LEBIH KURANG … CINTA

Heartruct

Bicara cinta, ternyata punya banyak sudut pandang untuk jadi titik mulanya. Cinta emang udah jadi bahasan ciamik sejak kehidupan di alam semesta ini dimulai. Dalam keseharian pun cinta bisa jadi materi sekaligus unsur metafisika mulai manusia bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi. Inilah sebabnya, nggak heran kalau cinta jadi topik yang super multi-dimensi dengan luas luar biasa.

Tapi, kali ini gw tertarik untuk cerita satu sudut pandang cinta yang terlintas begitu aja karena terinspirasi bumbu makanan. Gw kepikiran soal bumbu makanan semacam garam, lada, pala, cengkeh, dan lain sebagainya. Bumbu adalah komponen penting saat kita memasak makanan. Memang sangat penting, tapi ada hal yang lebih penting yaitu takaran. Senikmat apapun bumbu ini, nggak akan jadi sesuatu yang enak kalau diterapkan tidak sesuai takaran yang seharusnya. Makanan bisa aja jadi kurang asin, hambar, atau justru lebih pahit, lebih asam, bahkan terasa sangat pedas jika bumbu pendukungnya nggak sesuai dengan ukuran yang disarankan dalam resepnya.

Nah, begitu juga cinta yang gw analogikan kayak semacam makanan lengkap dengan penyajian dan manfaatnya yang mengenyangkan. Bedanya, kalau makanan jadi manfaat untuk fisik tapi cinta lebih berguna untuk jiwa. Balik ke topik tentang ketidaksesuaian takaran, layaknya bumbu makanan, cinta pun berdampak langsung ke masalah “rasa” di jiwa kalau kita terapkan tidak berdasarkan takaran yang seharusnya. Kekurangan cinta itu jelas punya dampak buruk untuk kehidupan, tapi kita juga nggak bisa ngelak kalo fakta kebanyakan cinta juga berdampak negatif untuk hidup kita.

Gw udah ngalamin kedua keadaan, baik itu kekurangan maupun kelebihan cinta, makanya gw berani untuk nulis tentang ini. Sekarang gw coba untuk cerita satu-satu. Pertama soal kekurangan cinta, sebagai manusia normal yang punya kehidupan normal seharusnya kita semua sepakat soal kekurangan cinta bisa berdampak buruk untuk kehidupan. Gw pernah mengalami perasaan hambar karena trauma sama yang namanya cinta, apalagi ditambah depresi soal keuangan dan pekerjaan. Kondisi ini sebenarnya lumrah dialami oleh manusia mana pun, tapi yang mau gw sorotin di sini adalah dampaknya. Jangankan kehilangan selera makan, lebih buruk lagi kondisi ini bisa bikin kita nggak peka sama hidup kita sebagai manusia. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dan terlintas di benak gw saat ini adalah resiko bunuh diri. Bukan sekedar khayalan, tapi situasi buruk ini udah banyak terjadi dalam kehidupan manusia seperti para eksekutif muda yang memutuskan bunuh diri di Jepang atau para pengikut aliran kebatinan tertentu di Amerika Serikat yang akhirnya sepakat untuk mati bersama demi “penebusan”. Miris. Jelas para korban ini sudah sangat kekurangan rasa cinta, terutama pada diri mereka sendiri. Untunglah yang pernah gw alami belum dan masih sangat jauh dari tahap mengenaskan ini. Jadi, kita sepakat kan kalau kekurangan cinta berakibat buruk untuk kehidupan manusia?

Sebaliknya, soal kelebihan cinta pun udah pernah gw alamin. Kalian pernah dengar istilah cinta buta kan? Ya, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mencintai sesuatu bahkan tanpa menggunakan sedikit pun logika. Sebagai manusia yang lebih sering didominasi perasaan ketimbang logika, gw juga sering “terjebak” dalam situasi ini. Hal sederhana yang sering gw alamin adalah ketika ada temen gw yang utang duit ke gw. Namanya juga utang, uang itu jelas milik gw dan gw berhak untuk nagih utang itu sesuai waktu utang yang disepakati di awal. Tapi, karena rasa “cinta” berlebihan yang gw punya, ketika teman gw nggak nepatin janjinya untuk bayar utang itu, gw cuma bisa bilang oke sambil diikutin kata “ya udah entar aja”. Lebih parah lagi, kalau udah berbulan-bulan bahkan tahunan nggak ada itikad baik untuk bayar dari teman gw, utang ini pun punya kemungkinan untuk gw lupakan. Baik? Nggak, negatifnya beberapa waktu kemudian gw inget soal utang yang menahun ini dan penyesalan pun terjadi, bahkan berakhir dengan gw yang menyalahkan diri gw sendiri.

Mungkin contoh di paragraf atas masih kurang pas untuk menggambarkan soal cinta buta. Baiklah, kalo gitu pakai cerita gw yang berikut ini. Gw pernah suka sama cewek, bisa dikatakan dia ini idaman gw banget sampai bikin gw tergila-gila. Singkat cerita, gw berhasil “merebut” hatinya dan gw jadian sama cewek ini. Beberapa bulan berjalan, hati kecil gw mulai berbisik kalau ada beberapa karakter cewek ini yang nggak sesuai dengan pribadi gw. Jiwa gw dasarnya adalah kebebasan, tapi cewek ini mulai nunjukkin gejala-gejala maksa gw untuk nggak jadi diri gw sendiri. Dia mulai atur kehidupan gw dengan berbagai larangan dan kalao gw melanggar sikap “ngambek” ala cewek-cewek jaman sekarang pun harus siap gw hadapi. Jelas sebenarnya gw sangat nggak nyaman dengan kondisi ini. Tapi, apa boleh buat, karena rasa cinta yang begitu mendalam, gw pun meng-eliminir ketidaknyamanan ini dan mulai berkompromi dengan segala tuntutan sang cewek. Bahkan, gw rela untuk menjadi sosok lain yang sangat bertolak belakang dengan diri gw sebenarnya. Nah, hal yang membuat situasi ini terjadi adalah rasa kelebihan cinta di hati gw. Gw merasa dia harus dapat lebih dari gw tanpa berpikir tentang apa kebutuhan diri gw sendiri. Apa ini baik? Dulu gw jawab iya, tapi sekarang dengan tegas gw katakan NGGAK!. Suatu saat, andai kondisi tadi terus bertahan, apalagi terbawa dalam pernikahan, jiwa gw lambat laun akan berontak. Secara psikis ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti botol soda yang dikocok-kocok dan akhirnya nggak mampu menahan luapan gas di dalam botolnya. Hal ini cukup membahayakan, apalagi kalau sudah ada anak-anak dalam pernikahan itu.

Ya mudah-mudahan kalian yang baca tulisan gw ini bisa mengerti maksud gw tentang kekurangan dan kelebihan cinta dari pengalaman yang pernah gw alamin ini. Memang kelebihan dan kekurangan cinta adalah hal yang sangat bertolak belakang, tapi dalam jumlah yang berlebihan keduanya bisa berdampak negatif untuk kehidupan kita. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan kelebihan dan kekurangan ini yang juga bisa terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang.

