LEBIH KURANG … CINTA

Heartruct

Bicara cinta, ternyata punya banyak sudut pandang untuk jadi titik mulanya. Cinta emang udah jadi bahasan ciamik sejak kehidupan di alam semesta ini dimulai. Dalam keseharian pun cinta bisa jadi materi sekaligus unsur metafisika mulai manusia bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi. Inilah sebabnya, nggak heran kalau cinta jadi topik yang super multi-dimensi dengan luas luar biasa.

Tapi, kali ini gw tertarik untuk cerita satu sudut pandang cinta yang terlintas begitu aja karena terinspirasi bumbu makanan. Gw kepikiran soal bumbu makanan semacam garam, lada, pala, cengkeh, dan lain sebagainya. Bumbu adalah komponen penting saat kita memasak makanan. Memang sangat penting, tapi ada hal yang lebih penting yaitu takaran. Senikmat apapun bumbu ini, nggak akan jadi sesuatu yang enak kalau diterapkan tidak sesuai takaran yang seharusnya. Makanan bisa aja jadi kurang asin, hambar, atau justru lebih pahit, lebih asam, bahkan terasa sangat pedas jika bumbu pendukungnya nggak sesuai dengan ukuran yang disarankan dalam resepnya.

Nah, begitu juga cinta yang gw analogikan kayak semacam makanan lengkap dengan penyajian dan manfaatnya yang mengenyangkan. Bedanya, kalau makanan jadi manfaat untuk fisik tapi cinta lebih berguna untuk jiwa. Balik ke topik tentang ketidaksesuaian takaran, layaknya bumbu makanan, cinta pun berdampak langsung ke masalah “rasa” di jiwa kalau kita terapkan tidak berdasarkan takaran yang seharusnya. Kekurangan cinta itu jelas punya dampak buruk untuk kehidupan, tapi kita juga nggak bisa ngelak kalo fakta kebanyakan cinta juga berdampak negatif untuk hidup kita.

Gw udah ngalamin kedua keadaan, baik itu kekurangan maupun kelebihan cinta, makanya gw berani untuk nulis tentang ini. Sekarang gw coba untuk cerita satu-satu. Pertama soal kekurangan cinta, sebagai manusia normal yang punya kehidupan normal seharusnya kita semua sepakat soal kekurangan cinta bisa berdampak buruk untuk kehidupan. Gw pernah mengalami perasaan hambar karena trauma sama yang namanya cinta, apalagi ditambah depresi soal keuangan dan pekerjaan. Kondisi ini sebenarnya lumrah dialami oleh manusia mana pun, tapi yang mau gw sorotin di sini adalah dampaknya. Jangankan kehilangan selera makan, lebih buruk lagi kondisi ini bisa bikin kita nggak peka sama hidup kita sebagai manusia. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dan terlintas di benak gw saat ini adalah resiko bunuh diri. Bukan sekedar khayalan, tapi situasi buruk ini udah banyak terjadi dalam kehidupan manusia seperti para eksekutif muda yang memutuskan bunuh diri di Jepang atau para pengikut aliran kebatinan tertentu di Amerika Serikat yang akhirnya sepakat untuk mati bersama demi “penebusan”. Miris. Jelas para korban ini sudah sangat kekurangan rasa cinta, terutama pada diri mereka sendiri. Untunglah yang pernah gw alami belum dan masih sangat jauh dari tahap mengenaskan ini. Jadi, kita sepakat kan kalau kekurangan cinta berakibat buruk untuk kehidupan manusia?

Sebaliknya, soal kelebihan cinta pun udah pernah gw alamin. Kalian pernah dengar istilah cinta buta kan? Ya, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mencintai sesuatu bahkan tanpa menggunakan sedikit pun logika. Sebagai manusia yang lebih sering didominasi perasaan ketimbang logika, gw juga sering “terjebak” dalam situasi ini. Hal sederhana yang sering gw alamin adalah ketika ada temen gw yang utang duit ke gw. Namanya juga utang, uang itu jelas milik gw dan gw berhak untuk nagih utang itu sesuai waktu utang yang disepakati di awal. Tapi, karena rasa “cinta” berlebihan yang gw punya, ketika teman gw nggak nepatin janjinya untuk bayar utang itu, gw cuma bisa bilang oke sambil diikutin kata “ya udah entar aja”. Lebih parah lagi, kalau udah berbulan-bulan bahkan tahunan nggak ada itikad baik untuk bayar dari teman gw, utang ini pun punya kemungkinan untuk gw lupakan. Baik? Nggak, negatifnya beberapa waktu kemudian gw inget soal utang yang menahun ini dan penyesalan pun terjadi, bahkan berakhir dengan gw yang menyalahkan diri gw sendiri.

