Balada Sang Gitar Tua


Aku adalah sebuah gitar tua yang terduduk sunyi di tepian ruang sempit dan pengap. Lima tahun sudah aku bergelut dengan sepi dan ratapan ruang hampa tanpa penghuni ini. Tiap detik hanya kosong yang memenuhi setiap isi hati, walaupun sejatinya aku memang benda dan mati.

(Hening)

Ijinkan aku bercerita.

Aku pertama kali dibuat pada tahun 1986, sebuah masa dimana irama Slow Rock dan Disco menginvasi setiap lubang telinga dan gaya hidup anak muda. Awal dari sebuah masa baru dimana cinta akan berbalut teknologi dan mimpi tak lagi tentang hati. Aku terlahir dengan bahagia dalam tubuh kayu Oak yang begitu seksi (khususnya dalam dunia gitar), senar nylon yang lembut, warna coklat natural yang memancar indah, serta suara mendayu yang menggetarkan jiwa (yang terakhir hanya pendapat pribadi). Hal yang terpenting untuk diingat adalah bahwa aku tercipta dengan rangkaian berlian kecil di sekitar lubang resonansi dan membuatku menjadi gitar Limited Edition dan hanya memiliki 9 saudara kembar tersebar di seluruh penjuru dunia. Sudah jelas, aku congkak sejak lahir karena tercipta sebagai mahakarya yang ‘nyaris’ sempurna.

(Backsound irama klasik Beethoven no.9)

Perjalanan awal hidupku sama sempurna dengan euforia masa kelahiranku. Sejak awal tercipta, aku sudah ‘jatuh’ ke tangan dingin seorang musisi klasik terkemuka di dunia. Hal ini membuatku memiliki pengalaman menjelajah 5 benua, 30 negara, dan 80 kota sejak aku berumur belia. Gila! Masa-masa penuh gairah yang memancar hingga membuat tiap dawaiku seringkali menegang tiba-tiba. Sungguh, dalam kurun waktu 10 tahun awal itu aku merasa menjadi satu gitar yang paling beruntung di alam semesta.

Begitu bahagianya aku hingga tak sadar satu wabah muncul dalam kehidupan spesies pemilikku, manusia. Dalam kehidupannya, satu penyakit muncul dan merajalela membunuh siapa pun yang terjangkit olehnya. Seingatku namanya HIV-AIDS dan konon belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Aghhhh, untuk satu hal ini aku merasa bangga menjadi sebuah gitar yang sudah pasti tidak akan terjangkit penyakit mematikan itu. Namun, kehadiran penyakit itu berdampak lain bagi keberadaanku. Sang maestro gitar klasik pemilikku memutuskan untuk melelang aku dalam sebuah charity festival antar musisi untuk para penderita HIV-AIDS yang mematikan itu. Awalnya aku sedih, tetapi ‘daguku kembali terangkat’ ketika nilai jualku mencapai 300.000 dollar Amerika dan menjadi gitar termahal yang terjual dalam 3 dasawarsa terakhir. Aku terpana oleh pencapaianku sendiri.

Seorang pengusaha kaya telah menebusku seharga 300.000 dollar Amerika. Kemudian, aku hidup mewah di salah satu Penthouse miliknya. Nikmatnya, kala itu aku tidak perlu bekerja susah payah siang malam seperti sebelumnya. Setiap senar yang menempel di tubuhku awet hingga tahunan, bahkan tanpa kuatir berkarat atau lapuk. Pengusaha kaya itu menyewa ahli gitar untuk merawatku setiap minggunya. Sedihnya, hidupku saat itu terlalu rapih dan tidak ada satupun orang yang memainkanku. Aku merasa seperti pajangan rumah yang sama dengan guci-guci khas Cina ataupun patung-patung klasik ala Eropa jaman pencerahan. Akhirnya, aku mulai merasakan kebosanan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Rasa kebosananku semakin memuncak dan tak terbendung lagi. Terus terang, saat itu aku sangat merindukan petikan Sang Musisi Klasik pemiliki pertamaku membelai setiap dawai dan menghasilkan suara indah nan syahdu. Aku rindu masa-masa sebelum aku dilelang. Sesekali aku melamun dan berharap pemetik gitar itu membeliku kembali. Berikutnya, semakin sering aku melamun dan terlontar sebuah doa untukku lepas dari jerat kebuntuan ini. Aku tak peduli apapun caranya, aku ingin keluar dari sangkar kaca yang membuatku tampak seperti ornamen museum khas manusia.