Heart

Sekarang contoh yang mau gw ambil soal kurangnya rasa cinta sekaligus kelebihan cinta yang terjadi bersamaan agak sensitif nih. Gw ambil contoh teroris yang melancarkan aksi terornya karena rasa cintanya yang berlebihan pada keyakinannya. Kondisi ini udah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Tanpa merujuk pada keyakinan tertentu, sang teroris ini udah jelas menyakiti manusia lainnya dan ini bisa diartikan dirinya kekurangan rasa cinta. Pada sisi lain, teroris ini menjalankan aksi terornya karena rasa cinta berlebihan ke keyakinan yang dianutnya. Biasanya situasi ini terjadi karena kesalahan pemahaman sang teroris terhadap ajaran keyakinan yang dianutnya. Jelas, akibatnya udah bisa kita lihat dari banyaknya korban manusia yang sama sekali nggak tahu menahu soal masalah yang dihadapi si teroris. Sangat Buruk!.

Akhirnya, gw berkesimpulan bahwa cinta yang terjadi dalam kondisi extreme (entah itu berkekurangan atau berlebihan) sama-sama menghasilkan dampak yang buruk untuk kehidupan. Nah, supaya ini nggak terjadi, sama seperti analogi masakan gw di awal tulisan, kita perlu paham dan menuruti takaran yang sudah ada resepnya. Dalam hal cinta di kehidupan, resep atau takaran itu bisa kita pelajari dalam keseharian, hukum dan norma-norma umum yang berlaku. Intinya, kalau sampai muncul pihak yang dirugikan karena cinta yang kita miliki, berarti ada yang salah dengan perasaan cinta kita tersebut. Entah kelebihan atau kekurangan cinta, yang jelas harus segera kita sadari dan perbaiki supaya tidak semakin parah dan memunculkan korban lainnya. Cinta itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi, yaitu takaran.

 

So, mulai saat ini, BERCINTALAH DENGAN LEBIH BIJAK DAN CERDAS!

s337279986784189516_p130_i1_w1618

Advertisements

PEMUJA SEKALIGUS PEMBELAJAR

1

Berawal dari mengidolakan seseorang, entah karena karyanya, sikapnya, pemikiran, atau sekedar gayanya, manusia bisa saling terikat dan saling memuja satu dengan lainnya. Fenomena wajar yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia ini dapat menjadi titik awal untuk pilihan sikap selanjutnya. Menjadi sekedar pemuja, pengikut atau bahkan peniru menjadi sebuah preferensi sikap bagi kita terhadap siapapun yang menjadi idola.

Masalahnya dalam prinsip hidup yang saya yakini, sesuatu yang berlebihan tidak akan menghasilkan hal yang proporsional dalam kebaikan. Begitu juga sikap pemujaan terhadap sesuatu secara berlebihan pun tidak menjamin mendatangkan hal positif, sekalipun sesuatu tersebut adalah keyakinan spiritual atau konsep ketuhanan. Dalam hal pemujaan terhadap manusia yang dianggap idola oleh manusia lain, kerentanan akan hal-hal negatif pun tidak dapat dihindari.

Mungkin manusia memang mempunyai “desain” psikologis untuk menyukai apapun yang ada dalam kehidupannya, namun bila dilakukan secara berlebihan tentu justru akan mendatangkan hal buruk layaknya makan dalam jumlah berlebihan dan akhirnya muntah karena terlalu kenyang. Hal ini belum termasuk dampak bila pribadi yang diidolakan ternyata tidak se-sempurna harapan mereka yang mengidolakan.

Sebenarnya sudah banyak hal sederhana untuk mencontohkan sikap memuja berlebihan ini. Banyak sekali kasus yang terjadi pada pribadi yang diidolakan secara berlebihan seperti Michael Jackson, Britney Spears, atau Taylor Swift yang harus merasakan ancaman dari para fans setia mereka di atas panggung. Bahkan tidak sedikit yang harus berakhir kematian di tangan pemuja mereka seperti John Lennon atau Mahatma Ghandi. Bila kita ingat, kasus video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya di Indonesia beberapa waktu lampau pun memunculkan para fans “sakit hati” yang tidak sedikit dan berakhir dengan caci maki mereka terhadap sang idola. Semua kebencian bahkan pembunuhan yang lahir dari perasaan sakit hati akibat “terlalu” memuja ini tampaknya lebih parah daripada sekedar kebencian biasa.

Hal ini menjadi semakin buruk bila tingkat pemujaan sudah menjadi hasrat untuk mengikuti bahkan meniru sang idola. Bayangkan apa yang terjadi bila idola mereka menyakiti harapan yang telah mereka bentuk sejak awal. Saya pikir dampaknya akan lebih mengerikan daripada ketika seseorang kehilangan barang karena dirampok di jalan.

29378829d91b8d04d92faf78c58f3a95

Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Lalu, bagaimana mengatasi perasaan suka atau cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang begitu berlebih?”. Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi saya karena perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan atau diabaikan. Manusia memang memiliki kecenderungan ini dalam psikologis yang tertanam dalam setiap sel tubuh serta jiwa kita.

Mungkin saya belum dapat jawaban yang tepat atas pertanyaan di benak saya tersebut, namun muncul beberapa ide dalam pikiran saya. Salah satu yang muncul dan berulang-ulang hadir dalam alam pemikiran saya adalah mengubah energi suka tersebut menjadi sikap untuk belajar dan menghasilkan hal positif dari apa yang kita pelajari dari obyek pemujaan kita tersebut. Memang hal ini rasanya masih terlalu abstrak dan terkesan sangat idealis, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bukan?

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hal apapun yang ada di sekitarnya, termasuk dengan perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini. Bila pemujaan berlebihan rentan memunculkan perilaku yang destruktif, maka sangat mungkin juga menghadirkan sisi yang konstruktif. Perasaan yang berlebihan ini memang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat diakali. Pada akhirnya menjadi seorang pemuja, pengikut, atau peniru sekalipun dapat dialihkan untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

_worship-as-a-lifestyle

Ketika Agama “Mengganggu” Pikiran Saya

religion

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali hal yang terjadi di Indonesia dan cukup menjadi “pengganggu” pikiran saya. Isu yang sering dibicarakan dan menjadi topik permasalahan di banyak level masyarakat adalah agama. Entah kenapa, saya merasa Indonesia begitu lekat sekali dengan urusan religiusitas ini. Banyak pihak yang menganggap agama merupakan dasar penting dari setiap perilaku dan sikap manusia dalam kehidupan sehingga layak untuk dibela dengan segenap jiwa dan raga, sebagian lagi menganggap bahwa agama merupakan KEBENARAN hakiki yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kata lain agama tidak bisa salah. Selanjutnya, agama pun dapat “berkolaborasi” dengan banyak isu lain di masyarakat. Sebut saja Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan Keamanan dan Pertahanan. Luar biasa!

Agama seolah sudah menjadi “panglima”, tidak saja bagi pribadi namun juga kelompok, golongan, bahkan dalam bernegara. Saya akui, dalam Pancasila Ketuhanan menjadi sila atau prisip pertama yang disebutkan, tapi itu bukan agama. Sekali lagi, ITU BUKAN AGAMA! Bagi saya, agama akan lebih indah bila berdiri di lingkup Kemanusiaan dan bukan sekedar Doktrinasi. Jadi, tidak elok bila ada PEMAKSAAN (dalam bentuk apapun itu) terhadap individu lainnya untuk melakukan apa yang sudah menjadi doktrin agama. Terlebih, bila alasan yang digunakan adalah tidak ingin melihat manusia lainnya “tersesat” dalam dosa. Haloooooo, siapa kita hingga mampu menghakimi manusia lainnya?.

