KUTUB EKSTRIM

Pagi-pagi udah ada seorang teman yang cerita kalau di Amerika Serikat (USA) sedang terjadi sebuah fenomena. Menurut ceritanya, masyarakat USA sekarang ini semakin jelas mengelompokkan diri pada dua kutub ekstrem. Satu kutub mengidetifikasikan diri mereka sebagai kelompok kanan yang ultra-nasionalis, agamis, dan cenderung berpihak pada pemerintahan saat ini. Sedangkan, kutub lainnya adalah kaum yang lebih beraliran ke-kiri-an. Mereka lebih sosialis, humanis, dan kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah USA sekarang.

CYGY.com

Uniknya, yang jadi fenomena adalah posisi salah satu kutub makin kuat karena kutub lainnya pun menguat. Hal ini akhirnya memunculkan pertanyaan tentang keberadaan mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak tengah, atau yang biasa dikenal sebagai kaum moderat. Saat fenomena ini terjadi, bagaimana dengan kaum moderat? Apa mereka akhirnya memilih salah satu kutub ekstrim? Lalu, sebenarnya seberapa “moderat” kah pihak yang dianggap moderat tersebut?

Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang memihak. Selama manusia hidup dan bisa memilih, maka kita akan selalu punya kecenderungan memihak. Dalam hal kutub ekstrim kanan dan kiri seperti yang diceritakan tadi, manusia pun selalu memiliki kecenderungan memihak. Memang tidak semuanya ekstrim, tapi pasti ada yang lebih dominan walaupun hanya sebatas pemikiran atau cara pandang saja. Bila kita beranggapan bahwa manusia adalah makhluk merdeka sekalipun, saat sudah memilih maka manusia tetap akan punya keberpihakan. Hal ini adalah “diri” manusia itu sendiri.

Too-much-of-a-good-thing-Calcium-supplements-may-be-bad-for-heart-health_wrbm_large

Namun, muncul sebuah pandangan lain yang memperluas diskusi pagi ini. Manusia tidak harus memilih dirinya sendiri. Artinya, saat kecenderungan memihak kutub kanan atau kiri itu mulai menguat, posisi untuk berada di tengah pun tetap berpotensi kuat menjadi pilihan. Tentu saja, hal ini tidak serta-merta terjadi tanpa pengaruh apapun. Layaknya kutub aliran kanan atau kiri, latar belakang seperti pendidikan, pengalaman, pergaulan, atau hal lainnya juga mempengaruhi pilihan kaum demokrat untuk berada di tengah.

Setelah berpikir beberapa jam, akhirnya topik ini berada di sebuah kesimpulan. Kaum demokrat pun juga punya peluang berada dalam titik yang ekstrim. Posisi tersebut mungkin bisa dikatakan sebagai keengganan untuk terlibat lebih jauh dengan dua kutub ekstrim lainnya. Nah, pertanyaannya apakah kondisi ini adalah sesuatu yang baik? Tentu tidak. Dunia tidak butuh sesuatu yang sekedar baik atau jahat. Dunia dan kehidupan membutuhkan keseimbangan. Bahkan, terlalu banyak hal baik adalah perihal yang buruk (Too much a good thing is a bad thing).

Just thinking of it!

Phosphone I mind I 2018

e8c4308d7cdc9196df0a6f740b7f17cf

Advertisements

Movie Review: BLACK PANTHER, Pemanjaan Mata, Cerita Bermakna, dan Emansipasi Wanita.

Kalo ada pertanyaan film apa yang paling gw tunggu di 2018 ini, jawabannya adalah Black Panther. Satu film superhero Marvel Universe yang baru saja dirilis di Indonesia bertepatan dengan Hari Valentine, 14 Februari yang lalu. Satu hal yang jadi alasan gw nunggu banget film ini adalah nuansa baru dari Superhero khas Marvel yang biasanya didominasi latar belakang Eropa atau Amerika. Black Panther mengangkat kisah yang terjadi di benua Afrika yang tentunya juga akan didominasi oleh karakter dengan budaya benua Afrika juga. Buat gw, hal ini jadi satu alasan kuat untuk nungguin film Black Panther rilis dan tentu alasan tersebut juga diikuti dengan harapan besar dari berbagai macam aspek.

bp1_post_master

Akhirnya, 2 hari setelah rilis di Indonesia gw langsung nonton film ini. Layaknya film-film Marvel lainnya, premiere film Black Panther penuh banget. Bahkan, setelah gagal dapat tiket jam 16.30, di show 19.30 gw dapetnya bangku deretan paling depan. Hehehe, nggak masalah karena gw dapet tiket gratisan untuk nonton di Premiere. (Kalo bukan hadiah kuis, mana mungkin bisa)

Lanjut ke Black Panther, gw nggak akan bahas detil film-nya. Untuk masalah ini sebaiknya kalian tonton sendiri aja, biar gw nggak dihujat spoiler. Kali ini gw cuma mau menceritakan sedikit tentang kesan yang gw dapet setelah nonton film Superhero keluaran Marvel Studios ini. Jujur, setelah gw renungkan lagi, lebih banyak kesan positif yang terlintas di pikiran gw ketimbang hal negatif dari film ini.

