Movie Review: Justice League (2017)

Hai guys,

Film Justice League yang ditunggu banyak moviegoers baru aja rilis beberapa hari kemarin. Gimana, udah pada nonton belum? Gw udah, dan sebelum nonton film ini, gw banyak baca review yang isinya lebih banyak kritik ketimbang pujian. Ya, walaupun semua tergantung selera tapi kan semua review itu cukup mewakili suara beberapa konsumen yang udah pada nonton. Nah, review-review yang sebagian besar agak miring ini justru bikin gw makin penasaran untuk nonton film superhero produk DC Comic ini. Ini dia!!!

justice-league-poster

Guys, sebagai pecinta superhero Marvel yang bakal mati-matian belain kualitas film-film kayak Spiderman atau Avenger sekalipun sebenarnya jelek, sepertinya agak berat untuk gw memposisikan diri netral saat nonton film tentang superhero keluaran DC Comic (ya wajar lah, ala2 fanboy). Apalagi, sebelum nonton gw udah terima masukan-masukan miring soal penilaian film Justice League ini. Tapi gw berusaha se-netral mungkin nih dan film kumpul-kumpul para jagoan DC Comic ini pun dimulai.

Dari awal film, gw sebenarnya udah agak kurang sreg dengan opening DC Comic yang menurut gw agak kurang menarik dibandingkan openingnya Marvel. Ekspektasi udah lumayan nambah drop nih, ditambah Sang Batman pun (Ben Affleck) muncul dengan badannya yang lumayan gemuk. Jujur, dari film Batman vs Superman gw agak kurang sreg lihat Batman diperankan sama si Ben Affleck.

t134wuojkpksj98dfdt6

Lanjut lagi, cerita dalam film pun mulai dibangun dan menurut beberapa review yang gw baca, tempo di awal cerita Justice League ini agak lambat dan cukup bertele-tele. Tapi jujur, buat gw fine … masih aman dan gw sama sekali nggak ngantuk nontonnya. Terkait soal review bertele-tele ini, menurut gw sih wajar aja, lha wong banyak tokoh yang baru muncul di layar lebar kayak The Flash, Aquaman, n Cyborg. Jadi, kayaknya wajar kalau si pembuat film berusaha banget ngerangkum latar belakang tiap karakter Justice League dalam balutan adegan ‘n dialognya. Kondisi ini agak beda dengan anggota Avenger yang umumnya lebih banyak yang udah dikenal publik secara parsial kayak Iron Man, Hulk, Thor, maupun Captain America. Guess what, gw masih menikmati film ini bahkan mulai berprasangka positif tentang film ini … hahaha.

Cerita mulai masuk ke konflik yang isinya tentang munculnya satu monster bernama Steppenwolf untuk gabungin 3 “kotak ibu” untuk merubah bumi jadi gersang sesuai planet asalnya doi. Menurut gw agak aneh sih soal kemunculan si monster ini, karena semua anggota Justice League macem Wonder Woman atau Aquaman yang sakti itu kewalahan ngadepinnya. Super power banget kan si Steppenwolf ini?. Nah yang bikin aneh itu, monster kuat parah yang mentalin Batman dengan 1 kali pukulan ini langsung bonyok cuma dengan 1 pukulan Superman yang menawan itu. Ini bagian film Justice League yang menurut gw agak parah. Kalau si Superman emang sekuat itu, ngapain ngumpulin jagoan se-alam semesta capek-capek ‘n ngebikin geng jagoan macem Justice League?

steppenwolf

Walaupun agak nyebelin di bagian jalan cerita, tapi gw apresiasi banget sama hal yang menurut gw jadi pesan utama dari film ini. Dari poster yang dipajang di bioskop-bioskop aja udah jelas kalo film ini ceritanya tentang kebersamaan dan kerjasama (You Can’t Save The World Alone). Kelihatan banget guys, dari awal si Bruce Wayne butuh banget bantuan Alfred, Wonder Woman nyamperin Batman, Flash bantuin Cyborg, ‘n kemunculan Aquaman yang nahan air dari bendungan Gotham. Bahkan, Wonder Woman pun berani mastiin ke Cyborg kalo tim Justice League nggak akan ninggalin Cyborg yang bertugas misahin 3 kotak sakti itu. Oia, pas si Batman mau ngorbanin nyawa masuk ke alam buatannya Steppenwolf dan kewalahan ngadepin monster serangga ala-ala zombie juga akhirnya dibantu sama Aquaman. Satu frasa yang terlintas di kepala gw setelah nonton film ini adalah “No one left behind.” Sadeeeesss!!!

466483_m1500739984

Okay, sekarang beralih ke soal teknis. Tentang teknologi yang dipake sebenarnya gw agak keganggu dengan slow motion yang jadi penggambaran suasana The Flash pas lari kenceng. Sebenarnya sih fine, tapi kalo terus-terusan gitu menurut gw sih agak ganggu. Tapi Visual Effect yang lainnya sih lumayan lah, cuma belum bisa nandingin Avengernya Marvel sih. Nah, ada satu hal yang gw apresiasi lagi nih soal upaya scriptwriter nyelipin joke-joke ala Marvel di tiap dialognya. Apalagi si The Flash emang dimunculkan dengan karakter konyol tengil ala Spiderman. Ini upaya yang cukup menarik, soalnya film-film Superhero DC Comic emang terkenal serius banget dan jarang munculin joke-joke receh di dialognya. Buat gw, kelihatan banget tim produksi Justice League pengen munculin kesan nyantai di karakter superheronya yang kebanyakan emang nggak nyantai. Ini patut diberi acungan jempol sih, soalnya jadi lebih ngehibur.

