kedua jenis ketaatan ini tetap dapat dilakukan oleh siapapun, baik orang baik maupun jahat. Jadi, jenis ketaatan yang saya pahami ini tidak dapat dijadikan tolak ukur seseorang untuk dapat dikatakan baik atau buruk.

Pemikiran saya ini muncul setelah saya mengamati banyak sekali fenomena ketaatan yang terjadi di masa sekarang ini. Misalnya, banyak warga Indonesia yang saat ini begitu mematuhi aturan lalu lintas bukan karena mengerti tujuan diberlakukannya aturan tersebut namun justru karena takut kena tilang dan harus mengeluarkan sejumlah uang yang  banyak. Selain itu, fenomena orang-orang yang begitu taat beribadah, bahkan sampai diumbar ke media sosial, namun sebatas hanya karena takut masuk neraka (bukan karena mencintai Tuhannya). Yang terparah adalah munculnya teroris yang mengatasnamakan agama tertentu karena mereka pikir mereka sedang menjalankan ketaatan atas dasar cinta yang buta pada Tuhan mereka. Bagaimana mungkin mencintai Tuhan tetapi menghancurkan sesama manusia??. Hal-hal inilah yang kemudian menggelitik saya untuk memikirkan ketaatan jenis apa sebenarnya yang dapat membuat orang berbuat sedemikian rupa.

Akhirnya, semua kembali kepada kemanusiaan. Saya percaya, tidak ada manusia yang terlahir jahat, hidup adalah sebuah pilihan, dan apapun yang dilakukan secara kurang atau berlebihan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Termasuk KETAATAN.

  
—————————-

English translation

Obedience comes from the devout who have the sense of obedient or subject to something, like God, man, even something that does not live like a rule or law. According to Indonesian dictionary online, obedience is as follows:

  
However, for the meaning of the four in my opinion is still not quite right, because the obedience not only produce the good, but also can be a source of bad things. For example, if someone obeyed a villain, of course what he did would bear fruit as evil.
Related to the meaning of this observance, in my understanding of obedience itself has a different kind. It can be distinguished according to cause the appearance of obedience in a person. There are 2 types I observed frequently occur in our daily lives:
1. Obedience because of fear. This kind is the most “despicable” because it reflects the artificiality of human beings. Observance of this kind happens only because of fear when choosing to disobey. For example, the person who doing good only because of fear of sin and the fear of going to hell, people who wear a helmet for fear of being caught by police, and so forth. In my opinion, this kind of obedience foundation is not strong, and only the title of “imaging”. The disadvantage is when one time the fear factor that has reduced or lost, it can be ascertained that obedience is definitely fading.
2. Obedience because of love. This obedience is the most perfect because it is based on something that can not be measured and pervasive in a person. Love is the basis of a lasting nature, therefore observance of this kind is far more powerful and durable than previous types. Examples observance of this type is the opposite of the first type, for example people who are very obedient to God for the love of the figure of God whom he trusted, people who are very devout cross on the Zebra cross for the love of regulations aimed at positively for life (to be safe and not an accident), and others. This kind of obedience will last longer because the reasons are not afraid, bored, or angry to obey the object will not be able to release the spirit of obedience. However, love is much stronger than any other feeling.
Two types of obedience that I understand aboves also have consequences for the each subject. Obedience that comes from fear usually will form a rigid character, opportunist, and tend to rebel. In contrast, obedience arises because love will bring the figure of the faithful, responsible, and flexible enough.
However, keep in mind that the two types of obedience is to remain in the frame about good and bad. That is, the two types of obedience it can still be done by anyone, both good or bad. So, kind of obedience which I understand can not be used as a benchmark for someone to be able to say good or bad.
I thought this came after I observed a lot of obedience phenomenon that occurs in the present time. For example, many citizens of Indonesia who is currently so obey traffic rules not because they understand the good purpose of this rule, but precisely because of the fear of being caught and have to spend a lot of money. In addition, the phenomenon of people who are so pious, and spread it into social media, but limited to only the fear of going to hell (not for the love of God). The worst is the emergence of terrorism in the name of a particular religion because they think they are being run on the basis of obedience to God’s blind love them. How is it possible to love God but destroys human beings ??. The stuff is then tickle me to think about what kind of obedience that actually can make people behave in such a manner.
Finally, all the back to humanity. I believe, no man is born evil, life is a choice, and whatever is done less or excessively will not produce anything good. Including OBEDIENCE.
phosphone | mind | januari | 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s