80359871_thumbnail

Untuk sebagian kelompok, agama mungkin menjadi pedoman atas kehidupan yang dijalani, bahkan mengatur seluruh unsur kehidupannya dari lahir hingga mati, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan dari urusan memilih jodoh hingga buang air. Saya paham fungsi agama sebagai aturan, namun saya juga memahami bahwa agama bersifat pribadi (ini mungkin pengetahuan saya yang masih sangat rendah) sehingga tidak dapat memberlakukan pemaksaan yang agama lakukan terhadap diri kepada individu di luar diri kita. Kalau bagi saya, secara pribadi melakukan ajaran agama saja sudah sangat sulit, apalagi ditambahkan pribadi lain untuk kita atur secara agamawi juga.

Ada hal yang lebih gila, ketika berbagai kepentingan lain sudah dibumbui oleh agama sehingga level kesucian dan keharusannya menjadi sama dengan agama (bagi kaum “Religion Fans Club”). Agak sulit bagi saya ketika harus menjalankan perintah agama dalam perihal Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, maupun Keamanan di tataran masyarakat yang heterogen dengan keragaman yang luar biasa. Sulit karena setiap orang tidak memiliki sistem nilai dan keyakinan yang sama, namun dalam hal agama semuanya harus seragam. Bagi saya, hal ini sangat membingungkan dan berindikasi menimbulkan “korsleting” dalam perasaan dan pikiran.

Sebagai contoh yang sering saya perhatikan di Indonesia, (mohon maaf kalau saya ambil contoh ini, karena menurut saya ini yang cukup sederhana untuk dijadikan contoh) saat Umat Muslim berpuasa ada sebagian kelompok (INGAT! ini sebagian kelompok, artinya bukan keseluruhan) yang menuntut seluruh restoran tidak boleh buka dengan dalih menghormati mereka yang puasa, padahal tidak semua orang berpuasa. Bagaimana bisa “memaksa” orang yang tidak berpuasa untuk tidak makan di restoran ketika bulan puasa?. Mungkin hal ini bisa diterapkan di negara yang memakai landasan agama seperti Arab saudi, tetapi INDONESIA bukanlah negara agama. Saya yakin, jika restoran pun buka pada saat puasa, umat non-Muslim juga tidak akan dengan sengaja makan di depan Umat Muslim yang sedang berpuasa apalagi sampai melecehkan keteguhan mereka yang berpuasa.

parliament-religion-cc-ryan-hyde

Bagi sebagian masyarakat, agama mungkin sudah benar-benar berada pada puncak rantai aturan dalam kehidupannya, melebihi hukum sipil yang berlaku seperti undang-undang atau bahkan Ideologi Bangsa seperti Pancasila. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat lain seperti halnya saya, agama sudah tidak menjadi hal yang “super” lagi. Keberadaan agama bagi saya sudah berhenti HANYA pada level CARA saja dan tidak lebih, sehingga tidak perlu dibela mati-matian. Bila agama yang saya anut saat ini diolok-olok sampai level terendahnya, saya tidak akan marah karena itu hanya cara saja. Hal ini seperti kita naik Bus menuju satu tempat dan di tengah jalan mendapat hinaan dari sebagian orang yang naik mobil mewah dengan tujuan yang sama.

Sebenarnya tidak ada masalah bila seseorang memperbincangkan atau bahkan berdebat mengenai perbedaan agama, ini sah-sah saja selama tidak bertujan untuk menghina dan merasa agamanya lebih baik daripada lawan bicaranya. Ingat, (bagi yang percaya keberadaan Surga-Neraka) bahwa yang berhak memutuskan siapa yang berdosa, masuk neraka, dan siapa yang masuk surga adalah Tuhan Penguasa Semesta itu sendiri, bukan kita!. Nah, yang menjadi masalah berbahaya adalah ketika kita merasa sudah paham benar mengenai agama yang kita anut dan merasa BERHAK untuk MENGHAKIMI manusia lainnya atas setiap kesalahan yang sudah dibuatnya. Lebih daripada itu, mungkin kita merasa bahwa kita LEBIH SUCI dari manusia lain. Saudaraku, siapakah kita sehingga kita berhak untuk MENGHAKIMI sesama kita manusia?

evolution-of-religion-1

Agama seharusnya menghantarkan orang menjadi lebih baik lagi dan bukan sebaliknya. Agama adalah CARA manusia untuk mempelajari, memahami, dan menjalani Kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta. Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita semua untuk menonton satu film layar lebar buatan India yang berjudul PK. Tidak perlu saya ceritakan resensinya, namun saya ingin memparafrasekan bagian dialog dalam salah satu adegan film tersebut…Dalam kehidupan di dunia, saya pikir Tuhan itu hanya satu. Ternyata ada 2 Tuhan, pertama Tuhan yang memang menciptakan manusia. Kedua, tuhan yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dari 2 sosok Tuhan ini, seharusnya manusia tahu mana Tuhan yang sejati.

Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dan bagian kegelisahan yang saya alami. Maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam damai, untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

phosphone I jakarta I 2017

religion

Movie review: Arrival

arrival_hk

“Bahasa adalah dasar dari sebuah peradaban…”.

Kalimat ini menjadi perhatian khusus bagi saya ketika pertama menyaksikan film Arrival. Kalimat tersebut diceritakan muncul dalam sebuah pembuka yang digunakan oleh Dr. Louise Banks (Amy Adams) pada pidatonya sebagai seorang ahli bahasa. Sekilas, kalimat ini seperti biasa saja muncul dalam dialog antara karakter Dr. Louise Banks dan Ian Donnely (Jeremy renner), padahal kalimat ini bagi saya merupakan satu clue penting untuk memahami makna yang terkandung dalam film ini.

Awalnya saya pikir film yang diangkat dari sebuah cerita pendek berjudul “Story of Your Life” karya Ted Chiang ini sebagai film sci-fi biasa yang mengikutsertakan alien dalam alur ceritanya. Namun, saya semakin tertarik untuk menyaksikan film ini ketika seorang teman merekomendasikan bahwa film ini sangat menarik dan mempunyai makna penting di balik ceritanya. Mengetahui hal ini, saya pun bergebas mencari waktu untuk menyaksikan Arrival. Saya tidak akan bercerita tentang sinopsis Arrival, tetapi saya akan lebih berbagi tentang kesan yang saya dapatkan setelah menyaksikannya dan merenungkan makna di film tersebut.

