PEMUJA SEKALIGUS PEMBELAJAR

1

Berawal dari mengidolakan seseorang, entah karena karyanya, sikapnya, pemikiran, atau sekedar gayanya, manusia bisa saling terikat dan saling memuja satu dengan lainnya. Fenomena wajar yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia ini dapat menjadi titik awal untuk pilihan sikap selanjutnya. Menjadi sekedar pemuja, pengikut atau bahkan peniru menjadi sebuah preferensi sikap bagi kita terhadap siapapun yang menjadi idola.

Masalahnya dalam prinsip hidup yang saya yakini, sesuatu yang berlebihan tidak akan menghasilkan hal yang proporsional dalam kebaikan. Begitu juga sikap pemujaan terhadap sesuatu secara berlebihan pun tidak menjamin mendatangkan hal positif, sekalipun sesuatu tersebut adalah keyakinan spiritual atau konsep ketuhanan. Dalam hal pemujaan terhadap manusia yang dianggap idola oleh manusia lain, kerentanan akan hal-hal negatif pun tidak dapat dihindari.

Mungkin manusia memang mempunyai “desain” psikologis untuk menyukai apapun yang ada dalam kehidupannya, namun bila dilakukan secara berlebihan tentu justru akan mendatangkan hal buruk layaknya makan dalam jumlah berlebihan dan akhirnya muntah karena terlalu kenyang. Hal ini belum termasuk dampak bila pribadi yang diidolakan ternyata tidak se-sempurna harapan mereka yang mengidolakan.

Sebenarnya sudah banyak hal sederhana untuk mencontohkan sikap memuja berlebihan ini. Banyak sekali kasus yang terjadi pada pribadi yang diidolakan secara berlebihan seperti Michael Jackson, Britney Spears, atau Taylor Swift yang harus merasakan ancaman dari para fans setia mereka di atas panggung. Bahkan tidak sedikit yang harus berakhir kematian di tangan pemuja mereka seperti John Lennon atau Mahatma Ghandi. Bila kita ingat, kasus video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya di Indonesia beberapa waktu lampau pun memunculkan para fans “sakit hati” yang tidak sedikit dan berakhir dengan caci maki mereka terhadap sang idola. Semua kebencian bahkan pembunuhan yang lahir dari perasaan sakit hati akibat “terlalu” memuja ini tampaknya lebih parah daripada sekedar kebencian biasa.

Hal ini menjadi semakin buruk bila tingkat pemujaan sudah menjadi hasrat untuk mengikuti bahkan meniru sang idola. Bayangkan apa yang terjadi bila idola mereka menyakiti harapan yang telah mereka bentuk sejak awal. Saya pikir dampaknya akan lebih mengerikan daripada ketika seseorang kehilangan barang karena dirampok di jalan.

29378829d91b8d04d92faf78c58f3a95

Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Lalu, bagaimana mengatasi perasaan suka atau cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang begitu berlebih?”. Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi saya karena perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan atau diabaikan. Manusia memang memiliki kecenderungan ini dalam psikologis yang tertanam dalam setiap sel tubuh serta jiwa kita.

Mungkin saya belum dapat jawaban yang tepat atas pertanyaan di benak saya tersebut, namun muncul beberapa ide dalam pikiran saya. Salah satu yang muncul dan berulang-ulang hadir dalam alam pemikiran saya adalah mengubah energi suka tersebut menjadi sikap untuk belajar dan menghasilkan hal positif dari apa yang kita pelajari dari obyek pemujaan kita tersebut. Memang hal ini rasanya masih terlalu abstrak dan terkesan sangat idealis, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bukan?

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hal apapun yang ada di sekitarnya, termasuk dengan perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini. Bila pemujaan berlebihan rentan memunculkan perilaku yang destruktif, maka sangat mungkin juga menghadirkan sisi yang konstruktif. Perasaan yang berlebihan ini memang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat diakali. Pada akhirnya menjadi seorang pemuja, pengikut, atau peniru sekalipun dapat dialihkan untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

_worship-as-a-lifestyle

Advertisements

MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….

Petualangan Kuliner Surabaya

profile (2)

Hai guys,

Surabaya nggak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan segudang sejarah heroik dalam peradabannya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya juga memiliki rujukan sektor pariwisata pendukung pengembangan perekonomiannya. Per-kuliner-an adalah salah satu sub-sektor pariwisata yang menarik untuk ditelusuri sekalipun kita hanya memiliki waktu singkat untuk berpetualang di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berikut ini adalah hasil hunting kuliner yang saya lakukan dalam waktu 1 hari 2 malam.

Mie Ujung Pandang Pak Tatung

Guys, kalau Kalian pencinta Mie dan boleh menyantap daging haram (you know what i mean laah), maka rekomendasi yang satu ini harus kalian perhitungkan untuk dicoba. Mie Ujung Pandang (UP) memang ada banyak di seputar Surabaya, tapi nggak semuanya enak dan pas di kantong. Mie UP Pak Tatung yang terletak di jalan Barata Jaya XVII, Baratajaya, Gubeng adalah salah satu yang memenuhi syarat enak dan pas di kantong tadi. Hanya dengan Rp.30.000 saja, kita bisa menikmati semangkok Mie ukuran besar (bisa dibagi untuk 2 orang looohh) dengan suwiran daging Babi Merah di atasnya. Mungkin karena terbiasa makan Mie sejenis di Jakarta, saya pikir daging Babi-nya hanya pelengkap dan sedikit saja. Ternyata saya salah, hampir seluruh permukaan Mie di mangkok tertutup oleh suwiran daging dan rasa dagingnya sendiri saja sudah empuk, gurih, dan jelas nikmat! Belum lagi saat Mie yang tebal-tebal itu masuk ke dalam rongga mulut saya, kenikmatan pun berkali lipat rasanya. Nggak lupa kuah sup polos dengan potongan daun bawang pun ikut saya sruput menemani Mie dan potongan daging Babi tadi. Ini enak guys! Oiya, Mie UP Pak Tatung ini merupakan kuliner malam Surabaya yang baru buka jam 18.00 setiap harinya dan biasanya waktu jam makan malam antrian sudah gak terhindarkan. Tapi kalian nggak perlu kuatir, pelayanan di kedai pinggir jalan yang tergolong bersih ini cukup cepat dan tepat. So, have a nice dinner guys! ssrruuuppphhh!

