AKU DAN SUBYEKTIVITASKU


Sebelum memulai tulisanku, aku hanya ingin menekankan bahwa tulisan ini adalah murni pendapatku. Tidak ada tendensi apapun untuk pembaca, jadi semua boleh setuju maupun tidak setuju.

AKU DAN SUBYEKTIVITASKU. Menurutku, dunia ini adalah sebuah sistem yang kompleks dan sangat rumit. Setiap hal dalam dunia ini pasti memiliki kaitan dengan hal lainnya. Sebagai contoh, ketika kita menyalakan api, tentu akan menyebabkan rasa hangat, bila dikenakan pada jerami, maka akan timbul asap dan proses pembakaran. Bila jerami tersebut ada dalam jumlah besar dan berada di dalam sebuah bangunan kayu, maka ada kemungkinan terjadi kebakaran yang hebat. Terus dan terus, contoh ini bicara tentang konsep sebab-akibat. Tidak hanya sampai disitu, masalah ini menjadi semakin rumit ketika kita sebagai manusia mulai memasukkan berbagai variabel tambahan dalam kasus tersebut. Kita akan mulai bertanya, “dari mana asal api ini?”, “siapa yang menyalakannya?”, “apakah menimbulkan korban celaka?”, hingga pertanyaan seperti, “apa motif dibalik pembakaran ini?”. Semakin rumit kan?. Hebatnya, dari pertanyaan tersebut, manusia punya kemampuan untuk menimbulkan pertanyaan rumit lainnya. Berhenti sampai disini, aku hanya ingin menyampaikan bahwa dunia dan sistem kehidupan di dalamnya ini memang rumit.

Di awal paragraf sebelumnya, aku menulis kata “menurut aku…”. Selain sebagai penyanggah bila ada yang “menyerang” tulisanku ini, rangkaian kata itu sebenarnya menjadi nafas dari sesuatu yang subyektif. Menurut aku (nah, mulai lagi), manusia itu lahir sebagai makhluk soliter yang tidak tau apa-apa dan tidak punya siapa-siapa. Hingga, sistem kehidupan yang sudah dibangun oleh manusia sebelumnya membentuk instrumen hidup manusia yang baru lahir tersebut. Tentu saja hal ini memiliki dampak yang cukup mendalam pada tingkatan hidup selanjutnya. Hal-hal soliter yang sifatnya subyektif itu beralih menjadi sesuatu yang lebih luas dan disosialisasikan sebagai sistem bersama yang sifatnya obyektif.

Berasal dari kata subyek dan obyek, dua hal bertolakbelakang ini sudah lama menjadi pemikiranku. Berawal saat membuat skripsi dan menentukan cara pandangku terhadap masalah yang akan dibahas, aku menemukan bahwa diriku adalah seorang subyektivis. Orientasiku ada di sekitar subjek yang tak lain adalah diriku, semua berasal dari asumsi, pandangan, pemikiran, bahkan cara berpikir yang AKU miliki. Itulah sebabnya, ketika memilih metode penelitian pun, aku “jatuh cinta” dengan kualitatif. Cukup bicara soal penelitian!.


Menurutku (kembali lagi), semua hal di dunia ini bersifat subyektif karena pada dasarnya manusia itu pun adalah subyek yang mengendalikan setiap apa yang diputuskannya. Sesuatu tidak akan terjadi bila tidak ada yang menghendaki. Bahkan, Tuhan, Dewa, Allah, Yahwe, atau apapun itu yang berada di level tertinggi pun adalah makhluk yang subyektif dengan tingkatan yang tentu saja belum dapat dilampaui manusia. Namun demikian, bukan berarti aku mengelak tentang adanya hal-hal obyektif.

