Petualangan Kuliner Surabaya

profile (2)

Hai guys,

Surabaya nggak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan segudang sejarah heroik dalam peradabannya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya juga memiliki rujukan sektor pariwisata pendukung pengembangan perekonomiannya. Per-kuliner-an adalah salah satu sub-sektor pariwisata yang menarik untuk ditelusuri sekalipun kita hanya memiliki waktu singkat untuk berpetualang di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berikut ini adalah hasil hunting kuliner yang saya lakukan dalam waktu 1 hari 2 malam.

Mie Ujung Pandang Pak Tatung

Guys, kalau Kalian pencinta Mie dan boleh menyantap daging haram (you know what i mean laah), maka rekomendasi yang satu ini harus kalian perhitungkan untuk dicoba. Mie Ujung Pandang (UP) memang ada banyak di seputar Surabaya, tapi nggak semuanya enak dan pas di kantong. Mie UP Pak Tatung yang terletak di jalan Barata Jaya XVII, Baratajaya, Gubeng adalah salah satu yang memenuhi syarat enak dan pas di kantong tadi. Hanya dengan Rp.30.000 saja, kita bisa menikmati semangkok Mie ukuran besar (bisa dibagi untuk 2 orang looohh) dengan suwiran daging Babi Merah di atasnya. Mungkin karena terbiasa makan Mie sejenis di Jakarta, saya pikir daging Babi-nya hanya pelengkap dan sedikit saja. Ternyata saya salah, hampir seluruh permukaan Mie di mangkok tertutup oleh suwiran daging dan rasa dagingnya sendiri saja sudah empuk, gurih, dan jelas nikmat! Belum lagi saat Mie yang tebal-tebal itu masuk ke dalam rongga mulut saya, kenikmatan pun berkali lipat rasanya. Nggak lupa kuah sup polos dengan potongan daun bawang pun ikut saya sruput menemani Mie dan potongan daging Babi tadi. Ini enak guys! Oiya, Mie UP Pak Tatung ini merupakan kuliner malam Surabaya yang baru buka jam 18.00 setiap harinya dan biasanya waktu jam makan malam antrian sudah gak terhindarkan. Tapi kalian nggak perlu kuatir, pelayanan di kedai pinggir jalan yang tergolong bersih ini cukup cepat dan tepat. So, have a nice dinner guys! ssrruuuppphhh!

Tahu Campur Cak Kahar

Tenang, untuk Kalian yang nggak bisa makan makanan haram, masih banyak kuliner lainnya di Surabaya. Salah satu yang jadi ikon kuliner Jawa Timur-an adalah Tahu Campur Cak Kahar yang terletak di Jalan Embong Malang no.78 Surabaya, tepatnya di seberang Hotel JW Marriot dan buka sejak pukul 17.00 sampai tengah malam. Kuliner yang satu ini memang Jawa Timur banget, terbukti dengan pelengkap bumbu petis ciri khas Jawa Timur yang dicampurkan dengan kuah kaldu sapi dan bahan utamanya tahu serta bahan lain seperti kikil, mie, kecambah dan beberapa sayuran pelengkap lainnya. Namanya saja Tahu Campur, jadi rasanya pun merupakan hasil campuran dari beberapa citarasa seperti Manis, Gurih, dan Asam. Tapi kalau ingin lebih pedas, sambal sudah tersedia di meja dan dapat kita tambahkan sendiri sesuai selera. Makanan ini sangat nikmat disantap selagi panas, apalagi dalam kondisi cuaca dingin atau hujan. Sayangnya, Surabaya lebih sering terasa gerah menuju panas di waktu malam, hehehehe. Namun demikian, untuk soal harga makanan di kedai yang mempunyai tag line Depot Legendaris ini nggak akan ngempesin kantong. hanya dengan Rp 15.000 per porsinya, kita sudah dapat menikmati hidangan legendaris khas Jawa Timur ini.

Tahu Telor Mas Ndut

Apa bedanya Tahu Campur dengan Tahu Telor? Ini adalah pertanyaan saya kepada pacar saya ketika membuat list makanan apa saja yang akan saya santap di Surabaya. Jawaban pun langsung saya dapat (berhubung doi orang Jawa Timur), perbedaan utamanya terletak di bahan “pengikatnya”. Jadi, untuk tahu campur pengikatnya adalah kuah kaldu sapi sedangkan Tahu Telor diikat dengan bumbu kacang (seperti ketoprak). Nah, di daerah A. Yani tepatnya di Jalan Ketintang Baru XII terdapat satu penjual Tahu Telor gerobak yang dipanggil Mas Ndut. Sekitar 11 tahun lalu, dia sudah memulai menjual Tahu Telor ini dengan berkeliling, namun sekarang karena dia sudah punya pelanggan tetap, maka dia cukup mangkal di salah satu sudut jalan saja. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba salah satu masakan Tahu Telor yang katanya paling enak se-Surabaya di Jalan Dinoyo, tapi jujur menurut saya Tahu Telor milik Mas Ndut ini lebih enak dari yang sebelumnya saya pernah coba. Bumbu Kacang yang dibuat Mas Ndut lebih gurih dan kental sehingga ketika disiramkan ke atas Tahu Telor yang baru dimasak panas-panas, kenikmatannya tidak dapat terhindarkan. Saya sadar kunci kenikmatan Tahu Telor Mas Ndut ini terletak di bumbu kacangnya, rasanya pas tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu asin. Tekstur kacangnya pun tetap terjaga, tidak terlalu cair layaknya bumbu kacang di Tahu Telor lain yang pernah saya coba. Walaupun kedai Mas Ndut masih berbentuk gerobak dan kita akan makan secara lesehan kalau makan di tempat, tapi rasanya luar biasa mantap. Terakhir, dengan harga per-porsi hanya Rp 10.000….Monggo dicoba.

Bakwan Kapasari

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah kuliner tertua yang saya temukan di petualangan kali ini. Bakwan Kapasari namanya, dan buka dari jam 10.00 – 18.00 setiap hari di Ruko RMI Blok B no. 1 Jalan Ngagel Jaya Selatan, Baratajaya, Gubeng, Kota Surabaya. Selain itu ada juga cabangnya di Pasar Atom Surabaya. Bakwan Kapasari ini sudah dikenal sejak tahun 1931 dan sudah menjadi bisnis kuliner keluarga secara turun-temurun, mungkin hal ini yang membuat Bakwan Kapasari begitu dikenal dan tidak pernah sepi pembeli hingga kini. Menu andalan yang dijual adalah Bakwan dan beraneka printilan lain seperti bakso ikan, Haiwan, Usus Isi goreng, Bakso Goreng, dan lainnya. Namun yang menurut saya enak hanya Haiwan dan Bakso Gorengnya, menurut beberapa review usus isinya pun nikmat, hanya sayang saya tidak mencobanya. Setelah saya membeli beberapa isian seperti Bakso goreng, Siomay, Haiwan, dan Bakwan, rasa kuliner ini menurut saya sebenarnya tergolong biasa saja (saya pernah mencoba makanan sejenis yang lebih enak), tapi menjadi populer dan diincar para penikmat kuliner mungkin karena nilai legendaris dan citarasa yang terjaga sejak 1931. Harga juga tidak istimewa, malahan tergolong mahal dengan kisaran harga antara Rp 2.500 – Rp 7.500 per-item isian yang dipesan, jadi satu porsi isi 4 item saja bisa dibanderol dengan harga sekitar Rp 30.000. Namun demikian, bagi saya sama sekali tidak rugi untuk mencoba salah satu makanan tertua di Surabaya ini karena nilai sejarah dalam sebuah rasa memang selalu istimewa.

