Movie Review: Justice League (2017)

Hai guys,

Film Justice League yang ditunggu banyak moviegoers baru aja rilis beberapa hari kemarin. Gimana, udah pada nonton belum? Gw udah, dan sebelum nonton film ini, gw banyak baca review yang isinya lebih banyak kritik ketimbang pujian. Ya, walaupun semua tergantung selera tapi kan semua review itu cukup mewakili suara beberapa konsumen yang udah pada nonton. Nah, review-review yang sebagian besar agak miring ini justru bikin gw makin penasaran untuk nonton film superhero produk DC Comic ini. Ini dia!!!

justice-league-poster

Guys, sebagai pecinta superhero Marvel yang bakal mati-matian belain kualitas film-film kayak Spiderman atau Avenger sekalipun sebenarnya jelek, sepertinya agak berat untuk gw memposisikan diri netral saat nonton film tentang superhero keluaran DC Comic (ya wajar lah, ala2 fanboy). Apalagi, sebelum nonton gw udah terima masukan-masukan miring soal penilaian film Justice League ini. Tapi gw berusaha se-netral mungkin nih dan film kumpul-kumpul para jagoan DC Comic ini pun dimulai.

Dari awal film, gw sebenarnya udah agak kurang sreg dengan opening DC Comic yang menurut gw agak kurang menarik dibandingkan openingnya Marvel. Ekspektasi udah lumayan nambah drop nih, ditambah Sang Batman pun (Ben Affleck) muncul dengan badannya yang lumayan gemuk. Jujur, dari film Batman vs Superman gw agak kurang sreg lihat Batman diperankan sama si Ben Affleck.

t134wuojkpksj98dfdt6

Lanjut lagi, cerita dalam film pun mulai dibangun dan menurut beberapa review yang gw baca, tempo di awal cerita Justice League ini agak lambat dan cukup bertele-tele. Tapi jujur, buat gw fine … masih aman dan gw sama sekali nggak ngantuk nontonnya. Terkait soal review bertele-tele ini, menurut gw sih wajar aja, lha wong banyak tokoh yang baru muncul di layar lebar kayak The Flash, Aquaman, n Cyborg. Jadi, kayaknya wajar kalau si pembuat film berusaha banget ngerangkum latar belakang tiap karakter Justice League dalam balutan adegan ‘n dialognya. Kondisi ini agak beda dengan anggota Avenger yang umumnya lebih banyak yang udah dikenal publik secara parsial kayak Iron Man, Hulk, Thor, maupun Captain America. Guess what, gw masih menikmati film ini bahkan mulai berprasangka positif tentang film ini … hahaha.

Cerita mulai masuk ke konflik yang isinya tentang munculnya satu monster bernama Steppenwolf untuk gabungin 3 “kotak ibu” untuk merubah bumi jadi gersang sesuai planet asalnya doi. Menurut gw agak aneh sih soal kemunculan si monster ini, karena semua anggota Justice League macem Wonder Woman atau Aquaman yang sakti itu kewalahan ngadepinnya. Super power banget kan si Steppenwolf ini?. Nah yang bikin aneh itu, monster kuat parah yang mentalin Batman dengan 1 kali pukulan ini langsung bonyok cuma dengan 1 pukulan Superman yang menawan itu. Ini bagian film Justice League yang menurut gw agak parah. Kalau si Superman emang sekuat itu, ngapain ngumpulin jagoan se-alam semesta capek-capek ‘n ngebikin geng jagoan macem Justice League?

steppenwolf

Walaupun agak nyebelin di bagian jalan cerita, tapi gw apresiasi banget sama hal yang menurut gw jadi pesan utama dari film ini. Dari poster yang dipajang di bioskop-bioskop aja udah jelas kalo film ini ceritanya tentang kebersamaan dan kerjasama (You Can’t Save The World Alone). Kelihatan banget guys, dari awal si Bruce Wayne butuh banget bantuan Alfred, Wonder Woman nyamperin Batman, Flash bantuin Cyborg, ‘n kemunculan Aquaman yang nahan air dari bendungan Gotham. Bahkan, Wonder Woman pun berani mastiin ke Cyborg kalo tim Justice League nggak akan ninggalin Cyborg yang bertugas misahin 3 kotak sakti itu. Oia, pas si Batman mau ngorbanin nyawa masuk ke alam buatannya Steppenwolf dan kewalahan ngadepin monster serangga ala-ala zombie juga akhirnya dibantu sama Aquaman. Satu frasa yang terlintas di kepala gw setelah nonton film ini adalah “No one left behind.” Sadeeeesss!!!

466483_m1500739984

Okay, sekarang beralih ke soal teknis. Tentang teknologi yang dipake sebenarnya gw agak keganggu dengan slow motion yang jadi penggambaran suasana The Flash pas lari kenceng. Sebenarnya sih fine, tapi kalo terus-terusan gitu menurut gw sih agak ganggu. Tapi Visual Effect yang lainnya sih lumayan lah, cuma belum bisa nandingin Avengernya Marvel sih. Nah, ada satu hal yang gw apresiasi lagi nih soal upaya scriptwriter nyelipin joke-joke ala Marvel di tiap dialognya. Apalagi si The Flash emang dimunculkan dengan karakter konyol tengil ala Spiderman. Ini upaya yang cukup menarik, soalnya film-film Superhero DC Comic emang terkenal serius banget dan jarang munculin joke-joke receh di dialognya. Buat gw, kelihatan banget tim produksi Justice League pengen munculin kesan nyantai di karakter superheronya yang kebanyakan emang nggak nyantai. Ini patut diberi acungan jempol sih, soalnya jadi lebih ngehibur.

