KUTUB EKSTRIM

Pagi-pagi udah ada seorang teman yang cerita kalau di Amerika Serikat (USA) sedang terjadi sebuah fenomena. Menurut ceritanya, masyarakat USA sekarang ini semakin jelas mengelompokkan diri pada dua kutub ekstrem. Satu kutub mengidetifikasikan diri mereka sebagai kelompok kanan yang ultra-nasionalis, agamis, dan cenderung berpihak pada pemerintahan saat ini. Sedangkan, kutub lainnya adalah kaum yang lebih beraliran ke-kiri-an. Mereka lebih sosialis, humanis, dan kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah USA sekarang.

CYGY.com

Uniknya, yang jadi fenomena adalah posisi salah satu kutub makin kuat karena kutub lainnya pun menguat. Hal ini akhirnya memunculkan pertanyaan tentang keberadaan mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak tengah, atau yang biasa dikenal sebagai kaum moderat. Saat fenomena ini terjadi, bagaimana dengan kaum moderat? Apa mereka akhirnya memilih salah satu kutub ekstrim? Lalu, sebenarnya seberapa “moderat” kah pihak yang dianggap moderat tersebut?

Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang memihak. Selama manusia hidup dan bisa memilih, maka kita akan selalu punya kecenderungan memihak. Dalam hal kutub ekstrim kanan dan kiri seperti yang diceritakan tadi, manusia pun selalu memiliki kecenderungan memihak. Memang tidak semuanya ekstrim, tapi pasti ada yang lebih dominan walaupun hanya sebatas pemikiran atau cara pandang saja. Bila kita beranggapan bahwa manusia adalah makhluk merdeka sekalipun, saat sudah memilih maka manusia tetap akan punya keberpihakan. Hal ini adalah “diri” manusia itu sendiri.

Too-much-of-a-good-thing-Calcium-supplements-may-be-bad-for-heart-health_wrbm_large

Namun, muncul sebuah pandangan lain yang memperluas diskusi pagi ini. Manusia tidak harus memilih dirinya sendiri. Artinya, saat kecenderungan memihak kutub kanan atau kiri itu mulai menguat, posisi untuk berada di tengah pun tetap berpotensi kuat menjadi pilihan. Tentu saja, hal ini tidak serta-merta terjadi tanpa pengaruh apapun. Layaknya kutub aliran kanan atau kiri, latar belakang seperti pendidikan, pengalaman, pergaulan, atau hal lainnya juga mempengaruhi pilihan kaum demokrat untuk berada di tengah.

Setelah berpikir beberapa jam, akhirnya topik ini berada di sebuah kesimpulan. Kaum demokrat pun juga punya peluang berada dalam titik yang ekstrim. Posisi tersebut mungkin bisa dikatakan sebagai keengganan untuk terlibat lebih jauh dengan dua kutub ekstrim lainnya. Nah, pertanyaannya apakah kondisi ini adalah sesuatu yang baik? Tentu tidak. Dunia tidak butuh sesuatu yang sekedar baik atau jahat. Dunia dan kehidupan membutuhkan keseimbangan. Bahkan, terlalu banyak hal baik adalah perihal yang buruk (Too much a good thing is a bad thing).

Just thinking of it!

Phosphone I mind I 2018

e8c4308d7cdc9196df0a6f740b7f17cf

Advertisements

FANATISME

fanatisme01221

Manusia adalah makhluk sosial dan salah satu bentuk sosialisasi yang terjadi adalah hidup berkelompok. Kalau diperhatikan, tidak hanya senang berkomunikasi dalam kelompok tertentu, tapi manusia biasanya sangat memperhatikan dan bangga dengan label yang menempel pada kelompok-kelompok tersebut. Hal ini berlaku bagi kelompok yang memang jadi pilihan pribadi, sedangkan label kelompok yang diberikan pihak lain umumnya justru lebih sering berkonotasi negatif.

Secara umum, saya beranggapan bahwa manusia sangat suka mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok di luar status ilmiahnya sebagai spesies Homo sapiens. Suku, agama, dan ras adalah beberapa contoh kelompok dalam lingkup yang luas. Selain itum pada tataran sempit biasanya manusia suka membuat kelompok-kelompok berdasarkan hobi, profesi, atau pandangan politik. Rasa bangga adalah salah satu yang menonjol dari kesukaan manusia pada gaya hidup berkelompok ini. Lalu, pertanyaan yang muncul dalam benak saya kemudian adalah “Apa dampak dari kesukaan dan rasa bangga akan kelompok-kelompok ini?.”