Wokay, akhirnya secara keseluruhan GW MENIKMATI FILM JUSTICE LEAGUE. Nggak seperti beberapa review yang gw baca sebelum nonton, gw justru menemukan sisi lain Superhero DC COMIC di film ini. Unsur manusiawi kayaknya lebih ditonjolkan untuk membalut pesan kebersamaan antar anggota Justice League. Bahkan, Superman yang selama ini tampil sempurna aja bisa jadi kasar ‘n ngambekan (walaupun nggak lama dan akhirnya baikan lagi). Film ini buat gw cukup menghibur dan banyak hal yang bisa gw apresiasikan, terutama pesan “No one left behind”-nya. Terakhir, dari skala 10, buat gw fil ini layak untuk dapet nilai 8, guys. Gimana, buat yang udah nonton setuju nggak? Kalo yang belum nonton, monggo lho segera nonton! Jujur sebagai Marvel Fanboy, gw sih nunggu episode Justice League selanjutnya.

Justice-League-Success-Future-Dc-Movie-Release-Slate

Advertisements

Movie review: Arrival

arrival_hk

“Bahasa adalah dasar dari sebuah peradaban…”.

Kalimat ini menjadi perhatian khusus bagi saya ketika pertama menyaksikan film Arrival. Kalimat tersebut diceritakan muncul dalam sebuah pembuka yang digunakan oleh Dr. Louise Banks (Amy Adams) pada pidatonya sebagai seorang ahli bahasa. Sekilas, kalimat ini seperti biasa saja muncul dalam dialog antara karakter Dr. Louise Banks dan Ian Donnely (Jeremy renner), padahal kalimat ini bagi saya merupakan satu clue penting untuk memahami makna yang terkandung dalam film ini.

Awalnya saya pikir film yang diangkat dari sebuah cerita pendek berjudul “Story of Your Life” karya Ted Chiang ini sebagai film sci-fi biasa yang mengikutsertakan alien dalam alur ceritanya. Namun, saya semakin tertarik untuk menyaksikan film ini ketika seorang teman merekomendasikan bahwa film ini sangat menarik dan mempunyai makna penting di balik ceritanya. Mengetahui hal ini, saya pun bergebas mencari waktu untuk menyaksikan Arrival. Saya tidak akan bercerita tentang sinopsis Arrival, tetapi saya akan lebih berbagi tentang kesan yang saya dapatkan setelah menyaksikannya dan merenungkan makna di film tersebut.

Bila kita melihat pada keberadaan bahasa dalam kehidupan, saya yakin banyak diantara kita yang setuju bila saya katakan bahasa memiliki peran yang sangat penting di dalam evolusi kehidupan manusia. Bahasa manusia begitu berkembang dari masa ke masa seturut perkembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Bahasa menjadi unsur penting dalam komunikasi yang mampu menyampaikan makna maupun menjadi makna itu sendiri. Bahkan setelah menyaksikan Arrival, saya menyadari bahwa bahasa lahir dari pola pikir manusia dan sanggup mempengaruhi pola pikir manusia yang mungkin baru mempelajari satu bahasa tertentu.

arrival-language-2jpeg

Film Arrival menceritakan tentang sistem pola bahasa Alien yang tidak terpengaruh unsur waktu (non-linear) seperti layaknya bahasa manusia yang linear. Bahasa yang tampak seperti lingkaran dengan pola acak ternyata memiliki makna yang pada akhirnya dapat dimengerti oleh Dr. Louise dan Ian. Mereka (Louise dan Ian) terus mempelajari pola ini hingga akhirnya dapat berkomunikasi dengan sang Alien tersebut. Hebatnya, lebih dari sekedar belajar, Dr. Louise bahkan mampu mengetahui pola pikir Alien dan maksud kedatangan mereka di beberapa titik dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari “kerendahan’ hati Dr. Louise untuk berusaha memahami tanpa mengambil kesimpulan lebih jauh tentang maksud kedatangan para Alien tersebut.

Sikap “ke-rendah hati-an” Dr. Louise untuk tidak cepat mengambil kesimpulan ini seharusnya dimiliki oleh kita (manusia dalam kehidupan nyata) saat berusaha menafsirkan tentang suatu hal atau berkomunikasi dengan sesama manusia. Sebaliknya, film Arrival justru menampilkan sebuah realita dimana manusia secara umum digambarkan sebagai makhluk hidup yang paranoid, penuh kecurigaan, dan cenderung bersikap agresif terhadap sesuatu yang baru dan asing seperti para Alien tersebut. Akhirnya saya pun berpikir, bukankah memang itu penggambaran yang benar atas sikap umat manusia di seluruh dunia belakangan ini?.

Seluruh penjuru dunia tampak digambarkan begitu ketakutan terhadap kedatangan para Alien dan berencana segera menyerang lebih dulu sebelum para Alien menyerang, begitulah prediksi strategi yang diceritakan dalam film. Pesan yang disampaikan oleh Alien ditafsirkan secara negatif oleh manusia, tanpa adanya konfirmasi atas pemahaman yang sebenarnya. Padahal, manusia juga baru saja belajar mengenai bahasa yang digunakan oleh para Alien. Satu kata weapon (senjata) dari Alien langsung diartikan oleh manusia sebagai tujuan menginvasi bumi dan segala isinya. Miskomunikasi terjadi!. Padahal, senjata yang dimaksud adalah bahasa dan makna dalam kata-kata itu sendiri. Para Alien ingin membantu manusia untuk bersatu dan suatu saat pada masanya (menurut film sekitar 3000 tahun mendatang) nanti para Alien pun membutuhkan bantuan manusia.

