NEWSEUM: MUSEUM YANG MEMBUAT TERSENYUM

 

Pintu masuk utama Newseum

 
Sebagai kota tua dan penting di Amerika Serikat, Washington DC memang terkenal dengan berbagai museum yang sangat menarik untuk dikunjungi. Mulai dari museum yang dikelola negara seperti Museum Sejarah Amerika Serikat, Museum Sejarah Alam, Museum Pesawat dan Angkasa, hingga museum swasta seperti Museum Mata-Mata, Museum National Geographic, dan Newseum (Museum Jurnalistik). Satu museum swasta yang sangat menarik dan banyak direkomendasikan adalah Newseum atau Museum Jurnalistik.

Newseum adalah sebuah museum modern yang berisi berbagai dokumentasi dan presentasi berbagai tahapan perkembangan Pers dan Jurnalistik di seluruh dunia, khususnya Amerika Serikat. Museum 7 lantai dengan luas keseluruhan lantai mencapai 60.000 meter2 ini terletak di 555 Pennsylvania Avenue NW, Washington DC, USA. Lokasinya tepat berada di sebelah kedutaan Kanada untuk Amerika Serikat. Newseum sudah berdiri sejak tahun 1997 dengan gedung lama yang berada di wilayah Arlington. Namun, pada tahun 2000 Organisasi Independen Freedom Forum sebagai pendiri Newseum memutuskan untuk memindahkan  gedung museum ini lebih dekat dengan pusat pemerintahan di wilayah National Mall

Void utama yang berfungsi sebagai lobi Newseum dengan helikopter khas pencari berita yang menghiasi ruangan.

Awalnya saya tidak tahu sama sekali mengenai keberadaan Newseum. Kebetulan saya sedang ada di Washington DC dan berencana untuk mengeksplorasi setiap sudut kota paling penting se-Amerika Serikat itu. Seperti biasa, sebelum eksplorasi saya biasa riset sederhana dengan panduan “mbah google”. Hasilnya, banyak sekali atraksi menarik di berbagai penjuru kota Washington DC. Salah satunya adalah Newseum, namun tidak seperti museum yang dikelola pemerintah, dari awal saya mendapat informasi bahwa untuk masuk Newseum saya perlu mengeluarkan uang hampir 25 US Dolar yang setara dengan kurang lebih 340.000 rupiah. Harga yang cukup mahal untuk mengunjungi sebuah museum. Walaupun demikian, hal ini justru membuat saya semakin tertarik untuk mengunjungi Newseum karena harga yang cukup mahal tentu memiliki alasan tertentu.

Akhirnya saya menuju Newseum dengan berbekal peta elektronik yang ada di Smartphone saya. Sangat mudah, hanya dalam waktu kurang dari setengah jam dari hotel tempat saya menginap, saya pun sampai di Newseum. Bila dilihat dari bangunannya, Newseum terlihat seperti kantor modern dan tidak memiliki aura sebuah bangunan museum. Memasuki lobi utama, saya langsung disambut oleh petugas yang menyapa dengan ramah sembari memberi informasi bahwa saya harus membayar uang masuk Newseum sebesar 24.7 USD. Saya pun segera membayarkan uang itu dan bertanya apa yang akan saya dapat dari kunjungan saya di Newseum ini. Secara cepat, petugas itu menjelaskan setiap bagian Newseum yang terbagi di 7 lantai. Namun di akhir pembicaraan, ia memberikan penegasan yang membuat saya semakin bersemangat mengekplorasi bahwa saya tidak hanya akan belajar tentang dunia jurnalistik tetapi juga memaknai seperti apa itu jurnalistik dan pers yang seharusnya.

 

Sisa puing tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur.