Bebek Sinjay

Guys, ini nih satu kuliner yang lagi trend beberapa waktu terakhir ini. Memang bukan kuliner asli Surabaya dan letaknya di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, tapi karena popularitasnya saya pun rela sedikit beranjak keluar dari Kota Surabaya. Perjalanan yang saya tempuh menghabiskan waktu sekitar 45 menit, melewati Jembatan Suramadu dan langsung menuju Jalan Ketengan no.45, Bangkalan, Madura. Sesampainya di lokasi, kesan yang muncul dalam benak saya adalah luar biasa, restoran Bebek Sinjay ini sangat besar dengan pengunjung yang cukup padat. Cara memesannya pun cukup unik secara mandiri langsung ke kasir, membayar, dan mengambil pesanan pada loket lainnya. Untuk menu, menurut saya cukup simple dengan menu paketan Rp 26.000 berisi Bebek/Ayam, protolan daging Bebek/Ayam, Jeroan ati dan ampela, serundeng, lalapan plus Sambelnya. Rasa hidangan bebeknya sendiri sebenarnya tidak terlalu spesial, tapi yang membuatnya jadi berbeda dibanding makanan sejenis ada di sambalnya. Rasa gurih berpadu pedas nikmat bercampur dengan daging bebek yang cukup lembut dan sama sekali tidak berbau amis, citarasa Bebek Sinjay terletak disini. Menurut saya, harga dan rasa Bebek Sinjay memang cukup layak untuk dimasukkan ke dalam daftar kuliner Indonesia yang populer saat ini.

Lontong Kupang

Saat pertama dengar kuliner Lontong Kupang, saya nggak bisa membayangkan makanan jenis apa yang akan saya makan. Untuk mencari kuliner ini di sekitaran Surabaya pun tidak terlalu mudah, saya mendapatkannya di sekitar Jalan Gayung Kebonsari Timur. Menurut beberapa rekomendasi warga lokal, salah satu Lontong Kupang yang enak sebenarnya ada di Jalan Raya Kletek, namun sayangnya saat saya sambangi sudah tutup. Kembali ke Lontong Kupang, makanan seharga Rp 10.000 ini termasuk jenis makanan kuah dengan isian Lontong dan daging sejenis remis kecil (Kupang) yang biasanya juga disertai pelengkap lain seperti perkedel kentang dan daun bawang. Rasanya pun cukup unik, saya membayangkan kuah soto bening yang disertai citarasa khas makanan laut yang muncul dari Kupang tersebut. Gurih, sedikit asam bercampur manis pun menjadi satu memberikan rasa unik di mulut. Saya sendiri tidak terlalu menyukai rasanya, namun karena keunikannya maka saya anggap makanan ini layak untuk dicoba. Satu hal menarik mengenai Kupang yang saya dapat dari ayah saya, jadi untuk mendapatkan Kupang di pinggiran laut, kita perlu memancingnya terlebih dahulu. Istimewanya, para nelayan yang berada di wilayah perairan Surabaya biasanya memancing Kupang dengan menggunakan tinja manusia. Mereka menempatkan tinja pada sebuah papan dan diletakkan di pinggiran laut yang ombaknya relatif tenang kemudian para Kupang akan berdatangan dengan sukarela dan nelayan pun dengan mudah menangkapnya. Hiiiiiiiiii…..geli, hahahhahaa.

Wedang Angsle

Apa kalian pernah menikmati wedang ronde atau sekoteng? Kalau sudah pernah, maka kalian tidak akan aneh lagi dengan jenis wedangan ini, Angsle namanya. Bahan dasar pembuatnya tidak jauh beda dengan ronde atau sekoteng, menggunakan kuah jahe yang direbus gula, pandan dan batang serai, bedanya untuk angsle dicampur dengan santan dengan isian seperti potongan roti tawar, mutiara, kacang hijau, atau singkong (sesuai selera). Wedang Angsle banyak ditemukan di sekitaran Kota Surabaya dan merupakan salah satu minuman hangat favorit bagi warga Surabaya untuk menikmati malam sambil mengobrol dan melepas lelah. Rasa legit, sedikit pedas, manis mengalir di lidah menuju kerongkongan dan memberikan kehangatan di kerongkongan sampai ke lambung saya. Sensasi seharga Rp 5000 ini benar-benar nikmat, terutama bila dinikmati selepas makan malam sambil menghabiskan waktu di pinggiran jalan Kota Surabaya. Josss……!!

Nasi Bebek Tugu Pahlawan

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah makanan terakhir yang saya coba di petualangan kuliner kali di Surabaya kali ini. Nasi Bebek Tugu Pahlawan namanya dan menurut Ibu Pacar saya, nasi bebek ini lebih enak daripada Bebek Sinjay yang sebelumnya saya coba. Malam hari sebelum saya pulang ke Jakarta dengan kereta dari Pasar Turi, saya pun mencoba membuktikan rekomendasi Ibu Pacar saya dengan mendatangi kedai kaki lima yang buka di Jalan Tembaan, Surabaya sejak pukul 18.00 ini. Saya datang dan antrian sudah mengular panjang, bahkan ada 2 antrian untuk yang makan di tempat dan take away, melihat ini saya semakin yakin kalau masakan nasi bebek ini nikmat. Setelah kurang lebih 15 menit mengantri, sampailah giliran saya memesan Nasi Bebek berukuran biasa (karena ada yang berukuran besar) seharga Rp 14.000 lengkap dengan nasi putih, serundeng, protolan daging dan sambalnya. Saya akui rasa bebeknya sendiri lebih enak daripada Bebek Sinjay, bumbunya lebih meresap dan gurih di lidah, dagingnya pun lebih empuk. Namun sayangnya, sambal yang menjadi “senjata” utama tidak terasa pedas dan levelnya dibawah sambal di Bebek Sinjay. Mungkin ini hanya masalah selera saja, dan overall Nasi Bebek Tugu Pahlawan ini memang lebih enak daripada Bebek Sinjay. Rekomendasi Ibu Pacar saya memang tidak salah..heuheuheu. Jangan lupa, di tempat ini juga menyediakan Es Kelapa Muda dengan rasa yang luar biasa nikmat seharga Rp 4000 per gelasnya. Walaupun potongan dagingnya tidak terlalu banyak, tapi daging kelapa ini benar-benar masih muda, tidak seperti kelapa muda yang akhir-akhir ini saya nikmati dengan daging yang keras mendekati daging kelapa parut. Selain itu, gula yang digunakan membuat rasa Es Kelapa Muda ini benar-benar nikmat dan sangat cocok sebagai teman menikmati lezatnya Nasi Bebek di tempat ini.

profile (1)

Guys, jadi inilah beberapa ulasan kuliner tentang makanan yang saya coba di petualangan Kota Surabaya beberapa waktu lalu. Secara umum, saya simpulkan kalau makanan Kota Surabaya itu nggak ada habisnya. Banyak sekali makanan lokal yang uenaaaak hingga uenaaak suekaaliiiii dan dapat ditemukan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Jangan lupa untuk selalu mencoba makanan lokal ketika Kalian berkunjung ke satu tempat di seluruh dunia ini, apalagi Indonesia. Mau enak atau enggak itu urusan belakangan, karena pengalaman jauh lebih berharga…hahaaaayyyy. Sampai ketemu di ulasan selanjutnya…cheeers!

phosphone I PetualanganKulinerSurabaya I Maret2017

MEDAN CULINARY ADVENTURE (Petualangan Kuliner Medan)

  

THIS IS MEDAN, GUYS!