Pertama, secara audio visual gw merasa sangat dimanjakan dengan keseluruhan kemasan film Black Panther. Sejak awal film sampai akhir (termasuk klip tambahan di akhir) film Black Panther dihiasi oleh aura khas Afrika yang menurut gw eksotis banget. Mulai dari kostum-kostum berwarna cerah khas Afrika, detil latar yang menunjukkan belantara Afrika, sampai irama-irama khas Afrika yang mistis dan memancarkan semangat. Semua hal ini sangat menyatu dan menghasilkan kemasan cantik yang cukup memanjakan secara audio visual.

Black-Panther-Golden-City-790x327

Kesan cantik benua permata hitam ini benar-benar dirangkai jadi kemasan yang unik di film Black Panther. Tradisi perang antar suku dan kisah awal mula peradaban manusia pun disinggung dalam beberapa scene yang ditampilkan. Wakanda, tempat asal T’Challa sang Black Panther pun diceritakan berada terpencil dan sangat rahasia di tengah rimbunnya hutan belantara benua Afrika. Flora dan fauna khas Afrika pun digambarkan begitu apik di seluruh bagian film, tentunya beserta alam Afrika yang indah seperti lembah, hutan, pegunungan, air terjun, bahkan momen matahari terbenam. Menurut gw, Black Panther benar-benar mengangkat Afrika beserta segala hal yang terkait di dalamnya.

Kedua, menurut gw yang jauh lebih menarik lagi adalah isi cerita yang berbobot dan penuh makna. Jadi, Wakanda ini kan satu wilayah di benua Afrika yang dapat anugerah satu mineral hebat yang namanya Vibranium. Nah, mineral inilah yang pada akhirnya jadi bahan dasar untuk Wakanda mengembangkan peradabannya bahkan jauh di atas bangsa mana pun di dunia ini. Seiring perkembangan dunia yang semakin anarkis dan sikap saling menghancurkan satu bangsa dengan bangsa lainnya, Wakanda pun memutuskan untuk mengisolasi diri dari pengaruh luar dengan merahasiakan peradaban majunya dengan bahan dasar mineral Vibranium.

Black-Panther-cast

Wakanda selalu dipimpin oleh seorang raja yang juga merupakan perwujudan dewa Bast (Macan Kumbang/Black Panther) pelindung bangsa ini. Ternyata, kekayaan serta majunya peradaban Wakanda adalah sebuah dilema besar bagi setiap Black Panther yang berkuasa di negara tersebut. Pada satu sisi, kehebatan Wakanda adalah potensi besar bangsa ini menolong bangsa lain di dunia yang mengalami penindasan atau kesusahan. Atas nama kemanusiaan, kekuatan Wakanda dapat menjadi “surga” bagi seluruh kekacauan di dunia. Namun, di sisi lain tingginya teknologi dan pesatnya peradaban Wakanda akan sangat terancam bila terekspose ke dunia luar. Selain itu, Wakanda juga tetap harus berjuang untuk fokus pada hal-hal baik, padahal dengan kekuatan yang dimiliki Wakanda mampu menguasai seluruh dunia.

Inilah dilema yang juga jadi akar permasalahan Wakan dari masa ke masa. Menurut gw, kisah bermakna ini cukup berbobot untuk dijadikan analogi kondisi peta kemajuan peradaban dunia saat ini. Ada satu sisi baik dimana negara-negara maju saat ini perlu membantu negara-negara lain yang mungkin kesusahan. Namun, di sisi lain majunya sebuah negara juga merupakan satu ancaman besar bagi keberadaan negara-negara yang tidak terlalu maju. Film ini tidak menghakimi mana yang baik dan buruk, tapi memberikan sebuah solusi bahwa kemajuan yang dimiliki sebuah bangsa dapat menjadi dasar kuat membantu bangsa lain yang berkekurangan. Namun, bersamaan dengan itu negara dalam kondisi seperti Wakanda tetap harus mempertahankan diri dari nafsu untuk menguasai bangsa-bangsa lainnya.

Hal terakhir yang jadi kesan gw terhadap film ini adalah emansipasi wanita yang terlihat cukup ditampilkan dalam setiap sisi cerita. Seperti kita ketahui, hampir seluruh bangsa di benua Afrika punya tradisi patriarkis yang cukup kental. Segala hal dalam kehidupan dikendalikan atau diputuskan oleh kaum pria. Namun dalam film Black Panther agak berbeda. Tanpa mengurangi makna “pria sebagai pemimpin”, Wakanda menempatkan wanita dalam posisi yang sangat penting, terhormat dengan peran yang cukup krusial.