11arrivaljp1-master675

Miskomunikasi ini menjadi satu perenungan lain ketika saya menyaksikan film ini. Proses komunikasi tidak berjalan baik antara manusia dan para Alien. Sikap paranoid dan agresif sudah membutakan manusia sehingga berburuk sangka terhadap sesuatu yang asing dan baru. Hal ini seringkali terjadi dalam level tradisi dan budaya, ketika tidak sesuai dengan budaya yang sudah mengakar lama dalam sebuah komunitas, kita bisa saja ditolak dan mengalami gagal komunikasi dalam komunitas tersebut. Sayangnya, sikap penolakan ini seringkali dilakukan secara agresif tanpa adanya upaya memahami dan mempertimbangkan berbagai nilai positif yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini pun terus berulang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak hanya budaya, semua produk yang muncul dari pola pikir manusia seperti agama dan karakter bangsa pun mengalami hal yang serupa.

Film Arrival adalah film luar biasa bagi saya untuk membuka tahun baru 2017 ini dengan berbagai resolusinya. Perubahan pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dapat menjadi dasar kemajuan peradaban manusia. Bahasa menjadi satu pengantar penting dalam proses evolusi peradaban ini, dan menurut saya proses ini akan berlangsung selama makhluk hidup “berkeliaran” di alam semesta. Sikap menghakimi dan merasa paling benar akan selalu ada di benak para manusia, ini tidak dapat dihilangkan paksa karena sudah menjadi sebuah karakter manusia di abad ini. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai bagian dari peradaban manusia abad ini mulai membuka diri terhadap berbagai misteri alam semesta yang belum terungkap dan menggunakan bahasa untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

mv5bmty1nzk4odc5ov5bml5banbnxkftztgwmja0ndq1mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

phosphone I arrival I moviereview I 2017

 

Movie Review: Hacksaw Ridge

hacksaw-ridge_20161030_205858

BERPERANG TANPA HARUS MEMBUNUH!!!

Film yang mengangkat kisah-kisah tentang perang memang mempunyai pesonanya sendiri. Ketegangan medan tempur yang terbalut dinamika politik, nasionalisme, bahkan romantisme seringkali menjadi daya tarik unik dari film ber-genre peperangan. Begitu pula kesan yang muncul ketika saya menonton film perang yang bertajuk Hacksaw Ridge. Namun, ekspektasi saya menjadi lebih besar ketika mengetahui bahwa sutradara di balik karya yang diangkat dari biografi kisah nyata ini adalah aktor kawakan Mel Gibson.

hacksaw-ridge

Hacksaw Ridge adalah sebuah lokasi di pesisir Okinawa, Jepang yang menjadi medan pertempuran bagi pasukan sekutu Amerika Serikat melawan pasukan pertahanan Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Tempat ini diangkat menjadi judul film mewakili sebuah kisah luar biasa seorang prajurit muda bernama Desmond Doss yang berjuang di medan perang sebagai dokter lapangan tanpa menggunakan satu senjata pun di tangannya. Prinsip yang ia miliki adalah menyelamatkan mereka yang menjadi korban perang dan bukan membunuh dalam peperangan. Ia tidak mau menggunakan senjata sejak awal masuk dalam pelatihan tentara karena keyakinan religi yang ia pegang dengan teguh.

Awalnya, banyak pihak yang menentang keinginannya karena hampir mustahil bagi seorang tentara untuk berjuang tanpa senjata di tangannya karena dapat membahayakan diri dan pasukan lainnya. Desmond tetap berkeras untuk melanjutkan pelatihannya sebagai persiapan tugas di medan tempur, bahkan ia rela dipenjarakan dan disidang secara militer. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan orang-orang sekitarnya serta perkenanan Sang Kuasa, Desmond akhirnya menjadi prajurit pertama di Amerika Serikat atau bahkan mungkin dunia yang mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan senjata dalam peperangan dan berhasil dikabulkan.

hacksaw1

Puncak dari kisah ini adalah ketika pasukan dimana Desmond Doss berada harus merebut area Hacksaw Ridge dari pertahanan pasukan Jepang. Mereka harus memanjat tebing yang sangat tinggi terlebih dahulu hingga akhirnya berada di medan pertempuran itu. Wilayah tersebut adalah neraka bagi pasukan Amerika Serikat karena pasukan Jepang begitu dahsyat bertempur tanpa henti-hentinya. Pasukan Amerika Serikat pun terpaksa mundur dan kembali menuruni tebing tinggi tersebut. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang dokter tentara Desmond Doss. Ia tinggal paling belakang dan kembali ke medan tempur sendirian tanpa senjata untuk menyelamatkan sisa pasukan yang masih hidup, terluka, dan tidak mampu untuk muncur. Sebuah keajaiban ketika akhirnya ia berhasil menyelamatkan puluhan pasukan yang terluka dan tidak mampu berpindah tempat. Dengan sisa tenaganya, dokter Doss pun menurunkan satu demi satu korban yang masih hidup dari atas tebing Hacksaw Ridge, gilanya semua ia lakukan tanpa satu senjata pun di tangannya.