Mungkin contoh di paragraf atas masih kurang pas untuk menggambarkan soal cinta buta. Baiklah, kalo gitu pakai cerita gw yang berikut ini. Gw pernah suka sama cewek, bisa dikatakan dia ini idaman gw banget sampai bikin gw tergila-gila. Singkat cerita, gw berhasil “merebut” hatinya dan gw jadian sama cewek ini. Beberapa bulan berjalan, hati kecil gw mulai berbisik kalau ada beberapa karakter cewek ini yang nggak sesuai dengan pribadi gw. Jiwa gw dasarnya adalah kebebasan, tapi cewek ini mulai nunjukkin gejala-gejala maksa gw untuk nggak jadi diri gw sendiri. Dia mulai atur kehidupan gw dengan berbagai larangan dan kalao gw melanggar sikap “ngambek” ala cewek-cewek jaman sekarang pun harus siap gw hadapi. Jelas sebenarnya gw sangat nggak nyaman dengan kondisi ini. Tapi, apa boleh buat, karena rasa cinta yang begitu mendalam, gw pun meng-eliminir ketidaknyamanan ini dan mulai berkompromi dengan segala tuntutan sang cewek. Bahkan, gw rela untuk menjadi sosok lain yang sangat bertolak belakang dengan diri gw sebenarnya. Nah, hal yang membuat situasi ini terjadi adalah rasa kelebihan cinta di hati gw. Gw merasa dia harus dapat lebih dari gw tanpa berpikir tentang apa kebutuhan diri gw sendiri. Apa ini baik? Dulu gw jawab iya, tapi sekarang dengan tegas gw katakan NGGAK!. Suatu saat, andai kondisi tadi terus bertahan, apalagi terbawa dalam pernikahan, jiwa gw lambat laun akan berontak. Secara psikis ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti botol soda yang dikocok-kocok dan akhirnya nggak mampu menahan luapan gas di dalam botolnya. Hal ini cukup membahayakan, apalagi kalau sudah ada anak-anak dalam pernikahan itu.

Ya mudah-mudahan kalian yang baca tulisan gw ini bisa mengerti maksud gw tentang kekurangan dan kelebihan cinta dari pengalaman yang pernah gw alamin ini. Memang kelebihan dan kekurangan cinta adalah hal yang sangat bertolak belakang, tapi dalam jumlah yang berlebihan keduanya bisa berdampak negatif untuk kehidupan kita. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan kelebihan dan kekurangan ini yang juga bisa terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang.

Heart

Sekarang contoh yang mau gw ambil soal kurangnya rasa cinta sekaligus kelebihan cinta yang terjadi bersamaan agak sensitif nih. Gw ambil contoh teroris yang melancarkan aksi terornya karena rasa cintanya yang berlebihan pada keyakinannya. Kondisi ini udah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Tanpa merujuk pada keyakinan tertentu, sang teroris ini udah jelas menyakiti manusia lainnya dan ini bisa diartikan dirinya kekurangan rasa cinta. Pada sisi lain, teroris ini menjalankan aksi terornya karena rasa cinta berlebihan ke keyakinan yang dianutnya. Biasanya situasi ini terjadi karena kesalahan pemahaman sang teroris terhadap ajaran keyakinan yang dianutnya. Jelas, akibatnya udah bisa kita lihat dari banyaknya korban manusia yang sama sekali nggak tahu menahu soal masalah yang dihadapi si teroris. Sangat Buruk!.