Tahu Campur Cak Kahar

Tenang, untuk Kalian yang nggak bisa makan makanan haram, masih banyak kuliner lainnya di Surabaya. Salah satu yang jadi ikon kuliner Jawa Timur-an adalah Tahu Campur Cak Kahar yang terletak di Jalan Embong Malang no.78 Surabaya, tepatnya di seberang Hotel JW Marriot dan buka sejak pukul 17.00 sampai tengah malam. Kuliner yang satu ini memang Jawa Timur banget, terbukti dengan pelengkap bumbu petis ciri khas Jawa Timur yang dicampurkan dengan kuah kaldu sapi dan bahan utamanya tahu serta bahan lain seperti kikil, mie, kecambah dan beberapa sayuran pelengkap lainnya. Namanya saja Tahu Campur, jadi rasanya pun merupakan hasil campuran dari beberapa citarasa seperti Manis, Gurih, dan Asam. Tapi kalau ingin lebih pedas, sambal sudah tersedia di meja dan dapat kita tambahkan sendiri sesuai selera. Makanan ini sangat nikmat disantap selagi panas, apalagi dalam kondisi cuaca dingin atau hujan. Sayangnya, Surabaya lebih sering terasa gerah menuju panas di waktu malam, hehehehe. Namun demikian, untuk soal harga makanan di kedai yang mempunyai tag line Depot Legendaris ini nggak akan ngempesin kantong. hanya dengan Rp 15.000 per porsinya, kita sudah dapat menikmati hidangan legendaris khas Jawa Timur ini.

Tahu Telor Mas Ndut

Apa bedanya Tahu Campur dengan Tahu Telor? Ini adalah pertanyaan saya kepada pacar saya ketika membuat list makanan apa saja yang akan saya santap di Surabaya. Jawaban pun langsung saya dapat (berhubung doi orang Jawa Timur), perbedaan utamanya terletak di bahan “pengikatnya”. Jadi, untuk tahu campur pengikatnya adalah kuah kaldu sapi sedangkan Tahu Telor diikat dengan bumbu kacang (seperti ketoprak). Nah, di daerah A. Yani tepatnya di Jalan Ketintang Baru XII terdapat satu penjual Tahu Telor gerobak yang dipanggil Mas Ndut. Sekitar 11 tahun lalu, dia sudah memulai menjual Tahu Telor ini dengan berkeliling, namun sekarang karena dia sudah punya pelanggan tetap, maka dia cukup mangkal di salah satu sudut jalan saja. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba salah satu masakan Tahu Telor yang katanya paling enak se-Surabaya di Jalan Dinoyo, tapi jujur menurut saya Tahu Telor milik Mas Ndut ini lebih enak dari yang sebelumnya saya pernah coba. Bumbu Kacang yang dibuat Mas Ndut lebih gurih dan kental sehingga ketika disiramkan ke atas Tahu Telor yang baru dimasak panas-panas, kenikmatannya tidak dapat terhindarkan. Saya sadar kunci kenikmatan Tahu Telor Mas Ndut ini terletak di bumbu kacangnya, rasanya pas tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu asin. Tekstur kacangnya pun tetap terjaga, tidak terlalu cair layaknya bumbu kacang di Tahu Telor lain yang pernah saya coba. Walaupun kedai Mas Ndut masih berbentuk gerobak dan kita akan makan secara lesehan kalau makan di tempat, tapi rasanya luar biasa mantap. Terakhir, dengan harga per-porsi hanya Rp 10.000….Monggo dicoba.

Bakwan Kapasari

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah kuliner tertua yang saya temukan di petualangan kali ini. Bakwan Kapasari namanya, dan buka dari jam 10.00 – 18.00 setiap hari di Ruko RMI Blok B no. 1 Jalan Ngagel Jaya Selatan, Baratajaya, Gubeng, Kota Surabaya. Selain itu ada juga cabangnya di Pasar Atom Surabaya. Bakwan Kapasari ini sudah dikenal sejak tahun 1931 dan sudah menjadi bisnis kuliner keluarga secara turun-temurun, mungkin hal ini yang membuat Bakwan Kapasari begitu dikenal dan tidak pernah sepi pembeli hingga kini. Menu andalan yang dijual adalah Bakwan dan beraneka printilan lain seperti bakso ikan, Haiwan, Usus Isi goreng, Bakso Goreng, dan lainnya. Namun yang menurut saya enak hanya Haiwan dan Bakso Gorengnya, menurut beberapa review usus isinya pun nikmat, hanya sayang saya tidak mencobanya. Setelah saya membeli beberapa isian seperti Bakso goreng, Siomay, Haiwan, dan Bakwan, rasa kuliner ini menurut saya sebenarnya tergolong biasa saja (saya pernah mencoba makanan sejenis yang lebih enak), tapi menjadi populer dan diincar para penikmat kuliner mungkin karena nilai legendaris dan citarasa yang terjaga sejak 1931. Harga juga tidak istimewa, malahan tergolong mahal dengan kisaran harga antara Rp 2.500 – Rp 7.500 per-item isian yang dipesan, jadi satu porsi isi 4 item saja bisa dibanderol dengan harga sekitar Rp 30.000. Namun demikian, bagi saya sama sekali tidak rugi untuk mencoba salah satu makanan tertua di Surabaya ini karena nilai sejarah dalam sebuah rasa memang selalu istimewa.