 
Petualangan di Newseum dimulai dari lantai paling dasar yang merupakan lantai eksibisi dan tempat makan. Di lantai dasar ini saya memulainya dengan menonton 4 menit penjelasan tur Newseum dalam bentuk video. Kemudian, sebuah artefak Tembok Berlin dalam bentuk besar pun sudah menunggu untuk dijelajahi. Perlu dijelaskan bahwa semua benda yang dipamerkan merupakan benda asli terkait topik yang dipamerkan. Pada bagian Tembok Berlin ini, dijelaskan bahwa para jurnalis memiliki peran yang sangat besar dalam upaya penyatuan kembali antara Jerman Barat yang berideologi liberal dan Timur yang sarat komunisme. Selain itu, pada bagian selanjutnya yaitu pameran FBI, kekuatan media modern sangat berpengaruh dalam berbagai masalah global di masa sekarang ini, khususnya terorisme.

Dari lantai paling dasar, tur pun saya lanjutkan. Perjalanan tur Newseum ini unik karena alurnya tidak linear dari lantai bawah ke atas, melainkan dari dasar langsung menuju lantai teratas dengan menggunakan lift khusus. Lantai 6 atau yang teratas justru menjadi titik selanjutnya. Panorama terbaik Washington dengan gedung Capitol dan berbagai gedung pemerintahan lainnya menjadi “hidangan” yang menarik untuk disaksikan. Setelah itu, berturut-turut berbagai kisah mengenai jurnalistik seperti perang Vietnam, Politik Amerika Serikat, Penelusuran teroris, hingga tragedi 9/11 pun dituturkan dengan sangat jelas terstruktur, padahal bentuknya adalah eksibisi atau pameran. Mungkin hal ini disebabkan prinsip-prinsip jurnalistik yang tetap dijaga walaupun dalam bentuk penuturan museum.

Panorama dari lantai teratas Newseum.

  

Balkon terbuka sebagai atraksi yang cukup menarik bagi pengunjung Newseum.

 
 

Penanda sebelum memasuki segmen sejarah jurnalistik.

 
 Salah satu bagian yang menarik lainnya adalah sejarah perjalanan jurnalistik dan pembuatan berita. Ternyata sebelum ditemukannya mesin cetak Guttenberg, proses penyampaian berita yang kala itu hanya dalam bentuk gambar sudah sering digunakan. Terlebih setelah mesin cetak ditemukan, manusia pun semakin cerdas memberikan informasi pada manusia lainnya. Berbagai penemuan inilah yang menjadi dasar terbentuknya konsep jurnalistik modern di masa sekarang ini.

Bagian yang menurut saya paling penting dan menjadi intisari Newseum adalah eksibisi pada lantai 4 yang berisi penuturan awal mula independensi jurnalis dan amandemen pertama Amerika Serikat tentang kebebasan berbicara dan pers. Pada masa inilah, tonggak nilai-nilai jurnalisme mulai terbentuk. Seringkali para jurnalis bentrok dengan kepentingan penguasa dan para pengusaha kaya, namun justru dalam kondisi ini makna dasar jurnalistik semakin tergali dan dipelajari dari masa ke masa. Perbandingan kasarnya, bila tentara berjuang demi rakyat dengan senjata dan bahan peledak, maka para jurnalis berjuang demi kehidupan yang lebih baik dengan kamera, tinta, dan laporan independen yang kuat dan akurat. Bagi saya, lantai 4 ini banyak memberikan renungan mendalam tentang jurnalistik yang selama ini saya pelajari hanya dari teori saja. Newseum telah membawa berbagao teori jurnalistik ke level yang lebih dalam dengan berbagai hasil pengaplikasiannya. Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Newseum ini sangat penting dalam pembentukan pondasi idealisme seorang jurnalis.

 

Kumpulan foto wajah para jurnalis yang harus menanggung resiko terbesar profesi mereka: tewas.