Bila kita melihat pada keberadaan bahasa dalam kehidupan, saya yakin banyak diantara kita yang setuju bila saya katakan bahasa memiliki peran yang sangat penting di dalam evolusi kehidupan manusia. Bahasa manusia begitu berkembang dari masa ke masa seturut perkembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Bahasa menjadi unsur penting dalam komunikasi yang mampu menyampaikan makna maupun menjadi makna itu sendiri. Bahkan setelah menyaksikan Arrival, saya menyadari bahwa bahasa lahir dari pola pikir manusia dan sanggup mempengaruhi pola pikir manusia yang mungkin baru mempelajari satu bahasa tertentu.

arrival-language-2jpeg

Film Arrival menceritakan tentang sistem pola bahasa Alien yang tidak terpengaruh unsur waktu (non-linear) seperti layaknya bahasa manusia yang linear. Bahasa yang tampak seperti lingkaran dengan pola acak ternyata memiliki makna yang pada akhirnya dapat dimengerti oleh Dr. Louise dan Ian. Mereka (Louise dan Ian) terus mempelajari pola ini hingga akhirnya dapat berkomunikasi dengan sang Alien tersebut. Hebatnya, lebih dari sekedar belajar, Dr. Louise bahkan mampu mengetahui pola pikir Alien dan maksud kedatangan mereka di beberapa titik dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari “kerendahan’ hati Dr. Louise untuk berusaha memahami tanpa mengambil kesimpulan lebih jauh tentang maksud kedatangan para Alien tersebut.

Sikap “ke-rendah hati-an” Dr. Louise untuk tidak cepat mengambil kesimpulan ini seharusnya dimiliki oleh kita (manusia dalam kehidupan nyata) saat berusaha menafsirkan tentang suatu hal atau berkomunikasi dengan sesama manusia. Sebaliknya, film Arrival justru menampilkan sebuah realita dimana manusia secara umum digambarkan sebagai makhluk hidup yang paranoid, penuh kecurigaan, dan cenderung bersikap agresif terhadap sesuatu yang baru dan asing seperti para Alien tersebut. Akhirnya saya pun berpikir, bukankah memang itu penggambaran yang benar atas sikap umat manusia di seluruh dunia belakangan ini?.

Seluruh penjuru dunia tampak digambarkan begitu ketakutan terhadap kedatangan para Alien dan berencana segera menyerang lebih dulu sebelum para Alien menyerang, begitulah prediksi strategi yang diceritakan dalam film. Pesan yang disampaikan oleh Alien ditafsirkan secara negatif oleh manusia, tanpa adanya konfirmasi atas pemahaman yang sebenarnya. Padahal, manusia juga baru saja belajar mengenai bahasa yang digunakan oleh para Alien. Satu kata weapon (senjata) dari Alien langsung diartikan oleh manusia sebagai tujuan menginvasi bumi dan segala isinya. Miskomunikasi terjadi!. Padahal, senjata yang dimaksud adalah bahasa dan makna dalam kata-kata itu sendiri. Para Alien ingin membantu manusia untuk bersatu dan suatu saat pada masanya (menurut film sekitar 3000 tahun mendatang) nanti para Alien pun membutuhkan bantuan manusia.

11arrivaljp1-master675

Miskomunikasi ini menjadi satu perenungan lain ketika saya menyaksikan film ini. Proses komunikasi tidak berjalan baik antara manusia dan para Alien. Sikap paranoid dan agresif sudah membutakan manusia sehingga berburuk sangka terhadap sesuatu yang asing dan baru. Hal ini seringkali terjadi dalam level tradisi dan budaya, ketika tidak sesuai dengan budaya yang sudah mengakar lama dalam sebuah komunitas, kita bisa saja ditolak dan mengalami gagal komunikasi dalam komunitas tersebut. Sayangnya, sikap penolakan ini seringkali dilakukan secara agresif tanpa adanya upaya memahami dan mempertimbangkan berbagai nilai positif yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini pun terus berulang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak hanya budaya, semua produk yang muncul dari pola pikir manusia seperti agama dan karakter bangsa pun mengalami hal yang serupa.

Film Arrival adalah film luar biasa bagi saya untuk membuka tahun baru 2017 ini dengan berbagai resolusinya. Perubahan pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dapat menjadi dasar kemajuan peradaban manusia. Bahasa menjadi satu pengantar penting dalam proses evolusi peradaban ini, dan menurut saya proses ini akan berlangsung selama makhluk hidup “berkeliaran” di alam semesta. Sikap menghakimi dan merasa paling benar akan selalu ada di benak para manusia, ini tidak dapat dihilangkan paksa karena sudah menjadi sebuah karakter manusia di abad ini. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai bagian dari peradaban manusia abad ini mulai membuka diri terhadap berbagai misteri alam semesta yang belum terungkap dan menggunakan bahasa untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

mv5bmty1nzk4odc5ov5bml5banbnxkftztgwmja0ndq1mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

phosphone I arrival I moviereview I 2017

 

Perikemanusiaan yang Mempersatukan

humanity-unity-27751283455583brsv

Saat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, seseorang dapat menangis karena terharu klub idolanya menang atau sebaliknya sedih karena kalah. Begitu juga saat beribadah, seseorang dapat meneteskan air mata karena kotbah yang begitu menyentuh hati. Tidak jarang rasa sedih pun menghampiri perasaan seseorang ketika menyaksikan pemberitaan tentang makhluk hidup yang dianiyaya. Bahkan dalam pertengkaran antara suami dan istri yang berumah tangga, isak tangis histeris pun seringkali menjadi hasil dari emosi yang memuncak. Perasaan manusia terasa begitu rapuh dan mudah tersentuh, namun apa sebenarnya yang membuat hal ini tidak dapat terlepas dari keseharian hidup manusia?

Manusia dikaruniai sebuah anugerah oleh penciptanya yang berupa perasaan dengan berbagai perangkat nilai kemanusiaan. Hal inilah yang membuat manusia begitu berbeda dengan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Kemanusiaan sudah seperti dasar dari eksistensi keberadaan manusia itu sendiri lebih dari perangkat lain yang mungkin membedakan seseorang dengan orang lainnya. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, perangkat kemanusiaan ini pun seringkali disebut dengan perikemanusiaan.


Manusia juga diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya. Berbagai hal yang dianggap mendasar pun mengiringi evolusi kehidupan manusia di muka bumi. Suku, agama, ras, dan perbedaan golongan ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya pun tidak dapat terhindarkan. Beberapa pandangan pun ada yang menganggap ini sebagai sebuah kekuatan yang memunculkan manusia dalam berbagai “warna” dan keunikan. Namun, sebagian manusia lainnya justru menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah alasan untuk menguasai bahkan menghancurkan kelompok lain yang tidak sama.

1-uohcup42f6h_m0qv2etgaw

Menurut saya, pada titik inilah permasalahan horisontal antara sesama manusia pun dimulai. Sejak awal keberadaan manusia, persaingan sudah ada dan perbedaan pun sudah menjadi masalah serius yang bersifat menghancurkan bahkan mampu menjadi alasan satu pihak membunuh pihak lainnya yang tidak sejalan. Padahal, manusia masih memiliki sebuah perangkat yang disebut perikemanusiaan (seperti dibahas di awal) sebagai perangkat yang membuat manusia bernilai lebih dibandingkan hewan atau tumbuhan. Dengan pola berpikir ini, saya sangat setuju bahwa perikemanusiaan seharusnya memiliki posisi prioritas lebih tinggi dari perangkat nilai manusia yang lain, terutama yang bersifat membedakan seperti suku, agama, ras, dan antar golongan.