A term that had full of pride on the existence of a major city in the western tip of Indonesia. The capital of North Sumatra province and also the third largest city in Indonesia is indeed worthy to be proud of. For the ‘traveler’, Medan is a destination that had “rich” uniqueness, including the traditional culinary heritage with a beauty flavor. Incidentally, in the middle of April 2016 I had to attend a friend’s wedding in the Deli Malay city of Medan. This would not be my waste just to run a mission “Tasting Traditional Culinary Heritage of Medan City”.

As well as an attractive tourist city of Medan, Medan culinary also has tremendous appeal. Ethnic heterogeneity of the city population greatly influenced the culinary diversity in Medan. From the taste of Malay, Indian spices unique, characteristic of oriental China, to the softness of various cuisines ethnic Javanese migrants coloring the culinary taste of Medan. So, here it is the review.

Very sunny morning in the city of Medan starting my culinary journey. My plane arrived from Jakarta promptly at 7:25 AM and I was immediately ride a direct train from Kualanamu toward the center of the city of Medan. I was deliberately leaving one day before the day of the wedding of my best friends in order to have plenty of time to explore a variety of unique culinary in Medan.

In the morning, it’s time for breakfast. During the train journey to the center of the Medan city, I kept thinking what foods are fit to be my breakfast menu. Luckily, I live in an age that is very easy to get information. With one finger and a Smartphone, then the information was immediately available. There are several legendary options for breakfast menu and I chose one which not too far from the train station of Medan city center.

 

Lontong Medan Kak Lin

 
LONTONG MEDAN KAK LIN

My choice fell on the breakfast menu which was a favorite in Medan, Lontong Medan Kak Lin. Basically, this food is a rice cake with vegetables soup which we used to buy in the morning. However, the different is the unique flavor marinade and processed rice cake that is so soft. Terrain coconut milk flavor of Lontong is so different from the usual vegetable rice cake soup I ate. Savory flavor of coconut milk mixed with the aroma of spices is strong and slightly sweet flavor impression. The others interested things, piece of bamboo shoot, potato chips, boiled egg, chili, and a sprinkling of villages crackers with fried onions make this dish looks perfect. Rice Cake as the main ingredient look up any dishes with incredible softness makes the tongue does not want to stop tasting. Perhaps this depiction like overkill, but believe me this is what I feel when breakfast with Lontong Medan Kak Lin.

The restaurant located at Jalan Teuku Cik Ditiro (front of SMAN 1 Medan) has been open since 06.30 AM and I highly recommend for breakfast when you are in Medan. According to the info of my friend, it is not as good as before, but in my opinion this has been remarkable, and how good first time? Hahaha … one serving Lontong Medan valued around 15,000 rupiah. I think it is quite normal for a meal as good as Lontong Medan Kak Lin.
The stomach is filled, then i felt like the eyes closed. Moreover, when considering I woke up at 3:30 AM to catch a plane that departed 05:00 AM. Since I have not been able to check in at the hotel that has been my message, then rest in the shady garden Sudirman became my next activity while surfing in cyberspace for my lunch menu.

 

All menu of the ASIDO restaurant

 
TYPICAL BATAK FOOD RESTAURANT ASIDO

Batak cuisine as an authentic Indonesian food was known to all. Batak restaurants that we know as Lapo Tuak also mushroomed in major cities in Indonesia. Usually we know of Lapo Tuak is food “unclean” under which the form of pork dishes and even a dog. Thankful, for me dishes made from two kinds of meat is not unclean. I loved a food connoisseur Batak when I was in Jakarta.

Arriving at the restaurant named ASIDO, I immediately ordered the roast pork and Batak Saksang B1 which is processed dog meat along with the blood. To note, I got lapo ASIDO recommendation from my friend who is getting married. According to her, ASIDO was fluttering among many Lapo Batak in Medan.

After waiting about 30 minutes, my order arrived. Roast pork concoction that looked so tempting served with papaya leaves and sambal Andaliman very distinctive. Next, a plate Saksang B1 with a distinctive aroma of spices complemented the roasted pork meat. Quiet, despite using the dog’s blood, i don’t feet any fishy flavour on it. I think, that spices are used quite drown out all fishy’s of the dog’s blood.

Not a long wait, I was soon eating my lunch menu. Rice dishes and one soup pork soup to complement are very harmonious. To increase appetite, I was eating directly using my hands (of course washed first).

 

This is how i eat with a traditional way

 
Where else do you favors deny !. As typical Batak’s cuisine lovers, my friend’s recommendation was very right. Grill pork is crisp without leaving the softness of the pork itself. Savory flavor mixed with a spicy Andaliman sauce made my tongue hold sway. Not inferior to the Pig Roast, Saksang is also very delicious mixed with hot rice were bribed with bare hands.

It was an outstanding lunch menu, coupled with the coconut fruit also very refreshing. More happy again, with a Pig Roast menu and Saksang B1 along with coconut drink, I only spend money of 50,000 rupiah. Maybe for the city of Medan this price is quite expensive, but with flavors that I have proved, the restaurant that located at Jalan Bunga Trumpet no.16, Medan was feasible to apply the price.

 

My great lunchy

 
After a morning and afternoon I was eating food that is so incredible, I passed the night without eating any weight food. I ended the day with a little walk around the hotel looking for packaged coffee drink and rest up for the wedding of my best friend in the next day.

Batak wedding ceremony is quite long and a lot of accessories, even. From 8 am to 11 noon, I focus on the venue for the church blessing. Waiting in long enough to make this belly “dangdutan” (means shaking), moreover there is no single food that goes into the stomach from waking up in the morning. Understandably, i wake up late and had to rush to the blessing ceremony.

 

The cook of Brahmana Karo’s Pork Roast grilled in front of the customer

 
BRAHMANA KARO’s PORK ROAST

During the blessing ceremony, I imagine a lot of variety of food to eat as my lunch. However, only one of which repeatedly appears and overshadow my mind, Karo’s Pig Roast. As with any typical Pig Roast of Bataknesse, Karo cuisine was not foreign to me. The wedding was held in the area which is mainly inhabited by the Karo (they being called Karo and doesn’t like called as Batak Karo ) so it is quite easy to find a food stall of Karo’s Pig Roast.

After completion of the blessing, I was immediately shook hands and left the church to wade Karo’s Pork Roast stalls row along Jalan Jamin Ginting, Medan. Unbelievably, there are many different variants of choice and price. However, my eyes fell on a small roadside stalls were great. The name of the food stalls is Brahmana Karo’s Pork Roast. Nothing stands out of this shop, not even a single site in a virtual world on the name of Brahmana Karo’s Pork Roast. The place was very simple, but for some reason I want to eat at that place. Finally, I sat down and ordered a serving of roast pork.

 

Brahmana Karo’s Pork Roast

 
Karo’s Pork Roast was very different from the typical Batak Grilled Pork dishes, particularly in the form of slices of meat served. Pig Roast on Batak, usually meat cut into cubes and tend to taste sweet while the Karo’s is thinner, savory taste and usually grilled more crisp at the pork skin. In addition, the presentation of Karo’s usually equipped with several slices of the “innards” of Pigs as part of his intestines. For me, these two types of cuisine is just as good, but personally I prefer the Karo’s due to the level of “crisp” an more pronounced.

