BENAR atau SALAH?

  
Apakah yang jadi batasan “sesuatu” itu menjadi benar atau salah? Seberapa jauh manusia sebagai makhluk yang memiliki banyak kelemahan mampu memutuskan pilihan konsep benar dan salah? Apa itu Benar dan Salah?

Pikiran ini termasuk “penghuni” yang cukup lama bertengger di otak saya. Hal ini mulai saya pikirkan sejak masa-masa kuliah 10 tahun yang lalu. Namun karena cukup rumit dan kebetulan saya juga bukan mahasiswa filsafat, jadilah pemikiran yang mengkristal dan tetap tinggal di otak saya sampai hari ini.

Sejak lahir, manusia sudah dikenalkan dengan konsep benar dan salah di dalam sosialisasinya. Orang tua sebagai salah satu agen sosialisasi awal merasa perlu mengajarkan dua konsep yang bertentangan ini. Mereka merasa perlu adanya “penyaring” atas kenyataan yang akan kita hadapi di dalam kehidupan kita. Biasanya “penyaring” ini diberikan oleh orangtua dalam bentuk nasehat yang sering dianggap bekal masa depan di dalam sebuah keluarga. Warisan ini sangat KUAT keberadaan dan pengaruhnya bagi hidup seorang anak. Bahkan, kadang karena struktur organisasi keluarga yang sangat jelas hirarkinya, seorang anak akan terus mematuhi nasehat bekal masa depan tersebut justru tanpa penyaring sama sekali. Sebagai contoh, sejak kecil saya selalu disosialisasikan untuk tidak membangun hubungan kasih dengan lawan jenis yang berbeda agama dengan saya. Saya pun mengikuti nasehat tersebut sampai lulus SMA, padahal alasannya hanya karena berbeda agama. Lalu apa hal ini salah?. Beruntung, saya kuliah di tempat sekuler yang terdiri dari berbagai macam manusia dengan beragam latar belakang. Dalam kasus saya ini, benar dan salah pun akhirnya bias menjadi sebuah keharusan yang tidak dapat ditolak.

Bila mencermati hal ini, lalu dimana batasan benar dan salah yang hakiki? Banyak yang langsung berpikir tentang AGAMA. Maaf, saya masih punya beragama (bukan atheis) tapi menurut saya agama itu bukan ciptaan Tuhan, melainkan rekayasa manusia untuk mencapai Tuhan (yang hingga saat ini masih terus diupayakan dengan berbagai cara). Padahal dari kata asalnya, agama tak berbeda dengan perangkat hukum seperti Undang-undang yang dipergunakan sebagai alat penahan agar manusia tidak menghasilkan kehidupan yang liar dan kacau. Ini berarti, agama pun sebenarnya masih bersifat subjektif dan dapat ditafsirkan berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya. Sebagai contoh, bila dilihat dari kacamata agama, biasanya minum minuman keras itu digolongkan “HARAM” dan sebagian pengikut agama tersebut pun menjauhi hal yang dianggap SALAH itu. Tapi, ada sebagian manusia lain yang memberi toleransi terhadap hukum ini. Minuman keras (dalam hal ini semua yang memiliki kandungan alkohol di dalamnya), dapat dikonsumsi selama tidak membuat peminumnya menjadi mabok. Sebagian orang ini telah membuat parameter lain yang saya rasa sangat berbeda, padahal mereka dari satu agama yang sama. Lalu dimana batasan BENAR dan SALAH ini?

Menurut saya (lagi-lagi subjektif, karena saya adalah makhluk yang subjektif), konsep BENAR SALAH adalah konsep yang tidak bisa dipahami secara objektif. Layaknya manusia, benar dan salah memiliki penafsiran dan pemahaman yang berbeda bagi satu orang dan orang lainnya. Misalnya soal mengkonsumsi daging anjing, bagi para pencinta hewan, hal ini merupakan hal yang keji dan sangat tidak berprikemanusiaan(menurut mereka). Namun bagi beberapa suku tertentu di Indonesia, mengkonsumsi daging anjing merupakan sebuah warisan budaya. Bahkan, masakan dengan berbahan dasar daging anjing menjadi masakan tradisional yang resepnya sudah diwariskan secara turun-temurun. Kembali lagi, lalu dimana batasan BENAR dan SALAH itu? (Mohon direnungkan)

Melalui tulisan ini, saya bukan sedang melakukan pembenaran atas hal-hal buruk yang sering dan sudah terjadi dalam kehidupan. Saya bukan pembela pembunuhan, pemerkosaan, ataupun pencurian, dan hal buruk lainnya. Saya hanya menuangkan pemikiran yang tidak kunjung hilang dari otak dan benak saya. Kemudian, bagi saya hal ini lebih baik untuk direnungkan daripada saya sibuk menghakimi setiap manusia dalam kacamata “BENAR DAN SALAH” yang acuannya masih kabur. Malahan, banyak yang melakukan praktek “penghakiman” ini sebagai strategi untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disukai. Sangat tidak bijaksana!.

Kembali kepada pertanyaan mengenai batasan benar dan salah, menurut saya semuanya masih subjektif. Tidak ada satupun batasan yang berlaku objektif murni. Bahkan, untuk batasan sekelas undang-undang dan hukum Taurat sekalipun menurut saya sangat subjektif. Batasan ini pun dapat disebut objektif setelah mendapat persetujuan kolektif dari banyak subjektifitas masyarakat. Namun, ini tidak berarti hukum tidak dibutuhkan. Hukum itu kebutuhan manusia dan merupakan hasil karya pemikiran manusia yang layak dipertimbangkan sebagai makhlul berakalbudi. Tetapi di dalam pengembangannya, sebaiknya tetap mengingat tentang batasan benar-salah yang masih belum ditemukan kemutlakannya.

Akhirnya, menurut saya batasan benar salah masih sangat subjektif dan tidak mutlak. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk yang diberi akal budi lebih oleh pencipta kita, sebaiknya jangan seenaknya menilai sesuatu itu BENAR atau SALAH secara prematur. Hal ini hanya akan menunjukkan kebodohan kita dan semakin memperburuk kehidupan yang sudah memiliki hal-hal buruk secara alami. Semoga tulisan subjektif saya ini pun dapat diterima dengan baik tanpa kerangka pemikiran BENAR dan SALAH. Terimakasih.

  
warungkopigeleng | medan | 15april2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s