Mungkin saya bukan ahli dalam bidang filsafat pemikiran seperti ini, namun saya belajar dari apa yang saya alami dan saksikan lewat kehidupan ini. Sudah banyak pengalaman buruk menimpa kehidupan manusia ketika menonjolkan berbagai nilai yang hanya bersifat membedakan. Bila tidak lupa, prioritas dan kesombongan akan nilai agama telah menciptakan perang salib dan konflik timur tengah yang terus terjadi hingga saat ini. Memang agama bukan masalahnya, tapi kesombongan dan cinta buta akan agama itulah yang akhirnya membuat manusia seolah lupa akan peri kemanusiaan yang menjadi esensi keberadaan manusia. Contoh lainnya, sikap mengunggulkan ras tertentu sudah meninggalkan luka yang begitu perih dalam kisah pembantaian Nazi Jerman pada perang dunia ke-2 di masa lalu. Tragedi ini sangat menunjukkan bagaimana situasi yang akan terjadi bila meletakkan ego ras tertentu di atas peri kemanusiaan. Masih banyak contoh lain seperti konflik antar golongan yang meluluh-lantakkan Kota Ambon dan Sampit, Indonesia, atau perang ideologi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia, tragedi pemusnahan Aborigin di Australia dan penolakan etnis Rohingya di Myanmar yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Kesimpulan saya, hal buruk seringkali terjadi justru ketika perikemanusiaan dibiarkan lemah di bawah perangkat nilai manusia yang hanya membenturkan berbagai perbedaan manusia.

This slideshow requires JavaScript.

Berdasarkan pemikiran yang saya miliki ini, maka menurut saya manusia seharusnya menyadari bahwa perikemanusiaan itu adalah sebuah perangkat paling penting yang mengungkap eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa perangkat ini, bagi saya manusia tidak akan “terlihat” seperti manusia sekalipun mungkin memiliki level maksimal dalam berbagai perangkat agama, suku, ras, ataupun golongan tertentu. Namun, sayangnya sifat rakus manusia sudah mempolitisir perikemanusiaan sehingga tidak terasa penting lagi di masa kini.

Manusia abad ini terlihat justru lebih suka menempatkan berbagai nilai yang memperuncing perbedaan antar manusia sebagai prioritas penting dalam hidupnya. Dalam pengamatan saya, kini Tuhan atau Penguasa Alam Semesta seolah tak akan mampu direngkuh tanpa keberadaan agama, sentimen kesukuan sengaja dimunculkan sebagai bentuk loyalitas kelompok yang sangat perlu diperjuangkan, ras tertentu terus merasa lebih unggul dengan mengecilkan makna dari ras lainnya, bahkan konflik antar golongan pun setiap hari dapat kita saksikan mewarnai berbagai media pemberitaan dunia. Dalam benak saya, apa ini yang diharapkan Sang Pencipta manusia dari manusia ciptaanNya?

Akhirnya, saya kembali lagi kepada perikemanusiaan yang sangat penting untuk ditempatkan di atas perangkat nilai lainnya. Perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan bukan berarti tidak penting, namun membahayakan bila diletakkan di atas perikemanusiaan. Perbedaan itu perlu sebagai identitas individu yang memang diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya, namun hal ini perlu dijaga agar tidak menjadi alasan untuk sikap saling menghancurkan antar manusia. Manusia butuh sebuah perangkat yang lebih kuat untuk mempersatukan perbedaan yang ada tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Oleh karena itu, bagi saya perikemanusiaan adalah perangkat nilai yang berfungsi untuk yang mempersatukan.

humanity

God bless humanity.

Movie Review: Hacksaw Ridge

hacksaw-ridge_20161030_205858

BERPERANG TANPA HARUS MEMBUNUH!!!

Film yang mengangkat kisah-kisah tentang perang memang mempunyai pesonanya sendiri. Ketegangan medan tempur yang terbalut dinamika politik, nasionalisme, bahkan romantisme seringkali menjadi daya tarik unik dari film ber-genre peperangan. Begitu pula kesan yang muncul ketika saya menonton film perang yang bertajuk Hacksaw Ridge. Namun, ekspektasi saya menjadi lebih besar ketika mengetahui bahwa sutradara di balik karya yang diangkat dari biografi kisah nyata ini adalah aktor kawakan Mel Gibson.

hacksaw-ridge

Hacksaw Ridge adalah sebuah lokasi di pesisir Okinawa, Jepang yang menjadi medan pertempuran bagi pasukan sekutu Amerika Serikat melawan pasukan pertahanan Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Tempat ini diangkat menjadi judul film mewakili sebuah kisah luar biasa seorang prajurit muda bernama Desmond Doss yang berjuang di medan perang sebagai dokter lapangan tanpa menggunakan satu senjata pun di tangannya. Prinsip yang ia miliki adalah menyelamatkan mereka yang menjadi korban perang dan bukan membunuh dalam peperangan. Ia tidak mau menggunakan senjata sejak awal masuk dalam pelatihan tentara karena keyakinan religi yang ia pegang dengan teguh.

Awalnya, banyak pihak yang menentang keinginannya karena hampir mustahil bagi seorang tentara untuk berjuang tanpa senjata di tangannya karena dapat membahayakan diri dan pasukan lainnya. Desmond tetap berkeras untuk melanjutkan pelatihannya sebagai persiapan tugas di medan tempur, bahkan ia rela dipenjarakan dan disidang secara militer. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan orang-orang sekitarnya serta perkenanan Sang Kuasa, Desmond akhirnya menjadi prajurit pertama di Amerika Serikat atau bahkan mungkin dunia yang mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan senjata dalam peperangan dan berhasil dikabulkan.

hacksaw1

Puncak dari kisah ini adalah ketika pasukan dimana Desmond Doss berada harus merebut area Hacksaw Ridge dari pertahanan pasukan Jepang. Mereka harus memanjat tebing yang sangat tinggi terlebih dahulu hingga akhirnya berada di medan pertempuran itu. Wilayah tersebut adalah neraka bagi pasukan Amerika Serikat karena pasukan Jepang begitu dahsyat bertempur tanpa henti-hentinya. Pasukan Amerika Serikat pun terpaksa mundur dan kembali menuruni tebing tinggi tersebut. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang dokter tentara Desmond Doss. Ia tinggal paling belakang dan kembali ke medan tempur sendirian tanpa senjata untuk menyelamatkan sisa pasukan yang masih hidup, terluka, dan tidak mampu untuk muncur. Sebuah keajaiban ketika akhirnya ia berhasil menyelamatkan puluhan pasukan yang terluka dan tidak mampu berpindah tempat. Dengan sisa tenaganya, dokter Doss pun menurunkan satu demi satu korban yang masih hidup dari atas tebing Hacksaw Ridge, gilanya semua ia lakukan tanpa satu senjata pun di tangannya.

Kisah heroik inilah yang berusaha ditampilkan oleh Mel Gibson dalam karyanya. Keteguhan hati seorang Desmond Doss untuk pantang menyerah menyelamatkan mereka yang membutuhkan tanpa harus membunuh menjadi poin penting makna yang ingin disampaikan dalam film ini. Bahkan dalam satu scene, Doss juga mengobati luka salah seorang tentara Jepang yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat bersembunyi dari kejaran tentara Jepang lainnya. Hebatnya, semua cerita ini adalah kejadian nyata dan semua tokohnya pun sempat diwawancarai sebagai konfirmasi atas kebenaran cerita ini sendiri.