Pigs are friends, so that’s what I felt when eating a Karo’s Pork Roast as lunch. Sliced ​​by-slice else I try and memorable. The savory pork stall Brahmana are felt, even that makes it more interesting is the chef of Pig Roast make the roast in the front of the stall. This becomes interesting attractions for those who come to this shop. Lastly, the more-complete satisfaction when I know the price I had to pay for a portion of the Karo’s Pork Roast (including rice and various other complementary) only 15,000 rupiah. For ordinary people who eat processed pork in Jakarta like me, the price is very cheap and most importantly, it’s really impressive.
I continued my culinary journey even when night falls. After completing invitations reception in the afternoon, I decided to walk around parts of downtown Medan. According to many people, Medan is a city that has a high taste of food with a variety of types. I am curious about the “degree” of this and want to prove themselves. My goal tonight is a unique food and have never found in any other city.

 

Unpermanently Martabak stall at Jalan Kumango

 
TYPICALLY MARTABAK TELOR MEDAN

Step by step I went through while enjoying tunes on my phone. Earphones plugged in ears, feet kept walking, and the eyes were watchful targeting unique food choices. The type of food in the terrain is very diverse, but I only see the food that I’ve tried. Until the end, my eyes fell on a shop of Martabak around Merdeka Square that visited by a lot of buyers. Non-permanent stalls precisely located in Jalan Kumango, Medan. Suddenly, I wanted Martabak and obviously I consider this as a signal unique food instinct.

I immediately ordered one Egg Martabak without question. I imagine Martabak I ordered was cooked in the same way with a speech impediment Martabak in general but contain different contents. But it turns out my guess was wrong, how to cook Eggs Martabak this field was very different. One box is placed on the grill bread flour, then egg concoction along with unique content was prepared. Fill egg beaters include leeks, shallots, butter, chili, and potato slices, without any of minced meat like Martabak in general. I think this combination is interesting enough to be sampled.

 

The appearance of Medan’s Egg Martabak

 
Then, the more impressed me was how to cook. Thus, the already-baked bread flour was immediately smothered by the whipped egg mixture. Interestingly, not all of the dough is splashed. After one side of overcooked, bread and eggs was reversed and the rest of the whipped egg batter splashed on the reverse side. At first glance, this field Egg Martabak similar to egg omelette, but there is bread flour in it.

Manner of presentation and packaging were different from the usual Egg Martabak cubes and packed in boxes. For Egg Martabak Medan, one banana leaves and paper used to wrap food was Martabak ripe. Even if it looks unique and unusual for me, the taste of the food was outstanding. Savory, slightly spicy, and very prominent soft impression when my tongue tasting this food. Special sauce was added and also add deliciousness of Martabak Egg Medan. Apparently, the potato slices in egg batter makes this Martabak become solid and filling. Overall, I really enjoyed Terrain specialties that can be purchased at a relatively cheap price of 15,000 Rupiah’s per portion.

There are other interesting things when I finished paying Eggs Martabak of Medan, I saw another Martabak were cooked exactly as Martabak Egg in general. Thus, a layer of flour are outside wrap the egg content. However I was pleasantly surprised when asked what the name of the dish, turned out in the city of Medan, the food is called Martabak of Egypt.

 

This is how they packed the take away Egg Martabak

 
Last night in the city of Medan was I passed by a serving Martabak Medan and hectic weekend night in Medan. After enjoying the evening, I returned to the hotel and rest for the next adventure.

APEK COFFEE SHOP

Bright morning and it looks like I should enjoy the superb culinary. I also use a smart phone to search for information of breakfast around where I stay at Jalan Ahmad Yani, Medan. Search displays a number of options, but only one is LEGENDARY. A coffee shop that was founded in 1922 in Jalan Hindu attract attention for me as my breakfast.

 

The entrance of Warung Kopi Apek

 
According to the information I received, the cup of coffee at this oldest coffee shop in Medan is the best. This happen because Warung Apek retains how to choose the best coffee until the coffee stirred correct technique. Not much to choose, I stopped at the stall of Apek coffee and immediately order a cup of coffee with milk and Kaya toast.

Legendary, this word was imagined when I started sipping my coffee order. The distinctive aroma of coffee is really encouraging for starting the activity. Not just coffee, Srikaya toast also enliven the message “mood” of my early morning. Moreover, the architecture and the interior of the coffee shop is still the same since it was first established in 1922. My booking price is not too expensive, for a cup of coffee and toast legendary Srikaya, I paid less than 15,000 rupiah.

 

I ordered a cup of coffee-milk and Kaya Toast

 
This morning was encouraging for me. After Warung Apek, then i bought unique souvenirs for my family. Along the journey by motorcycle online, my stomach suddenly gave the signal to be refilled. In my mind, I really do not want to eat anymore but what may make, the signal of my stomach was getting stronger.

SOTO KESAWAN

Not far from where I was staying, there is a place to eat that sells interesting and unique menu. Soto Kesawan is a soup of coconut milk that has many variants of content, ranging from beef, chicken, scallops until the shrimp. I am interested in trying the soup filled with shrimp but i ordered without complementary rice. Within minutes, the soup was ready to be served before me.

 

Soto Kesawan with shrimp content

 
Attractive, soup made from coconut milk sauce with shrimp as its main content. In addition, the potato cakes and a sprinkling of chives and fried onions also complement this dish. My spit was not restrained began to wet the mouth, I was immediately spooning soup into the mouth. Mmmmmm, my breakfast was very delicious.

In my opinion, coconut milk plays a major role in built a sense of this soup. Then fill the shrimp and other complementary flavor rather as a complement. Have no doubt, the taste of Soto Kesawan at Jalan Ahmad Yani is good. However, I think the price of 25,000 rupiah per portion rather expensive for a bowl of soup.

Soto Kesawan at Jalan Ahmad Yani, Medan

My culinary journey in Medan came to an end during the day. Return from Soto Kesawan, I returned to the hotel, packing, and ready to return to my beloved Jakarta city by plane. My culinary trip at this time was quite short but much experience as I can. I am proud to be an Indonesian, a culinary paradise on the equator.

—————————

INDONESIAN VERSION:

INI MEDAN BUNG!

Sebuah istilah yang penuh kebanggaan atas keberadaan sebuah kota besar di ujung barat Indonesia. Ibukota Propinsi Sumatera Utara sekaligus kota terbesar ketiga di Indonesia ini memang layak untuk dibanggakan. Bagi para ‘traveller’, Medan adalah sebuah destinasi yang “kaya” keunikan, termasuk warisan kuliner tradisional yang penuh keindahan citarasa. Kebetulan, pertengahan bulan April 2016 saya harus menghadiri pernikahan seorang sahabat di Kota Melayu Deli ini. Hal ini tidak akan saya sia-siakan begitu saja untuk menjalankan sebuah misi “Mencicipi Warisan Kuliner Tradisional Kota Medan”.

Seperti halnya wisata kota Medan yang menarik, dunia kuliner Medan pun memiliki daya tarik yang luar biasa. Heterogenitas etnis penduduk kota Medan sangat mempengaruhi keberagaman kuliner di kota ini. Mulai dari citarasa Melayu, unik rempah India, ciri khas oriental Tiongkok, hingga lembutnya berbagai masakan suku pendatang Jawa pun mewarnai paduan rasa kuliner Kota Medan. Jadi, ini dia ulasannya.
Pagi yang sangat cerah di kota Medan mengawali perjalanan kuliner saya. Pesawat saya tiba dari Jakarta tepat pada pukul 07.25 dan saya pun langsung langsung menaiki kereta dari Bandara Kualanamu menuju pusat Kota Medan. Saya memang sengaja berangkat satu hari sebelum hari pernikahan sahabat saya agar memiliki banyak waktu untuk mengeksplorasi berbagai kuliner unik yang ada di Medan.