Wokay, akhirnya secara keseluruhan GW MENIKMATI FILM JUSTICE LEAGUE. Nggak seperti beberapa review yang gw baca sebelum nonton, gw justru menemukan sisi lain Superhero DC COMIC di film ini. Unsur manusiawi kayaknya lebih ditonjolkan untuk membalut pesan kebersamaan antar anggota Justice League. Bahkan, Superman yang selama ini tampil sempurna aja bisa jadi kasar ‘n ngambekan (walaupun nggak lama dan akhirnya baikan lagi). Film ini buat gw cukup menghibur dan banyak hal yang bisa gw apresiasikan, terutama pesan “No one left behind”-nya. Terakhir, dari skala 10, buat gw fil ini layak untuk dapet nilai 8, guys. Gimana, buat yang udah nonton setuju nggak? Kalo yang belum nonton, monggo lho segera nonton! Jujur sebagai Marvel Fanboy, gw sih nunggu episode Justice League selanjutnya.

Justice-League-Success-Future-Dc-Movie-Release-Slate

Advertisements

LEBIH KURANG … CINTA

Heartruct

Bicara cinta, ternyata punya banyak sudut pandang untuk jadi titik mulanya. Cinta emang udah jadi bahasan ciamik sejak kehidupan di alam semesta ini dimulai. Dalam keseharian pun cinta bisa jadi materi sekaligus unsur metafisika mulai manusia bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi. Inilah sebabnya, nggak heran kalau cinta jadi topik yang super multi-dimensi dengan luas luar biasa.

Tapi, kali ini gw tertarik untuk cerita satu sudut pandang cinta yang terlintas begitu aja karena terinspirasi bumbu makanan. Gw kepikiran soal bumbu makanan semacam garam, lada, pala, cengkeh, dan lain sebagainya. Bumbu adalah komponen penting saat kita memasak makanan. Memang sangat penting, tapi ada hal yang lebih penting yaitu takaran. Senikmat apapun bumbu ini, nggak akan jadi sesuatu yang enak kalau diterapkan tidak sesuai takaran yang seharusnya. Makanan bisa aja jadi kurang asin, hambar, atau justru lebih pahit, lebih asam, bahkan terasa sangat pedas jika bumbu pendukungnya nggak sesuai dengan ukuran yang disarankan dalam resepnya.

Nah, begitu juga cinta yang gw analogikan kayak semacam makanan lengkap dengan penyajian dan manfaatnya yang mengenyangkan. Bedanya, kalau makanan jadi manfaat untuk fisik tapi cinta lebih berguna untuk jiwa. Balik ke topik tentang ketidaksesuaian takaran, layaknya bumbu makanan, cinta pun berdampak langsung ke masalah “rasa” di jiwa kalau kita terapkan tidak berdasarkan takaran yang seharusnya. Kekurangan cinta itu jelas punya dampak buruk untuk kehidupan, tapi kita juga nggak bisa ngelak kalo fakta kebanyakan cinta juga berdampak negatif untuk hidup kita.

Gw udah ngalamin kedua keadaan, baik itu kekurangan maupun kelebihan cinta, makanya gw berani untuk nulis tentang ini. Sekarang gw coba untuk cerita satu-satu. Pertama soal kekurangan cinta, sebagai manusia normal yang punya kehidupan normal seharusnya kita semua sepakat soal kekurangan cinta bisa berdampak buruk untuk kehidupan. Gw pernah mengalami perasaan hambar karena trauma sama yang namanya cinta, apalagi ditambah depresi soal keuangan dan pekerjaan. Kondisi ini sebenarnya lumrah dialami oleh manusia mana pun, tapi yang mau gw sorotin di sini adalah dampaknya. Jangankan kehilangan selera makan, lebih buruk lagi kondisi ini bisa bikin kita nggak peka sama hidup kita sebagai manusia. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dan terlintas di benak gw saat ini adalah resiko bunuh diri. Bukan sekedar khayalan, tapi situasi buruk ini udah banyak terjadi dalam kehidupan manusia seperti para eksekutif muda yang memutuskan bunuh diri di Jepang atau para pengikut aliran kebatinan tertentu di Amerika Serikat yang akhirnya sepakat untuk mati bersama demi “penebusan”. Miris. Jelas para korban ini sudah sangat kekurangan rasa cinta, terutama pada diri mereka sendiri. Untunglah yang pernah gw alami belum dan masih sangat jauh dari tahap mengenaskan ini. Jadi, kita sepakat kan kalau kekurangan cinta berakibat buruk untuk kehidupan manusia?

Sebaliknya, soal kelebihan cinta pun udah pernah gw alamin. Kalian pernah dengar istilah cinta buta kan? Ya, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mencintai sesuatu bahkan tanpa menggunakan sedikit pun logika. Sebagai manusia yang lebih sering didominasi perasaan ketimbang logika, gw juga sering “terjebak” dalam situasi ini. Hal sederhana yang sering gw alamin adalah ketika ada temen gw yang utang duit ke gw. Namanya juga utang, uang itu jelas milik gw dan gw berhak untuk nagih utang itu sesuai waktu utang yang disepakati di awal. Tapi, karena rasa “cinta” berlebihan yang gw punya, ketika teman gw nggak nepatin janjinya untuk bayar utang itu, gw cuma bisa bilang oke sambil diikutin kata “ya udah entar aja”. Lebih parah lagi, kalau udah berbulan-bulan bahkan tahunan nggak ada itikad baik untuk bayar dari teman gw, utang ini pun punya kemungkinan untuk gw lupakan. Baik? Nggak, negatifnya beberapa waktu kemudian gw inget soal utang yang menahun ini dan penyesalan pun terjadi, bahkan berakhir dengan gw yang menyalahkan diri gw sendiri.

