Ketika Agama “Mengganggu” Pikiran Saya

religion

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali hal yang terjadi di Indonesia dan cukup menjadi “pengganggu” pikiran saya. Isu yang sering dibicarakan dan menjadi topik permasalahan di banyak level masyarakat adalah agama. Entah kenapa, saya merasa Indonesia begitu lekat sekali dengan urusan religiusitas ini. Banyak pihak yang menganggap agama merupakan dasar penting dari setiap perilaku dan sikap manusia dalam kehidupan sehingga layak untuk dibela dengan segenap jiwa dan raga, sebagian lagi menganggap bahwa agama merupakan KEBENARAN hakiki yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kata lain agama tidak bisa salah. Selanjutnya, agama pun dapat “berkolaborasi” dengan banyak isu lain di masyarakat. Sebut saja Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan Keamanan dan Pertahanan. Luar biasa!

Agama seolah sudah menjadi “panglima”, tidak saja bagi pribadi namun juga kelompok, golongan, bahkan dalam bernegara. Saya akui, dalam Pancasila Ketuhanan menjadi sila atau prisip pertama yang disebutkan, tapi itu bukan agama. Sekali lagi, ITU BUKAN AGAMA! Bagi saya, agama akan lebih indah bila berdiri di lingkup Kemanusiaan dan bukan sekedar Doktrinasi. Jadi, tidak elok bila ada PEMAKSAAN (dalam bentuk apapun itu) terhadap individu lainnya untuk melakukan apa yang sudah menjadi doktrin agama. Terlebih, bila alasan yang digunakan adalah tidak ingin melihat manusia lainnya “tersesat” dalam dosa. Haloooooo, siapa kita hingga mampu menghakimi manusia lainnya?.

80359871_thumbnail

Untuk sebagian kelompok, agama mungkin menjadi pedoman atas kehidupan yang dijalani, bahkan mengatur seluruh unsur kehidupannya dari lahir hingga mati, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan dari urusan memilih jodoh hingga buang air. Saya paham fungsi agama sebagai aturan, namun saya juga memahami bahwa agama bersifat pribadi (ini mungkin pengetahuan saya yang masih sangat rendah) sehingga tidak dapat memberlakukan pemaksaan yang agama lakukan terhadap diri kepada individu di luar diri kita. Kalau bagi saya, secara pribadi melakukan ajaran agama saja sudah sangat sulit, apalagi ditambahkan pribadi lain untuk kita atur secara agamawi juga.

Ada hal yang lebih gila, ketika berbagai kepentingan lain sudah dibumbui oleh agama sehingga level kesucian dan keharusannya menjadi sama dengan agama (bagi kaum “Religion Fans Club”). Agak sulit bagi saya ketika harus menjalankan perintah agama dalam perihal Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, maupun Keamanan di tataran masyarakat yang heterogen dengan keragaman yang luar biasa. Sulit karena setiap orang tidak memiliki sistem nilai dan keyakinan yang sama, namun dalam hal agama semuanya harus seragam. Bagi saya, hal ini sangat membingungkan dan berindikasi menimbulkan “korsleting” dalam perasaan dan pikiran.

Sebagai contoh yang sering saya perhatikan di Indonesia, (mohon maaf kalau saya ambil contoh ini, karena menurut saya ini yang cukup sederhana untuk dijadikan contoh) saat Umat Muslim berpuasa ada sebagian kelompok (INGAT! ini sebagian kelompok, artinya bukan keseluruhan) yang menuntut seluruh restoran tidak boleh buka dengan dalih menghormati mereka yang puasa, padahal tidak semua orang berpuasa. Bagaimana bisa “memaksa” orang yang tidak berpuasa untuk tidak makan di restoran ketika bulan puasa?. Mungkin hal ini bisa diterapkan di negara yang memakai landasan agama seperti Arab saudi, tetapi INDONESIA bukanlah negara agama. Saya yakin, jika restoran pun buka pada saat puasa, umat non-Muslim juga tidak akan dengan sengaja makan di depan Umat Muslim yang sedang berpuasa apalagi sampai melecehkan keteguhan mereka yang berpuasa.

parliament-religion-cc-ryan-hyde

Bagi sebagian masyarakat, agama mungkin sudah benar-benar berada pada puncak rantai aturan dalam kehidupannya, melebihi hukum sipil yang berlaku seperti undang-undang atau bahkan Ideologi Bangsa seperti Pancasila. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat lain seperti halnya saya, agama sudah tidak menjadi hal yang “super” lagi. Keberadaan agama bagi saya sudah berhenti HANYA pada level CARA saja dan tidak lebih, sehingga tidak perlu dibela mati-matian. Bila agama yang saya anut saat ini diolok-olok sampai level terendahnya, saya tidak akan marah karena itu hanya cara saja. Hal ini seperti kita naik Bus menuju satu tempat dan di tengah jalan mendapat hinaan dari sebagian orang yang naik mobil mewah dengan tujuan yang sama.

Sebenarnya tidak ada masalah bila seseorang memperbincangkan atau bahkan berdebat mengenai perbedaan agama, ini sah-sah saja selama tidak bertujan untuk menghina dan merasa agamanya lebih baik daripada lawan bicaranya. Ingat, (bagi yang percaya keberadaan Surga-Neraka) bahwa yang berhak memutuskan siapa yang berdosa, masuk neraka, dan siapa yang masuk surga adalah Tuhan Penguasa Semesta itu sendiri, bukan kita!. Nah, yang menjadi masalah berbahaya adalah ketika kita merasa sudah paham benar mengenai agama yang kita anut dan merasa BERHAK untuk MENGHAKIMI manusia lainnya atas setiap kesalahan yang sudah dibuatnya. Lebih daripada itu, mungkin kita merasa bahwa kita LEBIH SUCI dari manusia lain. Saudaraku, siapakah kita sehingga kita berhak untuk MENGHAKIMI sesama kita manusia?

evolution-of-religion-1

Agama seharusnya menghantarkan orang menjadi lebih baik lagi dan bukan sebaliknya. Agama adalah CARA manusia untuk mempelajari, memahami, dan menjalani Kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta. Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita semua untuk menonton satu film layar lebar buatan India yang berjudul PK. Tidak perlu saya ceritakan resensinya, namun saya ingin memparafrasekan bagian dialog dalam salah satu adegan film tersebut…Dalam kehidupan di dunia, saya pikir Tuhan itu hanya satu. Ternyata ada 2 Tuhan, pertama Tuhan yang memang menciptakan manusia. Kedua, tuhan yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dari 2 sosok Tuhan ini, seharusnya manusia tahu mana Tuhan yang sejati.

Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dan bagian kegelisahan yang saya alami. Maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam damai, untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

phosphone I jakarta I 2017

religion

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s