Pagi hari, saya pikir ini waktunya untuk sarapan. Selama perjalanan kereta menuju pusat Kota Medan, saya terus berpikir makanan apa yang cocok untuk menjadi menu sarapan saya. Beruntung, saya hidup di jaman yang sangat mudah untuk mendapatkan informasi. Dengan satu jari dan sebuah Smartphone, maka informasi pun langsung tersedia. Ada beberapa pilihan menu legendaris untuk sarapan dan saya memilih yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta pusat Kota Medan.
LONTONG MEDAN KAK LIN

Pilihan saya pun jatuh pada satu menu sarapan yang katanya favorit di Medan, Lontong Medan Kak Lin namanya. Pada dasarnya, makanan ini adalah Lontong Sayur yang biasa kita beli di pagi hari. Namun, yang berbeda adalah keunikan rasa bumbunya dan olahan lontong yang begitu lembut. Rasa kuah santan Lontong Medan ini begitu berbeda dengan kuah lontong sayur yang biasa saya makan. Rasa gurih santan berpadu dengan aroma rempah yang kuat dan sedikit kesan rasa manis. Isian lainnya pun tidak kalah menarik, potongan rebung, keripik kentang, telor rebus, sambal, dan taburan kerupuk kampung serta bawang goreng membuat tampilan masakan ini tampak sempurna. Lontong sebagai bahan utama masakan pun tampil maksimal dengan kelembutan yang luar biasa membuat lidah tak ingin berhenti mencicip. Mungkin penggambaran ini seperti berlebihan, tapi percayalah memang ini yang saya rasakan ketika sarapan Lontong Medan Kak Lin.

Restoran yang terletak di Jalan Teuku Cik Ditiro (depan SMAN 1 Medan) ini sudah buka sejak pukul 06.30 dan sangat saya rekomendasikan untuk sarapan pagi di Medan. Menurut info teman saya, rasanya sudah tidak seenak dulu, tapi menurut saya ini saja sudah luar biasa, lalu bagaimana enaknya waktu dulu? Hehehehehe…satu porsi Lontong Medan dihargai sekitar 15.000 rupiah saja. Harga yang saya rasa cukup normal untuk sebuah hidangan seenak Lontong Medan Kak Lin.
Perut sudah terisi dan mata ini pun rasanya ingin tertutup. Apalagi bila mengingat saya bangun jam 03.30 untuk mengejar pesawat yang berangkat 05.00. Berhubung saya belum bisa check in di hotel yang sudah saya pesan, maka beristirahat di taman Sudirman yang rindang pun menjadi aktifitas saya selanjutnya sambil berselancar di dunia maya untuk menu makan siang saya.
RUMAH MAKAN KHAS BATAK ASIDO

Masakan Batak termasuk makanan Indonesia yang dikenal otentik sekali. Layaknya rumah makan Padang, restoran khas Batak yang kita kenal sebagai Lapo Tuak pun banyak menjamur di kota-kota besar di Indonesia. Biasanya yang kita kenal dari Lapo Tuak adalah makanan “haram”-nya yang berupa masakan daging babi bahkan anjing. Bersyukur, bagi saya masakan berbahan dasar dua jenis daging ini tidaklah haram. Saya juga termasuk penikmat makanan khas Batak bila saya berada di Jakarta.

Sampai di rumah makan yang bernama ASIDO, saya langsung memesan daging babi panggang khas Batak dan masakan Saksang B1 yang merupakan olahan daging anjing beserta darahnya. Untuk diketahui, saya dapat rekomendasi lapo ASIDO ini dari sahabat saya yang akan menikah. Menurutnya, ASIDO adalah lapo yang namanya sedang berkibar di antara sekian banyak lapo khas Batak di Medan.

Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, pesanan saya pun tiba. Racikan daging babi panggang yang tampak begitu menggiurkan disajikan dengan daun pepaya dan sambal Andaliman yang sangat khas. Berikutnya, satu piring Saksang B1 dengan aroma rempah yang khas pun hadir melengkapi sang daging Babi panggang. Tenang, walaupun menggunakan darah anjing, Saksang ini sama sekali tidak beraroma amis. Nampaknya bumbu rempah yang digunakan cukup meredam ke-amis-an darah anjing tersebut.

Tidak menunggu lama, saya pun segera menyantap menu makan siang saya ini. Nasi satu piring dan kuah sop babi menjadi pelengkap yang sangat serasi. Untuk menambah nafsu makan, saya pun makan langsung dengan menggunakan tangan saya (tentunya dicuci bersih terlebih dulu).

Nikmat mana lagi yang kau dustakan!. Sebagai penikmat masakan khas Batak, rekomendasi sahabat saya ini sungguh tepat. Panggangan daging babi ini terasa renyah tanpa meninggalkan kelembutan daging babinya sendiri. Rasa gurih bercampur dengan pedasnya sambal Andaliman membuat lidah saya terus bergoyang. Sesekali nikmatnya daging babi panggang saya selingi dengan citarasa Saksang yang terasa bagai masakan semur. Tidak kalah dengan sang Babi Panggang, Saksang ini pun sangat nikmat berpadu dengan nasi panas yang disuap dengan tangan kosong.

Sungguh menu makan siang yang luar biasa, ditambah lagi dengan minuman kelapa muda yang sangat menyegarkan. Lebih bahagianya lagi, dengan menu Babi Panggang dan Saksang B1 beserta kelapa muda, saya hanya mengeluarkan uang sebesar 50.000 rupiah saja. Mungkin untuk kota Medan harga ini cukup mahal, namun dengan citarasa yang sudah saya buktikan, restoran yang berada di Jalan Bunga Terompet no.16, Medan ini layak menerapkan harga tersebut.
Setelah pagi dan siang saya menyantap makanan yang begitu luar biasa, malam pun saya lewati tanpa makan berat. Saya mengakhiri hari dengan sedikit berjalan keliling hotel mencari minuman kopi kemasan dan beristirahat untuk acara pernikahan sahabat saya esok hari.

Acara pernikahan adat Batak memang cukup panjang dan banyak pernak-perniknya. Sejak jam 8 pagi sampai jam 11 siang, saya fokus di Gereja tempat diadakannya pemberkatan. Menunggu dalam waktu lama cukup membuat perut ini “dangdutan”, apalagi belum ada satu pun makanan yang masuk dalam perut sejak bangun pagi. Maklum, telat bangun dan harus bergegas ke acara pemberkatan.
BABI PANGGANG KARO BRAHMANA

Selama acara pemberkatan, saya banyak membayangkan berbagai makanan untuk santap siang saya. Namun, hanya satu yang berulangkali muncul dan membayangi pikiran saya, Babi Panggang Karo. Seperti halnya Babi Panggang khas Batak, masakan Karo ini sudah tidak asing lagi bagi saya. Berhubung, pernikahan ini ada di wilayah yang mayoritas dihuni oleh suku Karo (mereka lebih senang disebut Karo, bukan Batak Karo) jadi cukup mudah menemukan warung makan BPK (Babi Panggang Karo).