Mungkin contoh di paragraf atas masih kurang pas untuk menggambarkan soal cinta buta. Baiklah, kalo gitu pakai cerita gw yang berikut ini. Gw pernah suka sama cewek, bisa dikatakan dia ini idaman gw banget sampai bikin gw tergila-gila. Singkat cerita, gw berhasil “merebut” hatinya dan gw jadian sama cewek ini. Beberapa bulan berjalan, hati kecil gw mulai berbisik kalau ada beberapa karakter cewek ini yang nggak sesuai dengan pribadi gw. Jiwa gw dasarnya adalah kebebasan, tapi cewek ini mulai nunjukkin gejala-gejala maksa gw untuk nggak jadi diri gw sendiri. Dia mulai atur kehidupan gw dengan berbagai larangan dan kalao gw melanggar sikap “ngambek” ala cewek-cewek jaman sekarang pun harus siap gw hadapi. Jelas sebenarnya gw sangat nggak nyaman dengan kondisi ini. Tapi, apa boleh buat, karena rasa cinta yang begitu mendalam, gw pun meng-eliminir ketidaknyamanan ini dan mulai berkompromi dengan segala tuntutan sang cewek. Bahkan, gw rela untuk menjadi sosok lain yang sangat bertolak belakang dengan diri gw sebenarnya. Nah, hal yang membuat situasi ini terjadi adalah rasa kelebihan cinta di hati gw. Gw merasa dia harus dapat lebih dari gw tanpa berpikir tentang apa kebutuhan diri gw sendiri. Apa ini baik? Dulu gw jawab iya, tapi sekarang dengan tegas gw katakan NGGAK!. Suatu saat, andai kondisi tadi terus bertahan, apalagi terbawa dalam pernikahan, jiwa gw lambat laun akan berontak. Secara psikis ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti botol soda yang dikocok-kocok dan akhirnya nggak mampu menahan luapan gas di dalam botolnya. Hal ini cukup membahayakan, apalagi kalau sudah ada anak-anak dalam pernikahan itu.

Ya mudah-mudahan kalian yang baca tulisan gw ini bisa mengerti maksud gw tentang kekurangan dan kelebihan cinta dari pengalaman yang pernah gw alamin ini. Memang kelebihan dan kekurangan cinta adalah hal yang sangat bertolak belakang, tapi dalam jumlah yang berlebihan keduanya bisa berdampak negatif untuk kehidupan kita. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan kelebihan dan kekurangan ini yang juga bisa terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang.

Heart

Sekarang contoh yang mau gw ambil soal kurangnya rasa cinta sekaligus kelebihan cinta yang terjadi bersamaan agak sensitif nih. Gw ambil contoh teroris yang melancarkan aksi terornya karena rasa cintanya yang berlebihan pada keyakinannya. Kondisi ini udah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Tanpa merujuk pada keyakinan tertentu, sang teroris ini udah jelas menyakiti manusia lainnya dan ini bisa diartikan dirinya kekurangan rasa cinta. Pada sisi lain, teroris ini menjalankan aksi terornya karena rasa cinta berlebihan ke keyakinan yang dianutnya. Biasanya situasi ini terjadi karena kesalahan pemahaman sang teroris terhadap ajaran keyakinan yang dianutnya. Jelas, akibatnya udah bisa kita lihat dari banyaknya korban manusia yang sama sekali nggak tahu menahu soal masalah yang dihadapi si teroris. Sangat Buruk!.

Akhirnya, gw berkesimpulan bahwa cinta yang terjadi dalam kondisi extreme (entah itu berkekurangan atau berlebihan) sama-sama menghasilkan dampak yang buruk untuk kehidupan. Nah, supaya ini nggak terjadi, sama seperti analogi masakan gw di awal tulisan, kita perlu paham dan menuruti takaran yang sudah ada resepnya. Dalam hal cinta di kehidupan, resep atau takaran itu bisa kita pelajari dalam keseharian, hukum dan norma-norma umum yang berlaku. Intinya, kalau sampai muncul pihak yang dirugikan karena cinta yang kita miliki, berarti ada yang salah dengan perasaan cinta kita tersebut. Entah kelebihan atau kekurangan cinta, yang jelas harus segera kita sadari dan perbaiki supaya tidak semakin parah dan memunculkan korban lainnya. Cinta itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi, yaitu takaran.

 

So, mulai saat ini, BERCINTALAH DENGAN LEBIH BIJAK DAN CERDAS!

s337279986784189516_p130_i1_w1618

PEMUJA SEKALIGUS PEMBELAJAR

1

Berawal dari mengidolakan seseorang, entah karena karyanya, sikapnya, pemikiran, atau sekedar gayanya, manusia bisa saling terikat dan saling memuja satu dengan lainnya. Fenomena wajar yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia ini dapat menjadi titik awal untuk pilihan sikap selanjutnya. Menjadi sekedar pemuja, pengikut atau bahkan peniru menjadi sebuah preferensi sikap bagi kita terhadap siapapun yang menjadi idola.

Masalahnya dalam prinsip hidup yang saya yakini, sesuatu yang berlebihan tidak akan menghasilkan hal yang proporsional dalam kebaikan. Begitu juga sikap pemujaan terhadap sesuatu secara berlebihan pun tidak menjamin mendatangkan hal positif, sekalipun sesuatu tersebut adalah keyakinan spiritual atau konsep ketuhanan. Dalam hal pemujaan terhadap manusia yang dianggap idola oleh manusia lain, kerentanan akan hal-hal negatif pun tidak dapat dihindari.

Mungkin manusia memang mempunyai “desain” psikologis untuk menyukai apapun yang ada dalam kehidupannya, namun bila dilakukan secara berlebihan tentu justru akan mendatangkan hal buruk layaknya makan dalam jumlah berlebihan dan akhirnya muntah karena terlalu kenyang. Hal ini belum termasuk dampak bila pribadi yang diidolakan ternyata tidak se-sempurna harapan mereka yang mengidolakan.

Sebenarnya sudah banyak hal sederhana untuk mencontohkan sikap memuja berlebihan ini. Banyak sekali kasus yang terjadi pada pribadi yang diidolakan secara berlebihan seperti Michael Jackson, Britney Spears, atau Taylor Swift yang harus merasakan ancaman dari para fans setia mereka di atas panggung. Bahkan tidak sedikit yang harus berakhir kematian di tangan pemuja mereka seperti John Lennon atau Mahatma Ghandi. Bila kita ingat, kasus video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya di Indonesia beberapa waktu lampau pun memunculkan para fans “sakit hati” yang tidak sedikit dan berakhir dengan caci maki mereka terhadap sang idola. Semua kebencian bahkan pembunuhan yang lahir dari perasaan sakit hati akibat “terlalu” memuja ini tampaknya lebih parah daripada sekedar kebencian biasa.