Secara teknis, film yang disutradarai Mel Gibson tidak pernah saya sangsikan. Setiap detil situasi perang ditampilkan dengan sangat jelas. Alur cerita, dialog, fotografi, bahkan properti seakan melebur menjadi satu kesatuan secara bersama menjelaskan kisah untuk diceritakan. Penggambaran tokoh Desmond Doss pun begitu kuat dan sangat lugas dalam dialognya. Andrew Garfield yang memerankan dokter Doss pun mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Bagi saya, setiap detil di film ini sudah dapat dikatakan mendekati sempurna. Bila diberi skala 10, maka film ini saya beri nilai 9 karena ketiadaan sedikit pun celah teknis untuk dikritisi.

the-real-desmond-t-doss-next-to-andrew-garfield

Kisah dokter Desmond Doss adalah sebuah anomali di tengah situasi yang mengharuskan orang bertempur dengan prinsip “kill or to be killed”. Rasanya hampir tidak mungkin seseorang bertempur tanpa menggunakan senjata untuk membunuh. Namun, Desmond Doss telah membuktikannya dan menjadi sebuah refleksi bagi generasi masa kini yang begitu rentan terhadap kekerasan dan paham untuk saling menghancurkan. Banyak sekali peperangan modern yang seakan “terpaksa” harus dilakukan dengan alasan keamanan, perdamaian, bahkan pembelaan terhadap kebenaran dan korban pun tak terelakkan. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan menusia harus mati sia-sia dan kebencian serta kejahatan pun nyatanya tetap ada. Setelah menyaksikan film ini, saya merasa malu sebagai generasi modern yang harusnya mampu berpikir lebih logis demi kemanusiaan. Melalui film Hacksaw Ridge, kisah seorang Desmond Doss telah mengajarkan saya bagaimana caranya untuk berjuang tanpa harus membunuh atau menyakiti individu lain.

phosphone I hacksawridge I moviereview I 2016

Balada Sang Gitar Tua


Aku adalah sebuah gitar tua yang terduduk sunyi di tepian ruang sempit dan pengap. Lima tahun sudah aku bergelut dengan sepi dan ratapan ruang hampa tanpa penghuni ini. Tiap detik hanya kosong yang memenuhi setiap isi hati, walaupun sejatinya aku memang benda dan mati.

(Hening)

Ijinkan aku bercerita.

Aku pertama kali dibuat pada tahun 1986, sebuah masa dimana irama Slow Rock dan Disco menginvasi setiap lubang telinga dan gaya hidup anak muda. Awal dari sebuah masa baru dimana cinta akan berbalut teknologi dan mimpi tak lagi tentang hati. Aku terlahir dengan bahagia dalam tubuh kayu Oak yang begitu seksi (khususnya dalam dunia gitar), senar nylon yang lembut, warna coklat natural yang memancar indah, serta suara mendayu yang menggetarkan jiwa (yang terakhir hanya pendapat pribadi). Hal yang terpenting untuk diingat adalah bahwa aku tercipta dengan rangkaian berlian kecil di sekitar lubang resonansi dan membuatku menjadi gitar Limited Edition dan hanya memiliki 9 saudara kembar tersebar di seluruh penjuru dunia. Sudah jelas, aku congkak sejak lahir karena tercipta sebagai mahakarya yang ‘nyaris’ sempurna.

(Backsound irama klasik Beethoven no.9)

Perjalanan awal hidupku sama sempurna dengan euforia masa kelahiranku. Sejak awal tercipta, aku sudah ‘jatuh’ ke tangan dingin seorang musisi klasik terkemuka di dunia. Hal ini membuatku memiliki pengalaman menjelajah 5 benua, 30 negara, dan 80 kota sejak aku berumur belia. Gila! Masa-masa penuh gairah yang memancar hingga membuat tiap dawaiku seringkali menegang tiba-tiba. Sungguh, dalam kurun waktu 10 tahun awal itu aku merasa menjadi satu gitar yang paling beruntung di alam semesta.

Begitu bahagianya aku hingga tak sadar satu wabah muncul dalam kehidupan spesies pemilikku, manusia. Dalam kehidupannya, satu penyakit muncul dan merajalela membunuh siapa pun yang terjangkit olehnya. Seingatku namanya HIV-AIDS dan konon belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Aghhhh, untuk satu hal ini aku merasa bangga menjadi sebuah gitar yang sudah pasti tidak akan terjangkit penyakit mematikan itu. Namun, kehadiran penyakit itu berdampak lain bagi keberadaanku. Sang maestro gitar klasik pemilikku memutuskan untuk melelang aku dalam sebuah charity festival antar musisi untuk para penderita HIV-AIDS yang mematikan itu. Awalnya aku sedih, tetapi ‘daguku kembali terangkat’ ketika nilai jualku mencapai 300.000 dollar Amerika dan menjadi gitar termahal yang terjual dalam 3 dasawarsa terakhir. Aku terpana oleh pencapaianku sendiri.

Seorang pengusaha kaya telah menebusku seharga 300.000 dollar Amerika. Kemudian, aku hidup mewah di salah satu Penthouse miliknya. Nikmatnya, kala itu aku tidak perlu bekerja susah payah siang malam seperti sebelumnya. Setiap senar yang menempel di tubuhku awet hingga tahunan, bahkan tanpa kuatir berkarat atau lapuk. Pengusaha kaya itu menyewa ahli gitar untuk merawatku setiap minggunya. Sedihnya, hidupku saat itu terlalu rapih dan tidak ada satupun orang yang memainkanku. Aku merasa seperti pajangan rumah yang sama dengan guci-guci khas Cina ataupun patung-patung klasik ala Eropa jaman pencerahan. Akhirnya, aku mulai merasakan kebosanan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Rasa kebosananku semakin memuncak dan tak terbendung lagi. Terus terang, saat itu aku sangat merindukan petikan Sang Musisi Klasik pemiliki pertamaku membelai setiap dawai dan menghasilkan suara indah nan syahdu. Aku rindu masa-masa sebelum aku dilelang. Sesekali aku melamun dan berharap pemetik gitar itu membeliku kembali. Berikutnya, semakin sering aku melamun dan terlontar sebuah doa untukku lepas dari jerat kebuntuan ini. Aku tak peduli apapun caranya, aku ingin keluar dari sangkar kaca yang membuatku tampak seperti ornamen museum khas manusia.

(Backsound irama melankolis khas drama Korea)

Satu tahun berikutnya, doaku terjawab dengan situasi yang kurang baik bagi pengusaha pemilikku. Saat itu dunia mengalami resesi hebat dan semua bisnis sang pengusaha pun jatuh bangkrut tak bersisa. Jangankan untuk memanggil ahli gitar perawatku, membeli cairan pembersih lantai saja ia tak sanggup. Sungguh menyedihkan. Doaku semakin terwujud justru ketika tubuhku mulai berjamur dan senar di tubuhku mulai lapuk. Rasa gatal tak menentu ini membuahkan petualangan baru dalam kisah perjalanan hidupku.

(Senyap)

Yaaaaaa, aku dibuang!!!