Bebek Sinjay

Guys, ini nih satu kuliner yang lagi trend beberapa waktu terakhir ini. Memang bukan kuliner asli Surabaya dan letaknya di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, tapi karena popularitasnya saya pun rela sedikit beranjak keluar dari Kota Surabaya. Perjalanan yang saya tempuh menghabiskan waktu sekitar 45 menit, melewati Jembatan Suramadu dan langsung menuju Jalan Ketengan no.45, Bangkalan, Madura. Sesampainya di lokasi, kesan yang muncul dalam benak saya adalah luar biasa, restoran Bebek Sinjay ini sangat besar dengan pengunjung yang cukup padat. Cara memesannya pun cukup unik secara mandiri langsung ke kasir, membayar, dan mengambil pesanan pada loket lainnya. Untuk menu, menurut saya cukup simple dengan menu paketan Rp 26.000 berisi Bebek/Ayam, protolan daging Bebek/Ayam, Jeroan ati dan ampela, serundeng, lalapan plus Sambelnya. Rasa hidangan bebeknya sendiri sebenarnya tidak terlalu spesial, tapi yang membuatnya jadi berbeda dibanding makanan sejenis ada di sambalnya. Rasa gurih berpadu pedas nikmat bercampur dengan daging bebek yang cukup lembut dan sama sekali tidak berbau amis, citarasa Bebek Sinjay terletak disini. Menurut saya, harga dan rasa Bebek Sinjay memang cukup layak untuk dimasukkan ke dalam daftar kuliner Indonesia yang populer saat ini.

Lontong Kupang

Saat pertama dengar kuliner Lontong Kupang, saya nggak bisa membayangkan makanan jenis apa yang akan saya makan. Untuk mencari kuliner ini di sekitaran Surabaya pun tidak terlalu mudah, saya mendapatkannya di sekitar Jalan Gayung Kebonsari Timur. Menurut beberapa rekomendasi warga lokal, salah satu Lontong Kupang yang enak sebenarnya ada di Jalan Raya Kletek, namun sayangnya saat saya sambangi sudah tutup. Kembali ke Lontong Kupang, makanan seharga Rp 10.000 ini termasuk jenis makanan kuah dengan isian Lontong dan daging sejenis remis kecil (Kupang) yang biasanya juga disertai pelengkap lain seperti perkedel kentang dan daun bawang. Rasanya pun cukup unik, saya membayangkan kuah soto bening yang disertai citarasa khas makanan laut yang muncul dari Kupang tersebut. Gurih, sedikit asam bercampur manis pun menjadi satu memberikan rasa unik di mulut. Saya sendiri tidak terlalu menyukai rasanya, namun karena keunikannya maka saya anggap makanan ini layak untuk dicoba. Satu hal menarik mengenai Kupang yang saya dapat dari ayah saya, jadi untuk mendapatkan Kupang di pinggiran laut, kita perlu memancingnya terlebih dahulu. Istimewanya, para nelayan yang berada di wilayah perairan Surabaya biasanya memancing Kupang dengan menggunakan tinja manusia. Mereka menempatkan tinja pada sebuah papan dan diletakkan di pinggiran laut yang ombaknya relatif tenang kemudian para Kupang akan berdatangan dengan sukarela dan nelayan pun dengan mudah menangkapnya. Hiiiiiiiiii…..geli, hahahhahaa.

Wedang Angsle

Apa kalian pernah menikmati wedang ronde atau sekoteng? Kalau sudah pernah, maka kalian tidak akan aneh lagi dengan jenis wedangan ini, Angsle namanya. Bahan dasar pembuatnya tidak jauh beda dengan ronde atau sekoteng, menggunakan kuah jahe yang direbus gula, pandan dan batang serai, bedanya untuk angsle dicampur dengan santan dengan isian seperti potongan roti tawar, mutiara, kacang hijau, atau singkong (sesuai selera). Wedang Angsle banyak ditemukan di sekitaran Kota Surabaya dan merupakan salah satu minuman hangat favorit bagi warga Surabaya untuk menikmati malam sambil mengobrol dan melepas lelah. Rasa legit, sedikit pedas, manis mengalir di lidah menuju kerongkongan dan memberikan kehangatan di kerongkongan sampai ke lambung saya. Sensasi seharga Rp 5000 ini benar-benar nikmat, terutama bila dinikmati selepas makan malam sambil menghabiskan waktu di pinggiran jalan Kota Surabaya. Josss……!!