Hal ini menjadi semakin buruk bila tingkat pemujaan sudah menjadi hasrat untuk mengikuti bahkan meniru sang idola. Bayangkan apa yang terjadi bila idola mereka menyakiti harapan yang telah mereka bentuk sejak awal. Saya pikir dampaknya akan lebih mengerikan daripada ketika seseorang kehilangan barang karena dirampok di jalan.

29378829d91b8d04d92faf78c58f3a95

Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Lalu, bagaimana mengatasi perasaan suka atau cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang begitu berlebih?”. Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi saya karena perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan atau diabaikan. Manusia memang memiliki kecenderungan ini dalam psikologis yang tertanam dalam setiap sel tubuh serta jiwa kita.

Mungkin saya belum dapat jawaban yang tepat atas pertanyaan di benak saya tersebut, namun muncul beberapa ide dalam pikiran saya. Salah satu yang muncul dan berulang-ulang hadir dalam alam pemikiran saya adalah mengubah energi suka tersebut menjadi sikap untuk belajar dan menghasilkan hal positif dari apa yang kita pelajari dari obyek pemujaan kita tersebut. Memang hal ini rasanya masih terlalu abstrak dan terkesan sangat idealis, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bukan?

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hal apapun yang ada di sekitarnya, termasuk dengan perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini. Bila pemujaan berlebihan rentan memunculkan perilaku yang destruktif, maka sangat mungkin juga menghadirkan sisi yang konstruktif. Perasaan yang berlebihan ini memang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat diakali. Pada akhirnya menjadi seorang pemuja, pengikut, atau peniru sekalipun dapat dialihkan untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

_worship-as-a-lifestyle

MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….

Petualangan Kuliner Surabaya

profile (2)

Hai guys,

Surabaya nggak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan segudang sejarah heroik dalam peradabannya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya juga memiliki rujukan sektor pariwisata pendukung pengembangan perekonomiannya. Per-kuliner-an adalah salah satu sub-sektor pariwisata yang menarik untuk ditelusuri sekalipun kita hanya memiliki waktu singkat untuk berpetualang di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berikut ini adalah hasil hunting kuliner yang saya lakukan dalam waktu 1 hari 2 malam.

Mie Ujung Pandang Pak Tatung

Guys, kalau Kalian pencinta Mie dan boleh menyantap daging haram (you know what i mean laah), maka rekomendasi yang satu ini harus kalian perhitungkan untuk dicoba. Mie Ujung Pandang (UP) memang ada banyak di seputar Surabaya, tapi nggak semuanya enak dan pas di kantong. Mie UP Pak Tatung yang terletak di jalan Barata Jaya XVII, Baratajaya, Gubeng adalah salah satu yang memenuhi syarat enak dan pas di kantong tadi. Hanya dengan Rp.30.000 saja, kita bisa menikmati semangkok Mie ukuran besar (bisa dibagi untuk 2 orang looohh) dengan suwiran daging Babi Merah di atasnya. Mungkin karena terbiasa makan Mie sejenis di Jakarta, saya pikir daging Babi-nya hanya pelengkap dan sedikit saja. Ternyata saya salah, hampir seluruh permukaan Mie di mangkok tertutup oleh suwiran daging dan rasa dagingnya sendiri saja sudah empuk, gurih, dan jelas nikmat! Belum lagi saat Mie yang tebal-tebal itu masuk ke dalam rongga mulut saya, kenikmatan pun berkali lipat rasanya. Nggak lupa kuah sup polos dengan potongan daun bawang pun ikut saya sruput menemani Mie dan potongan daging Babi tadi. Ini enak guys! Oiya, Mie UP Pak Tatung ini merupakan kuliner malam Surabaya yang baru buka jam 18.00 setiap harinya dan biasanya waktu jam makan malam antrian sudah gak terhindarkan. Tapi kalian nggak perlu kuatir, pelayanan di kedai pinggir jalan yang tergolong bersih ini cukup cepat dan tepat. So, have a nice dinner guys! ssrruuuppphhh!

Tahu Campur Cak Kahar

Tenang, untuk Kalian yang nggak bisa makan makanan haram, masih banyak kuliner lainnya di Surabaya. Salah satu yang jadi ikon kuliner Jawa Timur-an adalah Tahu Campur Cak Kahar yang terletak di Jalan Embong Malang no.78 Surabaya, tepatnya di seberang Hotel JW Marriot dan buka sejak pukul 17.00 sampai tengah malam. Kuliner yang satu ini memang Jawa Timur banget, terbukti dengan pelengkap bumbu petis ciri khas Jawa Timur yang dicampurkan dengan kuah kaldu sapi dan bahan utamanya tahu serta bahan lain seperti kikil, mie, kecambah dan beberapa sayuran pelengkap lainnya. Namanya saja Tahu Campur, jadi rasanya pun merupakan hasil campuran dari beberapa citarasa seperti Manis, Gurih, dan Asam. Tapi kalau ingin lebih pedas, sambal sudah tersedia di meja dan dapat kita tambahkan sendiri sesuai selera. Makanan ini sangat nikmat disantap selagi panas, apalagi dalam kondisi cuaca dingin atau hujan. Sayangnya, Surabaya lebih sering terasa gerah menuju panas di waktu malam, hehehehe. Namun demikian, untuk soal harga makanan di kedai yang mempunyai tag line Depot Legendaris ini nggak akan ngempesin kantong. hanya dengan Rp 15.000 per porsinya, kita sudah dapat menikmati hidangan legendaris khas Jawa Timur ini.