BlackPanther-Women

Ibu T’Challa sang Black Panther jelas berperan sebagai ratu Wakanda yang sangat disanjung dan punya hak suara dalam pemerintahan layaknya Ratu. Selain itu, adik dari Black Panther yang bernama Shuri memegang penuh kendali teknologi di seluruh Wakanda. Shuri adalah ujung tombak pesatnya kemajuan teknologi Wakanda dibandingkan bangsa mana pun di dunia. Nakia, yang merupakan kekasih T’Challa juga bukan karakter yang biasa. Ia adalah seorang aktivis kemanusiaan, mata-mata, sekaligus wanita perkasa yang sangat berperan untuk mengembalikan tahta T’Challa setelah kalah dari Killmonger. Akhirnya, yang paling penting adalah para pasukan elite Wakanda yang berfungsi sebagai pengawal raja. Pasukan ini bernama Dora Milaje dan seluruhnya merupakan wanita-wanita petarung yang sangat loyal pada pemerintahan Wakanda.

Berbagai karakter wanita di film Black Panther menurut gw merupakan hal baru dalam Marvel Cinematic Universe yang didominasi oleh kaum adam. Memang ada superhero wanita semacam Black Widow dari Avenger atau Gamorra dalam Guardian of Galaxy, tapi sepengetahuan gw belum ada Superhero Marvel yang dikelilingi oleh karakter wanita hebat seperti Black Panther.

Secara keseluruhan, gw merasa film Black Panther seolah ingin mengangkat berbagai pihak yang dianggap minoritas dalam kehidupan. Ras kulit hitam, bangsa-bangsa di benua Afrika, dan para wanita adalah beberapa contoh yang kuat menjadi karakter inti dalam Black Panther. Hal ini baik sekaligus menarik mengingat superhero Marvel banyak didominasi oleh pria. Dari segi teknis, penyampaian cerita, dan visual effect yang ditampilkan, bagi gw sudah mendekati kata sempurna. Jujur nih, agak sulit bagi gw untuk menemukan kekurangan di film ini. Satu-satunya yang menurut gw jadi kekurangan adalah Black Panther tergabung dalam The Avengers, hehehe.

Khusus untuk yang belum nonton, selamat menikmati filmnya ya. (Poin 4,5 dari skala 5)

black-panther-2017-101010-1

phosphone I Movie review I Black Panther I 2018

FANATISME

fanatisme01221

Manusia adalah makhluk sosial dan salah satu bentuk sosialisasi yang terjadi adalah hidup berkelompok. Kalau diperhatikan, tidak hanya senang berkomunikasi dalam kelompok tertentu, tapi manusia biasanya sangat memperhatikan dan bangga dengan label yang menempel pada kelompok-kelompok tersebut. Hal ini berlaku bagi kelompok yang memang jadi pilihan pribadi, sedangkan label kelompok yang diberikan pihak lain umumnya justru lebih sering berkonotasi negatif.

Secara umum, saya beranggapan bahwa manusia sangat suka mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok di luar status ilmiahnya sebagai spesies Homo sapiens. Suku, agama, dan ras adalah beberapa contoh kelompok dalam lingkup yang luas. Selain itum pada tataran sempit biasanya manusia suka membuat kelompok-kelompok berdasarkan hobi, profesi, atau pandangan politik. Rasa bangga adalah salah satu yang menonjol dari kesukaan manusia pada gaya hidup berkelompok ini. Lalu, pertanyaan yang muncul dalam benak saya kemudian adalah “Apa dampak dari kesukaan dan rasa bangga akan kelompok-kelompok ini?.”

Saya memikirkan pertanyaan ini cukup lama. Sambil membaca beberapa artikel terkait hal ini, kemudian muncul pemikiran dalam kepala saya bahwa nilai positif atas kesukaan manusia hidup berkelompok ada pada tataran kepuasan batin semata. Bila ingin ditelaah lagi, mungkin beberapa manfaat lain seperti dukungan moril ketika kita ada dalam kondisi terpuruk yang sangat mungkin juga didapat sebagai manusia. Tapi, pemikiran yang lebih banyak menerpa adalah sebuah sikap cinta berlebihan atas kelompok yang diyakini dan seringkali justru menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai Fanatisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Fanatisme adalah sebuah keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Keyakinan ini dapat berupa rasa bangga maupun cinta seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Frasa terlalu kuat dapat diartikan sebagai berlebihan atau tidak wajar. Sedangkan ajaran, politik, agama, atau bahkan hobi, profesi, maupun latar belakang sosial ekonomi lainnya dapat saya asumsikan sebagai kelompok-kelompok yang seringkali dianggap sebagai identitas manusia.