Setelah selesai pemberkatan, saya pun langsung bersalaman dan meninggalkan Gereja untuk mengarungi deretan warung BPK di sepanjang Jalan Letjen Jamin Ginting,Medan. Luar biasa, banyak sekali pilihan dan berbagai varian harga. Namun, pandangan saya jatuh pada satu warung kecil di pinggir jalan yang besar. Nama warung makan tersebut adalah Babi Panggang Karo Brahmana. Tidak ada hal menonjol dari warung ini, bahkan tidak satupun situs rekomendasi di dunia maya yang menyebut nama Brahmana dalam list Babi Panggang Karo. Tempat ini sangat sederhana, tapi entah kenapa saya ingin makan di tempat itu. Akhirnya saya pun duduk dan memesan satu porsi Babi Panggang Karo.

BPK sangat berbeda dengan masakan Babi Panggang khas Batak, terutama pada bentuk irisan daging yang disajikan. Pada Babi Panggang khas Batak, biasanya daging dipotong dadu dan cenderung berasa manis sedangkan BPK lebih tipis, berasa gurih dan biasanya bagian kulit babi lebih garing terpanggangnya. Selain itu, dalam penyajiannya BPK biasanya dilengkapi dengan beberapa irisan “jeroan” Babi seperti bagian ususnya. Bagi saya, kedua jenis masakan ini sama enaknya, tetapi secara pribadi saya lebih menyukai BPK karena tingkat ke”garing”an yang lebih terasa.

Babi adalah teman, itulah yang begitu saya rasakan ketika menyantap menu BPK sebagai makan siang. Irisan demi irisan pun saya coba dan sangat berkesan. Gurihnya daging babi di warung Brahmana ini sangat terasa, bahkan yang membuat lebih menarik adalah Sang Koki Babi Panggang membuat panggangannya di bagian depan warung. Hal ini menjadi atraksi menarik bagi siapapun yang datang ke warung ini. Terakhir, kepuasan saya semakin terlengkapi ketika tahu harga yang harus saya bayarkan untuk satu porsi BPK (termasuk nasi dan berbagai kelengkapan lainnya) hanya 15.000 rupiah saja. Untuk orang yang biasa makan olahan Babi di Jakarta seperti saya, harga ini sangat murah dan yang terpenting rasanya sungguh mengesankan.
Perjalanan kuliner pun saya lanjutkan ketika malam tiba. Setelah menyelesaikan undangan resepsi di sore hari, saya pun memutuskan untuk berkeliling bagian pusat kota Medan. Menurut banyak orang, Medan adalah kota yang memiliki citarasa makanan tinggi dengan beragam jenisnya. Saya penasaran akan “gelar” ini dan ingin membuktikan sendiri. Target saya malam ini adalah makanan yang unik dan belum pernah saya temukan di kota lain.
MARTABAK TELOR KHAS MEDAN

Langkah demi langkah saya jalani sambil menikmati lagu-lagu di handphone saya. Earphone terpasang di telinga, kaki terus berjalan, dan mata pun awas mengincar pilihan makanan yang unik. Jenis makanan di Medan sangat beragam tetapi saya hanya melihat makanan yang sudah pernah saya coba. Hingga akhirnya, mata saya tertuju pada sebuah warung Martabak di sekitar Lapangan Merdeka yang dikunjungi banyak sekali pembeli. Warung non-permanen ini tepatnya berada di Jalan Kumango, Medan. Tiba-tiba saya ingin Martabak dan jelas saya manganggap ini sebagai sebuah sinyal insting makanan unik.

Saya langsung memesan 1 Martabak Telor tanpa banyak tanya. Saya membayangkan Martabak yang saya pesan dimasak dengan cara yang sama dengan Martabak Telor pada umumnya tetapi memiliki kandungan isi yang berbeda. Tapi ternyata dugaan saya salah, cara memasak Martabak Telor Medan ini pun sangat berbeda. Satu kotak roti tepung diletakkan di panggangan, kemudian racikan telor beserta isi yang unik pun disiapkan. Isi kocokan telor tersebut antara lain daun bawang, bawang merah, mentega, cabe, dan irisan kentang, tanpa satu pun daging cincang layaknya Martabak pada umumnya. Saya pikir, ini kombinasi yang cukup menarik untuk dicicipi.

Kemudian, yang lebih membuat saya kagum adalah cara memasaknya. Jadi, roti tepung yang sudah terpanggang tadi langsung disiram oleh campuran telor kocok tersebut. Uniknya, tidak semua adonan disiramkan. Setelah satu sisi matang, roti dan telor pun dibalik dan sisa adonan telor kocok disiramkan di sisi sebaliknya. Sepintas, Martabak Telor Medan ini mirip dengan dadar telor, hanya terdapat roti tepung di dalamnya.

Cara penyajian dan pengemasannya pun berbeda dengan Martabak Telor biasa yang dipotong kotak dan dikemas dalam dus. Untuk Martabak Telor Medan, satu lembar daun pisang dan kertas makanan pun dipakai untuk menggulung Martabak yang sudah matang. Walaupun tampak unik dan tidak umum bagi saya, rasa makanan ini luar biasa. Gurih, sedikit pedas, dan kesan lembut sangat menonjol ketika lidah saya mencicipi makanan ini. Saus khusus pun ditambahkan dan menambah citarasa nikmat Martabak Telor Medan. Ternyata, irisan kentang di dalam adonan telor membuat Martabak ini menjadi padat dan mengenyangkan. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati hidangan khas Medan yang dapat dibeli dengan harga relatif murah 15.000 saja per porsinya.

Ada hal menarik lain ketika saya selesai membayar Martabak Telor Medan ini, saya melihat Martabak lain yang dimasak persis seperti Martabak Telor pada umumnya. Jadi, lapisan tepung berada di luar membungkus isi telornya. Namun saya terkejut ketika menanyakan apa nama masakan tersebut, ternyata di kota Medan, makanan inilah yang dinamakan Martabak Mesir.
Malam terakhir di kota Medan pun saya lewati dengan seporsi Martabak Medan dan ramainya malam akhir pekan di Medan. Setelah puas menikmati malam, saya pulang ke hotel, dan istirahat untuk petualangan selanjutnya.
WARUNG KOPI APEK

Pagi hari yang cerah dan sepertinya harus saya nikmati dengan kuliner yang luar biasa. Handphone pintar pun saya gunakan untuk mencari informasi kuliner sarapan pagi di sekitar tempat saya menginap, Jalan Ahmad Yani, Medan. Pencarian menampilkan sejumlah pilihan, namun hanya satu yang LEGENDARIS. Sebuah kedai kopi yang berdiri sejak tahun 1922 di Jalan Hindu menarik perhatian untuk saya jadikan target kuliner sarapan pagi saya.

Menurut informasi yang saya peroleh, seduhan kopi di warung kopi tertua di kota Medan ini adalah yang terbaik. Hal ini dikarenakan Warung Apek tetap mempertahankan cara memilih kopi terbaik hingga tekhnik mengaduk kopi yang benar. Tidak banyak memilih, saya mampir di warung Apek dan langsung memesan satu cangkir kopi susu dan se-porsi roti panggang Srikaya.