Tahu Telor Mas Ndut

Apa bedanya Tahu Campur dengan Tahu Telor? Ini adalah pertanyaan saya kepada pacar saya ketika membuat list makanan apa saja yang akan saya santap di Surabaya. Jawaban pun langsung saya dapat (berhubung doi orang Jawa Timur), perbedaan utamanya terletak di bahan “pengikatnya”. Jadi, untuk tahu campur pengikatnya adalah kuah kaldu sapi sedangkan Tahu Telor diikat dengan bumbu kacang (seperti ketoprak). Nah, di daerah A. Yani tepatnya di Jalan Ketintang Baru XII terdapat satu penjual Tahu Telor gerobak yang dipanggil Mas Ndut. Sekitar 11 tahun lalu, dia sudah memulai menjual Tahu Telor ini dengan berkeliling, namun sekarang karena dia sudah punya pelanggan tetap, maka dia cukup mangkal di salah satu sudut jalan saja. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba salah satu masakan Tahu Telor yang katanya paling enak se-Surabaya di Jalan Dinoyo, tapi jujur menurut saya Tahu Telor milik Mas Ndut ini lebih enak dari yang sebelumnya saya pernah coba. Bumbu Kacang yang dibuat Mas Ndut lebih gurih dan kental sehingga ketika disiramkan ke atas Tahu Telor yang baru dimasak panas-panas, kenikmatannya tidak dapat terhindarkan. Saya sadar kunci kenikmatan Tahu Telor Mas Ndut ini terletak di bumbu kacangnya, rasanya pas tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu asin. Tekstur kacangnya pun tetap terjaga, tidak terlalu cair layaknya bumbu kacang di Tahu Telor lain yang pernah saya coba. Walaupun kedai Mas Ndut masih berbentuk gerobak dan kita akan makan secara lesehan kalau makan di tempat, tapi rasanya luar biasa mantap. Terakhir, dengan harga per-porsi hanya Rp 10.000….Monggo dicoba.

Bakwan Kapasari

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah kuliner tertua yang saya temukan di petualangan kali ini. Bakwan Kapasari namanya, dan buka dari jam 10.00 – 18.00 setiap hari di Ruko RMI Blok B no. 1 Jalan Ngagel Jaya Selatan, Baratajaya, Gubeng, Kota Surabaya. Selain itu ada juga cabangnya di Pasar Atom Surabaya. Bakwan Kapasari ini sudah dikenal sejak tahun 1931 dan sudah menjadi bisnis kuliner keluarga secara turun-temurun, mungkin hal ini yang membuat Bakwan Kapasari begitu dikenal dan tidak pernah sepi pembeli hingga kini. Menu andalan yang dijual adalah Bakwan dan beraneka printilan lain seperti bakso ikan, Haiwan, Usus Isi goreng, Bakso Goreng, dan lainnya. Namun yang menurut saya enak hanya Haiwan dan Bakso Gorengnya, menurut beberapa review usus isinya pun nikmat, hanya sayang saya tidak mencobanya. Setelah saya membeli beberapa isian seperti Bakso goreng, Siomay, Haiwan, dan Bakwan, rasa kuliner ini menurut saya sebenarnya tergolong biasa saja (saya pernah mencoba makanan sejenis yang lebih enak), tapi menjadi populer dan diincar para penikmat kuliner mungkin karena nilai legendaris dan citarasa yang terjaga sejak 1931. Harga juga tidak istimewa, malahan tergolong mahal dengan kisaran harga antara Rp 2.500 – Rp 7.500 per-item isian yang dipesan, jadi satu porsi isi 4 item saja bisa dibanderol dengan harga sekitar Rp 30.000. Namun demikian, bagi saya sama sekali tidak rugi untuk mencoba salah satu makanan tertua di Surabaya ini karena nilai sejarah dalam sebuah rasa memang selalu istimewa.

Bebek Sinjay

Guys, ini nih satu kuliner yang lagi trend beberapa waktu terakhir ini. Memang bukan kuliner asli Surabaya dan letaknya di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, tapi karena popularitasnya saya pun rela sedikit beranjak keluar dari Kota Surabaya. Perjalanan yang saya tempuh menghabiskan waktu sekitar 45 menit, melewati Jembatan Suramadu dan langsung menuju Jalan Ketengan no.45, Bangkalan, Madura. Sesampainya di lokasi, kesan yang muncul dalam benak saya adalah luar biasa, restoran Bebek Sinjay ini sangat besar dengan pengunjung yang cukup padat. Cara memesannya pun cukup unik secara mandiri langsung ke kasir, membayar, dan mengambil pesanan pada loket lainnya. Untuk menu, menurut saya cukup simple dengan menu paketan Rp 26.000 berisi Bebek/Ayam, protolan daging Bebek/Ayam, Jeroan ati dan ampela, serundeng, lalapan plus Sambelnya. Rasa hidangan bebeknya sendiri sebenarnya tidak terlalu spesial, tapi yang membuatnya jadi berbeda dibanding makanan sejenis ada di sambalnya. Rasa gurih berpadu pedas nikmat bercampur dengan daging bebek yang cukup lembut dan sama sekali tidak berbau amis, citarasa Bebek Sinjay terletak disini. Menurut saya, harga dan rasa Bebek Sinjay memang cukup layak untuk dimasukkan ke dalam daftar kuliner Indonesia yang populer saat ini.

Lontong Kupang

Saat pertama dengar kuliner Lontong Kupang, saya nggak bisa membayangkan makanan jenis apa yang akan saya makan. Untuk mencari kuliner ini di sekitaran Surabaya pun tidak terlalu mudah, saya mendapatkannya di sekitar Jalan Gayung Kebonsari Timur. Menurut beberapa rekomendasi warga lokal, salah satu Lontong Kupang yang enak sebenarnya ada di Jalan Raya Kletek, namun sayangnya saat saya sambangi sudah tutup. Kembali ke Lontong Kupang, makanan seharga Rp 10.000 ini termasuk jenis makanan kuah dengan isian Lontong dan daging sejenis remis kecil (Kupang) yang biasanya juga disertai pelengkap lain seperti perkedel kentang dan daun bawang. Rasanya pun cukup unik, saya membayangkan kuah soto bening yang disertai citarasa khas makanan laut yang muncul dari Kupang tersebut. Gurih, sedikit asam bercampur manis pun menjadi satu memberikan rasa unik di mulut. Saya sendiri tidak terlalu menyukai rasanya, namun karena keunikannya maka saya anggap makanan ini layak untuk dicoba. Satu hal menarik mengenai Kupang yang saya dapat dari ayah saya, jadi untuk mendapatkan Kupang di pinggiran laut, kita perlu memancingnya terlebih dahulu. Istimewanya, para nelayan yang berada di wilayah perairan Surabaya biasanya memancing Kupang dengan menggunakan tinja manusia. Mereka menempatkan tinja pada sebuah papan dan diletakkan di pinggiran laut yang ombaknya relatif tenang kemudian para Kupang akan berdatangan dengan sukarela dan nelayan pun dengan mudah menangkapnya. Hiiiiiiiiii…..geli, hahahhahaa.