Akhirnya, gw berkesimpulan bahwa cinta yang terjadi dalam kondisi extreme (entah itu berkekurangan atau berlebihan) sama-sama menghasilkan dampak yang buruk untuk kehidupan. Nah, supaya ini nggak terjadi, sama seperti analogi masakan gw di awal tulisan, kita perlu paham dan menuruti takaran yang sudah ada resepnya. Dalam hal cinta di kehidupan, resep atau takaran itu bisa kita pelajari dalam keseharian, hukum dan norma-norma umum yang berlaku. Intinya, kalau sampai muncul pihak yang dirugikan karena cinta yang kita miliki, berarti ada yang salah dengan perasaan cinta kita tersebut. Entah kelebihan atau kekurangan cinta, yang jelas harus segera kita sadari dan perbaiki supaya tidak semakin parah dan memunculkan korban lainnya. Cinta itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi, yaitu takaran.

 

So, mulai saat ini, BERCINTALAH DENGAN LEBIH BIJAK DAN CERDAS!

s337279986784189516_p130_i1_w1618

Advertisements

PEMUJA SEKALIGUS PEMBELAJAR

1

Berawal dari mengidolakan seseorang, entah karena karyanya, sikapnya, pemikiran, atau sekedar gayanya, manusia bisa saling terikat dan saling memuja satu dengan lainnya. Fenomena wajar yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia ini dapat menjadi titik awal untuk pilihan sikap selanjutnya. Menjadi sekedar pemuja, pengikut atau bahkan peniru menjadi sebuah preferensi sikap bagi kita terhadap siapapun yang menjadi idola.

Masalahnya dalam prinsip hidup yang saya yakini, sesuatu yang berlebihan tidak akan menghasilkan hal yang proporsional dalam kebaikan. Begitu juga sikap pemujaan terhadap sesuatu secara berlebihan pun tidak menjamin mendatangkan hal positif, sekalipun sesuatu tersebut adalah keyakinan spiritual atau konsep ketuhanan. Dalam hal pemujaan terhadap manusia yang dianggap idola oleh manusia lain, kerentanan akan hal-hal negatif pun tidak dapat dihindari.

Mungkin manusia memang mempunyai “desain” psikologis untuk menyukai apapun yang ada dalam kehidupannya, namun bila dilakukan secara berlebihan tentu justru akan mendatangkan hal buruk layaknya makan dalam jumlah berlebihan dan akhirnya muntah karena terlalu kenyang. Hal ini belum termasuk dampak bila pribadi yang diidolakan ternyata tidak se-sempurna harapan mereka yang mengidolakan.

Sebenarnya sudah banyak hal sederhana untuk mencontohkan sikap memuja berlebihan ini. Banyak sekali kasus yang terjadi pada pribadi yang diidolakan secara berlebihan seperti Michael Jackson, Britney Spears, atau Taylor Swift yang harus merasakan ancaman dari para fans setia mereka di atas panggung. Bahkan tidak sedikit yang harus berakhir kematian di tangan pemuja mereka seperti John Lennon atau Mahatma Ghandi. Bila kita ingat, kasus video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya di Indonesia beberapa waktu lampau pun memunculkan para fans “sakit hati” yang tidak sedikit dan berakhir dengan caci maki mereka terhadap sang idola. Semua kebencian bahkan pembunuhan yang lahir dari perasaan sakit hati akibat “terlalu” memuja ini tampaknya lebih parah daripada sekedar kebencian biasa.

Hal ini menjadi semakin buruk bila tingkat pemujaan sudah menjadi hasrat untuk mengikuti bahkan meniru sang idola. Bayangkan apa yang terjadi bila idola mereka menyakiti harapan yang telah mereka bentuk sejak awal. Saya pikir dampaknya akan lebih mengerikan daripada ketika seseorang kehilangan barang karena dirampok di jalan.

29378829d91b8d04d92faf78c58f3a95

Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Lalu, bagaimana mengatasi perasaan suka atau cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang begitu berlebih?”. Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi saya karena perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan atau diabaikan. Manusia memang memiliki kecenderungan ini dalam psikologis yang tertanam dalam setiap sel tubuh serta jiwa kita.

Mungkin saya belum dapat jawaban yang tepat atas pertanyaan di benak saya tersebut, namun muncul beberapa ide dalam pikiran saya. Salah satu yang muncul dan berulang-ulang hadir dalam alam pemikiran saya adalah mengubah energi suka tersebut menjadi sikap untuk belajar dan menghasilkan hal positif dari apa yang kita pelajari dari obyek pemujaan kita tersebut. Memang hal ini rasanya masih terlalu abstrak dan terkesan sangat idealis, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bukan?