Saya memikirkan pertanyaan ini cukup lama. Sambil membaca beberapa artikel terkait hal ini, kemudian muncul pemikiran dalam kepala saya bahwa nilai positif atas kesukaan manusia hidup berkelompok ada pada tataran kepuasan batin semata. Bila ingin ditelaah lagi, mungkin beberapa manfaat lain seperti dukungan moril ketika kita ada dalam kondisi terpuruk yang sangat mungkin juga didapat sebagai manusia. Tapi, pemikiran yang lebih banyak menerpa adalah sebuah sikap cinta berlebihan atas kelompok yang diyakini dan seringkali justru menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai Fanatisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Fanatisme adalah sebuah keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Keyakinan ini dapat berupa rasa bangga maupun cinta seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Frasa terlalu kuat dapat diartikan sebagai berlebihan atau tidak wajar. Sedangkan ajaran, politik, agama, atau bahkan hobi, profesi, maupun latar belakang sosial ekonomi lainnya dapat saya asumsikan sebagai kelompok-kelompok yang seringkali dianggap sebagai identitas manusia.

f2b_01

Saya memiliki sebuah anggapan bahwa segala sesuatu yang berlebihan, sekalipun itu adalah hal baik, tidak akan memberikan kebaikan. Begitu juga dengan sikap bangga yang berlebihan atas suatu kelompok sangat rentan justru menghasilkan hal-hal buruk. Kecenderungan yang saya perhatikan ketika kita suka, bangga, atau bahkan cinta secara berlebihan kepada satu kelompok adalah munculnya sikap merendahkan kelompok lain yang tidak sejalan atau berbeda dengan kita. Hal inilah yang menjadi dampak buruk karena dapat “berlipat ganda” menjadi sesuatu yang berbahaya, tidak hanya pada individu namun juga kehidupan.

Ada banyak contoh dampak buruk dari rasa bangga yang berlebihan dari sebuah kelompok. Sejarah kehidupan manusia mencatat, suku-suku primitif di seluruh belahan dunia sudah melakukan itu dari masa-masa awal peradaban manusia. Peperangan antar suku tidak hanya didasari nafsu berkuasa, namun lebih jauh terjadi karena rasa benci yang dipupuk dalam bentuk kebanggaan atas suku dimana seseorang berasal. Belum lagi ketika kita melihat perang yang dilakukan oleh Nazi Jerman. Sikap Fasis yang begitu kental sangat terlihat, bahkan Hitler pun secara terang-terangan mengungkapkan kebenciannya terhadap etnis Yahudi sekaligus kebanggaannya atas ras Arya. Ia menganggap ras Arya sebagai ras paling sempurna di muka bumi dan berhak untuk menguasai kehidupan ini. Banyak peperangan antar negara pun terjadi karena rasa bangga yang berlebihan terhadap kelompok atau negara tertentu. Mereka rela saling membunuh hanya dengan dalih membela kepentingan tanah airnya dan demi kejayaan negaranya.

Kembali berpikir tentang Fanatisme, menurut saya yang membuatnya jadi buruk adalah sikap membenci yang terjadi. Layaknya 2 kutub yang salaing bertolak belakang, rasa cinta berlebihan pada sesuatu ternyata juga menghadirkan kebencian mendalam pada pihak sebaliknya. Mungkin rasa benci juga dapat terjadi pada sikap-sikap selain rasa bangga berlebihan dalam kelompok, tetapi sepengetahuan saya pengelompokan inilah yang cukup berbahaya. Bayangkan, sejak kecil kita sudah sering disusupi oleh pemahaman salah yang menjurus pada sikap rasa bangga berlebih sebagai kelompok tertentu. Misalnya, rasa bahwa agama yang kita anut adalah agama yang paling benar, sikap toleransi atau maklum pada pihak tertentu hanya karena berasal dari suku yang sama, atau bahkan keinginan kuat mencari pasangan dari kelompok sama (suku, agama, maupun ras) yang ditanamkan sejak usia sekolah.