Nasi Bebek Tugu Pahlawan

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah makanan terakhir yang saya coba di petualangan kuliner kali di Surabaya kali ini. Nasi Bebek Tugu Pahlawan namanya dan menurut Ibu Pacar saya, nasi bebek ini lebih enak daripada Bebek Sinjay yang sebelumnya saya coba. Malam hari sebelum saya pulang ke Jakarta dengan kereta dari Pasar Turi, saya pun mencoba membuktikan rekomendasi Ibu Pacar saya dengan mendatangi kedai kaki lima yang buka di Jalan Tembaan, Surabaya sejak pukul 18.00 ini. Saya datang dan antrian sudah mengular panjang, bahkan ada 2 antrian untuk yang makan di tempat dan take away, melihat ini saya semakin yakin kalau masakan nasi bebek ini nikmat. Setelah kurang lebih 15 menit mengantri, sampailah giliran saya memesan Nasi Bebek berukuran biasa (karena ada yang berukuran besar) seharga Rp 14.000 lengkap dengan nasi putih, serundeng, protolan daging dan sambalnya. Saya akui rasa bebeknya sendiri lebih enak daripada Bebek Sinjay, bumbunya lebih meresap dan gurih di lidah, dagingnya pun lebih empuk. Namun sayangnya, sambal yang menjadi “senjata” utama tidak terasa pedas dan levelnya dibawah sambal di Bebek Sinjay. Mungkin ini hanya masalah selera saja, dan overall Nasi Bebek Tugu Pahlawan ini memang lebih enak daripada Bebek Sinjay. Rekomendasi Ibu Pacar saya memang tidak salah..heuheuheu. Jangan lupa, di tempat ini juga menyediakan Es Kelapa Muda dengan rasa yang luar biasa nikmat seharga Rp 4000 per gelasnya. Walaupun potongan dagingnya tidak terlalu banyak, tapi daging kelapa ini benar-benar masih muda, tidak seperti kelapa muda yang akhir-akhir ini saya nikmati dengan daging yang keras mendekati daging kelapa parut. Selain itu, gula yang digunakan membuat rasa Es Kelapa Muda ini benar-benar nikmat dan sangat cocok sebagai teman menikmati lezatnya Nasi Bebek di tempat ini.

profile (1)

Guys, jadi inilah beberapa ulasan kuliner tentang makanan yang saya coba di petualangan Kota Surabaya beberapa waktu lalu. Secara umum, saya simpulkan kalau makanan Kota Surabaya itu nggak ada habisnya. Banyak sekali makanan lokal yang uenaaaak hingga uenaaak suekaaliiiii dan dapat ditemukan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Jangan lupa untuk selalu mencoba makanan lokal ketika Kalian berkunjung ke satu tempat di seluruh dunia ini, apalagi Indonesia. Mau enak atau enggak itu urusan belakangan, karena pengalaman jauh lebih berharga…hahaaaayyyy. Sampai ketemu di ulasan selanjutnya…cheeers!

phosphone I PetualanganKulinerSurabaya I Maret2017

Ketika Agama “Mengganggu” Pikiran Saya

religion

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali hal yang terjadi di Indonesia dan cukup menjadi “pengganggu” pikiran saya. Isu yang sering dibicarakan dan menjadi topik permasalahan di banyak level masyarakat adalah agama. Entah kenapa, saya merasa Indonesia begitu lekat sekali dengan urusan religiusitas ini. Banyak pihak yang menganggap agama merupakan dasar penting dari setiap perilaku dan sikap manusia dalam kehidupan sehingga layak untuk dibela dengan segenap jiwa dan raga, sebagian lagi menganggap bahwa agama merupakan KEBENARAN hakiki yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kata lain agama tidak bisa salah. Selanjutnya, agama pun dapat “berkolaborasi” dengan banyak isu lain di masyarakat. Sebut saja Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan Keamanan dan Pertahanan. Luar biasa!

Agama seolah sudah menjadi “panglima”, tidak saja bagi pribadi namun juga kelompok, golongan, bahkan dalam bernegara. Saya akui, dalam Pancasila Ketuhanan menjadi sila atau prisip pertama yang disebutkan, tapi itu bukan agama. Sekali lagi, ITU BUKAN AGAMA! Bagi saya, agama akan lebih indah bila berdiri di lingkup Kemanusiaan dan bukan sekedar Doktrinasi. Jadi, tidak elok bila ada PEMAKSAAN (dalam bentuk apapun itu) terhadap individu lainnya untuk melakukan apa yang sudah menjadi doktrin agama. Terlebih, bila alasan yang digunakan adalah tidak ingin melihat manusia lainnya “tersesat” dalam dosa. Haloooooo, siapa kita hingga mampu menghakimi manusia lainnya?.

80359871_thumbnail

Untuk sebagian kelompok, agama mungkin menjadi pedoman atas kehidupan yang dijalani, bahkan mengatur seluruh unsur kehidupannya dari lahir hingga mati, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan dari urusan memilih jodoh hingga buang air. Saya paham fungsi agama sebagai aturan, namun saya juga memahami bahwa agama bersifat pribadi (ini mungkin pengetahuan saya yang masih sangat rendah) sehingga tidak dapat memberlakukan pemaksaan yang agama lakukan terhadap diri kepada individu di luar diri kita. Kalau bagi saya, secara pribadi melakukan ajaran agama saja sudah sangat sulit, apalagi ditambahkan pribadi lain untuk kita atur secara agamawi juga.

Ada hal yang lebih gila, ketika berbagai kepentingan lain sudah dibumbui oleh agama sehingga level kesucian dan keharusannya menjadi sama dengan agama (bagi kaum “Religion Fans Club”). Agak sulit bagi saya ketika harus menjalankan perintah agama dalam perihal Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, maupun Keamanan di tataran masyarakat yang heterogen dengan keragaman yang luar biasa. Sulit karena setiap orang tidak memiliki sistem nilai dan keyakinan yang sama, namun dalam hal agama semuanya harus seragam. Bagi saya, hal ini sangat membingungkan dan berindikasi menimbulkan “korsleting” dalam perasaan dan pikiran.