Legendaris, kata ini yang terbayang ketika saya mulai menyeruput kopi pesanan saya. Aroma khas kopinya benar-benar memberi semangat untuk memulai aktifitas. Tidak hanya kopi, roti panggang Srikaya yang saya pesan pun ikut meramaikan “mood” pagi hari saya. Apalagi, arsitektur dan interior warung kopi ini masih sama sejak pertama kali berdiri di tahun 1922. Harga pesanan saya pun tidak terlalu mahal, untuk secangkir kopi legendaris dan roti bakar Srikaya, saya membayar kurang dari 15.000 rupiah saja.
Pagi ini cukup menggembirakan bagi saya. Setelah dari Warung Apek, saya kemudian membeli buah tangan khas Medan untuk keluarga saya. Sepanjang perjalanan dengan menggunakan ojek online, perut saya tiba-tiba memberi sinyal untuk diisi kembali. Dalam pikiran saya, sebenarnya saya belum ingin makan lagi tetapi apa boleh buat, sinyal perut ini semakin kuat.
SOTO KESAWAN

Tidak jauh dari tempat saya menginap, terdapat satu tempat makan yang katanya menjual satu menu menarik dan unik. Soto Kesawan adalah soto santan yang memiliki banyak pilihan varian isi, mulai dari daging sapi, ayam, kerang hingga udang. Saya tertarik mencoba soto isi udang tapi saya pesan tanpa pelengkap nasi. Dalam waktu hitungan menit, soto pun siap disajikan di hadapan saya.

Menarik, soto berbahan kuah santan dengan udang sebagai isi utamanya. Selain itu, satu perkedel kentang dan taburan daun bawang serta bawang goreng pun melengkapi hidangan ini. Air ludah saya pun tidak tertahan mulai membasahi rongga mulut, saya pun langsung menyuapkan soto ini ke dalam mulut. Mmmmmm, sarapan pagi yang sangat nikmat. 

Menurut saya, kuah santan berperan besar dalam membangun rasa soto ini. Kemudian isi udang dan pelengkap lain justru sebagai penyempurna citarasanya. Sudah tidak diragukan lagi, rasa soto yang berada di Jalan Ahmad Yani ini enak. Namun, menurut saya harga 25.000 rupiah per porsinya agak mahal untuk sebuah sarapan pagi berupa soto.
Perjalan kuliner saya di Medan pun berakhir siang harinya. Pulang dari Soto Kesawan, saya kembali ke hotel, packing, dan siap kembali ke Jakarta tercinta dengan menggunakan pesawat. Perjalanan kuliner kali ini cukup singkat namun banyak pengalaman yang saya dapat. Saya bangga jadi orang Indonesia, surga kuliner di khatulistiwa.

NEWSEUM: MUSEUM YANG MEMBUAT TERSENYUM

 

Pintu masuk utama Newseum

 
Sebagai kota tua dan penting di Amerika Serikat, Washington DC memang terkenal dengan berbagai museum yang sangat menarik untuk dikunjungi. Mulai dari museum yang dikelola negara seperti Museum Sejarah Amerika Serikat, Museum Sejarah Alam, Museum Pesawat dan Angkasa, hingga museum swasta seperti Museum Mata-Mata, Museum National Geographic, dan Newseum (Museum Jurnalistik). Satu museum swasta yang sangat menarik dan banyak direkomendasikan adalah Newseum atau Museum Jurnalistik.

Newseum adalah sebuah museum modern yang berisi berbagai dokumentasi dan presentasi berbagai tahapan perkembangan Pers dan Jurnalistik di seluruh dunia, khususnya Amerika Serikat. Museum 7 lantai dengan luas keseluruhan lantai mencapai 60.000 meter2 ini terletak di 555 Pennsylvania Avenue NW, Washington DC, USA. Lokasinya tepat berada di sebelah kedutaan Kanada untuk Amerika Serikat. Newseum sudah berdiri sejak tahun 1997 dengan gedung lama yang berada di wilayah Arlington. Namun, pada tahun 2000 Organisasi Independen Freedom Forum sebagai pendiri Newseum memutuskan untuk memindahkan  gedung museum ini lebih dekat dengan pusat pemerintahan di wilayah National Mall

Void utama yang berfungsi sebagai lobi Newseum dengan helikopter khas pencari berita yang menghiasi ruangan.

Awalnya saya tidak tahu sama sekali mengenai keberadaan Newseum. Kebetulan saya sedang ada di Washington DC dan berencana untuk mengeksplorasi setiap sudut kota paling penting se-Amerika Serikat itu. Seperti biasa, sebelum eksplorasi saya biasa riset sederhana dengan panduan “mbah google”. Hasilnya, banyak sekali atraksi menarik di berbagai penjuru kota Washington DC. Salah satunya adalah Newseum, namun tidak seperti museum yang dikelola pemerintah, dari awal saya mendapat informasi bahwa untuk masuk Newseum saya perlu mengeluarkan uang hampir 25 US Dolar yang setara dengan kurang lebih 340.000 rupiah. Harga yang cukup mahal untuk mengunjungi sebuah museum. Walaupun demikian, hal ini justru membuat saya semakin tertarik untuk mengunjungi Newseum karena harga yang cukup mahal tentu memiliki alasan tertentu.

Akhirnya saya menuju Newseum dengan berbekal peta elektronik yang ada di Smartphone saya. Sangat mudah, hanya dalam waktu kurang dari setengah jam dari hotel tempat saya menginap, saya pun sampai di Newseum. Bila dilihat dari bangunannya, Newseum terlihat seperti kantor modern dan tidak memiliki aura sebuah bangunan museum. Memasuki lobi utama, saya langsung disambut oleh petugas yang menyapa dengan ramah sembari memberi informasi bahwa saya harus membayar uang masuk Newseum sebesar 24.7 USD. Saya pun segera membayarkan uang itu dan bertanya apa yang akan saya dapat dari kunjungan saya di Newseum ini. Secara cepat, petugas itu menjelaskan setiap bagian Newseum yang terbagi di 7 lantai. Namun di akhir pembicaraan, ia memberikan penegasan yang membuat saya semakin bersemangat mengekplorasi bahwa saya tidak hanya akan belajar tentang dunia jurnalistik tetapi juga memaknai seperti apa itu jurnalistik dan pers yang seharusnya.

 

Sisa puing tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur.

 
Petualangan di Newseum dimulai dari lantai paling dasar yang merupakan lantai eksibisi dan tempat makan. Di lantai dasar ini saya memulainya dengan menonton 4 menit penjelasan tur Newseum dalam bentuk video. Kemudian, sebuah artefak Tembok Berlin dalam bentuk besar pun sudah menunggu untuk dijelajahi. Perlu dijelaskan bahwa semua benda yang dipamerkan merupakan benda asli terkait topik yang dipamerkan. Pada bagian Tembok Berlin ini, dijelaskan bahwa para jurnalis memiliki peran yang sangat besar dalam upaya penyatuan kembali antara Jerman Barat yang berideologi liberal dan Timur yang sarat komunisme. Selain itu, pada bagian selanjutnya yaitu pameran FBI, kekuatan media modern sangat berpengaruh dalam berbagai masalah global di masa sekarang ini, khususnya terorisme.

Dari lantai paling dasar, tur pun saya lanjutkan. Perjalanan tur Newseum ini unik karena alurnya tidak linear dari lantai bawah ke atas, melainkan dari dasar langsung menuju lantai teratas dengan menggunakan lift khusus. Lantai 6 atau yang teratas justru menjadi titik selanjutnya. Panorama terbaik Washington dengan gedung Capitol dan berbagai gedung pemerintahan lainnya menjadi “hidangan” yang menarik untuk disaksikan. Setelah itu, berturut-turut berbagai kisah mengenai jurnalistik seperti perang Vietnam, Politik Amerika Serikat, Penelusuran teroris, hingga tragedi 9/11 pun dituturkan dengan sangat jelas terstruktur, padahal bentuknya adalah eksibisi atau pameran. Mungkin hal ini disebabkan prinsip-prinsip jurnalistik yang tetap dijaga walaupun dalam bentuk penuturan museum.