Fanatics

Mungkin kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa kita terlahir dengan status yang sudah terbagi-bagi dalam kelompok. Namun, bagi saya pendidikan bahwa rasa bangga berlebihan itu buruk seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini. Manusia sebaiknya tidak mempertajam perbedaan yang sudah ada dalam kelompok-kelompok ini, justru sebaliknya berusaha memahami bahwa dengan perbedaan yang ada segala sesuatunya dapat mendatangkan kebaikan tanpa harus merasa kelompoknya lebih baik atau benar dari yang lain. Toh, pada akhirnya manusia dengan agama, suku, hobi, pekerjaan, atau tingkat ekonomi yang berbeda berasal dari satu spesies Homo sapiens. Bila ditarik lebih jauh lagi, Homo sapiens, hewan, maupun tumbuhan adalah makhluk hidup yang sama-sama tinggal di planet bumi. Ditarik lebih jauh lagi, maka semuanya adalah penghuni alam semesta tak terbatas. Pada akhirnya, semua memiliki kesamaan kelompok, lalu apa gunanya membeda-bedakan dengan dalih kebanggaan?

Semoga semua berbahagia,

phosphone I 2018

LEBIH KURANG … CINTA

Heartruct

Bicara cinta, ternyata punya banyak sudut pandang untuk jadi titik mulanya. Cinta emang udah jadi bahasan ciamik sejak kehidupan di alam semesta ini dimulai. Dalam keseharian pun cinta bisa jadi materi sekaligus unsur metafisika mulai manusia bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi. Inilah sebabnya, nggak heran kalau cinta jadi topik yang super multi-dimensi dengan luas luar biasa.

Tapi, kali ini gw tertarik untuk cerita satu sudut pandang cinta yang terlintas begitu aja karena terinspirasi bumbu makanan. Gw kepikiran soal bumbu makanan semacam garam, lada, pala, cengkeh, dan lain sebagainya. Bumbu adalah komponen penting saat kita memasak makanan. Memang sangat penting, tapi ada hal yang lebih penting yaitu takaran. Senikmat apapun bumbu ini, nggak akan jadi sesuatu yang enak kalau diterapkan tidak sesuai takaran yang seharusnya. Makanan bisa aja jadi kurang asin, hambar, atau justru lebih pahit, lebih asam, bahkan terasa sangat pedas jika bumbu pendukungnya nggak sesuai dengan ukuran yang disarankan dalam resepnya.

Nah, begitu juga cinta yang gw analogikan kayak semacam makanan lengkap dengan penyajian dan manfaatnya yang mengenyangkan. Bedanya, kalau makanan jadi manfaat untuk fisik tapi cinta lebih berguna untuk jiwa. Balik ke topik tentang ketidaksesuaian takaran, layaknya bumbu makanan, cinta pun berdampak langsung ke masalah “rasa” di jiwa kalau kita terapkan tidak berdasarkan takaran yang seharusnya. Kekurangan cinta itu jelas punya dampak buruk untuk kehidupan, tapi kita juga nggak bisa ngelak kalo fakta kebanyakan cinta juga berdampak negatif untuk hidup kita.

Gw udah ngalamin kedua keadaan, baik itu kekurangan maupun kelebihan cinta, makanya gw berani untuk nulis tentang ini. Sekarang gw coba untuk cerita satu-satu. Pertama soal kekurangan cinta, sebagai manusia normal yang punya kehidupan normal seharusnya kita semua sepakat soal kekurangan cinta bisa berdampak buruk untuk kehidupan. Gw pernah mengalami perasaan hambar karena trauma sama yang namanya cinta, apalagi ditambah depresi soal keuangan dan pekerjaan. Kondisi ini sebenarnya lumrah dialami oleh manusia mana pun, tapi yang mau gw sorotin di sini adalah dampaknya. Jangankan kehilangan selera makan, lebih buruk lagi kondisi ini bisa bikin kita nggak peka sama hidup kita sebagai manusia. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dan terlintas di benak gw saat ini adalah resiko bunuh diri. Bukan sekedar khayalan, tapi situasi buruk ini udah banyak terjadi dalam kehidupan manusia seperti para eksekutif muda yang memutuskan bunuh diri di Jepang atau para pengikut aliran kebatinan tertentu di Amerika Serikat yang akhirnya sepakat untuk mati bersama demi “penebusan”. Miris. Jelas para korban ini sudah sangat kekurangan rasa cinta, terutama pada diri mereka sendiri. Untunglah yang pernah gw alami belum dan masih sangat jauh dari tahap mengenaskan ini. Jadi, kita sepakat kan kalau kekurangan cinta berakibat buruk untuk kehidupan manusia?

