LEBIH KURANG … CINTA

Heartruct

Bicara cinta, ternyata punya banyak sudut pandang untuk jadi titik mulanya. Cinta emang udah jadi bahasan ciamik sejak kehidupan di alam semesta ini dimulai. Dalam keseharian pun cinta bisa jadi materi sekaligus unsur metafisika mulai manusia bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi. Inilah sebabnya, nggak heran kalau cinta jadi topik yang super multi-dimensi dengan luas luar biasa.

Tapi, kali ini gw tertarik untuk cerita satu sudut pandang cinta yang terlintas begitu aja karena terinspirasi bumbu makanan. Gw kepikiran soal bumbu makanan semacam garam, lada, pala, cengkeh, dan lain sebagainya. Bumbu adalah komponen penting saat kita memasak makanan. Memang sangat penting, tapi ada hal yang lebih penting yaitu takaran. Senikmat apapun bumbu ini, nggak akan jadi sesuatu yang enak kalau diterapkan tidak sesuai takaran yang seharusnya. Makanan bisa aja jadi kurang asin, hambar, atau justru lebih pahit, lebih asam, bahkan terasa sangat pedas jika bumbu pendukungnya nggak sesuai dengan ukuran yang disarankan dalam resepnya.

Nah, begitu juga cinta yang gw analogikan kayak semacam makanan lengkap dengan penyajian dan manfaatnya yang mengenyangkan. Bedanya, kalau makanan jadi manfaat untuk fisik tapi cinta lebih berguna untuk jiwa. Balik ke topik tentang ketidaksesuaian takaran, layaknya bumbu makanan, cinta pun berdampak langsung ke masalah “rasa” di jiwa kalau kita terapkan tidak berdasarkan takaran yang seharusnya. Kekurangan cinta itu jelas punya dampak buruk untuk kehidupan, tapi kita juga nggak bisa ngelak kalo fakta kebanyakan cinta juga berdampak negatif untuk hidup kita.

Gw udah ngalamin kedua keadaan, baik itu kekurangan maupun kelebihan cinta, makanya gw berani untuk nulis tentang ini. Sekarang gw coba untuk cerita satu-satu. Pertama soal kekurangan cinta, sebagai manusia normal yang punya kehidupan normal seharusnya kita semua sepakat soal kekurangan cinta bisa berdampak buruk untuk kehidupan. Gw pernah mengalami perasaan hambar karena trauma sama yang namanya cinta, apalagi ditambah depresi soal keuangan dan pekerjaan. Kondisi ini sebenarnya lumrah dialami oleh manusia mana pun, tapi yang mau gw sorotin di sini adalah dampaknya. Jangankan kehilangan selera makan, lebih buruk lagi kondisi ini bisa bikin kita nggak peka sama hidup kita sebagai manusia. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dan terlintas di benak gw saat ini adalah resiko bunuh diri. Bukan sekedar khayalan, tapi situasi buruk ini udah banyak terjadi dalam kehidupan manusia seperti para eksekutif muda yang memutuskan bunuh diri di Jepang atau para pengikut aliran kebatinan tertentu di Amerika Serikat yang akhirnya sepakat untuk mati bersama demi “penebusan”. Miris. Jelas para korban ini sudah sangat kekurangan rasa cinta, terutama pada diri mereka sendiri. Untunglah yang pernah gw alami belum dan masih sangat jauh dari tahap mengenaskan ini. Jadi, kita sepakat kan kalau kekurangan cinta berakibat buruk untuk kehidupan manusia?

Sebaliknya, soal kelebihan cinta pun udah pernah gw alamin. Kalian pernah dengar istilah cinta buta kan? Ya, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mencintai sesuatu bahkan tanpa menggunakan sedikit pun logika. Sebagai manusia yang lebih sering didominasi perasaan ketimbang logika, gw juga sering “terjebak” dalam situasi ini. Hal sederhana yang sering gw alamin adalah ketika ada temen gw yang utang duit ke gw. Namanya juga utang, uang itu jelas milik gw dan gw berhak untuk nagih utang itu sesuai waktu utang yang disepakati di awal. Tapi, karena rasa “cinta” berlebihan yang gw punya, ketika teman gw nggak nepatin janjinya untuk bayar utang itu, gw cuma bisa bilang oke sambil diikutin kata “ya udah entar aja”. Lebih parah lagi, kalau udah berbulan-bulan bahkan tahunan nggak ada itikad baik untuk bayar dari teman gw, utang ini pun punya kemungkinan untuk gw lupakan. Baik? Nggak, negatifnya beberapa waktu kemudian gw inget soal utang yang menahun ini dan penyesalan pun terjadi, bahkan berakhir dengan gw yang menyalahkan diri gw sendiri.

