Petualangan Kuliner Surabaya

profile (2)

Hai guys,

Surabaya nggak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan segudang sejarah heroik dalam peradabannya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya juga memiliki rujukan sektor pariwisata pendukung pengembangan perekonomiannya. Per-kuliner-an adalah salah satu sub-sektor pariwisata yang menarik untuk ditelusuri sekalipun kita hanya memiliki waktu singkat untuk berpetualang di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berikut ini adalah hasil hunting kuliner yang saya lakukan dalam waktu 1 hari 2 malam.

Mie Ujung Pandang Pak Tatung

Guys, kalau Kalian pencinta Mie dan boleh menyantap daging haram (you know what i mean laah), maka rekomendasi yang satu ini harus kalian perhitungkan untuk dicoba. Mie Ujung Pandang (UP) memang ada banyak di seputar Surabaya, tapi nggak semuanya enak dan pas di kantong. Mie UP Pak Tatung yang terletak di jalan Barata Jaya XVII, Baratajaya, Gubeng adalah salah satu yang memenuhi syarat enak dan pas di kantong tadi. Hanya dengan Rp.30.000 saja, kita bisa menikmati semangkok Mie ukuran besar (bisa dibagi untuk 2 orang looohh) dengan suwiran daging Babi Merah di atasnya. Mungkin karena terbiasa makan Mie sejenis di Jakarta, saya pikir daging Babi-nya hanya pelengkap dan sedikit saja. Ternyata saya salah, hampir seluruh permukaan Mie di mangkok tertutup oleh suwiran daging dan rasa dagingnya sendiri saja sudah empuk, gurih, dan jelas nikmat! Belum lagi saat Mie yang tebal-tebal itu masuk ke dalam rongga mulut saya, kenikmatan pun berkali lipat rasanya. Nggak lupa kuah sup polos dengan potongan daun bawang pun ikut saya sruput menemani Mie dan potongan daging Babi tadi. Ini enak guys! Oiya, Mie UP Pak Tatung ini merupakan kuliner malam Surabaya yang baru buka jam 18.00 setiap harinya dan biasanya waktu jam makan malam antrian sudah gak terhindarkan. Tapi kalian nggak perlu kuatir, pelayanan di kedai pinggir jalan yang tergolong bersih ini cukup cepat dan tepat. So, have a nice dinner guys! ssrruuuppphhh!

Tahu Campur Cak Kahar

Tenang, untuk Kalian yang nggak bisa makan makanan haram, masih banyak kuliner lainnya di Surabaya. Salah satu yang jadi ikon kuliner Jawa Timur-an adalah Tahu Campur Cak Kahar yang terletak di Jalan Embong Malang no.78 Surabaya, tepatnya di seberang Hotel JW Marriot dan buka sejak pukul 17.00 sampai tengah malam. Kuliner yang satu ini memang Jawa Timur banget, terbukti dengan pelengkap bumbu petis ciri khas Jawa Timur yang dicampurkan dengan kuah kaldu sapi dan bahan utamanya tahu serta bahan lain seperti kikil, mie, kecambah dan beberapa sayuran pelengkap lainnya. Namanya saja Tahu Campur, jadi rasanya pun merupakan hasil campuran dari beberapa citarasa seperti Manis, Gurih, dan Asam. Tapi kalau ingin lebih pedas, sambal sudah tersedia di meja dan dapat kita tambahkan sendiri sesuai selera. Makanan ini sangat nikmat disantap selagi panas, apalagi dalam kondisi cuaca dingin atau hujan. Sayangnya, Surabaya lebih sering terasa gerah menuju panas di waktu malam, hehehehe. Namun demikian, untuk soal harga makanan di kedai yang mempunyai tag line Depot Legendaris ini nggak akan ngempesin kantong. hanya dengan Rp 15.000 per porsinya, kita sudah dapat menikmati hidangan legendaris khas Jawa Timur ini.

Tahu Telor Mas Ndut

Apa bedanya Tahu Campur dengan Tahu Telor? Ini adalah pertanyaan saya kepada pacar saya ketika membuat list makanan apa saja yang akan saya santap di Surabaya. Jawaban pun langsung saya dapat (berhubung doi orang Jawa Timur), perbedaan utamanya terletak di bahan “pengikatnya”. Jadi, untuk tahu campur pengikatnya adalah kuah kaldu sapi sedangkan Tahu Telor diikat dengan bumbu kacang (seperti ketoprak). Nah, di daerah A. Yani tepatnya di Jalan Ketintang Baru XII terdapat satu penjual Tahu Telor gerobak yang dipanggil Mas Ndut. Sekitar 11 tahun lalu, dia sudah memulai menjual Tahu Telor ini dengan berkeliling, namun sekarang karena dia sudah punya pelanggan tetap, maka dia cukup mangkal di salah satu sudut jalan saja. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba salah satu masakan Tahu Telor yang katanya paling enak se-Surabaya di Jalan Dinoyo, tapi jujur menurut saya Tahu Telor milik Mas Ndut ini lebih enak dari yang sebelumnya saya pernah coba. Bumbu Kacang yang dibuat Mas Ndut lebih gurih dan kental sehingga ketika disiramkan ke atas Tahu Telor yang baru dimasak panas-panas, kenikmatannya tidak dapat terhindarkan. Saya sadar kunci kenikmatan Tahu Telor Mas Ndut ini terletak di bumbu kacangnya, rasanya pas tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu asin. Tekstur kacangnya pun tetap terjaga, tidak terlalu cair layaknya bumbu kacang di Tahu Telor lain yang pernah saya coba. Walaupun kedai Mas Ndut masih berbentuk gerobak dan kita akan makan secara lesehan kalau makan di tempat, tapi rasanya luar biasa mantap. Terakhir, dengan harga per-porsi hanya Rp 10.000….Monggo dicoba.