Sebaliknya, soal kelebihan cinta pun udah pernah gw alamin. Kalian pernah dengar istilah cinta buta kan? Ya, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mencintai sesuatu bahkan tanpa menggunakan sedikit pun logika. Sebagai manusia yang lebih sering didominasi perasaan ketimbang logika, gw juga sering “terjebak” dalam situasi ini. Hal sederhana yang sering gw alamin adalah ketika ada temen gw yang utang duit ke gw. Namanya juga utang, uang itu jelas milik gw dan gw berhak untuk nagih utang itu sesuai waktu utang yang disepakati di awal. Tapi, karena rasa “cinta” berlebihan yang gw punya, ketika teman gw nggak nepatin janjinya untuk bayar utang itu, gw cuma bisa bilang oke sambil diikutin kata “ya udah entar aja”. Lebih parah lagi, kalau udah berbulan-bulan bahkan tahunan nggak ada itikad baik untuk bayar dari teman gw, utang ini pun punya kemungkinan untuk gw lupakan. Baik? Nggak, negatifnya beberapa waktu kemudian gw inget soal utang yang menahun ini dan penyesalan pun terjadi, bahkan berakhir dengan gw yang menyalahkan diri gw sendiri.

Mungkin contoh di paragraf atas masih kurang pas untuk menggambarkan soal cinta buta. Baiklah, kalo gitu pakai cerita gw yang berikut ini. Gw pernah suka sama cewek, bisa dikatakan dia ini idaman gw banget sampai bikin gw tergila-gila. Singkat cerita, gw berhasil “merebut” hatinya dan gw jadian sama cewek ini. Beberapa bulan berjalan, hati kecil gw mulai berbisik kalau ada beberapa karakter cewek ini yang nggak sesuai dengan pribadi gw. Jiwa gw dasarnya adalah kebebasan, tapi cewek ini mulai nunjukkin gejala-gejala maksa gw untuk nggak jadi diri gw sendiri. Dia mulai atur kehidupan gw dengan berbagai larangan dan kalao gw melanggar sikap “ngambek” ala cewek-cewek jaman sekarang pun harus siap gw hadapi. Jelas sebenarnya gw sangat nggak nyaman dengan kondisi ini. Tapi, apa boleh buat, karena rasa cinta yang begitu mendalam, gw pun meng-eliminir ketidaknyamanan ini dan mulai berkompromi dengan segala tuntutan sang cewek. Bahkan, gw rela untuk menjadi sosok lain yang sangat bertolak belakang dengan diri gw sebenarnya. Nah, hal yang membuat situasi ini terjadi adalah rasa kelebihan cinta di hati gw. Gw merasa dia harus dapat lebih dari gw tanpa berpikir tentang apa kebutuhan diri gw sendiri. Apa ini baik? Dulu gw jawab iya, tapi sekarang dengan tegas gw katakan NGGAK!. Suatu saat, andai kondisi tadi terus bertahan, apalagi terbawa dalam pernikahan, jiwa gw lambat laun akan berontak. Secara psikis ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti botol soda yang dikocok-kocok dan akhirnya nggak mampu menahan luapan gas di dalam botolnya. Hal ini cukup membahayakan, apalagi kalau sudah ada anak-anak dalam pernikahan itu.

Ya mudah-mudahan kalian yang baca tulisan gw ini bisa mengerti maksud gw tentang kekurangan dan kelebihan cinta dari pengalaman yang pernah gw alamin ini. Memang kelebihan dan kekurangan cinta adalah hal yang sangat bertolak belakang, tapi dalam jumlah yang berlebihan keduanya bisa berdampak negatif untuk kehidupan kita. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan kelebihan dan kekurangan ini yang juga bisa terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang.

Heart

Sekarang contoh yang mau gw ambil soal kurangnya rasa cinta sekaligus kelebihan cinta yang terjadi bersamaan agak sensitif nih. Gw ambil contoh teroris yang melancarkan aksi terornya karena rasa cintanya yang berlebihan pada keyakinannya. Kondisi ini udah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Tanpa merujuk pada keyakinan tertentu, sang teroris ini udah jelas menyakiti manusia lainnya dan ini bisa diartikan dirinya kekurangan rasa cinta. Pada sisi lain, teroris ini menjalankan aksi terornya karena rasa cinta berlebihan ke keyakinan yang dianutnya. Biasanya situasi ini terjadi karena kesalahan pemahaman sang teroris terhadap ajaran keyakinan yang dianutnya. Jelas, akibatnya udah bisa kita lihat dari banyaknya korban manusia yang sama sekali nggak tahu menahu soal masalah yang dihadapi si teroris. Sangat Buruk!.