f2b_01

Saya memiliki sebuah anggapan bahwa segala sesuatu yang berlebihan, sekalipun itu adalah hal baik, tidak akan memberikan kebaikan. Begitu juga dengan sikap bangga yang berlebihan atas suatu kelompok sangat rentan justru menghasilkan hal-hal buruk. Kecenderungan yang saya perhatikan ketika kita suka, bangga, atau bahkan cinta secara berlebihan kepada satu kelompok adalah munculnya sikap merendahkan kelompok lain yang tidak sejalan atau berbeda dengan kita. Hal inilah yang menjadi dampak buruk karena dapat “berlipat ganda” menjadi sesuatu yang berbahaya, tidak hanya pada individu namun juga kehidupan.

Ada banyak contoh dampak buruk dari rasa bangga yang berlebihan dari sebuah kelompok. Sejarah kehidupan manusia mencatat, suku-suku primitif di seluruh belahan dunia sudah melakukan itu dari masa-masa awal peradaban manusia. Peperangan antar suku tidak hanya didasari nafsu berkuasa, namun lebih jauh terjadi karena rasa benci yang dipupuk dalam bentuk kebanggaan atas suku dimana seseorang berasal. Belum lagi ketika kita melihat perang yang dilakukan oleh Nazi Jerman. Sikap Fasis yang begitu kental sangat terlihat, bahkan Hitler pun secara terang-terangan mengungkapkan kebenciannya terhadap etnis Yahudi sekaligus kebanggaannya atas ras Arya. Ia menganggap ras Arya sebagai ras paling sempurna di muka bumi dan berhak untuk menguasai kehidupan ini. Banyak peperangan antar negara pun terjadi karena rasa bangga yang berlebihan terhadap kelompok atau negara tertentu. Mereka rela saling membunuh hanya dengan dalih membela kepentingan tanah airnya dan demi kejayaan negaranya.

Kembali berpikir tentang Fanatisme, menurut saya yang membuatnya jadi buruk adalah sikap membenci yang terjadi. Layaknya 2 kutub yang salaing bertolak belakang, rasa cinta berlebihan pada sesuatu ternyata juga menghadirkan kebencian mendalam pada pihak sebaliknya. Mungkin rasa benci juga dapat terjadi pada sikap-sikap selain rasa bangga berlebihan dalam kelompok, tetapi sepengetahuan saya pengelompokan inilah yang cukup berbahaya. Bayangkan, sejak kecil kita sudah sering disusupi oleh pemahaman salah yang menjurus pada sikap rasa bangga berlebih sebagai kelompok tertentu. Misalnya, rasa bahwa agama yang kita anut adalah agama yang paling benar, sikap toleransi atau maklum pada pihak tertentu hanya karena berasal dari suku yang sama, atau bahkan keinginan kuat mencari pasangan dari kelompok sama (suku, agama, maupun ras) yang ditanamkan sejak usia sekolah.

Fanatics

Mungkin kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa kita terlahir dengan status yang sudah terbagi-bagi dalam kelompok. Namun, bagi saya pendidikan bahwa rasa bangga berlebihan itu buruk seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini. Manusia sebaiknya tidak mempertajam perbedaan yang sudah ada dalam kelompok-kelompok ini, justru sebaliknya berusaha memahami bahwa dengan perbedaan yang ada segala sesuatunya dapat mendatangkan kebaikan tanpa harus merasa kelompoknya lebih baik atau benar dari yang lain. Toh, pada akhirnya manusia dengan agama, suku, hobi, pekerjaan, atau tingkat ekonomi yang berbeda berasal dari satu spesies Homo sapiens. Bila ditarik lebih jauh lagi, Homo sapiens, hewan, maupun tumbuhan adalah makhluk hidup yang sama-sama tinggal di planet bumi. Ditarik lebih jauh lagi, maka semuanya adalah penghuni alam semesta tak terbatas. Pada akhirnya, semua memiliki kesamaan kelompok, lalu apa gunanya membeda-bedakan dengan dalih kebanggaan?

Semoga semua berbahagia,

phosphone I 2018

Movie Review: Justice League (2017)

Hai guys,

Film Justice League yang ditunggu banyak moviegoers baru aja rilis beberapa hari kemarin. Gimana, udah pada nonton belum? Gw udah, dan sebelum nonton film ini, gw banyak baca review yang isinya lebih banyak kritik ketimbang pujian. Ya, walaupun semua tergantung selera tapi kan semua review itu cukup mewakili suara beberapa konsumen yang udah pada nonton. Nah, review-review yang sebagian besar agak miring ini justru bikin gw makin penasaran untuk nonton film superhero produk DC Comic ini. Ini dia!!!

justice-league-poster

Guys, sebagai pecinta superhero Marvel yang bakal mati-matian belain kualitas film-film kayak Spiderman atau Avenger sekalipun sebenarnya jelek, sepertinya agak berat untuk gw memposisikan diri netral saat nonton film tentang superhero keluaran DC Comic (ya wajar lah, ala2 fanboy). Apalagi, sebelum nonton gw udah terima masukan-masukan miring soal penilaian film Justice League ini. Tapi gw berusaha se-netral mungkin nih dan film kumpul-kumpul para jagoan DC Comic ini pun dimulai.