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hal apapun yang ada di sekitarnya, termasuk dengan perasaan suka atau cinta yang berlebihan ini. Bila pemujaan berlebihan rentan memunculkan perilaku yang destruktif, maka sangat mungkin juga menghadirkan sisi yang konstruktif. Perasaan yang berlebihan ini memang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat diakali. Pada akhirnya menjadi seorang pemuja, pengikut, atau peniru sekalipun dapat dialihkan untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

_worship-as-a-lifestyle

MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….

Ketika Agama “Mengganggu” Pikiran Saya

religion

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali hal yang terjadi di Indonesia dan cukup menjadi “pengganggu” pikiran saya. Isu yang sering dibicarakan dan menjadi topik permasalahan di banyak level masyarakat adalah agama. Entah kenapa, saya merasa Indonesia begitu lekat sekali dengan urusan religiusitas ini. Banyak pihak yang menganggap agama merupakan dasar penting dari setiap perilaku dan sikap manusia dalam kehidupan sehingga layak untuk dibela dengan segenap jiwa dan raga, sebagian lagi menganggap bahwa agama merupakan KEBENARAN hakiki yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kata lain agama tidak bisa salah. Selanjutnya, agama pun dapat “berkolaborasi” dengan banyak isu lain di masyarakat. Sebut saja Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan Keamanan dan Pertahanan. Luar biasa!

Agama seolah sudah menjadi “panglima”, tidak saja bagi pribadi namun juga kelompok, golongan, bahkan dalam bernegara. Saya akui, dalam Pancasila Ketuhanan menjadi sila atau prisip pertama yang disebutkan, tapi itu bukan agama. Sekali lagi, ITU BUKAN AGAMA! Bagi saya, agama akan lebih indah bila berdiri di lingkup Kemanusiaan dan bukan sekedar Doktrinasi. Jadi, tidak elok bila ada PEMAKSAAN (dalam bentuk apapun itu) terhadap individu lainnya untuk melakukan apa yang sudah menjadi doktrin agama. Terlebih, bila alasan yang digunakan adalah tidak ingin melihat manusia lainnya “tersesat” dalam dosa. Haloooooo, siapa kita hingga mampu menghakimi manusia lainnya?.

80359871_thumbnail

Untuk sebagian kelompok, agama mungkin menjadi pedoman atas kehidupan yang dijalani, bahkan mengatur seluruh unsur kehidupannya dari lahir hingga mati, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan dari urusan memilih jodoh hingga buang air. Saya paham fungsi agama sebagai aturan, namun saya juga memahami bahwa agama bersifat pribadi (ini mungkin pengetahuan saya yang masih sangat rendah) sehingga tidak dapat memberlakukan pemaksaan yang agama lakukan terhadap diri kepada individu di luar diri kita. Kalau bagi saya, secara pribadi melakukan ajaran agama saja sudah sangat sulit, apalagi ditambahkan pribadi lain untuk kita atur secara agamawi juga.

Ada hal yang lebih gila, ketika berbagai kepentingan lain sudah dibumbui oleh agama sehingga level kesucian dan keharusannya menjadi sama dengan agama (bagi kaum “Religion Fans Club”). Agak sulit bagi saya ketika harus menjalankan perintah agama dalam perihal Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, maupun Keamanan di tataran masyarakat yang heterogen dengan keragaman yang luar biasa. Sulit karena setiap orang tidak memiliki sistem nilai dan keyakinan yang sama, namun dalam hal agama semuanya harus seragam. Bagi saya, hal ini sangat membingungkan dan berindikasi menimbulkan “korsleting” dalam perasaan dan pikiran.

Sebagai contoh yang sering saya perhatikan di Indonesia, (mohon maaf kalau saya ambil contoh ini, karena menurut saya ini yang cukup sederhana untuk dijadikan contoh) saat Umat Muslim berpuasa ada sebagian kelompok (INGAT! ini sebagian kelompok, artinya bukan keseluruhan) yang menuntut seluruh restoran tidak boleh buka dengan dalih menghormati mereka yang puasa, padahal tidak semua orang berpuasa. Bagaimana bisa “memaksa” orang yang tidak berpuasa untuk tidak makan di restoran ketika bulan puasa?. Mungkin hal ini bisa diterapkan di negara yang memakai landasan agama seperti Arab saudi, tetapi INDONESIA bukanlah negara agama. Saya yakin, jika restoran pun buka pada saat puasa, umat non-Muslim juga tidak akan dengan sengaja makan di depan Umat Muslim yang sedang berpuasa apalagi sampai melecehkan keteguhan mereka yang berpuasa.