Miris bila mengingat masa itu, tapi ini keinginan dalam doaku. Tubuhku diletakkan begitu saja dalam bak sampah yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Aku rebah bersama sisa makanan, kertas-kertas tidak terpakai, kondom bekas, bahkan kotoran anjing yang cukup menjijikan bagi gitar 300.000 dollar Amerika sepertiku. Huuufftt, aku merasa terhina hingga titik terendah yang pernah ada di semesta per’gitar’an.

Aku tinggal dalam kondisi itu hampir seminggu penuh hingga akhirnya seorang tunawisma mengambilku. Tubuh kurus kering, bau, tak terurus itu tampaknya akan menjadi pemilik baruku. Sejenak aku berpikir, orang ini sangat cocok denganku mengingat kondisi fisikku saat ini tidak beda jauh darinya. Setelah mengangkatku dari “neraka” sampah itu, tunawisma ini membersihkanku dengan alat seadanya dan ala kadarnya. Rasanya ingin berteriak untuk memberitahu cara merawatku dengan semestinya, namun dibersihkan saja sudah jauh lebih baik daripada berada dalam hingar bingar kelamnya bak sampah kemarin. Aku semakin belajar untuk lebih bersyukur dengan apa yang kualami.

(Backsound nada lembut dan ceria-perlahan masuk)

Tunggu … Kenapa aku tidak pernah memeriksa rangkaian berlian yang menjadi kebanggaanku itu? Astaga! Berlian itu masih ada, bahkan Sang pengusaha bangkrut yang membuangku dulu tak menyadarinya (padahal berlian ini cukup untuk menyelamatkan hidupnya. Paling tidak memberi makan ia dan keluarganya). Penyesalan selalu muncul di belakang, sayangnya aku tidak merasa rugi. Hahaha, si tunawisma ini pun nampaknya hanya menganggap berlian di sekitar lubang resonansiku ini sebagai aksesori semata. Baiklah, aku tidak tahu seperti apa ke depan dan bagaimana caraku menghadapinya. Saat itu yang terpikir adalah, apa yang akan dilakukan tunawisma ini terhadap gitar kucel seperti aku ini.

(Hening)

Owwww … dia mengganti senar-senarku yang sudah lapuk dan tak berguna. Ini sangat istimewa, walaupun aku tahu bahwa senar pengganti ini adalah senar termurah yang pernah ada. Yeaaaaayy!!! Aku bahagia!!!

(Backsound irama klasik ceria)

Si tunawisma (entah dapat uang darimana) berhasil membahagiakan aku. Lebih luar biasa lagi, ia memainkanku dengan jemarinya … Aku hidup kembali. Nada-nada ini terdengar sangat indah, walaupun aku tahu bukan musik klasik yang keluar. Aku agak kurang mengerti nada itu, sepertinya Pop. Namun, yang pasti suara tunawisma ini merdu dan sangat menarik untuk didengar. Ia selalu bernyanyi dan menjadikanku pengiring utama dari suaranya yang merdu. Setiap hari, di tempat yang sama, bahkan waktu yang kurang lebih sama ia melakukan ini, anehnya banyak orang yang mendengar dan melemparkan koin-koin pada kaleng yang ia letakkan di lantai. Baru-baru ini saja aku tahu, bahwa tunawisma ini menjadi seorang musisi jalanan (pengamen) setelah ia mendapatkanku beberapa waktu sebelumnya.

Satu hari pun aku tak pernah lepas dari genggaman si tunawisma. Hari demi hari lagu yang dimainkan pun semakin banyak dan beragam, namun tak pernah sekalipun aku dengar ia memainkan irama klasik. Ahhh aku tidak peduli, yang pasti aku kini merasa beguna lagi. Sejalan dengan kegigihan tunawisma ini, hidupnya pun kian hari kian membaik. Ia tidak kesulitan mencari makan lagi. Ia sudah memiliki tempat tinggal, walaupun hanya satu petak dan terlihat seperti pos keamanan (paling tidak, aku tidak bisa memanggilnya sebagai tunawisma lagi). Ia resmi bekerja sebagai musisi dan akhirnya mendapat kontrak resmi di satu kafe terkemuka untuk menghibur pengunjung kafe tersebut setiap akhir pekan. Aku terharu, hidup tunawisma ini berangsur berubah ke arah yang jauh lebih baik.

(Backsound irama menyedihkan)

Baik bagi si tunawisma tetapi kurang baik untukku. Tampaknya kafe tempatnya bekerja menyarankan untuk menggunakan gitar elektrik. Hal ini menjadi tuntutan dan menimbukan konsekuensi bagi si tunawisma dan aku. Si tunawisma ini belum memiliki uang cukup untuk membeli gitar listrik pendukung pekerjaannya, ia pun menjualku. Aku tahu, sebenarnya ia tak sampai hati untuk menjualku. Ia sudah mencoba segala cara, termasuk meminjam uang pada rentenir terburuk di kota ini. Namun sepertinya bukan nasib baikku, si tunawisma bertemu seorang tukang gadai yang mau menukarku dengan sejumlah uang yang dibutuhkan oleh si tunawisma. Aku pun kembali berpindah tangan.

Aku kembali berada di tangan yang salah. Ia adalah seorang pedagang barang loak. Entah apa yang ada di benaknya ketika menawarku dari si tunawisma, namun aku merasa orang ini sepertinya sadar keberadaan berlian di tubuhku. Orang ini jelas sama sekali tidak mengerti musik. Jangankan bermain gitar, ketika bicara saja nada yang terucap tidak enak didengar. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan mau tidak mau saat ini dialah pemilikku.

(Hening)

Seperti dugaanku, orang ini sama sekali tidak peduli dengan musik. Sejak pertama membeliku, ia sama sekali tidak pernah menyentuhku, bahkan melirik padaku saja tidak. Aku jd meragukan jika orang ini tertarik pada berlian di tubuhku. Satu hal yang akhirnya membuatku bersyukur, ia belum menyadari keberadaan rangkaian berlian ini. Rasa syukur ini bercampur dengan pertanyaan ingin tahu dariku, lalu untuk apa ia membayarku dengan jumlah yang tergolong tidak murah?

Hah!! Jawaban dari pertanyaanku ini terjawab setelah aku tinggal sekitar 2 minggu di rumah pedagang barang loak ini. Suatu hari, datanglah seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian yang tergolong rapih ke rumah si pedagang. Tidak banyak percakapan diantara keduanya, mendadak si pedagang mengambilku dan menyerahkanku kepada lelaki paruh baya tadi. Tidak ada transaksi sama sekali, aku pun mulai bermain dengan pikiranku sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sang pria paruh baya membawaku dengan menggunakan kendaraan umum. Wajahnya tampak mengkhawatirkan sesuatu dan sesekali peluh keringat mengucur dari dahinya menuju lipatan mata, pipi dan jatuh di pangkuannya. Seketika aku tahu, lelaki ini memiliki masalah yang ada kaitannya dengan gitar sejenisku.