(Backsound irama melankolis khas drama Korea)

Satu tahun berikutnya, doaku terjawab dengan situasi yang kurang baik bagi pengusaha pemilikku. Saat itu dunia mengalami resesi hebat dan semua bisnis sang pengusaha pun jatuh bangkrut tak bersisa. Jangankan untuk memanggil ahli gitar perawatku, membeli cairan pembersih lantai saja ia tak sanggup. Sungguh menyedihkan. Doaku semakin terwujud justru ketika tubuhku mulai berjamur dan senar di tubuhku mulai lapuk. Rasa gatal tak menentu ini membuahkan petualangan baru dalam kisah perjalanan hidupku.

(Senyap)

Yaaaaaa, aku dibuang!!!

Miris bila mengingat masa itu, tapi ini keinginan dalam doaku. Tubuhku diletakkan begitu saja dalam bak sampah yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Aku rebah bersama sisa makanan, kertas-kertas tidak terpakai, kondom bekas, bahkan kotoran anjing yang cukup menjijikan bagi gitar 300.000 dollar Amerika sepertiku. Huuufftt, aku merasa terhina hingga titik terendah yang pernah ada di semesta per’gitar’an.

Aku tinggal dalam kondisi itu hampir seminggu penuh hingga akhirnya seorang tunawisma mengambilku. Tubuh kurus kering, bau, tak terurus itu tampaknya akan menjadi pemilik baruku. Sejenak aku berpikir, orang ini sangat cocok denganku mengingat kondisi fisikku saat ini tidak beda jauh darinya. Setelah mengangkatku dari “neraka” sampah itu, tunawisma ini membersihkanku dengan alat seadanya dan ala kadarnya. Rasanya ingin berteriak untuk memberitahu cara merawatku dengan semestinya, namun dibersihkan saja sudah jauh lebih baik daripada berada dalam hingar bingar kelamnya bak sampah kemarin. Aku semakin belajar untuk lebih bersyukur dengan apa yang kualami.

(Backsound nada lembut dan ceria-perlahan masuk)

Tunggu … Kenapa aku tidak pernah memeriksa rangkaian berlian yang menjadi kebanggaanku itu? Astaga! Berlian itu masih ada, bahkan Sang pengusaha bangkrut yang membuangku dulu tak menyadarinya (padahal berlian ini cukup untuk menyelamatkan hidupnya. Paling tidak memberi makan ia dan keluarganya). Penyesalan selalu muncul di belakang, sayangnya aku tidak merasa rugi. Hahaha, si tunawisma ini pun nampaknya hanya menganggap berlian di sekitar lubang resonansiku ini sebagai aksesori semata. Baiklah, aku tidak tahu seperti apa ke depan dan bagaimana caraku menghadapinya. Saat itu yang terpikir adalah, apa yang akan dilakukan tunawisma ini terhadap gitar kucel seperti aku ini.

(Hening)

Owwww … dia mengganti senar-senarku yang sudah lapuk dan tak berguna. Ini sangat istimewa, walaupun aku tahu bahwa senar pengganti ini adalah senar termurah yang pernah ada. Yeaaaaayy!!! Aku bahagia!!!