Kisah heroik inilah yang berusaha ditampilkan oleh Mel Gibson dalam karyanya. Keteguhan hati seorang Desmond Doss untuk pantang menyerah menyelamatkan mereka yang membutuhkan tanpa harus membunuh menjadi poin penting makna yang ingin disampaikan dalam film ini. Bahkan dalam satu scene, Doss juga mengobati luka salah seorang tentara Jepang yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat bersembunyi dari kejaran tentara Jepang lainnya. Hebatnya, semua cerita ini adalah kejadian nyata dan semua tokohnya pun sempat diwawancarai sebagai konfirmasi atas kebenaran cerita ini sendiri.

Secara teknis, film yang disutradarai Mel Gibson tidak pernah saya sangsikan. Setiap detil situasi perang ditampilkan dengan sangat jelas. Alur cerita, dialog, fotografi, bahkan properti seakan melebur menjadi satu kesatuan secara bersama menjelaskan kisah untuk diceritakan. Penggambaran tokoh Desmond Doss pun begitu kuat dan sangat lugas dalam dialognya. Andrew Garfield yang memerankan dokter Doss pun mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Bagi saya, setiap detil di film ini sudah dapat dikatakan mendekati sempurna. Bila diberi skala 10, maka film ini saya beri nilai 9 karena ketiadaan sedikit pun celah teknis untuk dikritisi.

the-real-desmond-t-doss-next-to-andrew-garfield

Kisah dokter Desmond Doss adalah sebuah anomali di tengah situasi yang mengharuskan orang bertempur dengan prinsip “kill or to be killed”. Rasanya hampir tidak mungkin seseorang bertempur tanpa menggunakan senjata untuk membunuh. Namun, Desmond Doss telah membuktikannya dan menjadi sebuah refleksi bagi generasi masa kini yang begitu rentan terhadap kekerasan dan paham untuk saling menghancurkan. Banyak sekali peperangan modern yang seakan “terpaksa” harus dilakukan dengan alasan keamanan, perdamaian, bahkan pembelaan terhadap kebenaran dan korban pun tak terelakkan. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan menusia harus mati sia-sia dan kebencian serta kejahatan pun nyatanya tetap ada. Setelah menyaksikan film ini, saya merasa malu sebagai generasi modern yang harusnya mampu berpikir lebih logis demi kemanusiaan. Melalui film Hacksaw Ridge, kisah seorang Desmond Doss telah mengajarkan saya bagaimana caranya untuk berjuang tanpa harus membunuh atau menyakiti individu lain.

phosphone I hacksawridge I moviereview I 2016

Movie Review: BEN-HUR, Kisah Kasih Yang Mengampuni

ben-hur_poster_goldposter_com_8-jpg0o_0l_800w_80q

Kisah Ben-Hur diawali dengan eratnya persahabatan antara seorang anak bangsawan Yahudi bernama Judah Ben-Hur dengan seorang anak angkat berkebangsaan Romawi bernama Messala Severus. Mereka begitu dekat layaknya saudara kandung yang saling mendukung satu dengan yang lain hingga sulit terpisahkan. Namun ketika mereka beranjak remaja dan memasuki masa pencarian jati diri dalam latar belakang mereka yang memang berbeda, keduanya berpisah dan berusaha menemukan jalan hidupnya masing-masing. Kemudian, dengan latar belakang situasi kota Jerusalem pada abad pertama yang berada di bawah otoritas kerajaan Romawi, kedua saudara angkat ini bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Suasana rindu ternyata tak bertahan lama dan keduanya terlibat dalam sebuah insiden pemberontakan kaum Zelot Yahudi terhadap penguasa Romawi dibawah pemerintahan Pontius Pilatus.

Messala Severus yang saat itu menjabat sebagai seorang Tribun atau Komandan pasukan secara dilematis harus menghadapi Judah Ben-Hur dan keluarga angkatnya demi mempertahankan kesetiaannya kepada Pontius Pilatus dan Kekaisaran Romawi. Konflik pun dimulai, seluruh keluarga Ben-Hur terpisah dan hidup menderita. Judah Ben-Hur sebenarnya masih sangat menyayangi sang saudara angkat, namun insiden pemberontakan Zelot yang lalu telah menorehkan luka dalam sehingga dendam pun tak terelakkan. Beberapa rangkaian peristiwa akhirnya membawa Ben-Hur kembali ke kota asalnya Jerusalem dan merencanakan sebuah pembalasan terhadap Messala Severus yang saat itu sudah menjadi aset berharga Romawi dalam pacuan kereta kuda kebanggan Pontius Pilatus. Alih – alih membunuh Messala Severus, Ben-Hur bertemu dengan Ilderim yang membawanya menjadi seorang joki kereta pacuan kuda dan berkesempatan membalaskan dendam terhadap Messala melalui pertandingan pacuan kereta kuda. Walau sebagian film diwarnai oleh adegan “berdarah”, namun film ini menyuguhkan happy ending pada akhir penampilannya.

benhur

Sepintas, kisah yang diangkat dari sebuah Karya Novel berjudul BEN-HUR: A Tale of Christ karangan Lew Wallace (1880) ini memang seperti sebuah balada konflik keluarga biasa. Namun lebih daripada itu, film Ben-Hur sudah berusaha dengan sangat baik mengangkat berbagai makna positif yang terkandung dalam kisah epik ini. Cerita fiksi Ben-Hur sudah memiliki keunggulan dengan latar kehidupan di Jerusalem yang memiliki kesamaan tempat dan waktu dengan masa hidup Yesus Kristus. Bahkan bila merujuk pada judul novel aslinya (dimunculkan dalam adegan film juga), kisah Ben-Hur nampak seperti sebuah side story dari perjalanan hidup Yesus Kristus. Inilah sebabnya tidak heran bila tokoh Yesus Kristus muncul dalam beberapa adegan di film ini.