Bakwan Kapasari

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah kuliner tertua yang saya temukan di petualangan kali ini. Bakwan Kapasari namanya, dan buka dari jam 10.00 – 18.00 setiap hari di Ruko RMI Blok B no. 1 Jalan Ngagel Jaya Selatan, Baratajaya, Gubeng, Kota Surabaya. Selain itu ada juga cabangnya di Pasar Atom Surabaya. Bakwan Kapasari ini sudah dikenal sejak tahun 1931 dan sudah menjadi bisnis kuliner keluarga secara turun-temurun, mungkin hal ini yang membuat Bakwan Kapasari begitu dikenal dan tidak pernah sepi pembeli hingga kini. Menu andalan yang dijual adalah Bakwan dan beraneka printilan lain seperti bakso ikan, Haiwan, Usus Isi goreng, Bakso Goreng, dan lainnya. Namun yang menurut saya enak hanya Haiwan dan Bakso Gorengnya, menurut beberapa review usus isinya pun nikmat, hanya sayang saya tidak mencobanya. Setelah saya membeli beberapa isian seperti Bakso goreng, Siomay, Haiwan, dan Bakwan, rasa kuliner ini menurut saya sebenarnya tergolong biasa saja (saya pernah mencoba makanan sejenis yang lebih enak), tapi menjadi populer dan diincar para penikmat kuliner mungkin karena nilai legendaris dan citarasa yang terjaga sejak 1931. Harga juga tidak istimewa, malahan tergolong mahal dengan kisaran harga antara Rp 2.500 – Rp 7.500 per-item isian yang dipesan, jadi satu porsi isi 4 item saja bisa dibanderol dengan harga sekitar Rp 30.000. Namun demikian, bagi saya sama sekali tidak rugi untuk mencoba salah satu makanan tertua di Surabaya ini karena nilai sejarah dalam sebuah rasa memang selalu istimewa.

Bebek Sinjay

Guys, ini nih satu kuliner yang lagi trend beberapa waktu terakhir ini. Memang bukan kuliner asli Surabaya dan letaknya di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, tapi karena popularitasnya saya pun rela sedikit beranjak keluar dari Kota Surabaya. Perjalanan yang saya tempuh menghabiskan waktu sekitar 45 menit, melewati Jembatan Suramadu dan langsung menuju Jalan Ketengan no.45, Bangkalan, Madura. Sesampainya di lokasi, kesan yang muncul dalam benak saya adalah luar biasa, restoran Bebek Sinjay ini sangat besar dengan pengunjung yang cukup padat. Cara memesannya pun cukup unik secara mandiri langsung ke kasir, membayar, dan mengambil pesanan pada loket lainnya. Untuk menu, menurut saya cukup simple dengan menu paketan Rp 26.000 berisi Bebek/Ayam, protolan daging Bebek/Ayam, Jeroan ati dan ampela, serundeng, lalapan plus Sambelnya. Rasa hidangan bebeknya sendiri sebenarnya tidak terlalu spesial, tapi yang membuatnya jadi berbeda dibanding makanan sejenis ada di sambalnya. Rasa gurih berpadu pedas nikmat bercampur dengan daging bebek yang cukup lembut dan sama sekali tidak berbau amis, citarasa Bebek Sinjay terletak disini. Menurut saya, harga dan rasa Bebek Sinjay memang cukup layak untuk dimasukkan ke dalam daftar kuliner Indonesia yang populer saat ini.