Benar saja, setelah dibawa dalam perjalanan kurang lebih selama 2 jam dan berganti tiga kali kendaraan umum, akhirnya aku sampai di rumah lelaki paruh baya itu. Jalannya gontai menuju pintu rumah dengan arsitektur kuno dan tampak tidak terurus itu. Pintu depan rumah mulai terbuka, kreeeeekkkkkkk…. , suaranya sama tua dengan umur rumah ini sepertinya. Tanpa banyak bicara, ia memasuki ruang tamu yang tampak kelam menuju satu pintu (sepertinya kamar) dan jawaban dari kebingunganku pun mulai terbuka. Sesosok tubuh mungil terbaring lemah tanpa tenaga, seorang gadis kecil tampak tak berdaya tiba-tiba bergerak menatap lelaki paruh baya ini.

Gadis kecil itu tersenyum manis walaupun tak bisa menutupi kenyataan bahwa ia menaham sakit yang begitu luar biasa. Lelaki itu pun menghampiri sang gadis, menyembunyikan aku di belakang tubuhnya, mencium kening sang gadis dan mulai berbicara pada sang gadis.

    “De, ayah bawa sesuatu nih”, ucap lelaki paruh baya itu pada sang gadis.

      Gadis mungil itu pun menanggapi sambil tersenyum, “Apaan yah? Bentar, kayaknya ade tau…mmmmmm”.

        Sang lelaki pun menyunggingkan senyum, “apa hayo?….hehehehe…..ini janji ayah”.

        Sesaat ia berkata janji dan menyerahkanku pada sang gadis. Mereka berdua tampak bahagia dan keduanya pun saling berpelukan. Jadi setelah mendengar percakapan mereka, ternyata aku memiliki peran yang sangat penting dalam kisah kali ini. Dulu, sang gadis pernah memiliki satu gitar yang bentuk serta warnanya sama persis dengan tubuhku. Gitar nylon yang biasa dimainkan sang gadis untuk mengisi hari-harinya dengan bernyanyi. Hingga suatu hari, sang gadis divonis terkena satu penyakit yanga namanya Lupus dan sepertinya sama bahayanya dengan HIV-AIDS yang dulu pernah kukenal. Gadis ini hanya tinggal berdua dengan sang lelaki paruh baya yang merupakan ayahnya karena sang ibu sudah lebih dulu meninggal karena kecelakaan. Kondisi ekonomi keluarga mereka jauh dari kata cukup, sehingga sang ayah terpaksa menjual gitar kesayangan si gadis untuk menebus obat yang dibutuhkan.

        Miris rasanya mengetahui kenyataan yang mereka alami. Terlebih ketika tahu bahwa sang ayah terpaksa menjual salah satu ginjalnya untuk kembali membeli gitar serupa (ini maksudnya aku) yang dulu pernah dimiliki anak gadisnya. Rumit dan sangat menyedihkan.

        (Backsound irama berapi-api penuh kemarahan)

        Sebentar … Aku baru sadar bahwa ini berarti si pedagang barang loak itu tidak hanya berdagang barang-barang saja namun juga organ-organ manusia dan sudah jelas semuanya ilegal. Arrrggghhh…kenyataan yang memuakkan!, apalagi si pedagang meminta imbalan organ ginjal untuk ditukar dengan gitar semacam aku. Andai aku manusia, rasanya ingin kubunuh si padagang dan kurobek ginjal miliknya. Sayangnya, aku bukan manusia.

        (Tempo melambat)

        Kembali pada kisah sang ayah dan anak gadisnya. Aku tinggal di rumah tua itu dan menjadi penyemangat hidup si gadis kecil tersebut. Setiap hari, aku selalu dimainkan dengan berbagai lagu-lagu indah berikut suara parau namun merdu milik si gadis. Bahagianya, sang gadis adalah penggemar aliran klasik dan sanggup memainkan sejumlah lagu klasik dengan sangat baik. Walaupun tak profesional seperti musisi pemilik pertamaku, namun gadis manis ini sudah berhasil menghidupkanku hingga level tertinggi sejak aku dilelangkan beberapa waktu yang lalu. Bahkan, kadang aku merasa kini arti hidupku lebih daripada sekedar gitar Limited Edition atau gitar 300.000 dollar Amerika. Saat itu, aku seharga dengan nyawa seorang gadis mungil yang sakit dan aku menjadi bagian dari hidupnya. AKU BAHAGIA!!!

        (Backsound mendayu-dayu)

        Namun, kebahagiaanku hanya bertahan selama 6 bulan. Suatu senja yang sendu, setelah memainkanku tiba-tiba gadis mungil itu kejang-kejang dan terpaksa harus dibawa menuju Unit Gawat Darurat oleh sang ayah. Entah apa yang terjadi selanjutnya, dua hari aku sendiri di rumah tua itu dan sang ayah kembali tanpa kehadiran gadis manis pemilikku saat itu. 

        Gadis itu telah tiada. 

        Setelah kejadian sore itu, sang gadis akhirnya meninggal dan dimakamkan dengan upacara sederhana tanpa kehadiran sanak saudara atau teman, sahabat, dan keluarga lainnya. 

        Gadis itu meninggal dalam kesepiannya.

        Rasanya ingin teriak dan membongkar tubuhku, mengambil berlian di lubang resonansiku dan menjualnya untuk biaya pengobatan sang gadis hingga sembuh dan ceria kembali. Namun, aku baru tahu bahwa Lupus adalah penyakit yang memiliki kemungkinan kecil untuk sembuh, tiba-tiba saja dapat kambuh dan seketika membunuh penderitanya. Pikirku, percuma saja berlian ini, semua kehendak ada pada sang Pencipta. 

        Selanjutnya, lelaki paruh baya itu berkemas dan pergi begitu saja entah kemana tanpa mengingat keberadaanku. Aku memakluminya, bahwa ia begitu terpukul atas kepergian gadis kecil yang sangat dicintainya. Jangankan ia sebagai ayahnya, aku yang hanya gitar kesayangan si gadis saja merasa sangat kehilangan atas kepergian gadis kecil mungil itu.

        (Backsound irama klasik tempo menengah)

        Akhirnya, inilah aku yang tadinya indah luar biasa, kini lapuk, kusam, penuh cacat di sekujur tubuhku. Jamur menyelimuti tiap rangkaku dan suaraku mungkin parau bila dimainkan. Lima tahun terdiam dalam posisi yang sama ketika ditinggalkan sang gadis manis. Bercerita kisah hebatku, sedih hingga akhir pahit yang mengiris benakku. Mungkin aku bukan manusia, tetapi ada bagian perasaanku yang berontak dan marah atas apa yang pernah kulewati. Aku menyadari bahwa aku kini sendiri, tapi aku harus bersyukur bahwa aku pernah berarti dalam hidup manusia. Sang musisi, pengusaha, si tunawisma, pedagang bajingan, hingga ayah dan anak gadisnya yang sakit, mereka juga yang membuatku berarti. Awalnya aku berpikir dengan congkak bahwa aku terlahir penuh arti, namun ternyata semua sirna selama perjalanan hidup yang kualami. Aku sempat kehilangan makna diri, namun dalam keheninganku aku belajar bahwa melalui pribadi-pribadi yang kutemui … aku temukan arti hidupku yang sejati. 

        Terimakasih.



        Berlianku masih menempel di tubuhku! Hey kalian yang membaca, apa kalian tidak tertarik untuk menemukanku dan menjadi pemilikku selanjutnya? Hahahahahahahahahaah…..jreeeeeeng!

        (Backsound irama klasik ceria-fade out-selesai)