Film ini menampilkan sebuah kisah hebat yang sarat akan makna. Pesan moral tentang pantang menyerah, saling menghormati antar manusia yang berbeda keyakinan, sikap membela yang lemah, dan mengasihi sesama manusia disampaikan dengan gamblang pada tiap adegannya. Tetapi menurut saya, inti cerita kisah ini terletak pada ajaran Kasih khas Yesus Kristus yang merupakan perwujudan Kasih Tuhan kepada manusia dan digambarkan tersirat dalam hubungan antar karakter dalam film ini.Mulai dari penggambaran hubungan antara Messala dan Ben-Hur, kisah cinta Messala dan Tirzah, perjuangan Ben-Hur membebaskan ibu dan adiknya, inisiatif Yesus Kristus memberikan air minum kepada Ben-Hur yang terhukum, hingga akhirnya keputusan Ben-Hur untuk menggantikan dendamnya kepada Messala dengan pengampunan yang tak terbatas sungguh-sungguh mengajarkan tentang intisari arti Kasih kepada siapapun yang menyaksikan film ini.

Pribadi Ben-Hur sebenarnya tak berbeda dengan pribadi manusia normal pada umumnya yang penuh dengan kelebihan dan kekurangan. Pada dasarnya, ia adalah pribadi yang baik. Namun ketika hak-hak pribadi bahkan kebebasan keluarganya dilanggar, Ben-Hur dapat menunjukkan sisi dirinya yang kelam dan penuh dengan dendam. Walaupun demikian, Tuhan yang tergambar dalam sosok Yesus Kristus tetap mengasihi manusia apapun keadaan manusia tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang akhirnya ditiru oleh Ben-Hur yang berhasil mengalahkan ego dendamnya terhadap Messala dan berbalik mengampuni serta mengasihinya kembali. Pokok inilah yang sebenarnya menjadi pesan utama dalam film berdurasi sekitar 123 menit ini.

Film yang juga merupakan remake dari film berjudul sama (1959) ini menyampaikan pesan religius tentang kasih dengan cara yang sangat unik. Hal ini sangat menarik, karena pesan berharga ini pun dapat diterima secara umum sebagai sebuah nilai universal oleh seluruh penonton dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Ben-Hur sangat kuat pada narasi dan dialog penokohannya, hal ini yang menjadi kunci utama sarat makna dalam film ini. Sinematografinya pun tidak kalah ajib dengan visual effect berteknologi tinggi sehingga kesan latar suasana serta mood tiap pembabakannya pun tersampaikan dengan cantik. Namun demikian, bila dilihat dari alur penyampaian ceritanya, menurut saya film Ben-Hur (2016) ini masih agak terlalu terburu-buru padahal alur ceritanya tergolong cukup padat. Dapat dimaklumi mengingat sebagian karakter penonton masa kini yang cenderung cepat bosan dan menginginkan segala sesuatu yang instan. Akhirnya dari skala 1 sampai 10, film ini menurut saya pantas diberi nilai 8.5, terutama karena sarat makna penting bagi kehidupan.

ALLEGIANT: Refleksi Filosofis Politik Dunia Nyata

  
Sejak seri pertamanya “Divergent”, film ini emang udah memikat perhatian gw. Tema kacaunya dunia masa depan dengan segala teknologi dan kecakapan berpikir manusia cukup membuat gw terus berandai-andai kemungkinan situasi tersebut bisa terjadi suatu saat nanti. Namun, dibalik konsep cerita novel Distopia yang sangat menghibur, banyak terdapat makna filosofis yang gw dapat setelah nonton film ini. Akhirnya, gw pun memutuskan untuk selalu ngikutin setiap sekuel berikutnya.

Film ini memang diangkat dari novel berjudul sama karya Veronica Roth yang sudah sukses lebih dulu beberapa tahun sebelumnya. Kecerdasan politik sang penulis sungguh terasa, bahkan ketika novel ini diangkat ke versi layar lebar. Awalnya, gw berpikir konflik dalam film ini hanya sebatas perpecahan antar kelompok, dominasi, dan pemberontakan aja. Ternyata, dalam sekuel ketiganya konflik pun semakin rumit dengan hadirnya pihak ketiga yang lebih memiliki kekuasaan lebih, yaitu Biro Pengendali Genetik. Tidak disangka, dunia lima faksi yaitu Abnegation yang penuh belas kasih, Amity pecinta damai, Candor sang pemuja kejujuran, Dauntless si pemberani, dan Erudite dengan kecerdasan akan ilmu pengetahuan ternyata hanyalah sebuah eksperimen dunia “penguasa” yang lebih besar lagi.