parliament-religion-cc-ryan-hyde

Bagi sebagian masyarakat, agama mungkin sudah benar-benar berada pada puncak rantai aturan dalam kehidupannya, melebihi hukum sipil yang berlaku seperti undang-undang atau bahkan Ideologi Bangsa seperti Pancasila. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat lain seperti halnya saya, agama sudah tidak menjadi hal yang “super” lagi. Keberadaan agama bagi saya sudah berhenti HANYA pada level CARA saja dan tidak lebih, sehingga tidak perlu dibela mati-matian. Bila agama yang saya anut saat ini diolok-olok sampai level terendahnya, saya tidak akan marah karena itu hanya cara saja. Hal ini seperti kita naik Bus menuju satu tempat dan di tengah jalan mendapat hinaan dari sebagian orang yang naik mobil mewah dengan tujuan yang sama.

Sebenarnya tidak ada masalah bila seseorang memperbincangkan atau bahkan berdebat mengenai perbedaan agama, ini sah-sah saja selama tidak bertujan untuk menghina dan merasa agamanya lebih baik daripada lawan bicaranya. Ingat, (bagi yang percaya keberadaan Surga-Neraka) bahwa yang berhak memutuskan siapa yang berdosa, masuk neraka, dan siapa yang masuk surga adalah Tuhan Penguasa Semesta itu sendiri, bukan kita!. Nah, yang menjadi masalah berbahaya adalah ketika kita merasa sudah paham benar mengenai agama yang kita anut dan merasa BERHAK untuk MENGHAKIMI manusia lainnya atas setiap kesalahan yang sudah dibuatnya. Lebih daripada itu, mungkin kita merasa bahwa kita LEBIH SUCI dari manusia lain. Saudaraku, siapakah kita sehingga kita berhak untuk MENGHAKIMI sesama kita manusia?

evolution-of-religion-1

Agama seharusnya menghantarkan orang menjadi lebih baik lagi dan bukan sebaliknya. Agama adalah CARA manusia untuk mempelajari, memahami, dan menjalani Kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta. Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita semua untuk menonton satu film layar lebar buatan India yang berjudul PK. Tidak perlu saya ceritakan resensinya, namun saya ingin memparafrasekan bagian dialog dalam salah satu adegan film tersebut…Dalam kehidupan di dunia, saya pikir Tuhan itu hanya satu. Ternyata ada 2 Tuhan, pertama Tuhan yang memang menciptakan manusia. Kedua, tuhan yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dari 2 sosok Tuhan ini, seharusnya manusia tahu mana Tuhan yang sejati.

Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dan bagian kegelisahan yang saya alami. Maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam damai, untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

phosphone I jakarta I 2017

religion

Movie review: Arrival

arrival_hk

“Bahasa adalah dasar dari sebuah peradaban…”.

Kalimat ini menjadi perhatian khusus bagi saya ketika pertama menyaksikan film Arrival. Kalimat tersebut diceritakan muncul dalam sebuah pembuka yang digunakan oleh Dr. Louise Banks (Amy Adams) pada pidatonya sebagai seorang ahli bahasa. Sekilas, kalimat ini seperti biasa saja muncul dalam dialog antara karakter Dr. Louise Banks dan Ian Donnely (Jeremy renner), padahal kalimat ini bagi saya merupakan satu clue penting untuk memahami makna yang terkandung dalam film ini.

Awalnya saya pikir film yang diangkat dari sebuah cerita pendek berjudul “Story of Your Life” karya Ted Chiang ini sebagai film sci-fi biasa yang mengikutsertakan alien dalam alur ceritanya. Namun, saya semakin tertarik untuk menyaksikan film ini ketika seorang teman merekomendasikan bahwa film ini sangat menarik dan mempunyai makna penting di balik ceritanya. Mengetahui hal ini, saya pun bergebas mencari waktu untuk menyaksikan Arrival. Saya tidak akan bercerita tentang sinopsis Arrival, tetapi saya akan lebih berbagi tentang kesan yang saya dapatkan setelah menyaksikannya dan merenungkan makna di film tersebut.