(Backsound irama klasik ceria)

Si tunawisma (entah dapat uang darimana) berhasil membahagiakan aku. Lebih luar biasa lagi, ia memainkanku dengan jemarinya … Aku hidup kembali. Nada-nada ini terdengar sangat indah, walaupun aku tahu bukan musik klasik yang keluar. Aku agak kurang mengerti nada itu, sepertinya Pop. Namun, yang pasti suara tunawisma ini merdu dan sangat menarik untuk didengar. Ia selalu bernyanyi dan menjadikanku pengiring utama dari suaranya yang merdu. Setiap hari, di tempat yang sama, bahkan waktu yang kurang lebih sama ia melakukan ini, anehnya banyak orang yang mendengar dan melemparkan koin-koin pada kaleng yang ia letakkan di lantai. Baru-baru ini saja aku tahu, bahwa tunawisma ini menjadi seorang musisi jalanan (pengamen) setelah ia mendapatkanku beberapa waktu sebelumnya.

Satu hari pun aku tak pernah lepas dari genggaman si tunawisma. Hari demi hari lagu yang dimainkan pun semakin banyak dan beragam, namun tak pernah sekalipun aku dengar ia memainkan irama klasik. Ahhh aku tidak peduli, yang pasti aku kini merasa beguna lagi. Sejalan dengan kegigihan tunawisma ini, hidupnya pun kian hari kian membaik. Ia tidak kesulitan mencari makan lagi. Ia sudah memiliki tempat tinggal, walaupun hanya satu petak dan terlihat seperti pos keamanan (paling tidak, aku tidak bisa memanggilnya sebagai tunawisma lagi). Ia resmi bekerja sebagai musisi dan akhirnya mendapat kontrak resmi di satu kafe terkemuka untuk menghibur pengunjung kafe tersebut setiap akhir pekan. Aku terharu, hidup tunawisma ini berangsur berubah ke arah yang jauh lebih baik.

(Backsound irama menyedihkan)

Baik bagi si tunawisma tetapi kurang baik untukku. Tampaknya kafe tempatnya bekerja menyarankan untuk menggunakan gitar elektrik. Hal ini menjadi tuntutan dan menimbukan konsekuensi bagi si tunawisma dan aku. Si tunawisma ini belum memiliki uang cukup untuk membeli gitar listrik pendukung pekerjaannya, ia pun menjualku. Aku tahu, sebenarnya ia tak sampai hati untuk menjualku. Ia sudah mencoba segala cara, termasuk meminjam uang pada rentenir terburuk di kota ini. Namun sepertinya bukan nasib baikku, si tunawisma bertemu seorang tukang gadai yang mau menukarku dengan sejumlah uang yang dibutuhkan oleh si tunawisma. Aku pun kembali berpindah tangan.

Aku kembali berada di tangan yang salah. Ia adalah seorang pedagang barang loak. Entah apa yang ada di benaknya ketika menawarku dari si tunawisma, namun aku merasa orang ini sepertinya sadar keberadaan berlian di tubuhku. Orang ini jelas sama sekali tidak mengerti musik. Jangankan bermain gitar, ketika bicara saja nada yang terucap tidak enak didengar. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan mau tidak mau saat ini dialah pemilikku.

(Hening)

Seperti dugaanku, orang ini sama sekali tidak peduli dengan musik. Sejak pertama membeliku, ia sama sekali tidak pernah menyentuhku, bahkan melirik padaku saja tidak. Aku jd meragukan jika orang ini tertarik pada berlian di tubuhku. Satu hal yang akhirnya membuatku bersyukur, ia belum menyadari keberadaan rangkaian berlian ini. Rasa syukur ini bercampur dengan pertanyaan ingin tahu dariku, lalu untuk apa ia membayarku dengan jumlah yang tergolong tidak murah?

Hah!! Jawaban dari pertanyaanku ini terjawab setelah aku tinggal sekitar 2 minggu di rumah pedagang barang loak ini. Suatu hari, datanglah seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian yang tergolong rapih ke rumah si pedagang. Tidak banyak percakapan diantara keduanya, mendadak si pedagang mengambilku dan menyerahkanku kepada lelaki paruh baya tadi. Tidak ada transaksi sama sekali, aku pun mulai bermain dengan pikiranku sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sang pria paruh baya membawaku dengan menggunakan kendaraan umum. Wajahnya tampak mengkhawatirkan sesuatu dan sesekali peluh keringat mengucur dari dahinya menuju lipatan mata, pipi dan jatuh di pangkuannya. Seketika aku tahu, lelaki ini memiliki masalah yang ada kaitannya dengan gitar sejenisku.