Obyektivisme menurutku tetap ada. Penelitian dan ilmu pengetahuan pun tetap memerlukan obyektivitas dalam mengkonsepkan sesuatu, tetapi levelnya tentu berada di bawah subyektivitas. Begini, maksudku adalah segala hal yang dianggap obyektif di dunia ini adalah kumpulan dari berbagai subyektif yang bersumber dari tiap pribadi. Hal-hal subyektif tersebut berkumpul kemudian disepakati bersama dan jadilah sebuah obyektivitas. Sebagai contoh, dalam sebuah pertarungan tinju, kalah menang ditentukan oleh seorang wasit yang harus memberikan keputusan secara obyektif. Namun, dalam menentukan keputusan siapa yang menang dan siapa yang kalah, sang wasit tidak akan menggantungkannya hanya pada pendapat pribadinya (ini namanya subyektif). Dia butuh tim penilai yang terdiri dari beberapa orang, mereka pun tidak dapat berdiri sendiri, karena mereka adalah subyek. Selain itu, ada lagi peraturan (hukum) yang sifatnya lebih obyektif (katanya), padahal disusun juga dari berbagai pengetahuan yang subyektif. Belum lagi pendapat lain yang sifatnya tidak resmi seperti penonton dan komentator, mereka memang tidak terkait resmi namun mereka punya kekuatan mempengaruhi tiap keputusan yang wasit buat. (Masuk kategori apakah pendapat mereka? Ya, subyektivitas). Akhirnya berbagai subyektivitas yang beranekaragam ini bercampur menjadi satu dalam sistem pertandingan yang kompleks. Hal-hal rumit inilah yang akhirnya menjadi dasar dari sang wasit untuk membuat satu keputusan yang “obyektif” tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Bagaimana? Kira-kira sudah ada bayangan tentang pemikiran subyektifku? Ya memang agak rumit sih, aku pun cukup berpikir keras untuk menuangkan ini dalam tulisan. Tapi ya, sudah dua hari rasa ingin menulis tentang cara pandangku ini terus muncul. Lanjut ya…

Keberadaan manusia yang seringkali (tidak selalu) menjadi subyek dalam kehidupan, sebenarnya justru menguatkan subyektivitas manusia ini sendiri. Ego dan sifat ke-aku-an manusia pun melengkapi situasi tersebut. Subyektivitas pun semakin kuat dan tidak lagi dapat dihindari, hingga kadang-kadang berbagai hal buruk pun muncul karenanya.

Bagiku, subyektivitas adalah dasar setiap cipta, rasa, dan karsa yang dimiliki manusia. Sebagai pribadi yang memiliki perangkat-perangkat tersebut, manusia dapat menjadi subyektif dalam berbagai tingkatan waktu dan perihal. Masalahnya, kembali kepada manusia tersebut memanfaatkan subyektivitas ini dalam kerangka positif atau justru negatif. Ini yang menjadi salah satu kelemahan cara pandang subyektif seperti aku. Kadang, cara pandang ini tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan batasan baik dan buruk karena semua terlihat relatif. Pada lingkup ini, subyektivis membutuhkan bantuan obyektif (kesepakatan bersama) untuk bertahan seperti halnya perangkat hukum, agama, maupun para ahli ilmu eksak. Namun lebih daripada konsep benar dan salah, aku percaya cara pandang subyektif dan obyektif adalah dua hal (yang seolah) paradoks yang membangun setiap peradaban manusia di bumi hingga saat ini.(entah apa yang terjadi di kehidupan planet lain)

Hingga detik ini, aku masih menyimpulkan bahwa diriku adalah makhluk hidup (manusia) subyektif. Memang aku memiliki latar belakang ilmu sosial yang sangat dekat dengan subyektivisme, tetapi untuk menjadi subyektivis seperti sekarang ini aku harus memilih setelah sebelumnya melewati proses yang tidak hanya ada dalam kerangka pendidikan, namun juga seluruh tahapan kerumitan hidup yang kulewati. Baiklah, ini aku dan subyektivitasku dalam kehidupan yang rumit. Kembali lagi pada apa yang kutulis di awal artikel, ini semua hanyalah pendapatku yang subyektif. Boleh setuju, jika tidak juga tidak apa.


Terimakasih sudah membaca tulisanku. 🙂

Phosphone | subjektifitas | 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s