Sebagai contoh yang sering saya perhatikan di Indonesia, (mohon maaf kalau saya ambil contoh ini, karena menurut saya ini yang cukup sederhana untuk dijadikan contoh) saat Umat Muslim berpuasa ada sebagian kelompok (INGAT! ini sebagian kelompok, artinya bukan keseluruhan) yang menuntut seluruh restoran tidak boleh buka dengan dalih menghormati mereka yang puasa, padahal tidak semua orang berpuasa. Bagaimana bisa “memaksa” orang yang tidak berpuasa untuk tidak makan di restoran ketika bulan puasa?. Mungkin hal ini bisa diterapkan di negara yang memakai landasan agama seperti Arab saudi, tetapi INDONESIA bukanlah negara agama. Saya yakin, jika restoran pun buka pada saat puasa, umat non-Muslim juga tidak akan dengan sengaja makan di depan Umat Muslim yang sedang berpuasa apalagi sampai melecehkan keteguhan mereka yang berpuasa.

parliament-religion-cc-ryan-hyde

Bagi sebagian masyarakat, agama mungkin sudah benar-benar berada pada puncak rantai aturan dalam kehidupannya, melebihi hukum sipil yang berlaku seperti undang-undang atau bahkan Ideologi Bangsa seperti Pancasila. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat lain seperti halnya saya, agama sudah tidak menjadi hal yang “super” lagi. Keberadaan agama bagi saya sudah berhenti HANYA pada level CARA saja dan tidak lebih, sehingga tidak perlu dibela mati-matian. Bila agama yang saya anut saat ini diolok-olok sampai level terendahnya, saya tidak akan marah karena itu hanya cara saja. Hal ini seperti kita naik Bus menuju satu tempat dan di tengah jalan mendapat hinaan dari sebagian orang yang naik mobil mewah dengan tujuan yang sama.

Sebenarnya tidak ada masalah bila seseorang memperbincangkan atau bahkan berdebat mengenai perbedaan agama, ini sah-sah saja selama tidak bertujan untuk menghina dan merasa agamanya lebih baik daripada lawan bicaranya. Ingat, (bagi yang percaya keberadaan Surga-Neraka) bahwa yang berhak memutuskan siapa yang berdosa, masuk neraka, dan siapa yang masuk surga adalah Tuhan Penguasa Semesta itu sendiri, bukan kita!. Nah, yang menjadi masalah berbahaya adalah ketika kita merasa sudah paham benar mengenai agama yang kita anut dan merasa BERHAK untuk MENGHAKIMI manusia lainnya atas setiap kesalahan yang sudah dibuatnya. Lebih daripada itu, mungkin kita merasa bahwa kita LEBIH SUCI dari manusia lain. Saudaraku, siapakah kita sehingga kita berhak untuk MENGHAKIMI sesama kita manusia?

evolution-of-religion-1

Agama seharusnya menghantarkan orang menjadi lebih baik lagi dan bukan sebaliknya. Agama adalah CARA manusia untuk mempelajari, memahami, dan menjalani Kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta. Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita semua untuk menonton satu film layar lebar buatan India yang berjudul PK. Tidak perlu saya ceritakan resensinya, namun saya ingin memparafrasekan bagian dialog dalam salah satu adegan film tersebut…Dalam kehidupan di dunia, saya pikir Tuhan itu hanya satu. Ternyata ada 2 Tuhan, pertama Tuhan yang memang menciptakan manusia. Kedua, tuhan yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dari 2 sosok Tuhan ini, seharusnya manusia tahu mana Tuhan yang sejati.

Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dan bagian kegelisahan yang saya alami. Maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam damai, untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

phosphone I jakarta I 2017

religion

Movie review: Arrival

arrival_hk

“Bahasa adalah dasar dari sebuah peradaban…”.

Kalimat ini menjadi perhatian khusus bagi saya ketika pertama menyaksikan film Arrival. Kalimat tersebut diceritakan muncul dalam sebuah pembuka yang digunakan oleh Dr. Louise Banks (Amy Adams) pada pidatonya sebagai seorang ahli bahasa. Sekilas, kalimat ini seperti biasa saja muncul dalam dialog antara karakter Dr. Louise Banks dan Ian Donnely (Jeremy renner), padahal kalimat ini bagi saya merupakan satu clue penting untuk memahami makna yang terkandung dalam film ini.

Awalnya saya pikir film yang diangkat dari sebuah cerita pendek berjudul “Story of Your Life” karya Ted Chiang ini sebagai film sci-fi biasa yang mengikutsertakan alien dalam alur ceritanya. Namun, saya semakin tertarik untuk menyaksikan film ini ketika seorang teman merekomendasikan bahwa film ini sangat menarik dan mempunyai makna penting di balik ceritanya. Mengetahui hal ini, saya pun bergebas mencari waktu untuk menyaksikan Arrival. Saya tidak akan bercerita tentang sinopsis Arrival, tetapi saya akan lebih berbagi tentang kesan yang saya dapatkan setelah menyaksikannya dan merenungkan makna di film tersebut.