Benar saja, setelah dibawa dalam perjalanan kurang lebih selama 2 jam dan berganti tiga kali kendaraan umum, akhirnya aku sampai di rumah lelaki paruh baya itu. Jalannya gontai menuju pintu rumah dengan arsitektur kuno dan tampak tidak terurus itu. Pintu depan rumah mulai terbuka, kreeeeekkkkkkk…. , suaranya sama tua dengan umur rumah ini sepertinya. Tanpa banyak bicara, ia memasuki ruang tamu yang tampak kelam menuju satu pintu (sepertinya kamar) dan jawaban dari kebingunganku pun mulai terbuka. Sesosok tubuh mungil terbaring lemah tanpa tenaga, seorang gadis kecil tampak tak berdaya tiba-tiba bergerak menatap lelaki paruh baya ini.

Gadis kecil itu tersenyum manis walaupun tak bisa menutupi kenyataan bahwa ia menaham sakit yang begitu luar biasa. Lelaki itu pun menghampiri sang gadis, menyembunyikan aku di belakang tubuhnya, mencium kening sang gadis dan mulai berbicara pada sang gadis.

    “De, ayah bawa sesuatu nih”, ucap lelaki paruh baya itu pada sang gadis.

      Gadis mungil itu pun menanggapi sambil tersenyum, “Apaan yah? Bentar, kayaknya ade tau…mmmmmm”.

        Sang lelaki pun menyunggingkan senyum, “apa hayo?….hehehehe…..ini janji ayah”.

        Sesaat ia berkata janji dan menyerahkanku pada sang gadis. Mereka berdua tampak bahagia dan keduanya pun saling berpelukan. Jadi setelah mendengar percakapan mereka, ternyata aku memiliki peran yang sangat penting dalam kisah kali ini. Dulu, sang gadis pernah memiliki satu gitar yang bentuk serta warnanya sama persis dengan tubuhku. Gitar nylon yang biasa dimainkan sang gadis untuk mengisi hari-harinya dengan bernyanyi. Hingga suatu hari, sang gadis divonis terkena satu penyakit yanga namanya Lupus dan sepertinya sama bahayanya dengan HIV-AIDS yang dulu pernah kukenal. Gadis ini hanya tinggal berdua dengan sang lelaki paruh baya yang merupakan ayahnya karena sang ibu sudah lebih dulu meninggal karena kecelakaan. Kondisi ekonomi keluarga mereka jauh dari kata cukup, sehingga sang ayah terpaksa menjual gitar kesayangan si gadis untuk menebus obat yang dibutuhkan.

        Miris rasanya mengetahui kenyataan yang mereka alami. Terlebih ketika tahu bahwa sang ayah terpaksa menjual salah satu ginjalnya untuk kembali membeli gitar serupa (ini maksudnya aku) yang dulu pernah dimiliki anak gadisnya. Rumit dan sangat menyedihkan.

        (Backsound irama berapi-api penuh kemarahan)

        Sebentar … Aku baru sadar bahwa ini berarti si pedagang barang loak itu tidak hanya berdagang barang-barang saja namun juga organ-organ manusia dan sudah jelas semuanya ilegal. Arrrggghhh…kenyataan yang memuakkan!, apalagi si pedagang meminta imbalan organ ginjal untuk ditukar dengan gitar semacam aku. Andai aku manusia, rasanya ingin kubunuh si padagang dan kurobek ginjal miliknya. Sayangnya, aku bukan manusia.