Dari awal film, gw sebenarnya udah agak kurang sreg dengan opening DC Comic yang menurut gw agak kurang menarik dibandingkan openingnya Marvel. Ekspektasi udah lumayan nambah drop nih, ditambah Sang Batman pun (Ben Affleck) muncul dengan badannya yang lumayan gemuk. Jujur, dari film Batman vs Superman gw agak kurang sreg lihat Batman diperankan sama si Ben Affleck.

t134wuojkpksj98dfdt6

Lanjut lagi, cerita dalam film pun mulai dibangun dan menurut beberapa review yang gw baca, tempo di awal cerita Justice League ini agak lambat dan cukup bertele-tele. Tapi jujur, buat gw fine … masih aman dan gw sama sekali nggak ngantuk nontonnya. Terkait soal review bertele-tele ini, menurut gw sih wajar aja, lha wong banyak tokoh yang baru muncul di layar lebar kayak The Flash, Aquaman, n Cyborg. Jadi, kayaknya wajar kalau si pembuat film berusaha banget ngerangkum latar belakang tiap karakter Justice League dalam balutan adegan ‘n dialognya. Kondisi ini agak beda dengan anggota Avenger yang umumnya lebih banyak yang udah dikenal publik secara parsial kayak Iron Man, Hulk, Thor, maupun Captain America. Guess what, gw masih menikmati film ini bahkan mulai berprasangka positif tentang film ini … hahaha.

Cerita mulai masuk ke konflik yang isinya tentang munculnya satu monster bernama Steppenwolf untuk gabungin 3 “kotak ibu” untuk merubah bumi jadi gersang sesuai planet asalnya doi. Menurut gw agak aneh sih soal kemunculan si monster ini, karena semua anggota Justice League macem Wonder Woman atau Aquaman yang sakti itu kewalahan ngadepinnya. Super power banget kan si Steppenwolf ini?. Nah yang bikin aneh itu, monster kuat parah yang mentalin Batman dengan 1 kali pukulan ini langsung bonyok cuma dengan 1 pukulan Superman yang menawan itu. Ini bagian film Justice League yang menurut gw agak parah. Kalau si Superman emang sekuat itu, ngapain ngumpulin jagoan se-alam semesta capek-capek ‘n ngebikin geng jagoan macem Justice League?

steppenwolf

Walaupun agak nyebelin di bagian jalan cerita, tapi gw apresiasi banget sama hal yang menurut gw jadi pesan utama dari film ini. Dari poster yang dipajang di bioskop-bioskop aja udah jelas kalo film ini ceritanya tentang kebersamaan dan kerjasama (You Can’t Save The World Alone). Kelihatan banget guys, dari awal si Bruce Wayne butuh banget bantuan Alfred, Wonder Woman nyamperin Batman, Flash bantuin Cyborg, ‘n kemunculan Aquaman yang nahan air dari bendungan Gotham. Bahkan, Wonder Woman pun berani mastiin ke Cyborg kalo tim Justice League nggak akan ninggalin Cyborg yang bertugas misahin 3 kotak sakti itu. Oia, pas si Batman mau ngorbanin nyawa masuk ke alam buatannya Steppenwolf dan kewalahan ngadepin monster serangga ala-ala zombie juga akhirnya dibantu sama Aquaman. Satu frasa yang terlintas di kepala gw setelah nonton film ini adalah “No one left behind.” Sadeeeesss!!!

466483_m1500739984

Okay, sekarang beralih ke soal teknis. Tentang teknologi yang dipake sebenarnya gw agak keganggu dengan slow motion yang jadi penggambaran suasana The Flash pas lari kenceng. Sebenarnya sih fine, tapi kalo terus-terusan gitu menurut gw sih agak ganggu. Tapi Visual Effect yang lainnya sih lumayan lah, cuma belum bisa nandingin Avengernya Marvel sih. Nah, ada satu hal yang gw apresiasi lagi nih soal upaya scriptwriter nyelipin joke-joke ala Marvel di tiap dialognya. Apalagi si The Flash emang dimunculkan dengan karakter konyol tengil ala Spiderman. Ini upaya yang cukup menarik, soalnya film-film Superhero DC Comic emang terkenal serius banget dan jarang munculin joke-joke receh di dialognya. Buat gw, kelihatan banget tim produksi Justice League pengen munculin kesan nyantai di karakter superheronya yang kebanyakan emang nggak nyantai. Ini patut diberi acungan jempol sih, soalnya jadi lebih ngehibur.