Akhirnya, gw berkesimpulan bahwa cinta yang terjadi dalam kondisi extreme (entah itu berkekurangan atau berlebihan) sama-sama menghasilkan dampak yang buruk untuk kehidupan. Nah, supaya ini nggak terjadi, sama seperti analogi masakan gw di awal tulisan, kita perlu paham dan menuruti takaran yang sudah ada resepnya. Dalam hal cinta di kehidupan, resep atau takaran itu bisa kita pelajari dalam keseharian, hukum dan norma-norma umum yang berlaku. Intinya, kalau sampai muncul pihak yang dirugikan karena cinta yang kita miliki, berarti ada yang salah dengan perasaan cinta kita tersebut. Entah kelebihan atau kekurangan cinta, yang jelas harus segera kita sadari dan perbaiki supaya tidak semakin parah dan memunculkan korban lainnya. Cinta itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi, yaitu takaran.

 

So, mulai saat ini, BERCINTALAH DENGAN LEBIH BIJAK DAN CERDAS!

s337279986784189516_p130_i1_w1618

PEMUJA SEKALIGUS PEMBELAJAR

1

Berawal dari mengidolakan seseorang, entah karena karyanya, sikapnya, pemikiran, atau sekedar gayanya, manusia bisa saling terikat dan saling memuja satu dengan lainnya. Fenomena wajar yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia ini dapat menjadi titik awal untuk pilihan sikap selanjutnya. Menjadi sekedar pemuja, pengikut atau bahkan peniru menjadi sebuah preferensi sikap bagi kita terhadap siapapun yang menjadi idola.

Masalahnya dalam prinsip hidup yang saya yakini, sesuatu yang berlebihan tidak akan menghasilkan hal yang proporsional dalam kebaikan. Begitu juga sikap pemujaan terhadap sesuatu secara berlebihan pun tidak menjamin mendatangkan hal positif, sekalipun sesuatu tersebut adalah keyakinan spiritual atau konsep ketuhanan. Dalam hal pemujaan terhadap manusia yang dianggap idola oleh manusia lain, kerentanan akan hal-hal negatif pun tidak dapat dihindari.

Mungkin manusia memang mempunyai “desain” psikologis untuk menyukai apapun yang ada dalam kehidupannya, namun bila dilakukan secara berlebihan tentu justru akan mendatangkan hal buruk layaknya makan dalam jumlah berlebihan dan akhirnya muntah karena terlalu kenyang. Hal ini belum termasuk dampak bila pribadi yang diidolakan ternyata tidak se-sempurna harapan mereka yang mengidolakan.

Sebenarnya sudah banyak hal sederhana untuk mencontohkan sikap memuja berlebihan ini. Banyak sekali kasus yang terjadi pada pribadi yang diidolakan secara berlebihan seperti Michael Jackson, Britney Spears, atau Taylor Swift yang harus merasakan ancaman dari para fans setia mereka di atas panggung. Bahkan tidak sedikit yang harus berakhir kematian di tangan pemuja mereka seperti John Lennon atau Mahatma Ghandi. Bila kita ingat, kasus video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya di Indonesia beberapa waktu lampau pun memunculkan para fans “sakit hati” yang tidak sedikit dan berakhir dengan caci maki mereka terhadap sang idola. Semua kebencian bahkan pembunuhan yang lahir dari perasaan sakit hati akibat “terlalu” memuja ini tampaknya lebih parah daripada sekedar kebencian biasa.

Hal ini menjadi semakin buruk bila tingkat pemujaan sudah menjadi hasrat untuk mengikuti bahkan meniru sang idola. Bayangkan apa yang terjadi bila idola mereka menyakiti harapan yang telah mereka bentuk sejak awal. Saya pikir dampaknya akan lebih mengerikan daripada ketika seseorang kehilangan barang karena dirampok di jalan.

29378829d91b8d04d92faf78c58f3a95

Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Lalu, bagaimana mengatasi perasaan suka atau cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang begitu berlebih?”. Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi saya karena perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan atau diabaikan. Manusia memang memiliki kecenderungan ini dalam psikologis yang tertanam dalam setiap sel tubuh serta jiwa kita.

Mungkin saya belum dapat jawaban yang tepat atas pertanyaan di benak saya tersebut, namun muncul beberapa ide dalam pikiran saya. Salah satu yang muncul dan berulang-ulang hadir dalam alam pemikiran saya adalah mengubah energi suka tersebut menjadi sikap untuk belajar dan menghasilkan hal positif dari apa yang kita pelajari dari obyek pemujaan kita tersebut. Memang hal ini rasanya masih terlalu abstrak dan terkesan sangat idealis, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bukan?