Wedang Angsle

Apa kalian pernah menikmati wedang ronde atau sekoteng? Kalau sudah pernah, maka kalian tidak akan aneh lagi dengan jenis wedangan ini, Angsle namanya. Bahan dasar pembuatnya tidak jauh beda dengan ronde atau sekoteng, menggunakan kuah jahe yang direbus gula, pandan dan batang serai, bedanya untuk angsle dicampur dengan santan dengan isian seperti potongan roti tawar, mutiara, kacang hijau, atau singkong (sesuai selera). Wedang Angsle banyak ditemukan di sekitaran Kota Surabaya dan merupakan salah satu minuman hangat favorit bagi warga Surabaya untuk menikmati malam sambil mengobrol dan melepas lelah. Rasa legit, sedikit pedas, manis mengalir di lidah menuju kerongkongan dan memberikan kehangatan di kerongkongan sampai ke lambung saya. Sensasi seharga Rp 5000 ini benar-benar nikmat, terutama bila dinikmati selepas makan malam sambil menghabiskan waktu di pinggiran jalan Kota Surabaya. Josss……!!

Nasi Bebek Tugu Pahlawan

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah makanan terakhir yang saya coba di petualangan kuliner kali di Surabaya kali ini. Nasi Bebek Tugu Pahlawan namanya dan menurut Ibu Pacar saya, nasi bebek ini lebih enak daripada Bebek Sinjay yang sebelumnya saya coba. Malam hari sebelum saya pulang ke Jakarta dengan kereta dari Pasar Turi, saya pun mencoba membuktikan rekomendasi Ibu Pacar saya dengan mendatangi kedai kaki lima yang buka di Jalan Tembaan, Surabaya sejak pukul 18.00 ini. Saya datang dan antrian sudah mengular panjang, bahkan ada 2 antrian untuk yang makan di tempat dan take away, melihat ini saya semakin yakin kalau masakan nasi bebek ini nikmat. Setelah kurang lebih 15 menit mengantri, sampailah giliran saya memesan Nasi Bebek berukuran biasa (karena ada yang berukuran besar) seharga Rp 14.000 lengkap dengan nasi putih, serundeng, protolan daging dan sambalnya. Saya akui rasa bebeknya sendiri lebih enak daripada Bebek Sinjay, bumbunya lebih meresap dan gurih di lidah, dagingnya pun lebih empuk. Namun sayangnya, sambal yang menjadi “senjata” utama tidak terasa pedas dan levelnya dibawah sambal di Bebek Sinjay. Mungkin ini hanya masalah selera saja, dan overall Nasi Bebek Tugu Pahlawan ini memang lebih enak daripada Bebek Sinjay. Rekomendasi Ibu Pacar saya memang tidak salah..heuheuheu. Jangan lupa, di tempat ini juga menyediakan Es Kelapa Muda dengan rasa yang luar biasa nikmat seharga Rp 4000 per gelasnya. Walaupun potongan dagingnya tidak terlalu banyak, tapi daging kelapa ini benar-benar masih muda, tidak seperti kelapa muda yang akhir-akhir ini saya nikmati dengan daging yang keras mendekati daging kelapa parut. Selain itu, gula yang digunakan membuat rasa Es Kelapa Muda ini benar-benar nikmat dan sangat cocok sebagai teman menikmati lezatnya Nasi Bebek di tempat ini.

profile (1)

Guys, jadi inilah beberapa ulasan kuliner tentang makanan yang saya coba di petualangan Kota Surabaya beberapa waktu lalu. Secara umum, saya simpulkan kalau makanan Kota Surabaya itu nggak ada habisnya. Banyak sekali makanan lokal yang uenaaaak hingga uenaaak suekaaliiiii dan dapat ditemukan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Jangan lupa untuk selalu mencoba makanan lokal ketika Kalian berkunjung ke satu tempat di seluruh dunia ini, apalagi Indonesia. Mau enak atau enggak itu urusan belakangan, karena pengalaman jauh lebih berharga…hahaaaayyyy. Sampai ketemu di ulasan selanjutnya…cheeers!

phosphone I PetualanganKulinerSurabaya I Maret2017

Ketika Agama “Mengganggu” Pikiran Saya

religion

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali hal yang terjadi di Indonesia dan cukup menjadi “pengganggu” pikiran saya. Isu yang sering dibicarakan dan menjadi topik permasalahan di banyak level masyarakat adalah agama. Entah kenapa, saya merasa Indonesia begitu lekat sekali dengan urusan religiusitas ini. Banyak pihak yang menganggap agama merupakan dasar penting dari setiap perilaku dan sikap manusia dalam kehidupan sehingga layak untuk dibela dengan segenap jiwa dan raga, sebagian lagi menganggap bahwa agama merupakan KEBENARAN hakiki yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kata lain agama tidak bisa salah. Selanjutnya, agama pun dapat “berkolaborasi” dengan banyak isu lain di masyarakat. Sebut saja Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan Keamanan dan Pertahanan. Luar biasa!

