KUTUB EKSTRIM

Pagi-pagi udah ada seorang teman yang cerita kalau di Amerika Serikat (USA) sedang terjadi sebuah fenomena. Menurut ceritanya, masyarakat USA sekarang ini semakin jelas mengelompokkan diri pada dua kutub ekstrem. Satu kutub mengidetifikasikan diri mereka sebagai kelompok kanan yang ultra-nasionalis, agamis, dan cenderung berpihak pada pemerintahan saat ini. Sedangkan, kutub lainnya adalah kaum yang lebih beraliran ke-kiri-an. Mereka lebih sosialis, humanis, dan kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah USA sekarang.

CYGY.com

Uniknya, yang jadi fenomena adalah posisi salah satu kutub makin kuat karena kutub lainnya pun menguat. Hal ini akhirnya memunculkan pertanyaan tentang keberadaan mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak tengah, atau yang biasa dikenal sebagai kaum moderat. Saat fenomena ini terjadi, bagaimana dengan kaum moderat? Apa mereka akhirnya memilih salah satu kutub ekstrim? Lalu, sebenarnya seberapa “moderat” kah pihak yang dianggap moderat tersebut?

Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang memihak. Selama manusia hidup dan bisa memilih, maka kita akan selalu punya kecenderungan memihak. Dalam hal kutub ekstrim kanan dan kiri seperti yang diceritakan tadi, manusia pun selalu memiliki kecenderungan memihak. Memang tidak semuanya ekstrim, tapi pasti ada yang lebih dominan walaupun hanya sebatas pemikiran atau cara pandang saja. Bila kita beranggapan bahwa manusia adalah makhluk merdeka sekalipun, saat sudah memilih maka manusia tetap akan punya keberpihakan. Hal ini adalah “diri” manusia itu sendiri.

Too-much-of-a-good-thing-Calcium-supplements-may-be-bad-for-heart-health_wrbm_large

Namun, muncul sebuah pandangan lain yang memperluas diskusi pagi ini. Manusia tidak harus memilih dirinya sendiri. Artinya, saat kecenderungan memihak kutub kanan atau kiri itu mulai menguat, posisi untuk berada di tengah pun tetap berpotensi kuat menjadi pilihan. Tentu saja, hal ini tidak serta-merta terjadi tanpa pengaruh apapun. Layaknya kutub aliran kanan atau kiri, latar belakang seperti pendidikan, pengalaman, pergaulan, atau hal lainnya juga mempengaruhi pilihan kaum demokrat untuk berada di tengah.

Setelah berpikir beberapa jam, akhirnya topik ini berada di sebuah kesimpulan. Kaum demokrat pun juga punya peluang berada dalam titik yang ekstrim. Posisi tersebut mungkin bisa dikatakan sebagai keengganan untuk terlibat lebih jauh dengan dua kutub ekstrim lainnya. Nah, pertanyaannya apakah kondisi ini adalah sesuatu yang baik? Tentu tidak. Dunia tidak butuh sesuatu yang sekedar baik atau jahat. Dunia dan kehidupan membutuhkan keseimbangan. Bahkan, terlalu banyak hal baik adalah perihal yang buruk (Too much a good thing is a bad thing).

Just thinking of it!

Phosphone I mind I 2018

e8c4308d7cdc9196df0a6f740b7f17cf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s