 
Tentu idealisme tidak akan lepas begitu saja pada berbagai pelanggaran yang terjadi. Selain itu dampak resiko seorang jurnalis juga sangat terasa dan disampaikan dengan unik dalam sebuah bagian khusus segmen memori di lantai 3. Bagian ini sangat cerdas sekaligus mengharukan, tentang bagaimana banyak jurnalis yang bekerja dengan idealisme untuk kehidupan yang lebih baik tetapi harus berhenti karena kecelakaan ataupun serangan yang akhirnya menewaskan para jurnalis tersebut. Bagian ini mengingatkan saya bahwa Jurnalis bukanlah profesi yang biasa. Pekerjaan  ini adalah hal yang mulia, karena tidak hanya nafkah yang dicari tetapi sebuah kondisi ideal dimana seluruh manusia mempunyai kesetaraan untuk mendapatkan informasi yang terbaik menurut akidah-akidah jurnalistik.

 

Salah satu pembelajaran yang disampaikan dalam bentuk eksibisi.

 
  

Salah satu pembelajaran yang disampaikan dalam bentuk eksibisi.

 
 

Salah satu isi Amandemen pertama Amerika Serikat yang menjadi dasar kebebasan press di Amerika Serikat.

 

Luar biasanya, Newseum adalah sebuah museum yang memiliki konsep interaksi dengan pengunjungnya. Contohnya, pada lantai 2 terdapat sebuah segmen “green screen” bagi para pengunjung yang tertarik untuk beraksi sebagai reporter dan pembaca berita di televisi. Hal ini sangat menarik karena menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi prang yang awam dengan jurnalistik televisi. Selain itu ada juga layar panjang dan besar yang menayangkan berbagai rangkuman berita selama 100 tahun terakhir. Para pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan ini sambil santai sejenak setelah lelah berkeliling Newseum.

 

Layar panjang yang berisi rangkuman berbagai liputan berita dalam kurun waktu 1 abad terakhir.

  
  

Bagian interaktif dimana pengunjung benar-benar dapat merasakan menjadi seorang reporter atau pembaca berita.

 
 

Display berbagai sampul pemberitaan di Amerika Serikat dari masa ke masa.

 
Pada akhir perjalanan Newseum saya dapat menyaksikan berbagai foto pemenang Pulitzer. Selain itu, toko pernak-pernik khas Newseum pun terdapat di lantai 1 dan 2. Tidak lupa, sebuah pertunjukkan 4 dimensi berada di bagian bawah Newseum yang tentunya menarik para pengunjung dari segala umur untuk mencobanya. Kelebihan berikutnya yang tidak dimiliki museum pada umumnya adalah keberadaan Newseum yang juga memiliki studio berita. Beberapa studio ini disewakan ke berbagai kantor berita terkemuka di Amerika seperti NBC, ABC, maupun Al Jazeera. Bahkan bila beruntung, para pengunjung dapat bertemu dengan tokoh-tokoh penting yang akan atau sedang syuting seperti halnya Presiden Obama.

Newseum adalah museum terlengkap dan modern yang pernah saya datangi. Mengandalkan teknologi namun tidak melupakan pesan yang harus tersampaikan kepada para pengunjung. Newseum adalah satu contoh atraksi wisata yang layak dijadikan contoh oleh museum di masa kini, termasuk museum-museum di Indonesia. Hal ini menjadi penting karena museum tidak hanya menjadi sarana belajar para generasi penerus, namun sebuah peringatan dan pondasi perjuangan menuju kehidupan manusia yang lebih baik lagi. Akhirnya setelah menjelajah Newseum secara umum, saya merasa uang 24,7 USD yang saya keluarkan tidak ada apa-apanya dibandingkan pengetahuan dan makna kehidupan yang saya pelajari dalam dunia jurnalistik. Sekarang, saya bisa pulang ke Indonesia dengan penuh senyum.

phosphone | newseum | travel | 2016

 

Satu kutipan menarik tentang makna jurnalistik bagi kehidupan dan pembentuk sejarah dunia.

 
 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s