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hal apapun yang ada di sekitarnya, termasuk dengan perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini. Bila pemujaan berlebihan rentan memunculkan perilaku yang destruktif, maka sangat mungkin juga menghadirkan sisi yang konstruktif. Perasaan yang berlebihan ini memang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat diakali. Pada akhirnya menjadi seorang pemuja, pengikut, atau peniru sekalipun dapat dialihkan untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

_worship-as-a-lifestyle

MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….

Ketika Agama “Mengganggu” Pikiran Saya

religion

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali hal yang terjadi di Indonesia dan cukup menjadi “pengganggu” pikiran saya. Isu yang sering dibicarakan dan menjadi topik permasalahan di banyak level masyarakat adalah agama. Entah kenapa, saya merasa Indonesia begitu lekat sekali dengan urusan religiusitas ini. Banyak pihak yang menganggap agama merupakan dasar penting dari setiap perilaku dan sikap manusia dalam kehidupan sehingga layak untuk dibela dengan segenap jiwa dan raga, sebagian lagi menganggap bahwa agama merupakan KEBENARAN hakiki yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kata lain agama tidak bisa salah. Selanjutnya, agama pun dapat “berkolaborasi” dengan banyak isu lain di masyarakat. Sebut saja Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan Keamanan dan Pertahanan. Luar biasa!

Agama seolah sudah menjadi “panglima”, tidak saja bagi pribadi namun juga kelompok, golongan, bahkan dalam bernegara. Saya akui, dalam Pancasila Ketuhanan menjadi sila atau prisip pertama yang disebutkan, tapi itu bukan agama. Sekali lagi, ITU BUKAN AGAMA! Bagi saya, agama akan lebih indah bila berdiri di lingkup Kemanusiaan dan bukan sekedar Doktrinasi. Jadi, tidak elok bila ada PEMAKSAAN (dalam bentuk apapun itu) terhadap individu lainnya untuk melakukan apa yang sudah menjadi doktrin agama. Terlebih, bila alasan yang digunakan adalah tidak ingin melihat manusia lainnya “tersesat” dalam dosa. Haloooooo, siapa kita hingga mampu menghakimi manusia lainnya?.

80359871_thumbnail

Untuk sebagian kelompok, agama mungkin menjadi pedoman atas kehidupan yang dijalani, bahkan mengatur seluruh unsur kehidupannya dari lahir hingga mati, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan dari urusan memilih jodoh hingga buang air. Saya paham fungsi agama sebagai aturan, namun saya juga memahami bahwa agama bersifat pribadi (ini mungkin pengetahuan saya yang masih sangat rendah) sehingga tidak dapat memberlakukan pemaksaan yang agama lakukan terhadap diri kepada individu di luar diri kita. Kalau bagi saya, secara pribadi melakukan ajaran agama saja sudah sangat sulit, apalagi ditambahkan pribadi lain untuk kita atur secara agamawi juga.

Ada hal yang lebih gila, ketika berbagai kepentingan lain sudah dibumbui oleh agama sehingga level kesucian dan keharusannya menjadi sama dengan agama (bagi kaum “Religion Fans Club”). Agak sulit bagi saya ketika harus menjalankan perintah agama dalam perihal Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, maupun Keamanan di tataran masyarakat yang heterogen dengan keragaman yang luar biasa. Sulit karena setiap orang tidak memiliki sistem nilai dan keyakinan yang sama, namun dalam hal agama semuanya harus seragam. Bagi saya, hal ini sangat membingungkan dan berindikasi menimbulkan “korsleting” dalam perasaan dan pikiran.

Sebagai contoh yang sering saya perhatikan di Indonesia, (mohon maaf kalau saya ambil contoh ini, karena menurut saya ini yang cukup sederhana untuk dijadikan contoh) saat Umat Muslim berpuasa ada sebagian kelompok (INGAT! ini sebagian kelompok, artinya bukan keseluruhan) yang menuntut seluruh restoran tidak boleh buka dengan dalih menghormati mereka yang puasa, padahal tidak semua orang berpuasa. Bagaimana bisa “memaksa” orang yang tidak berpuasa untuk tidak makan di restoran ketika bulan puasa?. Mungkin hal ini bisa diterapkan di negara yang memakai landasan agama seperti Arab saudi, tetapi INDONESIA bukanlah negara agama. Saya yakin, jika restoran pun buka pada saat puasa, umat non-Muslim juga tidak akan dengan sengaja makan di depan Umat Muslim yang sedang berpuasa apalagi sampai melecehkan keteguhan mereka yang berpuasa.