Bila kita melihat pada keberadaan bahasa dalam kehidupan, saya yakin banyak diantara kita yang setuju bila saya katakan bahasa memiliki peran yang sangat penting di dalam evolusi kehidupan manusia. Bahasa manusia begitu berkembang dari masa ke masa seturut perkembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Bahasa menjadi unsur penting dalam komunikasi yang mampu menyampaikan makna maupun menjadi makna itu sendiri. Bahkan setelah menyaksikan Arrival, saya menyadari bahwa bahasa lahir dari pola pikir manusia dan sanggup mempengaruhi pola pikir manusia yang mungkin baru mempelajari satu bahasa tertentu.

arrival-language-2jpeg

Film Arrival menceritakan tentang sistem pola bahasa Alien yang tidak terpengaruh unsur waktu (non-linear) seperti layaknya bahasa manusia yang linear. Bahasa yang tampak seperti lingkaran dengan pola acak ternyata memiliki makna yang pada akhirnya dapat dimengerti oleh Dr. Louise dan Ian. Mereka (Louise dan Ian) terus mempelajari pola ini hingga akhirnya dapat berkomunikasi dengan sang Alien tersebut. Hebatnya, lebih dari sekedar belajar, Dr. Louise bahkan mampu mengetahui pola pikir Alien dan maksud kedatangan mereka di beberapa titik dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari “kerendahan’ hati Dr. Louise untuk berusaha memahami tanpa mengambil kesimpulan lebih jauh tentang maksud kedatangan para Alien tersebut.

Sikap “ke-rendah hati-an” Dr. Louise untuk tidak cepat mengambil kesimpulan ini seharusnya dimiliki oleh kita (manusia dalam kehidupan nyata) saat berusaha menafsirkan tentang suatu hal atau berkomunikasi dengan sesama manusia. Sebaliknya, film Arrival justru menampilkan sebuah realita dimana manusia secara umum digambarkan sebagai makhluk hidup yang paranoid, penuh kecurigaan, dan cenderung bersikap agresif terhadap sesuatu yang baru dan asing seperti para Alien tersebut. Akhirnya saya pun berpikir, bukankah memang itu penggambaran yang benar atas sikap umat manusia di seluruh dunia belakangan ini?.

Seluruh penjuru dunia tampak digambarkan begitu ketakutan terhadap kedatangan para Alien dan berencana segera menyerang lebih dulu sebelum para Alien menyerang, begitulah prediksi strategi yang diceritakan dalam film. Pesan yang disampaikan oleh Alien ditafsirkan secara negatif oleh manusia, tanpa adanya konfirmasi atas pemahaman yang sebenarnya. Padahal, manusia juga baru saja belajar mengenai bahasa yang digunakan oleh para Alien. Satu kata weapon (senjata) dari Alien langsung diartikan oleh manusia sebagai tujuan menginvasi bumi dan segala isinya. Miskomunikasi terjadi!. Padahal, senjata yang dimaksud adalah bahasa dan makna dalam kata-kata itu sendiri. Para Alien ingin membantu manusia untuk bersatu dan suatu saat pada masanya (menurut film sekitar 3000 tahun mendatang) nanti para Alien pun membutuhkan bantuan manusia.

11arrivaljp1-master675

Miskomunikasi ini menjadi satu perenungan lain ketika saya menyaksikan film ini. Proses komunikasi tidak berjalan baik antara manusia dan para Alien. Sikap paranoid dan agresif sudah membutakan manusia sehingga berburuk sangka terhadap sesuatu yang asing dan baru. Hal ini seringkali terjadi dalam level tradisi dan budaya, ketika tidak sesuai dengan budaya yang sudah mengakar lama dalam sebuah komunitas, kita bisa saja ditolak dan mengalami gagal komunikasi dalam komunitas tersebut. Sayangnya, sikap penolakan ini seringkali dilakukan secara agresif tanpa adanya upaya memahami dan mempertimbangkan berbagai nilai positif yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini pun terus berulang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak hanya budaya, semua produk yang muncul dari pola pikir manusia seperti agama dan karakter bangsa pun mengalami hal yang serupa.