Agama seolah sudah menjadi “panglima”, tidak saja bagi pribadi namun juga kelompok, golongan, bahkan dalam bernegara. Saya akui, dalam Pancasila Ketuhanan menjadi sila atau prisip pertama yang disebutkan, tapi itu bukan agama. Sekali lagi, ITU BUKAN AGAMA! Bagi saya, agama akan lebih indah bila berdiri di lingkup Kemanusiaan dan bukan sekedar Doktrinasi. Jadi, tidak elok bila ada PEMAKSAAN (dalam bentuk apapun itu) terhadap individu lainnya untuk melakukan apa yang sudah menjadi doktrin agama. Terlebih, bila alasan yang digunakan adalah tidak ingin melihat manusia lainnya “tersesat” dalam dosa. Haloooooo, siapa kita hingga mampu menghakimi manusia lainnya?.

80359871_thumbnail

Untuk sebagian kelompok, agama mungkin menjadi pedoman atas kehidupan yang dijalani, bahkan mengatur seluruh unsur kehidupannya dari lahir hingga mati, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan dari urusan memilih jodoh hingga buang air. Saya paham fungsi agama sebagai aturan, namun saya juga memahami bahwa agama bersifat pribadi (ini mungkin pengetahuan saya yang masih sangat rendah) sehingga tidak dapat memberlakukan pemaksaan yang agama lakukan terhadap diri kepada individu di luar diri kita. Kalau bagi saya, secara pribadi melakukan ajaran agama saja sudah sangat sulit, apalagi ditambahkan pribadi lain untuk kita atur secara agamawi juga.

Ada hal yang lebih gila, ketika berbagai kepentingan lain sudah dibumbui oleh agama sehingga level kesucian dan keharusannya menjadi sama dengan agama (bagi kaum “Religion Fans Club”). Agak sulit bagi saya ketika harus menjalankan perintah agama dalam perihal Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, maupun Keamanan di tataran masyarakat yang heterogen dengan keragaman yang luar biasa. Sulit karena setiap orang tidak memiliki sistem nilai dan keyakinan yang sama, namun dalam hal agama semuanya harus seragam. Bagi saya, hal ini sangat membingungkan dan berindikasi menimbulkan “korsleting” dalam perasaan dan pikiran.

Sebagai contoh yang sering saya perhatikan di Indonesia, (mohon maaf kalau saya ambil contoh ini, karena menurut saya ini yang cukup sederhana untuk dijadikan contoh) saat Umat Muslim berpuasa ada sebagian kelompok (INGAT! ini sebagian kelompok, artinya bukan keseluruhan) yang menuntut seluruh restoran tidak boleh buka dengan dalih menghormati mereka yang puasa, padahal tidak semua orang berpuasa. Bagaimana bisa “memaksa” orang yang tidak berpuasa untuk tidak makan di restoran ketika bulan puasa?. Mungkin hal ini bisa diterapkan di negara yang memakai landasan agama seperti Arab saudi, tetapi INDONESIA bukanlah negara agama. Saya yakin, jika restoran pun buka pada saat puasa, umat non-Muslim juga tidak akan dengan sengaja makan di depan Umat Muslim yang sedang berpuasa apalagi sampai melecehkan keteguhan mereka yang berpuasa.

parliament-religion-cc-ryan-hyde

Bagi sebagian masyarakat, agama mungkin sudah benar-benar berada pada puncak rantai aturan dalam kehidupannya, melebihi hukum sipil yang berlaku seperti undang-undang atau bahkan Ideologi Bangsa seperti Pancasila. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat lain seperti halnya saya, agama sudah tidak menjadi hal yang “super” lagi. Keberadaan agama bagi saya sudah berhenti HANYA pada level CARA saja dan tidak lebih, sehingga tidak perlu dibela mati-matian. Bila agama yang saya anut saat ini diolok-olok sampai level terendahnya, saya tidak akan marah karena itu hanya cara saja. Hal ini seperti kita naik Bus menuju satu tempat dan di tengah jalan mendapat hinaan dari sebagian orang yang naik mobil mewah dengan tujuan yang sama.

Sebenarnya tidak ada masalah bila seseorang memperbincangkan atau bahkan berdebat mengenai perbedaan agama, ini sah-sah saja selama tidak bertujan untuk menghina dan merasa agamanya lebih baik daripada lawan bicaranya. Ingat, (bagi yang percaya keberadaan Surga-Neraka) bahwa yang berhak memutuskan siapa yang berdosa, masuk neraka, dan siapa yang masuk surga adalah Tuhan Penguasa Semesta itu sendiri, bukan kita!. Nah, yang menjadi masalah berbahaya adalah ketika kita merasa sudah paham benar mengenai agama yang kita anut dan merasa BERHAK untuk MENGHAKIMI manusia lainnya atas setiap kesalahan yang sudah dibuatnya. Lebih daripada itu, mungkin kita merasa bahwa kita LEBIH SUCI dari manusia lain. Saudaraku, siapakah kita sehingga kita berhak untuk MENGHAKIMI sesama kita manusia?

evolution-of-religion-1

Agama seharusnya menghantarkan orang menjadi lebih baik lagi dan bukan sebaliknya. Agama adalah CARA manusia untuk mempelajari, memahami, dan menjalani Kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta. Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita semua untuk menonton satu film layar lebar buatan India yang berjudul PK. Tidak perlu saya ceritakan resensinya, namun saya ingin memparafrasekan bagian dialog dalam salah satu adegan film tersebut…Dalam kehidupan di dunia, saya pikir Tuhan itu hanya satu. Ternyata ada 2 Tuhan, pertama Tuhan yang memang menciptakan manusia. Kedua, tuhan yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dari 2 sosok Tuhan ini, seharusnya manusia tahu mana Tuhan yang sejati.

Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dan bagian kegelisahan yang saya alami. Maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam damai, untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

phosphone I jakarta I 2017

religion

Movie review: Arrival

arrival_hk

“Bahasa adalah dasar dari sebuah peradaban…”.