Kisah cinta antara Tris dan Four memang cukup berhasil membuat film ini tidak melulu berbicara politik dan pemberontakan. Kisah manis percintaan mereka cukup menjadi bunga di tengah kerasnya padang gurun pasir yang penuh tantangan. Namun demikian, pesan filosofis politik film ini sangat terasa. Untuk gw, film ini seperti menggambarkan keadaan sebenarnya yang terjadi di dunia nyata tempat kita tinggal. Layaknya pemisahan faksi yang dijadikan eksperimen oleh penguasa, begitu juga yang terjadi di dunia nyata. Sadar atau tidak sadar, saat ini di dalam masyarakat seringkali kita temukan berbagai pemisahan dan pengelompokkan. Misalnya secara agama, suku, partai, gender, bahkan pandangan politik. Akhirnya kita terjebak pada sebuah anggapan bahwa kita harus memilih untuk menjadi serupa dengan salah satunya. Kita lupa bahwa manusia diciptakan dengan sangat unik dan memiliki kemungkinan besar untuk selalu berubah seiring perkembangan diri dan lingkungannya. Tanpa sadar, kita justru membawa kehidupan manusia yang beragam menuju dunia yang seragam. Bahkan, mereka yang berbeda (divergent) justru kita anggap aneh dan berbahaya.

Selain itu, isi film ini juga menyampaikan bahwa “dunia” kehidupan kita sebenarnya dikuasai oleh “dunia” yang lebih besar dan kuat lagi. Hal ini seperti prinsip di atas langit masih ada langit. Politik yang ditampilkan di hadapan kita terkadang bukanlah makna politik yang sebenarnya. Kadang, kita tidak tau siapa lawan dan kawan. Semua pihak patut dicurigai disaat kita membutuhkan teman untuk beraliansi. Kondisi rumit dalam film ini seperti sebuah cerminan atas kondisi nyata yang terjadi di dunia modern sebenarnya.

Terlepas dari kisah Distopia yang sepintas mirip Novel dan Film Hunger Games atau Maze Runner, film ini layak mendapat apresiasi. Mulai dari cara menuturkan, teknik pengambilan gambar, dan musik pendukung yang begitu apik digarap. Mungkin bagi mereka yang belum menonton Divergent dan Insurgent, seri ketiga Allegiant ini agak sedikit sulit dipahami dari awal film. Namun, setelah menonton 1/3 film, pemahaman akan isi cerita pun akan semakin mudah dicerna. Walau demikian, saran gw sebaiknya nonton film ini dari seri pertamanya.

Penokohan dalam film ini juga begitu kuat didukung kemampuan akting para pemeran yang cukup memuaskan. Berbagai karakter yang ada di dunia nyata pun dapat kita temukan di dalam kisah film ini. Tris yang pemberani dan pantang menyerah, Four yang penuh perhatian, perhitungan dan selalu waspada, Caleb yang pengecut dan mudah panik, Peter yang oportunis dan egois, ditambah berbagai karakter kuat lainnya menjadi daya tarik lain di film ini. Secara keseluruhan, film ini sangat layak untuk ditonton. Film ini memberikan pelajaran yang cukup berharga khususnya dalam bidang politik. Kita harus menyadari bahwa perpecahan dalam kelompok-kelompok sosial dalam hidup adalah salah satu cara “penguasa” untuk menguasai berbagai sektor dalam hidup kita. Sebagai pengingat terakhir, Allegiant adalah bagian pertama dari seri terakhir Divergent yang dibagi menjadi dua bagian. Kisah penuh filosofi politis ini pun terus berlanjut……

phosphone | moviereview | Allegiant

  

Movie Review: SPOTLIGHT, Mayoritas dalam Posisi “Teratas”

  
Film yang diangkat dari kisah nyata ini memiliki latar dunia jurnalistik di Amerika Serikat pada awal era 2000-an. Kala itu, efek peralihan media massa cetak menuju media massa elektronik baru saja dimulai. Hampir seluruh media massa cetak di Amerika Serikat mengalami “shock therapy” dikarenakan semakin mudahnya masyarakat mengakses dunia maya untuk mendapatkan berbagai informasi yang tak terbatas. Media cetak harus memutar otak untuk mempertahankan pembacanya. Berangkat dari latar belakang yang tidak terlalu ditekankan dalam film inilah, kisah sebuah divisi khusus inventigasi Spotlight dari koran The Boston Globe dalam mengangkat sebuah skandal menjijikkan yang lama “ditutupi” dalam otoritas gereja Katolik di Amerika Serikat pun dimulai.

Seperti kita ketahui bersama, Gereja Katolik di Amerika Serikat memiliki sebuah “kekuatan” yang tidak terlihat di balik jalannya pemerintahan negara adidaya tersebut. Seperti yang terjadi di sebagian besar negara barat, Gereja dianggap sebagai sebuah kepanjangan tangan Tuhan yang hampir tidak dapat disalahkan bahkan oleh hukum sekalipun. Namun, situasi ini tidak membuat para wartawan Spotlight putus asa dalam mengungkap berbagai kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh banyak oknum Pastor Gereja Katolik selama kurun waktu lebih dari 30 tahun.

Tidak ada satupun media massa yang berani mengangkat kisah ini sebagai berita, hingga tim Spotlight The Boston Globe mulai membangun investigasinya. Hal tidak wajar ini sangat “wajar” terjadi karena kuatnya peran institusi Gereja Katolik di dalam struktur masyarakat bahkan sistem kenegaraan Amerika Serikat. Jadi, setiap ada kasus yang dilaporkan oleh masyarakat, maka dengan sendirinya akan mengendap dan hilang seperti ditelan angin. Pada sisi lainnya, The Boston Globe yang juga merasakan tantangan hadirnya media internet membutuhkan sebuah pemberitaan yang tidak hanya bombastis namun juga fenomenal. Maka, seorang redaktur baru yang bernama Marty Baron pun memutuskan untuk mengangkat kisah ini sebagai berita utama.