Film Arrival adalah film luar biasa bagi saya untuk membuka tahun baru 2017 ini dengan berbagai resolusinya. Perubahan pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dapat menjadi dasar kemajuan peradaban manusia. Bahasa menjadi satu pengantar penting dalam proses evolusi peradaban ini, dan menurut saya proses ini akan berlangsung selama makhluk hidup “berkeliaran” di alam semesta. Sikap menghakimi dan merasa paling benar akan selalu ada di benak para manusia, ini tidak dapat dihilangkan paksa karena sudah menjadi sebuah karakter manusia di abad ini. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai bagian dari peradaban manusia abad ini mulai membuka diri terhadap berbagai misteri alam semesta yang belum terungkap dan menggunakan bahasa untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

mv5bmty1nzk4odc5ov5bml5banbnxkftztgwmja0ndq1mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

phosphone I arrival I moviereview I 2017

 

Perikemanusiaan yang Mempersatukan

humanity-unity-27751283455583brsv

Saat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, seseorang dapat menangis karena terharu klub idolanya menang atau sebaliknya sedih karena kalah. Begitu juga saat beribadah, seseorang dapat meneteskan air mata karena kotbah yang begitu menyentuh hati. Tidak jarang rasa sedih pun menghampiri perasaan seseorang ketika menyaksikan pemberitaan tentang makhluk hidup yang dianiyaya. Bahkan dalam pertengkaran antara suami dan istri yang berumah tangga, isak tangis histeris pun seringkali menjadi hasil dari emosi yang memuncak. Perasaan manusia terasa begitu rapuh dan mudah tersentuh, namun apa sebenarnya yang membuat hal ini tidak dapat terlepas dari keseharian hidup manusia?

Manusia dikaruniai sebuah anugerah oleh penciptanya yang berupa perasaan dengan berbagai perangkat nilai kemanusiaan. Hal inilah yang membuat manusia begitu berbeda dengan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Kemanusiaan sudah seperti dasar dari eksistensi keberadaan manusia itu sendiri lebih dari perangkat lain yang mungkin membedakan seseorang dengan orang lainnya. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, perangkat kemanusiaan ini pun seringkali disebut dengan perikemanusiaan.


Manusia juga diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya. Berbagai hal yang dianggap mendasar pun mengiringi evolusi kehidupan manusia di muka bumi. Suku, agama, ras, dan perbedaan golongan ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya pun tidak dapat terhindarkan. Beberapa pandangan pun ada yang menganggap ini sebagai sebuah kekuatan yang memunculkan manusia dalam berbagai “warna” dan keunikan. Namun, sebagian manusia lainnya justru menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah alasan untuk menguasai bahkan menghancurkan kelompok lain yang tidak sama.

1-uohcup42f6h_m0qv2etgaw

Menurut saya, pada titik inilah permasalahan horisontal antara sesama manusia pun dimulai. Sejak awal keberadaan manusia, persaingan sudah ada dan perbedaan pun sudah menjadi masalah serius yang bersifat menghancurkan bahkan mampu menjadi alasan satu pihak membunuh pihak lainnya yang tidak sejalan. Padahal, manusia masih memiliki sebuah perangkat yang disebut perikemanusiaan (seperti dibahas di awal) sebagai perangkat yang membuat manusia bernilai lebih dibandingkan hewan atau tumbuhan. Dengan pola berpikir ini, saya sangat setuju bahwa perikemanusiaan seharusnya memiliki posisi prioritas lebih tinggi dari perangkat nilai manusia yang lain, terutama yang bersifat membedakan seperti suku, agama, ras, dan antar golongan.