        (Tempo melambat)

        Kembali pada kisah sang ayah dan anak gadisnya. Aku tinggal di rumah tua itu dan menjadi penyemangat hidup si gadis kecil tersebut. Setiap hari, aku selalu dimainkan dengan berbagai lagu-lagu indah berikut suara parau namun merdu milik si gadis. Bahagianya, sang gadis adalah penggemar aliran klasik dan sanggup memainkan sejumlah lagu klasik dengan sangat baik. Walaupun tak profesional seperti musisi pemilik pertamaku, namun gadis manis ini sudah berhasil menghidupkanku hingga level tertinggi sejak aku dilelangkan beberapa waktu yang lalu. Bahkan, kadang aku merasa kini arti hidupku lebih daripada sekedar gitar Limited Edition atau gitar 300.000 dollar Amerika. Saat itu, aku seharga dengan nyawa seorang gadis mungil yang sakit dan aku menjadi bagian dari hidupnya. AKU BAHAGIA!!!

        (Backsound mendayu-dayu)

        Namun, kebahagiaanku hanya bertahan selama 6 bulan. Suatu senja yang sendu, setelah memainkanku tiba-tiba gadis mungil itu kejang-kejang dan terpaksa harus dibawa menuju Unit Gawat Darurat oleh sang ayah. Entah apa yang terjadi selanjutnya, dua hari aku sendiri di rumah tua itu dan sang ayah kembali tanpa kehadiran gadis manis pemilikku saat itu. 

        Gadis itu telah tiada. 

        Setelah kejadian sore itu, sang gadis akhirnya meninggal dan dimakamkan dengan upacara sederhana tanpa kehadiran sanak saudara atau teman, sahabat, dan keluarga lainnya. 

        Gadis itu meninggal dalam kesepiannya.

        Rasanya ingin teriak dan membongkar tubuhku, mengambil berlian di lubang resonansiku dan menjualnya untuk biaya pengobatan sang gadis hingga sembuh dan ceria kembali. Namun, aku baru tahu bahwa Lupus adalah penyakit yang memiliki kemungkinan kecil untuk sembuh, tiba-tiba saja dapat kambuh dan seketika membunuh penderitanya. Pikirku, percuma saja berlian ini, semua kehendak ada pada sang Pencipta. 

        Selanjutnya, lelaki paruh baya itu berkemas dan pergi begitu saja entah kemana tanpa mengingat keberadaanku. Aku memakluminya, bahwa ia begitu terpukul atas kepergian gadis kecil yang sangat dicintainya. Jangankan ia sebagai ayahnya, aku yang hanya gitar kesayangan si gadis saja merasa sangat kehilangan atas kepergian gadis kecil mungil itu.

        (Backsound irama klasik tempo menengah)

        Akhirnya, inilah aku yang tadinya indah luar biasa, kini lapuk, kusam, penuh cacat di sekujur tubuhku. Jamur menyelimuti tiap rangkaku dan suaraku mungkin parau bila dimainkan. Lima tahun terdiam dalam posisi yang sama ketika ditinggalkan sang gadis manis. Bercerita kisah hebatku, sedih hingga akhir pahit yang mengiris benakku. Mungkin aku bukan manusia, tetapi ada bagian perasaanku yang berontak dan marah atas apa yang pernah kulewati. Aku menyadari bahwa aku kini sendiri, tapi aku harus bersyukur bahwa aku pernah berarti dalam hidup manusia. Sang musisi, pengusaha, si tunawisma, pedagang bajingan, hingga ayah dan anak gadisnya yang sakit, mereka juga yang membuatku berarti. Awalnya aku berpikir dengan congkak bahwa aku terlahir penuh arti, namun ternyata semua sirna selama perjalanan hidup yang kualami. Aku sempat kehilangan makna diri, namun dalam keheninganku aku belajar bahwa melalui pribadi-pribadi yang kutemui … aku temukan arti hidupku yang sejati. 

        Terimakasih.



        Berlianku masih menempel di tubuhku! Hey kalian yang membaca, apa kalian tidak tertarik untuk menemukanku dan menjadi pemilikku selanjutnya? Hahahahahahahahahaah…..jreeeeeeng!

        (Backsound irama klasik ceria-fade out-selesai)

        Advertisements

        Leave a Reply

        Fill in your details below or click an icon to log in:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

        Connecting to %s