Wokay, akhirnya secara keseluruhan GW MENIKMATI FILM JUSTICE LEAGUE. Nggak seperti beberapa review yang gw baca sebelum nonton, gw justru menemukan sisi lain Superhero DC COMIC di film ini. Unsur manusiawi kayaknya lebih ditonjolkan untuk membalut pesan kebersamaan antar anggota Justice League. Bahkan, Superman yang selama ini tampil sempurna aja bisa jadi kasar ‘n ngambekan (walaupun nggak lama dan akhirnya baikan lagi). Film ini buat gw cukup menghibur dan banyak hal yang bisa gw apresiasikan, terutama pesan “No one left behind”-nya. Terakhir, dari skala 10, buat gw fil ini layak untuk dapet nilai 8, guys. Gimana, buat yang udah nonton setuju nggak? Kalo yang belum nonton, monggo lho segera nonton! Jujur sebagai Marvel Fanboy, gw sih nunggu episode Justice League selanjutnya.

Justice-League-Success-Future-Dc-Movie-Release-Slate

LEBIH KURANG … CINTA

Heartruct

Bicara cinta, ternyata punya banyak sudut pandang untuk jadi titik mulanya. Cinta emang udah jadi bahasan ciamik sejak kehidupan di alam semesta ini dimulai. Dalam keseharian pun cinta bisa jadi materi sekaligus unsur metafisika mulai manusia bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi. Inilah sebabnya, nggak heran kalau cinta jadi topik yang super multi-dimensi dengan luas luar biasa.

Tapi, kali ini gw tertarik untuk cerita satu sudut pandang cinta yang terlintas begitu aja karena terinspirasi bumbu makanan. Gw kepikiran soal bumbu makanan semacam garam, lada, pala, cengkeh, dan lain sebagainya. Bumbu adalah komponen penting saat kita memasak makanan. Memang sangat penting, tapi ada hal yang lebih penting yaitu takaran. Senikmat apapun bumbu ini, nggak akan jadi sesuatu yang enak kalau diterapkan tidak sesuai takaran yang seharusnya. Makanan bisa aja jadi kurang asin, hambar, atau justru lebih pahit, lebih asam, bahkan terasa sangat pedas jika bumbu pendukungnya nggak sesuai dengan ukuran yang disarankan dalam resepnya.

Nah, begitu juga cinta yang gw analogikan kayak semacam makanan lengkap dengan penyajian dan manfaatnya yang mengenyangkan. Bedanya, kalau makanan jadi manfaat untuk fisik tapi cinta lebih berguna untuk jiwa. Balik ke topik tentang ketidaksesuaian takaran, layaknya bumbu makanan, cinta pun berdampak langsung ke masalah “rasa” di jiwa kalau kita terapkan tidak berdasarkan takaran yang seharusnya. Kekurangan cinta itu jelas punya dampak buruk untuk kehidupan, tapi kita juga nggak bisa ngelak kalo fakta kebanyakan cinta juga berdampak negatif untuk hidup kita.

Gw udah ngalamin kedua keadaan, baik itu kekurangan maupun kelebihan cinta, makanya gw berani untuk nulis tentang ini. Sekarang gw coba untuk cerita satu-satu. Pertama soal kekurangan cinta, sebagai manusia normal yang punya kehidupan normal seharusnya kita semua sepakat soal kekurangan cinta bisa berdampak buruk untuk kehidupan. Gw pernah mengalami perasaan hambar karena trauma sama yang namanya cinta, apalagi ditambah depresi soal keuangan dan pekerjaan. Kondisi ini sebenarnya lumrah dialami oleh manusia mana pun, tapi yang mau gw sorotin di sini adalah dampaknya. Jangankan kehilangan selera makan, lebih buruk lagi kondisi ini bisa bikin kita nggak peka sama hidup kita sebagai manusia. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dan terlintas di benak gw saat ini adalah resiko bunuh diri. Bukan sekedar khayalan, tapi situasi buruk ini udah banyak terjadi dalam kehidupan manusia seperti para eksekutif muda yang memutuskan bunuh diri di Jepang atau para pengikut aliran kebatinan tertentu di Amerika Serikat yang akhirnya sepakat untuk mati bersama demi “penebusan”. Miris. Jelas para korban ini sudah sangat kekurangan rasa cinta, terutama pada diri mereka sendiri. Untunglah yang pernah gw alami belum dan masih sangat jauh dari tahap mengenaskan ini. Jadi, kita sepakat kan kalau kekurangan cinta berakibat buruk untuk kehidupan manusia?

