Movie Review: BEN-HUR, Kisah Kasih Yang Mengampuni

ben-hur_poster_goldposter_com_8-jpg0o_0l_800w_80q

Kisah Ben-Hur diawali dengan eratnya persahabatan antara seorang anak bangsawan Yahudi bernama Judah Ben-Hur dengan seorang anak angkat berkebangsaan Romawi bernama Messala Severus. Mereka begitu dekat layaknya saudara kandung yang saling mendukung satu dengan yang lain hingga sulit terpisahkan. Namun ketika mereka beranjak remaja dan memasuki masa pencarian jati diri dalam latar belakang mereka yang memang berbeda, keduanya berpisah dan berusaha menemukan jalan hidupnya masing-masing. Kemudian, dengan latar belakang situasi kota Jerusalem pada abad pertama yang berada di bawah otoritas kerajaan Romawi, kedua saudara angkat ini bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Suasana rindu ternyata tak bertahan lama dan keduanya terlibat dalam sebuah insiden pemberontakan kaum Zelot Yahudi terhadap penguasa Romawi dibawah pemerintahan Pontius Pilatus.

Messala Severus yang saat itu menjabat sebagai seorang Tribun atau Komandan pasukan secara dilematis harus menghadapi Judah Ben-Hur dan keluarga angkatnya demi mempertahankan kesetiaannya kepada Pontius Pilatus dan Kekaisaran Romawi. Konflik pun dimulai, seluruh keluarga Ben-Hur terpisah dan hidup menderita. Judah Ben-Hur sebenarnya masih sangat menyayangi sang saudara angkat, namun insiden pemberontakan Zelot yang lalu telah menorehkan luka dalam sehingga dendam pun tak terelakkan. Beberapa rangkaian peristiwa akhirnya membawa Ben-Hur kembali ke kota asalnya Jerusalem dan merencanakan sebuah pembalasan terhadap Messala Severus yang saat itu sudah menjadi aset berharga Romawi dalam pacuan kereta kuda kebanggan Pontius Pilatus. Alih – alih membunuh Messala Severus, Ben-Hur bertemu dengan Ilderim yang membawanya menjadi seorang joki kereta pacuan kuda dan berkesempatan membalaskan dendam terhadap Messala melalui pertandingan pacuan kereta kuda. Walau sebagian film diwarnai oleh adegan “berdarah”, namun film ini menyuguhkan happy ending pada akhir penampilannya.

benhur

Sepintas, kisah yang diangkat dari sebuah Karya Novel berjudul BEN-HUR: A Tale of Christ karangan Lew Wallace (1880) ini memang seperti sebuah balada konflik keluarga biasa. Namun lebih daripada itu, film Ben-Hur sudah berusaha dengan sangat baik mengangkat berbagai makna positif yang terkandung dalam kisah epik ini. Cerita fiksi Ben-Hur sudah memiliki keunggulan dengan latar kehidupan di Jerusalem yang memiliki kesamaan tempat dan waktu dengan masa hidup Yesus Kristus. Bahkan bila merujuk pada judul novel aslinya (dimunculkan dalam adegan film juga), kisah Ben-Hur nampak seperti sebuah side story dari perjalanan hidup Yesus Kristus. Inilah sebabnya tidak heran bila tokoh Yesus Kristus muncul dalam beberapa adegan di film ini.

Film ini menampilkan sebuah kisah hebat yang sarat akan makna. Pesan moral tentang pantang menyerah, saling menghormati antar manusia yang berbeda keyakinan, sikap membela yang lemah, dan mengasihi sesama manusia disampaikan dengan gamblang pada tiap adegannya. Tetapi menurut saya, inti cerita kisah ini terletak pada ajaran Kasih khas Yesus Kristus yang merupakan perwujudan Kasih Tuhan kepada manusia dan digambarkan tersirat dalam hubungan antar karakter dalam film ini.Mulai dari penggambaran hubungan antara Messala dan Ben-Hur, kisah cinta Messala dan Tirzah, perjuangan Ben-Hur membebaskan ibu dan adiknya, inisiatif Yesus Kristus memberikan air minum kepada Ben-Hur yang terhukum, hingga akhirnya keputusan Ben-Hur untuk menggantikan dendamnya kepada Messala dengan pengampunan yang tak terbatas sungguh-sungguh mengajarkan tentang intisari arti Kasih kepada siapapun yang menyaksikan film ini.

Pribadi Ben-Hur sebenarnya tak berbeda dengan pribadi manusia normal pada umumnya yang penuh dengan kelebihan dan kekurangan. Pada dasarnya, ia adalah pribadi yang baik. Namun ketika hak-hak pribadi bahkan kebebasan keluarganya dilanggar, Ben-Hur dapat menunjukkan sisi dirinya yang kelam dan penuh dengan dendam. Walaupun demikian, Tuhan yang tergambar dalam sosok Yesus Kristus tetap mengasihi manusia apapun keadaan manusia tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang akhirnya ditiru oleh Ben-Hur yang berhasil mengalahkan ego dendamnya terhadap Messala dan berbalik mengampuni serta mengasihinya kembali. Pokok inilah yang sebenarnya menjadi pesan utama dalam film berdurasi sekitar 123 menit ini.

Film yang juga merupakan remake dari film berjudul sama (1959) ini menyampaikan pesan religius tentang kasih dengan cara yang sangat unik. Hal ini sangat menarik, karena pesan berharga ini pun dapat diterima secara umum sebagai sebuah nilai universal oleh seluruh penonton dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Ben-Hur sangat kuat pada narasi dan dialog penokohannya, hal ini yang menjadi kunci utama sarat makna dalam film ini. Sinematografinya pun tidak kalah ajib dengan visual effect berteknologi tinggi sehingga kesan latar suasana serta mood tiap pembabakannya pun tersampaikan dengan cantik. Namun demikian, bila dilihat dari alur penyampaian ceritanya, menurut saya film Ben-Hur (2016) ini masih agak terlalu terburu-buru padahal alur ceritanya tergolong cukup padat. Dapat dimaklumi mengingat sebagian karakter penonton masa kini yang cenderung cepat bosan dan menginginkan segala sesuatu yang instan. Akhirnya dari skala 1 sampai 10, film ini menurut saya pantas diberi nilai 8.5, terutama karena sarat makna penting bagi kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s