Bila kita melihat pada keberadaan bahasa dalam kehidupan, saya yakin banyak diantara kita yang setuju bila saya katakan bahasa memiliki peran yang sangat penting di dalam evolusi kehidupan manusia. Bahasa manusia begitu berkembang dari masa ke masa seturut perkembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Bahasa menjadi unsur penting dalam komunikasi yang mampu menyampaikan makna maupun menjadi makna itu sendiri. Bahkan setelah menyaksikan Arrival, saya menyadari bahwa bahasa lahir dari pola pikir manusia dan sanggup mempengaruhi pola pikir manusia yang mungkin baru mempelajari satu bahasa tertentu.

arrival-language-2jpeg

Film Arrival menceritakan tentang sistem pola bahasa Alien yang tidak terpengaruh unsur waktu (non-linear) seperti layaknya bahasa manusia yang linear. Bahasa yang tampak seperti lingkaran dengan pola acak ternyata memiliki makna yang pada akhirnya dapat dimengerti oleh Dr. Louise dan Ian. Mereka (Louise dan Ian) terus mempelajari pola ini hingga akhirnya dapat berkomunikasi dengan sang Alien tersebut. Hebatnya, lebih dari sekedar belajar, Dr. Louise bahkan mampu mengetahui pola pikir Alien dan maksud kedatangan mereka di beberapa titik dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari “kerendahan’ hati Dr. Louise untuk berusaha memahami tanpa mengambil kesimpulan lebih jauh tentang maksud kedatangan para Alien tersebut.

Sikap “ke-rendah hati-an” Dr. Louise untuk tidak cepat mengambil kesimpulan ini seharusnya dimiliki oleh kita (manusia dalam kehidupan nyata) saat berusaha menafsirkan tentang suatu hal atau berkomunikasi dengan sesama manusia. Sebaliknya, film Arrival justru menampilkan sebuah realita dimana manusia secara umum digambarkan sebagai makhluk hidup yang paranoid, penuh kecurigaan, dan cenderung bersikap agresif terhadap sesuatu yang baru dan asing seperti para Alien tersebut. Akhirnya saya pun berpikir, bukankah memang itu penggambaran yang benar atas sikap umat manusia di seluruh dunia belakangan ini?.

Seluruh penjuru dunia tampak digambarkan begitu ketakutan terhadap kedatangan para Alien dan berencana segera menyerang lebih dulu sebelum para Alien menyerang, begitulah prediksi strategi yang diceritakan dalam film. Pesan yang disampaikan oleh Alien ditafsirkan secara negatif oleh manusia, tanpa adanya konfirmasi atas pemahaman yang sebenarnya. Padahal, manusia juga baru saja belajar mengenai bahasa yang digunakan oleh para Alien. Satu kata weapon (senjata) dari Alien langsung diartikan oleh manusia sebagai tujuan menginvasi bumi dan segala isinya. Miskomunikasi terjadi!. Padahal, senjata yang dimaksud adalah bahasa dan makna dalam kata-kata itu sendiri. Para Alien ingin membantu manusia untuk bersatu dan suatu saat pada masanya (menurut film sekitar 3000 tahun mendatang) nanti para Alien pun membutuhkan bantuan manusia.

11arrivaljp1-master675

Miskomunikasi ini menjadi satu perenungan lain ketika saya menyaksikan film ini. Proses komunikasi tidak berjalan baik antara manusia dan para Alien. Sikap paranoid dan agresif sudah membutakan manusia sehingga berburuk sangka terhadap sesuatu yang asing dan baru. Hal ini seringkali terjadi dalam level tradisi dan budaya, ketika tidak sesuai dengan budaya yang sudah mengakar lama dalam sebuah komunitas, kita bisa saja ditolak dan mengalami gagal komunikasi dalam komunitas tersebut. Sayangnya, sikap penolakan ini seringkali dilakukan secara agresif tanpa adanya upaya memahami dan mempertimbangkan berbagai nilai positif yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini pun terus berulang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak hanya budaya, semua produk yang muncul dari pola pikir manusia seperti agama dan karakter bangsa pun mengalami hal yang serupa.

Film Arrival adalah film luar biasa bagi saya untuk membuka tahun baru 2017 ini dengan berbagai resolusinya. Perubahan pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dapat menjadi dasar kemajuan peradaban manusia. Bahasa menjadi satu pengantar penting dalam proses evolusi peradaban ini, dan menurut saya proses ini akan berlangsung selama makhluk hidup “berkeliaran” di alam semesta. Sikap menghakimi dan merasa paling benar akan selalu ada di benak para manusia, ini tidak dapat dihilangkan paksa karena sudah menjadi sebuah karakter manusia di abad ini. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai bagian dari peradaban manusia abad ini mulai membuka diri terhadap berbagai misteri alam semesta yang belum terungkap dan menggunakan bahasa untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

mv5bmty1nzk4odc5ov5bml5banbnxkftztgwmja0ndq1mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

phosphone I arrival I moviereview I 2017

 

Perikemanusiaan yang Mempersatukan

humanity-unity-27751283455583brsv

Saat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, seseorang dapat menangis karena terharu klub idolanya menang atau sebaliknya sedih karena kalah. Begitu juga saat beribadah, seseorang dapat meneteskan air mata karena kotbah yang begitu menyentuh hati. Tidak jarang rasa sedih pun menghampiri perasaan seseorang ketika menyaksikan pemberitaan tentang makhluk hidup yang dianiyaya. Bahkan dalam pertengkaran antara suami dan istri yang berumah tangga, isak tangis histeris pun seringkali menjadi hasil dari emosi yang memuncak. Perasaan manusia terasa begitu rapuh dan mudah tersentuh, namun apa sebenarnya yang membuat hal ini tidak dapat terlepas dari keseharian hidup manusia?