Lontong Kupang

Saat pertama dengar kuliner Lontong Kupang, saya nggak bisa membayangkan makanan jenis apa yang akan saya makan. Untuk mencari kuliner ini di sekitaran Surabaya pun tidak terlalu mudah, saya mendapatkannya di sekitar Jalan Gayung Kebonsari Timur. Menurut beberapa rekomendasi warga lokal, salah satu Lontong Kupang yang enak sebenarnya ada di Jalan Raya Kletek, namun sayangnya saat saya sambangi sudah tutup. Kembali ke Lontong Kupang, makanan seharga Rp 10.000 ini termasuk jenis makanan kuah dengan isian Lontong dan daging sejenis remis kecil (Kupang) yang biasanya juga disertai pelengkap lain seperti perkedel kentang dan daun bawang. Rasanya pun cukup unik, saya membayangkan kuah soto bening yang disertai citarasa khas makanan laut yang muncul dari Kupang tersebut. Gurih, sedikit asam bercampur manis pun menjadi satu memberikan rasa unik di mulut. Saya sendiri tidak terlalu menyukai rasanya, namun karena keunikannya maka saya anggap makanan ini layak untuk dicoba. Satu hal menarik mengenai Kupang yang saya dapat dari ayah saya, jadi untuk mendapatkan Kupang di pinggiran laut, kita perlu memancingnya terlebih dahulu. Istimewanya, para nelayan yang berada di wilayah perairan Surabaya biasanya memancing Kupang dengan menggunakan tinja manusia. Mereka menempatkan tinja pada sebuah papan dan diletakkan di pinggiran laut yang ombaknya relatif tenang kemudian para Kupang akan berdatangan dengan sukarela dan nelayan pun dengan mudah menangkapnya. Hiiiiiiiiii…..geli, hahahhahaa.

Wedang Angsle

Apa kalian pernah menikmati wedang ronde atau sekoteng? Kalau sudah pernah, maka kalian tidak akan aneh lagi dengan jenis wedangan ini, Angsle namanya. Bahan dasar pembuatnya tidak jauh beda dengan ronde atau sekoteng, menggunakan kuah jahe yang direbus gula, pandan dan batang serai, bedanya untuk angsle dicampur dengan santan dengan isian seperti potongan roti tawar, mutiara, kacang hijau, atau singkong (sesuai selera). Wedang Angsle banyak ditemukan di sekitaran Kota Surabaya dan merupakan salah satu minuman hangat favorit bagi warga Surabaya untuk menikmati malam sambil mengobrol dan melepas lelah. Rasa legit, sedikit pedas, manis mengalir di lidah menuju kerongkongan dan memberikan kehangatan di kerongkongan sampai ke lambung saya. Sensasi seharga Rp 5000 ini benar-benar nikmat, terutama bila dinikmati selepas makan malam sambil menghabiskan waktu di pinggiran jalan Kota Surabaya. Josss……!!

Nasi Bebek Tugu Pahlawan

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah makanan terakhir yang saya coba di petualangan kuliner kali di Surabaya kali ini. Nasi Bebek Tugu Pahlawan namanya dan menurut Ibu Pacar saya, nasi bebek ini lebih enak daripada Bebek Sinjay yang sebelumnya saya coba. Malam hari sebelum saya pulang ke Jakarta dengan kereta dari Pasar Turi, saya pun mencoba membuktikan rekomendasi Ibu Pacar saya dengan mendatangi kedai kaki lima yang buka di Jalan Tembaan, Surabaya sejak pukul 18.00 ini. Saya datang dan antrian sudah mengular panjang, bahkan ada 2 antrian untuk yang makan di tempat dan take away, melihat ini saya semakin yakin kalau masakan nasi bebek ini nikmat. Setelah kurang lebih 15 menit mengantri, sampailah giliran saya memesan Nasi Bebek berukuran biasa (karena ada yang berukuran besar) seharga Rp 14.000 lengkap dengan nasi putih, serundeng, protolan daging dan sambalnya. Saya akui rasa bebeknya sendiri lebih enak daripada Bebek Sinjay, bumbunya lebih meresap dan gurih di lidah, dagingnya pun lebih empuk. Namun sayangnya, sambal yang menjadi “senjata” utama tidak terasa pedas dan levelnya dibawah sambal di Bebek Sinjay. Mungkin ini hanya masalah selera saja, dan overall Nasi Bebek Tugu Pahlawan ini memang lebih enak daripada Bebek Sinjay. Rekomendasi Ibu Pacar saya memang tidak salah..heuheuheu. Jangan lupa, di tempat ini juga menyediakan Es Kelapa Muda dengan rasa yang luar biasa nikmat seharga Rp 4000 per gelasnya. Walaupun potongan dagingnya tidak terlalu banyak, tapi daging kelapa ini benar-benar masih muda, tidak seperti kelapa muda yang akhir-akhir ini saya nikmati dengan daging yang keras mendekati daging kelapa parut. Selain itu, gula yang digunakan membuat rasa Es Kelapa Muda ini benar-benar nikmat dan sangat cocok sebagai teman menikmati lezatnya Nasi Bebek di tempat ini.

profile (1)

Guys, jadi inilah beberapa ulasan kuliner tentang makanan yang saya coba di petualangan Kota Surabaya beberapa waktu lalu. Secara umum, saya simpulkan kalau makanan Kota Surabaya itu nggak ada habisnya. Banyak sekali makanan lokal yang uenaaaak hingga uenaaak suekaaliiiii dan dapat ditemukan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Jangan lupa untuk selalu mencoba makanan lokal ketika Kalian berkunjung ke satu tempat di seluruh dunia ini, apalagi Indonesia. Mau enak atau enggak itu urusan belakangan, karena pengalaman jauh lebih berharga…hahaaaayyyy. Sampai ketemu di ulasan selanjutnya…cheeers!

phosphone I PetualanganKulinerSurabaya I Maret2017

Advertisements

3 thoughts on “Petualangan Kuliner Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s