Mungkin saya bukan ahli dalam bidang filsafat pemikiran seperti ini, namun saya belajar dari apa yang saya alami dan saksikan lewat kehidupan ini. Sudah banyak pengalaman buruk menimpa kehidupan manusia ketika menonjolkan berbagai nilai yang hanya bersifat membedakan. Bila tidak lupa, prioritas dan kesombongan akan nilai agama telah menciptakan perang salib dan konflik timur tengah yang terus terjadi hingga saat ini. Memang agama bukan masalahnya, tapi kesombongan dan cinta buta akan agama itulah yang akhirnya membuat manusia seolah lupa akan peri kemanusiaan yang menjadi esensi keberadaan manusia. Contoh lainnya, sikap mengunggulkan ras tertentu sudah meninggalkan luka yang begitu perih dalam kisah pembantaian Nazi Jerman pada perang dunia ke-2 di masa lalu. Tragedi ini sangat menunjukkan bagaimana situasi yang akan terjadi bila meletakkan ego ras tertentu di atas peri kemanusiaan. Masih banyak contoh lain seperti konflik antar golongan yang meluluh-lantakkan Kota Ambon dan Sampit, Indonesia, atau perang ideologi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia, tragedi pemusnahan Aborigin di Australia dan penolakan etnis Rohingya di Myanmar yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Kesimpulan saya, hal buruk seringkali terjadi justru ketika perikemanusiaan dibiarkan lemah di bawah perangkat nilai manusia yang hanya membenturkan berbagai perbedaan manusia.

This slideshow requires JavaScript.

Berdasarkan pemikiran yang saya miliki ini, maka menurut saya manusia seharusnya menyadari bahwa perikemanusiaan itu adalah sebuah perangkat paling penting yang mengungkap eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa perangkat ini, bagi saya manusia tidak akan “terlihat” seperti manusia sekalipun mungkin memiliki level maksimal dalam berbagai perangkat agama, suku, ras, ataupun golongan tertentu. Namun, sayangnya sifat rakus manusia sudah mempolitisir perikemanusiaan sehingga tidak terasa penting lagi di masa kini.

Manusia abad ini terlihat justru lebih suka menempatkan berbagai nilai yang memperuncing perbedaan antar manusia sebagai prioritas penting dalam hidupnya. Dalam pengamatan saya, kini Tuhan atau Penguasa Alam Semesta seolah tak akan mampu direngkuh tanpa keberadaan agama, sentimen kesukuan sengaja dimunculkan sebagai bentuk loyalitas kelompok yang sangat perlu diperjuangkan, ras tertentu terus merasa lebih unggul dengan mengecilkan makna dari ras lainnya, bahkan konflik antar golongan pun setiap hari dapat kita saksikan mewarnai berbagai media pemberitaan dunia. Dalam benak saya, apa ini yang diharapkan Sang Pencipta manusia dari manusia ciptaanNya?

Akhirnya, saya kembali lagi kepada perikemanusiaan yang sangat penting untuk ditempatkan di atas perangkat nilai lainnya. Perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan bukan berarti tidak penting, namun membahayakan bila diletakkan di atas perikemanusiaan. Perbedaan itu perlu sebagai identitas individu yang memang diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya, namun hal ini perlu dijaga agar tidak menjadi alasan untuk sikap saling menghancurkan antar manusia. Manusia butuh sebuah perangkat yang lebih kuat untuk mempersatukan perbedaan yang ada tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Oleh karena itu, bagi saya perikemanusiaan adalah perangkat nilai yang berfungsi untuk yang mempersatukan.

humanity

God bless humanity.

Wahai Para Pencari Dosa

Wahai para pencari dosa…

Seberapa besarkah hak yang diberi oleh Sang Esa sehingga kalian mampu bertindak sepenuh kehendak? Sesuci apakah hidup kalian sehingga kalian dapat menentukan dosa layaknya Penguasa Semesta? Tak hitamkah jiwa kalian dibandingkan lumpur yang dapat ditanami padi?

Wahai para pencari dosa…

Berteriak lantang layaknya polisi surgawi yang mencari mangsa. Mencari mangsa untuk dibuang dalam neraka yang baka. Neraka yang memanas hantamkan kertak gigi tanpa reda. Mencari dosa tanpa merasa memiliki dosa.

Wahai para pencari dosa…

Peran penjagakah yang kalian jalani, atau hanya sekedar sampah yang hidup dari uang sumpah serapah? Bunuh, bakar, penggal, dan banyak kebencian yang kalian lancarkan. Apa masih kedamaian yang kalian harapkan, atau sebatas perang dalam lingkup derita mengerang?

Wahai para pencari dosa…

Terimakasih karena hadirnya kalian semakin perjelas siapa kawan dan antagonis yang harus kami doakan. Teruslah berkoar hingga langit menghitam dan kehidupan menuju kelam. Hanya dapat berdoa tanpa menghakimi karena aku bukan kalian yang mengaku abdi Tuhan.