Manusia dikaruniai sebuah anugerah oleh penciptanya yang berupa perasaan dengan berbagai perangkat nilai kemanusiaan. Hal inilah yang membuat manusia begitu berbeda dengan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Kemanusiaan sudah seperti dasar dari eksistensi keberadaan manusia itu sendiri lebih dari perangkat lain yang mungkin membedakan seseorang dengan orang lainnya. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, perangkat kemanusiaan ini pun seringkali disebut dengan perikemanusiaan.


Manusia juga diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya. Berbagai hal yang dianggap mendasar pun mengiringi evolusi kehidupan manusia di muka bumi. Suku, agama, ras, dan perbedaan golongan ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya pun tidak dapat terhindarkan. Beberapa pandangan pun ada yang menganggap ini sebagai sebuah kekuatan yang memunculkan manusia dalam berbagai “warna” dan keunikan. Namun, sebagian manusia lainnya justru menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah alasan untuk menguasai bahkan menghancurkan kelompok lain yang tidak sama.

1-uohcup42f6h_m0qv2etgaw

Menurut saya, pada titik inilah permasalahan horisontal antara sesama manusia pun dimulai. Sejak awal keberadaan manusia, persaingan sudah ada dan perbedaan pun sudah menjadi masalah serius yang bersifat menghancurkan bahkan mampu menjadi alasan satu pihak membunuh pihak lainnya yang tidak sejalan. Padahal, manusia masih memiliki sebuah perangkat yang disebut perikemanusiaan (seperti dibahas di awal) sebagai perangkat yang membuat manusia bernilai lebih dibandingkan hewan atau tumbuhan. Dengan pola berpikir ini, saya sangat setuju bahwa perikemanusiaan seharusnya memiliki posisi prioritas lebih tinggi dari perangkat nilai manusia yang lain, terutama yang bersifat membedakan seperti suku, agama, ras, dan antar golongan.

Mungkin saya bukan ahli dalam bidang filsafat pemikiran seperti ini, namun saya belajar dari apa yang saya alami dan saksikan lewat kehidupan ini. Sudah banyak pengalaman buruk menimpa kehidupan manusia ketika menonjolkan berbagai nilai yang hanya bersifat membedakan. Bila tidak lupa, prioritas dan kesombongan akan nilai agama telah menciptakan perang salib dan konflik timur tengah yang terus terjadi hingga saat ini. Memang agama bukan masalahnya, tapi kesombongan dan cinta buta akan agama itulah yang akhirnya membuat manusia seolah lupa akan peri kemanusiaan yang menjadi esensi keberadaan manusia. Contoh lainnya, sikap mengunggulkan ras tertentu sudah meninggalkan luka yang begitu perih dalam kisah pembantaian Nazi Jerman pada perang dunia ke-2 di masa lalu. Tragedi ini sangat menunjukkan bagaimana situasi yang akan terjadi bila meletakkan ego ras tertentu di atas peri kemanusiaan. Masih banyak contoh lain seperti konflik antar golongan yang meluluh-lantakkan Kota Ambon dan Sampit, Indonesia, atau perang ideologi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia, tragedi pemusnahan Aborigin di Australia dan penolakan etnis Rohingya di Myanmar yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Kesimpulan saya, hal buruk seringkali terjadi justru ketika perikemanusiaan dibiarkan lemah di bawah perangkat nilai manusia yang hanya membenturkan berbagai perbedaan manusia.

This slideshow requires JavaScript.

Berdasarkan pemikiran yang saya miliki ini, maka menurut saya manusia seharusnya menyadari bahwa perikemanusiaan itu adalah sebuah perangkat paling penting yang mengungkap eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa perangkat ini, bagi saya manusia tidak akan “terlihat” seperti manusia sekalipun mungkin memiliki level maksimal dalam berbagai perangkat agama, suku, ras, ataupun golongan tertentu. Namun, sayangnya sifat rakus manusia sudah mempolitisir perikemanusiaan sehingga tidak terasa penting lagi di masa kini.

Manusia abad ini terlihat justru lebih suka menempatkan berbagai nilai yang memperuncing perbedaan antar manusia sebagai prioritas penting dalam hidupnya. Dalam pengamatan saya, kini Tuhan atau Penguasa Alam Semesta seolah tak akan mampu direngkuh tanpa keberadaan agama, sentimen kesukuan sengaja dimunculkan sebagai bentuk loyalitas kelompok yang sangat perlu diperjuangkan, ras tertentu terus merasa lebih unggul dengan mengecilkan makna dari ras lainnya, bahkan konflik antar golongan pun setiap hari dapat kita saksikan mewarnai berbagai media pemberitaan dunia. Dalam benak saya, apa ini yang diharapkan Sang Pencipta manusia dari manusia ciptaanNya?

Akhirnya, saya kembali lagi kepada perikemanusiaan yang sangat penting untuk ditempatkan di atas perangkat nilai lainnya. Perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan bukan berarti tidak penting, namun membahayakan bila diletakkan di atas perikemanusiaan. Perbedaan itu perlu sebagai identitas individu yang memang diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya, namun hal ini perlu dijaga agar tidak menjadi alasan untuk sikap saling menghancurkan antar manusia. Manusia butuh sebuah perangkat yang lebih kuat untuk mempersatukan perbedaan yang ada tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Oleh karena itu, bagi saya perikemanusiaan adalah perangkat nilai yang berfungsi untuk yang mempersatukan.

humanity

God bless humanity.

Movie Review: Hacksaw Ridge

hacksaw-ridge_20161030_205858

BERPERANG TANPA HARUS MEMBUNUH!!!