parliament-religion-cc-ryan-hyde

Bagi sebagian masyarakat, agama mungkin sudah benar-benar berada pada puncak rantai aturan dalam kehidupannya, melebihi hukum sipil yang berlaku seperti undang-undang atau bahkan Ideologi Bangsa seperti Pancasila. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat lain seperti halnya saya, agama sudah tidak menjadi hal yang “super” lagi. Keberadaan agama bagi saya sudah berhenti HANYA pada level CARA saja dan tidak lebih, sehingga tidak perlu dibela mati-matian. Bila agama yang saya anut saat ini diolok-olok sampai level terendahnya, saya tidak akan marah karena itu hanya cara saja. Hal ini seperti kita naik Bus menuju satu tempat dan di tengah jalan mendapat hinaan dari sebagian orang yang naik mobil mewah dengan tujuan yang sama.

Sebenarnya tidak ada masalah bila seseorang memperbincangkan atau bahkan berdebat mengenai perbedaan agama, ini sah-sah saja selama tidak bertujan untuk menghina dan merasa agamanya lebih baik daripada lawan bicaranya. Ingat, (bagi yang percaya keberadaan Surga-Neraka) bahwa yang berhak memutuskan siapa yang berdosa, masuk neraka, dan siapa yang masuk surga adalah Tuhan Penguasa Semesta itu sendiri, bukan kita!. Nah, yang menjadi masalah berbahaya adalah ketika kita merasa sudah paham benar mengenai agama yang kita anut dan merasa BERHAK untuk MENGHAKIMI manusia lainnya atas setiap kesalahan yang sudah dibuatnya. Lebih daripada itu, mungkin kita merasa bahwa kita LEBIH SUCI dari manusia lain. Saudaraku, siapakah kita sehingga kita berhak untuk MENGHAKIMI sesama kita manusia?

evolution-of-religion-1

Agama seharusnya menghantarkan orang menjadi lebih baik lagi dan bukan sebaliknya. Agama adalah CARA manusia untuk mempelajari, memahami, dan menjalani Kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta. Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita semua untuk menonton satu film layar lebar buatan India yang berjudul PK. Tidak perlu saya ceritakan resensinya, namun saya ingin memparafrasekan bagian dialog dalam salah satu adegan film tersebut…Dalam kehidupan di dunia, saya pikir Tuhan itu hanya satu. Ternyata ada 2 Tuhan, pertama Tuhan yang memang menciptakan manusia. Kedua, tuhan yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dari 2 sosok Tuhan ini, seharusnya manusia tahu mana Tuhan yang sejati.

Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dan bagian kegelisahan yang saya alami. Maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam damai, untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

phosphone I jakarta I 2017

religion

Movie review: Arrival

arrival_hk

“Bahasa adalah dasar dari sebuah peradaban…”.

Kalimat ini menjadi perhatian khusus bagi saya ketika pertama menyaksikan film Arrival. Kalimat tersebut diceritakan muncul dalam sebuah pembuka yang digunakan oleh Dr. Louise Banks (Amy Adams) pada pidatonya sebagai seorang ahli bahasa. Sekilas, kalimat ini seperti biasa saja muncul dalam dialog antara karakter Dr. Louise Banks dan Ian Donnely (Jeremy renner), padahal kalimat ini bagi saya merupakan satu clue penting untuk memahami makna yang terkandung dalam film ini.

Awalnya saya pikir film yang diangkat dari sebuah cerita pendek berjudul “Story of Your Life” karya Ted Chiang ini sebagai film sci-fi biasa yang mengikutsertakan alien dalam alur ceritanya. Namun, saya semakin tertarik untuk menyaksikan film ini ketika seorang teman merekomendasikan bahwa film ini sangat menarik dan mempunyai makna penting di balik ceritanya. Mengetahui hal ini, saya pun bergebas mencari waktu untuk menyaksikan Arrival. Saya tidak akan bercerita tentang sinopsis Arrival, tetapi saya akan lebih berbagi tentang kesan yang saya dapatkan setelah menyaksikannya dan merenungkan makna di film tersebut.

