FANATISME

fanatisme01221

Manusia adalah makhluk sosial dan salah satu bentuk sosialisasi yang terjadi adalah hidup berkelompok. Kalau diperhatikan, tidak hanya senang berkomunikasi dalam kelompok tertentu, tapi manusia biasanya sangat memperhatikan dan bangga dengan label yang menempel pada kelompok-kelompok tersebut. Hal ini berlaku bagi kelompok yang memang jadi pilihan pribadi, sedangkan label kelompok yang diberikan pihak lain umumnya justru lebih sering berkonotasi negatif.

Secara umum, saya beranggapan bahwa manusia sangat suka mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok di luar status ilmiahnya sebagai spesies Homo sapiens. Suku, agama, dan ras adalah beberapa contoh kelompok dalam lingkup yang luas. Selain itum pada tataran sempit biasanya manusia suka membuat kelompok-kelompok berdasarkan hobi, profesi, atau pandangan politik. Rasa bangga adalah salah satu yang menonjol dari kesukaan manusia pada gaya hidup berkelompok ini. Lalu, pertanyaan yang muncul dalam benak saya kemudian adalah “Apa dampak dari kesukaan dan rasa bangga akan kelompok-kelompok ini?.”

Saya memikirkan pertanyaan ini cukup lama. Sambil membaca beberapa artikel terkait hal ini, kemudian muncul pemikiran dalam kepala saya bahwa nilai positif atas kesukaan manusia hidup berkelompok ada pada tataran kepuasan batin semata. Bila ingin ditelaah lagi, mungkin beberapa manfaat lain seperti dukungan moril ketika kita ada dalam kondisi terpuruk yang sangat mungkin juga didapat sebagai manusia. Tapi, pemikiran yang lebih banyak menerpa adalah sebuah sikap cinta berlebihan atas kelompok yang diyakini dan seringkali justru menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai Fanatisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Fanatisme adalah sebuah keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Keyakinan ini dapat berupa rasa bangga maupun cinta seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Frasa terlalu kuat dapat diartikan sebagai berlebihan atau tidak wajar. Sedangkan ajaran, politik, agama, atau bahkan hobi, profesi, maupun latar belakang sosial ekonomi lainnya dapat saya asumsikan sebagai kelompok-kelompok yang seringkali dianggap sebagai identitas manusia.

f2b_01

Saya memiliki sebuah anggapan bahwa segala sesuatu yang berlebihan, sekalipun itu adalah hal baik, tidak akan memberikan kebaikan. Begitu juga dengan sikap bangga yang berlebihan atas suatu kelompok sangat rentan justru menghasilkan hal-hal buruk. Kecenderungan yang saya perhatikan ketika kita suka, bangga, atau bahkan cinta secara berlebihan kepada satu kelompok adalah munculnya sikap merendahkan kelompok lain yang tidak sejalan atau berbeda dengan kita. Hal inilah yang menjadi dampak buruk karena dapat “berlipat ganda” menjadi sesuatu yang berbahaya, tidak hanya pada individu namun juga kehidupan.

Ada banyak contoh dampak buruk dari rasa bangga yang berlebihan dari sebuah kelompok. Sejarah kehidupan manusia mencatat, suku-suku primitif di seluruh belahan dunia sudah melakukan itu dari masa-masa awal peradaban manusia. Peperangan antar suku tidak hanya didasari nafsu berkuasa, namun lebih jauh terjadi karena rasa benci yang dipupuk dalam bentuk kebanggaan atas suku dimana seseorang berasal. Belum lagi ketika kita melihat perang yang dilakukan oleh Nazi Jerman. Sikap Fasis yang begitu kental sangat terlihat, bahkan Hitler pun secara terang-terangan mengungkapkan kebenciannya terhadap etnis Yahudi sekaligus kebanggaannya atas ras Arya. Ia menganggap ras Arya sebagai ras paling sempurna di muka bumi dan berhak untuk menguasai kehidupan ini. Banyak peperangan antar negara pun terjadi karena rasa bangga yang berlebihan terhadap kelompok atau negara tertentu. Mereka rela saling membunuh hanya dengan dalih membela kepentingan tanah airnya dan demi kejayaan negaranya.

Kembali berpikir tentang Fanatisme, menurut saya yang membuatnya jadi buruk adalah sikap membenci yang terjadi. Layaknya 2 kutub yang salaing bertolak belakang, rasa cinta berlebihan pada sesuatu ternyata juga menghadirkan kebencian mendalam pada pihak sebaliknya. Mungkin rasa benci juga dapat terjadi pada sikap-sikap selain rasa bangga berlebihan dalam kelompok, tetapi sepengetahuan saya pengelompokan inilah yang cukup berbahaya. Bayangkan, sejak kecil kita sudah sering disusupi oleh pemahaman salah yang menjurus pada sikap rasa bangga berlebih sebagai kelompok tertentu. Misalnya, rasa bahwa agama yang kita anut adalah agama yang paling benar, sikap toleransi atau maklum pada pihak tertentu hanya karena berasal dari suku yang sama, atau bahkan keinginan kuat mencari pasangan dari kelompok sama (suku, agama, maupun ras) yang ditanamkan sejak usia sekolah.

Fanatics

Mungkin kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa kita terlahir dengan status yang sudah terbagi-bagi dalam kelompok. Namun, bagi saya pendidikan bahwa rasa bangga berlebihan itu buruk seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini. Manusia sebaiknya tidak mempertajam perbedaan yang sudah ada dalam kelompok-kelompok ini, justru sebaliknya berusaha memahami bahwa dengan perbedaan yang ada segala sesuatunya dapat mendatangkan kebaikan tanpa harus merasa kelompoknya lebih baik atau benar dari yang lain. Toh, pada akhirnya manusia dengan agama, suku, hobi, pekerjaan, atau tingkat ekonomi yang berbeda berasal dari satu spesies Homo sapiens. Bila ditarik lebih jauh lagi, Homo sapiens, hewan, maupun tumbuhan adalah makhluk hidup yang sama-sama tinggal di planet bumi. Ditarik lebih jauh lagi, maka semuanya adalah penghuni alam semesta tak terbatas. Pada akhirnya, semua memiliki kesamaan kelompok, lalu apa gunanya membeda-bedakan dengan dalih kebanggaan?

Semoga semua berbahagia,

phosphone I 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s