Film yang mengangkat kisah-kisah tentang perang memang mempunyai pesonanya sendiri. Ketegangan medan tempur yang terbalut dinamika politik, nasionalisme, bahkan romantisme seringkali menjadi daya tarik unik dari film ber-genre peperangan. Begitu pula kesan yang muncul ketika saya menonton film perang yang bertajuk Hacksaw Ridge. Namun, ekspektasi saya menjadi lebih besar ketika mengetahui bahwa sutradara di balik karya yang diangkat dari biografi kisah nyata ini adalah aktor kawakan Mel Gibson.

hacksaw-ridge

Hacksaw Ridge adalah sebuah lokasi di pesisir Okinawa, Jepang yang menjadi medan pertempuran bagi pasukan sekutu Amerika Serikat melawan pasukan pertahanan Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Tempat ini diangkat menjadi judul film mewakili sebuah kisah luar biasa seorang prajurit muda bernama Desmond Doss yang berjuang di medan perang sebagai dokter lapangan tanpa menggunakan satu senjata pun di tangannya. Prinsip yang ia miliki adalah menyelamatkan mereka yang menjadi korban perang dan bukan membunuh dalam peperangan. Ia tidak mau menggunakan senjata sejak awal masuk dalam pelatihan tentara karena keyakinan religi yang ia pegang dengan teguh.

Awalnya, banyak pihak yang menentang keinginannya karena hampir mustahil bagi seorang tentara untuk berjuang tanpa senjata di tangannya karena dapat membahayakan diri dan pasukan lainnya. Desmond tetap berkeras untuk melanjutkan pelatihannya sebagai persiapan tugas di medan tempur, bahkan ia rela dipenjarakan dan disidang secara militer. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan orang-orang sekitarnya serta perkenanan Sang Kuasa, Desmond akhirnya menjadi prajurit pertama di Amerika Serikat atau bahkan mungkin dunia yang mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan senjata dalam peperangan dan berhasil dikabulkan.

hacksaw1

Puncak dari kisah ini adalah ketika pasukan dimana Desmond Doss berada harus merebut area Hacksaw Ridge dari pertahanan pasukan Jepang. Mereka harus memanjat tebing yang sangat tinggi terlebih dahulu hingga akhirnya berada di medan pertempuran itu. Wilayah tersebut adalah neraka bagi pasukan Amerika Serikat karena pasukan Jepang begitu dahsyat bertempur tanpa henti-hentinya. Pasukan Amerika Serikat pun terpaksa mundur dan kembali menuruni tebing tinggi tersebut. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang dokter tentara Desmond Doss. Ia tinggal paling belakang dan kembali ke medan tempur sendirian tanpa senjata untuk menyelamatkan sisa pasukan yang masih hidup, terluka, dan tidak mampu untuk muncur. Sebuah keajaiban ketika akhirnya ia berhasil menyelamatkan puluhan pasukan yang terluka dan tidak mampu berpindah tempat. Dengan sisa tenaganya, dokter Doss pun menurunkan satu demi satu korban yang masih hidup dari atas tebing Hacksaw Ridge, gilanya semua ia lakukan tanpa satu senjata pun di tangannya.

Kisah heroik inilah yang berusaha ditampilkan oleh Mel Gibson dalam karyanya. Keteguhan hati seorang Desmond Doss untuk pantang menyerah menyelamatkan mereka yang membutuhkan tanpa harus membunuh menjadi poin penting makna yang ingin disampaikan dalam film ini. Bahkan dalam satu scene, Doss juga mengobati luka salah seorang tentara Jepang yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat bersembunyi dari kejaran tentara Jepang lainnya. Hebatnya, semua cerita ini adalah kejadian nyata dan semua tokohnya pun sempat diwawancarai sebagai konfirmasi atas kebenaran cerita ini sendiri.

Secara teknis, film yang disutradarai Mel Gibson tidak pernah saya sangsikan. Setiap detil situasi perang ditampilkan dengan sangat jelas. Alur cerita, dialog, fotografi, bahkan properti seakan melebur menjadi satu kesatuan secara bersama menjelaskan kisah untuk diceritakan. Penggambaran tokoh Desmond Doss pun begitu kuat dan sangat lugas dalam dialognya. Andrew Garfield yang memerankan dokter Doss pun mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Bagi saya, setiap detil di film ini sudah dapat dikatakan mendekati sempurna. Bila diberi skala 10, maka film ini saya beri nilai 9 karena ketiadaan sedikit pun celah teknis untuk dikritisi.

the-real-desmond-t-doss-next-to-andrew-garfield

Kisah dokter Desmond Doss adalah sebuah anomali di tengah situasi yang mengharuskan orang bertempur dengan prinsip “kill or to be killed”. Rasanya hampir tidak mungkin seseorang bertempur tanpa menggunakan senjata untuk membunuh. Namun, Desmond Doss telah membuktikannya dan menjadi sebuah refleksi bagi generasi masa kini yang begitu rentan terhadap kekerasan dan paham untuk saling menghancurkan. Banyak sekali peperangan modern yang seakan “terpaksa” harus dilakukan dengan alasan keamanan, perdamaian, bahkan pembelaan terhadap kebenaran dan korban pun tak terelakkan. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan menusia harus mati sia-sia dan kebencian serta kejahatan pun nyatanya tetap ada. Setelah menyaksikan film ini, saya merasa malu sebagai generasi modern yang harusnya mampu berpikir lebih logis demi kemanusiaan. Melalui film Hacksaw Ridge, kisah seorang Desmond Doss telah mengajarkan saya bagaimana caranya untuk berjuang tanpa harus membunuh atau menyakiti individu lain.

phosphone I hacksawridge I moviereview I 2016