Proses jalannya investigasi bukannya mudah. Tim Spotlight banyak sekali menemui hambatan baik dari pemerintah dalam hal ini institusi hukum, Gereja, bahkan korban-korban pelecehan yang mereka telusuri. Mau tidak mau, tim Spotlight pun harus mengurai satu-persatu kasus skandal pelecehan seksual para pemimpin Gereja selama 30 tahun terakhir. Selain itu, tim Spotlight juga harus tetap menjaga kerahasiaan investigasi mereka agar tidak “dicuri” oleh media berita lainnya yang kala itu juga “haus” akan berita-berita bombastis dan fenomenal. Jargon ‘The Bad News is a Good News’ tampaknya berlaku pada babak ini.

Singkat cerita setelah melalui perjuangan yang panjang, investigasi Spotlight pun sampai pada titik terang dimana kebenaran mulai terungkap. Banyak pihak yang akhirnya mendukung The Boston Globe untuk mengangkat kisah ini dalam pemberitaan. Laporan pun mereka rangkai dan akhirnya terbit dalam bentuk berita utama. Tidak hanya sampai disitu, ternyata investigasi mereka menjadi pintu awal yang membuka hampir seluruh kasus pelecehan seksual oleh oknum Pastor Gereja Katolik yang terjadi secara sistematis di seluruh pelosok dunia. Bahkan, tim Spotlight berhasil dianugerahi penghargaan tertinggi insan jurnalistik Pulitzer Prize for Public Service pada tahun 2003.

  
Film Spotlight ini memang layak atas penghargaan Film Terbaik Oscar 2016. Tidak hanya disampaikan dengan kemasan penuturan yang rapih dan sangat jelas, film ini juga dimainkan oleh para aktor/aktris kawakan Holywood yang tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya seperti Michael Keaton (Birdman), Mark Ruffalo (Hulk), atau Rachel McAddams (Southpaw). Padahal, apa yang disampaikan dalam film ini bukanlah sesuatu yang mudah disampaikan dan cukup mendapat banyak tantangan dari masyarakat awam. Namun, pada akhirnya film ini pun mendulang sebuah sukses besar diantara film-film lain yang diangkat dari kisah nyata.

Bagi saya pribadi, film ini merupakan sebuah informasi sekaligus bahan perenungan atas apa yang terjadi di sistem kehidupan manusia hari-hari terakhir ini. Hampir di seluruh pelosok dunia ini, sebuah institusi mayoritas yang memiliki peran besar dalam sistem kemasyarakatan ternyata mampu “mengatur” jalannya kehidupan masyarakat. Sekalipun berbasiskan agama, institusi ini tidak lepas dari berbagai kemunafikan. Sekalipun mereka memiliki kekuatan untuk lolos dari jeratan hukum, pada akhirnya bau busuk “bangkai” akan tetap tercium.

Setelah menonton film ini secara keseluruhan, saya agak terbayang kenyataan yang sedang terjadi di negara Indonesia saat ini. Institusi agama mayoritas di Indonesia sangat banyak memiliki akses untuk berperan besar di dalam sistem negara maupun kemasyarakatan. Suara beberapa institusi ini pun tidak jarang dianggap sebagai kepanjangan “titah” Tuhan Yang Maha Esa. Pertanyaannya, bila institusi mayoritas tersebut membuat skandal seperti dalam film Spotlight (mungkin dalam bentuk skandal yang berbeda), apakah HUKUM yang menjadi salah satu acuan kehidupan di Indonesia mampu “menyentuh” para oknum institusi mayoritas tersebut? 

Maaf, saya tidak menyebutkan siapa dan apa institusi mayoritas tersebut karena alasan sensitifitas. Namun, seharusnya hal ini sangat mudah untuk kita terka bersama. 🙂

Spotlight adalah film yang sangat baik untuk disaksikan. Selain kita terhibur, dapat informasi, film tersebut juga memberikan refleksi untuk kita renungkan atas kenyataan yang terjadi dalam sistem masyarakat di seluruh dunia pada umumnya.

Phosphone | spotlight | moviereview | 2016

  

Movie Review: THE PHYSICIAN

  
English translation available.

Dokter adalah sebuah profesi yang MULIA. Hal inilah yang terlintas di pemikiran saya setelah menonton satu film luar biasa yang diangkat dari salah satu novel best seller karya Noah Gordon dengan judul yang sama,”The Physician”. Saya memang bukan seorang dokter, namun film ini membantu saya memahami makna yang luar biasa menjadi seorang dokter. Tidak hanya memahami tujuan profesi seorang dokter saja, tetapi juga berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh seorang dokter baik dari dalam maupun luar diri personal dokter tersebut.

“The Physician” bercerita relatif detil mengenai awal mula berkembangnya ilmu pengobatan di dunia yang berlatar di Persia. Berawal dari seorang anak berkebangsaan Inggris bernama Rob Cole yang kehilangan ibunya akibat sakit di bagian perut, alur cerita pun membawa Rob Cole berambisi untuk mendalami ilmu pengobatan secara mendalam. Padahal, di Inggris pada abad pertengahan ilmu kedokteran sama sekali tidak berkembang, masyarakat hanya mengandalkan para dukun dan yabg terparah adalah tukang cukur keliling. Kondisi ini tidak membuat Rob kecil putus asa, setelah ikut seorang tukang cukur keliling hingga remaja, akhirnya Rob pun memutuskan untuk belajar ke negeri Isfahan, Persia yang pada jaman itu menjadi pusat berkembangnya ilmu kedokteran atau pengobatan modern.