Sebaliknya, soal kelebihan cinta pun udah pernah gw alamin. Kalian pernah dengar istilah cinta buta kan? Ya, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mencintai sesuatu bahkan tanpa menggunakan sedikit pun logika. Sebagai manusia yang lebih sering didominasi perasaan ketimbang logika, gw juga sering “terjebak” dalam situasi ini. Hal sederhana yang sering gw alamin adalah ketika ada temen gw yang utang duit ke gw. Namanya juga utang, uang itu jelas milik gw dan gw berhak untuk nagih utang itu sesuai waktu utang yang disepakati di awal. Tapi, karena rasa “cinta” berlebihan yang gw punya, ketika teman gw nggak nepatin janjinya untuk bayar utang itu, gw cuma bisa bilang oke sambil diikutin kata “ya udah entar aja”. Lebih parah lagi, kalau udah berbulan-bulan bahkan tahunan nggak ada itikad baik untuk bayar dari teman gw, utang ini pun punya kemungkinan untuk gw lupakan. Baik? Nggak, negatifnya beberapa waktu kemudian gw inget soal utang yang menahun ini dan penyesalan pun terjadi, bahkan berakhir dengan gw yang menyalahkan diri gw sendiri.

Mungkin contoh di paragraf atas masih kurang pas untuk menggambarkan soal cinta buta. Baiklah, kalo gitu pakai cerita gw yang berikut ini. Gw pernah suka sama cewek, bisa dikatakan dia ini idaman gw banget sampai bikin gw tergila-gila. Singkat cerita, gw berhasil “merebut” hatinya dan gw jadian sama cewek ini. Beberapa bulan berjalan, hati kecil gw mulai berbisik kalau ada beberapa karakter cewek ini yang nggak sesuai dengan pribadi gw. Jiwa gw dasarnya adalah kebebasan, tapi cewek ini mulai nunjukkin gejala-gejala maksa gw untuk nggak jadi diri gw sendiri. Dia mulai atur kehidupan gw dengan berbagai larangan dan kalao gw melanggar sikap “ngambek” ala cewek-cewek jaman sekarang pun harus siap gw hadapi. Jelas sebenarnya gw sangat nggak nyaman dengan kondisi ini. Tapi, apa boleh buat, karena rasa cinta yang begitu mendalam, gw pun meng-eliminir ketidaknyamanan ini dan mulai berkompromi dengan segala tuntutan sang cewek. Bahkan, gw rela untuk menjadi sosok lain yang sangat bertolak belakang dengan diri gw sebenarnya. Nah, hal yang membuat situasi ini terjadi adalah rasa kelebihan cinta di hati gw. Gw merasa dia harus dapat lebih dari gw tanpa berpikir tentang apa kebutuhan diri gw sendiri. Apa ini baik? Dulu gw jawab iya, tapi sekarang dengan tegas gw katakan NGGAK!. Suatu saat, andai kondisi tadi terus bertahan, apalagi terbawa dalam pernikahan, jiwa gw lambat laun akan berontak. Secara psikis ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti botol soda yang dikocok-kocok dan akhirnya nggak mampu menahan luapan gas di dalam botolnya. Hal ini cukup membahayakan, apalagi kalau sudah ada anak-anak dalam pernikahan itu.

Ya mudah-mudahan kalian yang baca tulisan gw ini bisa mengerti maksud gw tentang kekurangan dan kelebihan cinta dari pengalaman yang pernah gw alamin ini. Memang kelebihan dan kekurangan cinta adalah hal yang sangat bertolak belakang, tapi dalam jumlah yang berlebihan keduanya bisa berdampak negatif untuk kehidupan kita. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan kelebihan dan kekurangan ini yang juga bisa terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang.

Heart

Sekarang contoh yang mau gw ambil soal kurangnya rasa cinta sekaligus kelebihan cinta yang terjadi bersamaan agak sensitif nih. Gw ambil contoh teroris yang melancarkan aksi terornya karena rasa cintanya yang berlebihan pada keyakinannya. Kondisi ini udah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Tanpa merujuk pada keyakinan tertentu, sang teroris ini udah jelas menyakiti manusia lainnya dan ini bisa diartikan dirinya kekurangan rasa cinta. Pada sisi lain, teroris ini menjalankan aksi terornya karena rasa cinta berlebihan ke keyakinan yang dianutnya. Biasanya situasi ini terjadi karena kesalahan pemahaman sang teroris terhadap ajaran keyakinan yang dianutnya. Jelas, akibatnya udah bisa kita lihat dari banyaknya korban manusia yang sama sekali nggak tahu menahu soal masalah yang dihadapi si teroris. Sangat Buruk!.