Kalimat ini menjadi perhatian khusus bagi saya ketika pertama menyaksikan film Arrival. Kalimat tersebut diceritakan muncul dalam sebuah pembuka yang digunakan oleh Dr. Louise Banks (Amy Adams) pada pidatonya sebagai seorang ahli bahasa. Sekilas, kalimat ini seperti biasa saja muncul dalam dialog antara karakter Dr. Louise Banks dan Ian Donnely (Jeremy renner), padahal kalimat ini bagi saya merupakan satu clue penting untuk memahami makna yang terkandung dalam film ini.

Awalnya saya pikir film yang diangkat dari sebuah cerita pendek berjudul “Story of Your Life” karya Ted Chiang ini sebagai film sci-fi biasa yang mengikutsertakan alien dalam alur ceritanya. Namun, saya semakin tertarik untuk menyaksikan film ini ketika seorang teman merekomendasikan bahwa film ini sangat menarik dan mempunyai makna penting di balik ceritanya. Mengetahui hal ini, saya pun bergebas mencari waktu untuk menyaksikan Arrival. Saya tidak akan bercerita tentang sinopsis Arrival, tetapi saya akan lebih berbagi tentang kesan yang saya dapatkan setelah menyaksikannya dan merenungkan makna di film tersebut.

Bila kita melihat pada keberadaan bahasa dalam kehidupan, saya yakin banyak diantara kita yang setuju bila saya katakan bahasa memiliki peran yang sangat penting di dalam evolusi kehidupan manusia. Bahasa manusia begitu berkembang dari masa ke masa seturut perkembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Bahasa menjadi unsur penting dalam komunikasi yang mampu menyampaikan makna maupun menjadi makna itu sendiri. Bahkan setelah menyaksikan Arrival, saya menyadari bahwa bahasa lahir dari pola pikir manusia dan sanggup mempengaruhi pola pikir manusia yang mungkin baru mempelajari satu bahasa tertentu.

arrival-language-2jpeg

Film Arrival menceritakan tentang sistem pola bahasa Alien yang tidak terpengaruh unsur waktu (non-linear) seperti layaknya bahasa manusia yang linear. Bahasa yang tampak seperti lingkaran dengan pola acak ternyata memiliki makna yang pada akhirnya dapat dimengerti oleh Dr. Louise dan Ian. Mereka (Louise dan Ian) terus mempelajari pola ini hingga akhirnya dapat berkomunikasi dengan sang Alien tersebut. Hebatnya, lebih dari sekedar belajar, Dr. Louise bahkan mampu mengetahui pola pikir Alien dan maksud kedatangan mereka di beberapa titik dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari “kerendahan’ hati Dr. Louise untuk berusaha memahami tanpa mengambil kesimpulan lebih jauh tentang maksud kedatangan para Alien tersebut.

Sikap “ke-rendah hati-an” Dr. Louise untuk tidak cepat mengambil kesimpulan ini seharusnya dimiliki oleh kita (manusia dalam kehidupan nyata) saat berusaha menafsirkan tentang suatu hal atau berkomunikasi dengan sesama manusia. Sebaliknya, film Arrival justru menampilkan sebuah realita dimana manusia secara umum digambarkan sebagai makhluk hidup yang paranoid, penuh kecurigaan, dan cenderung bersikap agresif terhadap sesuatu yang baru dan asing seperti para Alien tersebut. Akhirnya saya pun berpikir, bukankah memang itu penggambaran yang benar atas sikap umat manusia di seluruh dunia belakangan ini?.

Seluruh penjuru dunia tampak digambarkan begitu ketakutan terhadap kedatangan para Alien dan berencana segera menyerang lebih dulu sebelum para Alien menyerang, begitulah prediksi strategi yang diceritakan dalam film. Pesan yang disampaikan oleh Alien ditafsirkan secara negatif oleh manusia, tanpa adanya konfirmasi atas pemahaman yang sebenarnya. Padahal, manusia juga baru saja belajar mengenai bahasa yang digunakan oleh para Alien. Satu kata weapon (senjata) dari Alien langsung diartikan oleh manusia sebagai tujuan menginvasi bumi dan segala isinya. Miskomunikasi terjadi!. Padahal, senjata yang dimaksud adalah bahasa dan makna dalam kata-kata itu sendiri. Para Alien ingin membantu manusia untuk bersatu dan suatu saat pada masanya (menurut film sekitar 3000 tahun mendatang) nanti para Alien pun membutuhkan bantuan manusia.

11arrivaljp1-master675

Miskomunikasi ini menjadi satu perenungan lain ketika saya menyaksikan film ini. Proses komunikasi tidak berjalan baik antara manusia dan para Alien. Sikap paranoid dan agresif sudah membutakan manusia sehingga berburuk sangka terhadap sesuatu yang asing dan baru. Hal ini seringkali terjadi dalam level tradisi dan budaya, ketika tidak sesuai dengan budaya yang sudah mengakar lama dalam sebuah komunitas, kita bisa saja ditolak dan mengalami gagal komunikasi dalam komunitas tersebut. Sayangnya, sikap penolakan ini seringkali dilakukan secara agresif tanpa adanya upaya memahami dan mempertimbangkan berbagai nilai positif yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini pun terus berulang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak hanya budaya, semua produk yang muncul dari pola pikir manusia seperti agama dan karakter bangsa pun mengalami hal yang serupa.

Film Arrival adalah film luar biasa bagi saya untuk membuka tahun baru 2017 ini dengan berbagai resolusinya. Perubahan pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dapat menjadi dasar kemajuan peradaban manusia. Bahasa menjadi satu pengantar penting dalam proses evolusi peradaban ini, dan menurut saya proses ini akan berlangsung selama makhluk hidup “berkeliaran” di alam semesta. Sikap menghakimi dan merasa paling benar akan selalu ada di benak para manusia, ini tidak dapat dihilangkan paksa karena sudah menjadi sebuah karakter manusia di abad ini. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai bagian dari peradaban manusia abad ini mulai membuka diri terhadap berbagai misteri alam semesta yang belum terungkap dan menggunakan bahasa untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

mv5bmty1nzk4odc5ov5bml5banbnxkftztgwmja0ndq1mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

phosphone I arrival I moviereview I 2017