Selang waktu berganti, Rob pun berhasil belajar pada seorang ahli pengobatan modern yang sangat terkemuka sepanjang sejarah kedokteran, ia bernama Ibnu Sina. Rob diterima dengan baik sebagai murid Ibnu Sina, bahkan menjadi salah satu yang diandalkan karena bakat dan kepintarannya. Ibnu Sina, Rob beserta murid lainnya menemui banyak sekali tantangan di dalam perjalanan sekolah kedokteran mereka. Mulai dari wabah penyakit hingga anggapan bahwa mereka menyebarkan aliran sesat pun mereka terima dengan penuh kesabaran. Berbagai tantangan yang menghalangi gairah Rob pada ilmu kedokteran justru menjadikan Rob semakin bersemangat untuk menyempurnakan ilmunya. Setelah melalui berbagai tantangan yang sangat mendewasakan, akhirnya Rob pun kembali ke Inggris dan membuka sebuah rumah sakit yang menolong berbagai penderitaan penyakit masyarakat.

Hal yang menarik dari film ini bukan hanya sejarah perkembangan kedokteran yang diceritakan, namun juga pesan moral yang disampaikan. Nuansa toleransi antar agama sangat terasa di sepanjang film. Tokoh Rob yang berlatar agama Kristen harus menyesuaikan dirinya dengan Ibnu Sina yang Muslim dan komunitas Yahudi tempatnya bernaung. Bahkan, sekalipun terjadi berbagai pergolakan yang bernuansa intoleran, Rob, Ibnu Sina, dan keluarga Yahudinya tetap saling menghormati. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batasan kepercayaan untuk berkembang. Inilah yang begitu berkesan bagi saya setelah menonton film dengan dialog yang kuat ini.

  
Secara teknis, film ini tidak perlu diragukan lagi. Sinematografi, alur cerita, penokohan, hingga setiap detil film ini disampaikan secara jelas dengan tempo yang nyaman untuk diikuti. Secara keseluruhan, bagi saya film ini dapat dikatakan hampir sempurna dengan nilai 9.5 dari skala 10. Sayangnya, film ini tidak begitu terdengar di Indonesia, namun saya sangat merekomendasikan film ini untuk Anda tonton.

Banyak pelajaran yang didapat dari film ini. Selain mempelajari sejarah, toleransi, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan tentang dunia kedokteran. Akhirnya,yang paling utama adalah bagaimana saya semakin menghargai profesi Dokter sebagai pekerjaan yang mulia dalam sejarah kemanusiaan.

  

Translation:

Doctor is a NOBLE profession. This is what comes to my mind after watching an incredible movie adapted of the best-selling novel Noah Gordon’s that has same title, “The Physician”. I was not a doctor, but this film helped me understand the tremendous significance of being a doctor. Not only understand the purpose of the profession of a physician, but also the challenges that must be faced by a physician from both inside and outside of the personal doctor.
“The Physician” relative tells details about the beginning of the development of medicine in the world , especially in Persia. Starting from a child Englishman named Rob Cole who lost her mother because of pain in the abdomen, the storyline was brought Rob Cole’s ambition to explore the science of medicine in depth. In fact, in England in medieval medical science did not develop, people rely on traditional healers and the worst travelling barbers. These conditions do not make small Rob despair, after taking part with a travelling barber until adolescence, Rob finally decided to learn at Isfahan, Persia. At that time, this land became the center of the development of medical science or modern medicine.
An interval switch, Rob even managed to learn in a modern medical experts are very prominent in the history of medicine, he was named Ibn Sina. Rob was well received as a student of Ibn Sina, even becoming one of the unreliable because of the talent and intelligence. Ibn Sina, Rob along with other students to meet a lot of challenges in the way of their medical school. Starting from the plague until an assumption that they spread their cult was received with great patience. Various challenges didn’t decreased Rob passion in medicine, but actually makes Rob increasingly eager to enhance their knowledge. After going through various challenges that are very mature, Rob finally returned to England and opened a hospital that helps various disease which suffering people.
The interesting thing about this film is not only the history of the development of medicine as told, but also the moral message conveyed. Shades of religious tolerance are felt throughout the film. Rob figures set in Christianity must adapt itself to the Ibn Sina were Muslim and Jewish communities. In fact, despite a wide range of intolerant conflict, Rob, Ibn Sina, and Jewish families remain respectful. Science knows no boundaries of trust to develop. This is what is so memorable to me after watching the film with this powerful dialogue.
  

Technically, the film is not in doubt. Cinematography, storyline, characterization, until every detail of the film is conveyed clearly with the tempo that comfortable to follow. Overall, for me this film can be said to be almost perfect with a value of 9.5 on a scale of 10. Unfortunately, this film does not so heard in Indonesia, but I highly recommend this movie to watch.
Many lessons learned from this film. In addition to studying history, tolerance, I also get a lot of knowledge about the world of medicine. Finally, the main thing is how I grew to appreciate a doctore as a noble profession that work in the history of humanity.

thephysicianmovie | moviereview | 2016