Mungkin contoh di paragraf atas masih kurang pas untuk menggambarkan soal cinta buta. Baiklah, kalo gitu pakai cerita gw yang berikut ini. Gw pernah suka sama cewek, bisa dikatakan dia ini idaman gw banget sampai bikin gw tergila-gila. Singkat cerita, gw berhasil “merebut” hatinya dan gw jadian sama cewek ini. Beberapa bulan berjalan, hati kecil gw mulai berbisik kalau ada beberapa karakter cewek ini yang nggak sesuai dengan pribadi gw. Jiwa gw dasarnya adalah kebebasan, tapi cewek ini mulai nunjukkin gejala-gejala maksa gw untuk nggak jadi diri gw sendiri. Dia mulai atur kehidupan gw dengan berbagai larangan dan kalao gw melanggar sikap “ngambek” ala cewek-cewek jaman sekarang pun harus siap gw hadapi. Jelas sebenarnya gw sangat nggak nyaman dengan kondisi ini. Tapi, apa boleh buat, karena rasa cinta yang begitu mendalam, gw pun meng-eliminir ketidaknyamanan ini dan mulai berkompromi dengan segala tuntutan sang cewek. Bahkan, gw rela untuk menjadi sosok lain yang sangat bertolak belakang dengan diri gw sebenarnya. Nah, hal yang membuat situasi ini terjadi adalah rasa kelebihan cinta di hati gw. Gw merasa dia harus dapat lebih dari gw tanpa berpikir tentang apa kebutuhan diri gw sendiri. Apa ini baik? Dulu gw jawab iya, tapi sekarang dengan tegas gw katakan NGGAK!. Suatu saat, andai kondisi tadi terus bertahan, apalagi terbawa dalam pernikahan, jiwa gw lambat laun akan berontak. Secara psikis ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti botol soda yang dikocok-kocok dan akhirnya nggak mampu menahan luapan gas di dalam botolnya. Hal ini cukup membahayakan, apalagi kalau sudah ada anak-anak dalam pernikahan itu.

Ya mudah-mudahan kalian yang baca tulisan gw ini bisa mengerti maksud gw tentang kekurangan dan kelebihan cinta dari pengalaman yang pernah gw alamin ini. Memang kelebihan dan kekurangan cinta adalah hal yang sangat bertolak belakang, tapi dalam jumlah yang berlebihan keduanya bisa berdampak negatif untuk kehidupan kita. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan kelebihan dan kekurangan ini yang juga bisa terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang.

Heart

Sekarang contoh yang mau gw ambil soal kurangnya rasa cinta sekaligus kelebihan cinta yang terjadi bersamaan agak sensitif nih. Gw ambil contoh teroris yang melancarkan aksi terornya karena rasa cintanya yang berlebihan pada keyakinannya. Kondisi ini udah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Tanpa merujuk pada keyakinan tertentu, sang teroris ini udah jelas menyakiti manusia lainnya dan ini bisa diartikan dirinya kekurangan rasa cinta. Pada sisi lain, teroris ini menjalankan aksi terornya karena rasa cinta berlebihan ke keyakinan yang dianutnya. Biasanya situasi ini terjadi karena kesalahan pemahaman sang teroris terhadap ajaran keyakinan yang dianutnya. Jelas, akibatnya udah bisa kita lihat dari banyaknya korban manusia yang sama sekali nggak tahu menahu soal masalah yang dihadapi si teroris. Sangat Buruk!.

Akhirnya, gw berkesimpulan bahwa cinta yang terjadi dalam kondisi extreme (entah itu berkekurangan atau berlebihan) sama-sama menghasilkan dampak yang buruk untuk kehidupan. Nah, supaya ini nggak terjadi, sama seperti analogi masakan gw di awal tulisan, kita perlu paham dan menuruti takaran yang sudah ada resepnya. Dalam hal cinta di kehidupan, resep atau takaran itu bisa kita pelajari dalam keseharian, hukum dan norma-norma umum yang berlaku. Intinya, kalau sampai muncul pihak yang dirugikan karena cinta yang kita miliki, berarti ada yang salah dengan perasaan cinta kita tersebut. Entah kelebihan atau kekurangan cinta, yang jelas harus segera kita sadari dan perbaiki supaya tidak semakin parah dan memunculkan korban lainnya. Cinta itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi, yaitu takaran.

 

So, mulai saat ini, BERCINTALAH DENGAN LEBIH BIJAK DAN CERDAS!

s337279986784189516_p130_i1_w1618

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s