Bila kita melihat pada keberadaan bahasa dalam kehidupan, saya yakin banyak diantara kita yang setuju bila saya katakan bahasa memiliki peran yang sangat penting di dalam evolusi kehidupan manusia. Bahasa manusia begitu berkembang dari masa ke masa seturut perkembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Bahasa menjadi unsur penting dalam komunikasi yang mampu menyampaikan makna maupun menjadi makna itu sendiri. Bahkan setelah menyaksikan Arrival, saya menyadari bahwa bahasa lahir dari pola pikir manusia dan sanggup mempengaruhi pola pikir manusia yang mungkin baru mempelajari satu bahasa tertentu.

arrival-language-2jpeg

Film Arrival menceritakan tentang sistem pola bahasa Alien yang tidak terpengaruh unsur waktu (non-linear) seperti layaknya bahasa manusia yang linear. Bahasa yang tampak seperti lingkaran dengan pola acak ternyata memiliki makna yang pada akhirnya dapat dimengerti oleh Dr. Louise dan Ian. Mereka (Louise dan Ian) terus mempelajari pola ini hingga akhirnya dapat berkomunikasi dengan sang Alien tersebut. Hebatnya, lebih dari sekedar belajar, Dr. Louise bahkan mampu mengetahui pola pikir Alien dan maksud kedatangan mereka di beberapa titik dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari “kerendahan’ hati Dr. Louise untuk berusaha memahami tanpa mengambil kesimpulan lebih jauh tentang maksud kedatangan para Alien tersebut.

Sikap “ke-rendah hati-an” Dr. Louise untuk tidak cepat mengambil kesimpulan ini seharusnya dimiliki oleh kita (manusia dalam kehidupan nyata) saat berusaha menafsirkan tentang suatu hal atau berkomunikasi dengan sesama manusia. Sebaliknya, film Arrival justru menampilkan sebuah realita dimana manusia secara umum digambarkan sebagai makhluk hidup yang paranoid, penuh kecurigaan, dan cenderung bersikap agresif terhadap sesuatu yang baru dan asing seperti para Alien tersebut. Akhirnya saya pun berpikir, bukankah memang itu penggambaran yang benar atas sikap umat manusia di seluruh dunia belakangan ini?.

Seluruh penjuru dunia tampak digambarkan begitu ketakutan terhadap kedatangan para Alien dan berencana segera menyerang lebih dulu sebelum para Alien menyerang, begitulah prediksi strategi yang diceritakan dalam film. Pesan yang disampaikan oleh Alien ditafsirkan secara negatif oleh manusia, tanpa adanya konfirmasi atas pemahaman yang sebenarnya. Padahal, manusia juga baru saja belajar mengenai bahasa yang digunakan oleh para Alien. Satu kata weapon (senjata) dari Alien langsung diartikan oleh manusia sebagai tujuan menginvasi bumi dan segala isinya. Miskomunikasi terjadi!. Padahal, senjata yang dimaksud adalah bahasa dan makna dalam kata-kata itu sendiri. Para Alien ingin membantu manusia untuk bersatu dan suatu saat pada masanya (menurut film sekitar 3000 tahun mendatang) nanti para Alien pun membutuhkan bantuan manusia.

11arrivaljp1-master675

Miskomunikasi ini menjadi satu perenungan lain ketika saya menyaksikan film ini. Proses komunikasi tidak berjalan baik antara manusia dan para Alien. Sikap paranoid dan agresif sudah membutakan manusia sehingga berburuk sangka terhadap sesuatu yang asing dan baru. Hal ini seringkali terjadi dalam level tradisi dan budaya, ketika tidak sesuai dengan budaya yang sudah mengakar lama dalam sebuah komunitas, kita bisa saja ditolak dan mengalami gagal komunikasi dalam komunitas tersebut. Sayangnya, sikap penolakan ini seringkali dilakukan secara agresif tanpa adanya upaya memahami dan mempertimbangkan berbagai nilai positif yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini pun terus berulang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak hanya budaya, semua produk yang muncul dari pola pikir manusia seperti agama dan karakter bangsa pun mengalami hal yang serupa.

Film Arrival adalah film luar biasa bagi saya untuk membuka tahun baru 2017 ini dengan berbagai resolusinya. Perubahan pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dapat menjadi dasar kemajuan peradaban manusia. Bahasa menjadi satu pengantar penting dalam proses evolusi peradaban ini, dan menurut saya proses ini akan berlangsung selama makhluk hidup “berkeliaran” di alam semesta. Sikap menghakimi dan merasa paling benar akan selalu ada di benak para manusia, ini tidak dapat dihilangkan paksa karena sudah menjadi sebuah karakter manusia di abad ini. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai bagian dari peradaban manusia abad ini mulai membuka diri terhadap berbagai misteri alam semesta yang belum terungkap dan menggunakan bahasa untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

mv5bmty1nzk4odc5ov5bml5banbnxkftztgwmja0ndq1mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

phosphone I arrival I moviereview I 2017