ALLEGIANT: Refleksi Filosofis Politik Dunia Nyata

  
Sejak seri pertamanya “Divergent”, film ini emang udah memikat perhatian gw. Tema kacaunya dunia masa depan dengan segala teknologi dan kecakapan berpikir manusia cukup membuat gw terus berandai-andai kemungkinan situasi tersebut bisa terjadi suatu saat nanti. Namun, dibalik konsep cerita novel Distopia yang sangat menghibur, banyak terdapat makna filosofis yang gw dapat setelah nonton film ini. Akhirnya, gw pun memutuskan untuk selalu ngikutin setiap sekuel berikutnya.

Film ini memang diangkat dari novel berjudul sama karya Veronica Roth yang sudah sukses lebih dulu beberapa tahun sebelumnya. Kecerdasan politik sang penulis sungguh terasa, bahkan ketika novel ini diangkat ke versi layar lebar. Awalnya, gw berpikir konflik dalam film ini hanya sebatas perpecahan antar kelompok, dominasi, dan pemberontakan aja. Ternyata, dalam sekuel ketiganya konflik pun semakin rumit dengan hadirnya pihak ketiga yang lebih memiliki kekuasaan lebih, yaitu Biro Pengendali Genetik. Tidak disangka, dunia lima faksi yaitu Abnegation yang penuh belas kasih, Amity pecinta damai, Candor sang pemuja kejujuran, Dauntless si pemberani, dan Erudite dengan kecerdasan akan ilmu pengetahuan ternyata hanyalah sebuah eksperimen dunia “penguasa” yang lebih besar lagi.

Kisah cinta antara Tris dan Four memang cukup berhasil membuat film ini tidak melulu berbicara politik dan pemberontakan. Kisah manis percintaan mereka cukup menjadi bunga di tengah kerasnya padang gurun pasir yang penuh tantangan. Namun demikian, pesan filosofis politik film ini sangat terasa. Untuk gw, film ini seperti menggambarkan keadaan sebenarnya yang terjadi di dunia nyata tempat kita tinggal. Layaknya pemisahan faksi yang dijadikan eksperimen oleh penguasa, begitu juga yang terjadi di dunia nyata. Sadar atau tidak sadar, saat ini di dalam masyarakat seringkali kita temukan berbagai pemisahan dan pengelompokkan. Misalnya secara agama, suku, partai, gender, bahkan pandangan politik. Akhirnya kita terjebak pada sebuah anggapan bahwa kita harus memilih untuk menjadi serupa dengan salah satunya. Kita lupa bahwa manusia diciptakan dengan sangat unik dan memiliki kemungkinan besar untuk selalu berubah seiring perkembangan diri dan lingkungannya. Tanpa sadar, kita justru membawa kehidupan manusia yang beragam menuju dunia yang seragam. Bahkan, mereka yang berbeda (divergent) justru kita anggap aneh dan berbahaya.

Selain itu, isi film ini juga menyampaikan bahwa “dunia” kehidupan kita sebenarnya dikuasai oleh “dunia” yang lebih besar dan kuat lagi. Hal ini seperti prinsip di atas langit masih ada langit. Politik yang ditampilkan di hadapan kita terkadang bukanlah makna politik yang sebenarnya. Kadang, kita tidak tau siapa lawan dan kawan. Semua pihak patut dicurigai disaat kita membutuhkan teman untuk beraliansi. Kondisi rumit dalam film ini seperti sebuah cerminan atas kondisi nyata yang terjadi di dunia modern sebenarnya.

Terlepas dari kisah Distopia yang sepintas mirip Novel dan Film Hunger Games atau Maze Runner, film ini layak mendapat apresiasi. Mulai dari cara menuturkan, teknik pengambilan gambar, dan musik pendukung yang begitu apik digarap. Mungkin bagi mereka yang belum menonton Divergent dan Insurgent, seri ketiga Allegiant ini agak sedikit sulit dipahami dari awal film. Namun, setelah menonton 1/3 film, pemahaman akan isi cerita pun akan semakin mudah dicerna. Walau demikian, saran gw sebaiknya nonton film ini dari seri pertamanya.

Penokohan dalam film ini juga begitu kuat didukung kemampuan akting para pemeran yang cukup memuaskan. Berbagai karakter yang ada di dunia nyata pun dapat kita temukan di dalam kisah film ini. Tris yang pemberani dan pantang menyerah, Four yang penuh perhatian, perhitungan dan selalu waspada, Caleb yang pengecut dan mudah panik, Peter yang oportunis dan egois, ditambah berbagai karakter kuat lainnya menjadi daya tarik lain di film ini. Secara keseluruhan, film ini sangat layak untuk ditonton. Film ini memberikan pelajaran yang cukup berharga khususnya dalam bidang politik. Kita harus menyadari bahwa perpecahan dalam kelompok-kelompok sosial dalam hidup adalah salah satu cara “penguasa” untuk menguasai berbagai sektor dalam hidup kita. Sebagai pengingat terakhir, Allegiant adalah bagian pertama dari seri terakhir Divergent yang dibagi menjadi dua bagian. Kisah penuh filosofi politis ini pun terus berlanjut……

phosphone | moviereview | Allegiant

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s