Akhirnya, gw berkesimpulan bahwa cinta yang terjadi dalam kondisi extreme (entah itu berkekurangan atau berlebihan) sama-sama menghasilkan dampak yang buruk untuk kehidupan. Nah, supaya ini nggak terjadi, sama seperti analogi masakan gw di awal tulisan, kita perlu paham dan menuruti takaran yang sudah ada resepnya. Dalam hal cinta di kehidupan, resep atau takaran itu bisa kita pelajari dalam keseharian, hukum dan norma-norma umum yang berlaku. Intinya, kalau sampai muncul pihak yang dirugikan karena cinta yang kita miliki, berarti ada yang salah dengan perasaan cinta kita tersebut. Entah kelebihan atau kekurangan cinta, yang jelas harus segera kita sadari dan perbaiki supaya tidak semakin parah dan memunculkan korban lainnya. Cinta itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi, yaitu takaran.

 

So, mulai saat ini, BERCINTALAH DENGAN LEBIH BIJAK DAN CERDAS!

s337279986784189516_p130_i1_w1618

PEMUJA SEKALIGUS PEMBELAJAR

1

Berawal dari mengidolakan seseorang, entah karena karyanya, sikapnya, pemikiran, atau sekedar gayanya, manusia bisa saling terikat dan saling memuja satu dengan lainnya. Fenomena wajar yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia ini dapat menjadi titik awal untuk pilihan sikap selanjutnya. Menjadi sekedar pemuja, pengikut atau bahkan peniru menjadi sebuah preferensi sikap bagi kita terhadap siapapun yang menjadi idola.

Masalahnya dalam prinsip hidup yang saya yakini, sesuatu yang berlebihan tidak akan menghasilkan hal yang proporsional dalam kebaikan. Begitu juga sikap pemujaan terhadap sesuatu secara berlebihan pun tidak menjamin mendatangkan hal positif, sekalipun sesuatu tersebut adalah keyakinan spiritual atau konsep ketuhanan. Dalam hal pemujaan terhadap manusia yang dianggap idola oleh manusia lain, kerentanan akan hal-hal negatif pun tidak dapat dihindari.

Mungkin manusia memang mempunyai “desain” psikologis untuk menyukai apapun yang ada dalam kehidupannya, namun bila dilakukan secara berlebihan tentu justru akan mendatangkan hal buruk layaknya makan dalam jumlah berlebihan dan akhirnya muntah karena terlalu kenyang. Hal ini belum termasuk dampak bila pribadi yang diidolakan ternyata tidak se-sempurna harapan mereka yang mengidolakan.

Sebenarnya sudah banyak hal sederhana untuk mencontohkan sikap memuja berlebihan ini. Banyak sekali kasus yang terjadi pada pribadi yang diidolakan secara berlebihan seperti Michael Jackson, Britney Spears, atau Taylor Swift yang harus merasakan ancaman dari para fans setia mereka di atas panggung. Bahkan tidak sedikit yang harus berakhir kematian di tangan pemuja mereka seperti John Lennon atau Mahatma Ghandi. Bila kita ingat, kasus video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya di Indonesia beberapa waktu lampau pun memunculkan para fans “sakit hati” yang tidak sedikit dan berakhir dengan caci maki mereka terhadap sang idola. Semua kebencian bahkan pembunuhan yang lahir dari perasaan sakit hati akibat “terlalu” memuja ini tampaknya lebih parah daripada sekedar kebencian biasa.

Hal ini menjadi semakin buruk bila tingkat pemujaan sudah menjadi hasrat untuk mengikuti bahkan meniru sang idola. Bayangkan apa yang terjadi bila idola mereka menyakiti harapan yang telah mereka bentuk sejak awal. Saya pikir dampaknya akan lebih mengerikan daripada ketika seseorang kehilangan barang karena dirampok di jalan.

29378829d91b8d04d92faf78c58f3a95

Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Lalu, bagaimana mengatasi perasaan suka atau cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang begitu berlebih?”. Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi saya karena perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan atau diabaikan. Manusia memang memiliki kecenderungan ini dalam psikologis yang tertanam dalam setiap sel tubuh serta jiwa kita.

Mungkin saya belum dapat jawaban yang tepat atas pertanyaan di benak saya tersebut, namun muncul beberapa ide dalam pikiran saya. Salah satu yang muncul dan berulang-ulang hadir dalam alam pemikiran saya adalah mengubah energi suka tersebut menjadi sikap untuk belajar dan menghasilkan hal positif dari apa yang kita pelajari dari obyek pemujaan kita tersebut. Memang hal ini rasanya masih terlalu abstrak dan terkesan sangat idealis, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bukan?

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hal apapun yang ada di sekitarnya, termasuk dengan perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini. Bila pemujaan berlebihan rentan memunculkan perilaku yang destruktif, maka sangat mungkin juga menghadirkan sisi yang konstruktif. Perasaan yang berlebihan ini memang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat diakali. Pada akhirnya menjadi seorang pemuja, pengikut, atau peniru sekalipun dapat dialihkan untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

_worship-as-a-lifestyle

MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….