Panorama dari lantai teratas Newseum.

  

Balkon terbuka sebagai atraksi yang cukup menarik bagi pengunjung Newseum.

 
 

Penanda sebelum memasuki segmen sejarah jurnalistik.

 
 Salah satu bagian yang menarik lainnya adalah sejarah perjalanan jurnalistik dan pembuatan berita. Ternyata sebelum ditemukannya mesin cetak Guttenberg, proses penyampaian berita yang kala itu hanya dalam bentuk gambar sudah sering digunakan. Terlebih setelah mesin cetak ditemukan, manusia pun semakin cerdas memberikan informasi pada manusia lainnya. Berbagai penemuan inilah yang menjadi dasar terbentuknya konsep jurnalistik modern di masa sekarang ini.

Bagian yang menurut saya paling penting dan menjadi intisari Newseum adalah eksibisi pada lantai 4 yang berisi penuturan awal mula independensi jurnalis dan amandemen pertama Amerika Serikat tentang kebebasan berbicara dan pers. Pada masa inilah, tonggak nilai-nilai jurnalisme mulai terbentuk. Seringkali para jurnalis bentrok dengan kepentingan penguasa dan para pengusaha kaya, namun justru dalam kondisi ini makna dasar jurnalistik semakin tergali dan dipelajari dari masa ke masa. Perbandingan kasarnya, bila tentara berjuang demi rakyat dengan senjata dan bahan peledak, maka para jurnalis berjuang demi kehidupan yang lebih baik dengan kamera, tinta, dan laporan independen yang kuat dan akurat. Bagi saya, lantai 4 ini banyak memberikan renungan mendalam tentang jurnalistik yang selama ini saya pelajari hanya dari teori saja. Newseum telah membawa berbagao teori jurnalistik ke level yang lebih dalam dengan berbagai hasil pengaplikasiannya. Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Newseum ini sangat penting dalam pembentukan pondasi idealisme seorang jurnalis.

 

Kumpulan foto wajah para jurnalis yang harus menanggung resiko terbesar profesi mereka: tewas.

 
Tentu idealisme tidak akan lepas begitu saja pada berbagai pelanggaran yang terjadi. Selain itu dampak resiko seorang jurnalis juga sangat terasa dan disampaikan dengan unik dalam sebuah bagian khusus segmen memori di lantai 3. Bagian ini sangat cerdas sekaligus mengharukan, tentang bagaimana banyak jurnalis yang bekerja dengan idealisme untuk kehidupan yang lebih baik tetapi harus berhenti karena kecelakaan ataupun serangan yang akhirnya menewaskan para jurnalis tersebut. Bagian ini mengingatkan saya bahwa Jurnalis bukanlah profesi yang biasa. Pekerjaan  ini adalah hal yang mulia, karena tidak hanya nafkah yang dicari tetapi sebuah kondisi ideal dimana seluruh manusia mempunyai kesetaraan untuk mendapatkan informasi yang terbaik menurut akidah-akidah jurnalistik.

 

Salah satu pembelajaran yang disampaikan dalam bentuk eksibisi.

 
  

Salah satu pembelajaran yang disampaikan dalam bentuk eksibisi.

 
 

Salah satu isi Amandemen pertama Amerika Serikat yang menjadi dasar kebebasan press di Amerika Serikat.

 

Luar biasanya, Newseum adalah sebuah museum yang memiliki konsep interaksi dengan pengunjungnya. Contohnya, pada lantai 2 terdapat sebuah segmen “green screen” bagi para pengunjung yang tertarik untuk beraksi sebagai reporter dan pembaca berita di televisi. Hal ini sangat menarik karena menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi prang yang awam dengan jurnalistik televisi. Selain itu ada juga layar panjang dan besar yang menayangkan berbagai rangkuman berita selama 100 tahun terakhir. Para pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan ini sambil santai sejenak setelah lelah berkeliling Newseum.

 

Layar panjang yang berisi rangkuman berbagai liputan berita dalam kurun waktu 1 abad terakhir.

  
  

Bagian interaktif dimana pengunjung benar-benar dapat merasakan menjadi seorang reporter atau pembaca berita.

 
 

Display berbagai sampul pemberitaan di Amerika Serikat dari masa ke masa.

 
Pada akhir perjalanan Newseum saya dapat menyaksikan berbagai foto pemenang Pulitzer. Selain itu, toko pernak-pernik khas Newseum pun terdapat di lantai 1 dan 2. Tidak lupa, sebuah pertunjukkan 4 dimensi berada di bagian bawah Newseum yang tentunya menarik para pengunjung dari segala umur untuk mencobanya. Kelebihan berikutnya yang tidak dimiliki museum pada umumnya adalah keberadaan Newseum yang juga memiliki studio berita. Beberapa studio ini disewakan ke berbagai kantor berita terkemuka di Amerika seperti NBC, ABC, maupun Al Jazeera. Bahkan bila beruntung, para pengunjung dapat bertemu dengan tokoh-tokoh penting yang akan atau sedang syuting seperti halnya Presiden Obama.

Newseum adalah museum terlengkap dan modern yang pernah saya datangi. Mengandalkan teknologi namun tidak melupakan pesan yang harus tersampaikan kepada para pengunjung. Newseum adalah satu contoh atraksi wisata yang layak dijadikan contoh oleh museum di masa kini, termasuk museum-museum di Indonesia. Hal ini menjadi penting karena museum tidak hanya menjadi sarana belajar para generasi penerus, namun sebuah peringatan dan pondasi perjuangan menuju kehidupan manusia yang lebih baik lagi. Akhirnya setelah menjelajah Newseum secara umum, saya merasa uang 24,7 USD yang saya keluarkan tidak ada apa-apanya dibandingkan pengetahuan dan makna kehidupan yang saya pelajari dalam dunia jurnalistik. Sekarang, saya bisa pulang ke Indonesia dengan penuh senyum.

phosphone | newseum | travel | 2016

 

Satu kutipan menarik tentang makna jurnalistik bagi kehidupan dan pembentuk sejarah dunia.

 
 

CIGANGSA: CURUG UNIK DAN MENARIK

image2

Alam Indonesia sangat layak untuk disebut sebagai “Yang Terkaya” di muka bumi. Bukan tanpa alasan, hampir semua ekosistem alam di dunia ini dimiliki oleh Indonesia. Misalnya, ekosistem hutan hujan tropis yang memang menjadi ciri khas utama Indonesia, ekosistem padang sabana di Nusa Tenggara dan sebagian kecil wilayah Jawa Timur, ekosistem laut beserta keindahannya yang mencakup lebih dari setengah wilayah Negara Indonesia, ekosistem gunung es di puncak Jayawijaya, bahkan ekosistem padang pasir seperti di wilayah Bromo dan sekitarnya. Kekayaan alam ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki Indonesia dibanding negara lain di dunia.

Salah satu bagian dari ekosistem hutan hujan tropis yang dimiliki Indonesia adalah air terjun atau Curug (sebutan air terjun dalam bahasa Sunda). Banyak sekali Curug yang terdapat di Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke kita dapat menemukan ribuan Curug dengan berbagai keunikannya masing-masing. Ada beberapa Curug yang cukup unik terdapat di Sukabumi, propinsi Jawa Barat, Indonesia. Curug tersebut antara lain, Curug Cikaso, Curug Cigangsa, dan beberapa Curug di wilayah CIleutuh Geo Park. Satu yang menarik perhatian saya Curug Luhur Cigangsa. Nama ini diambil dari nama sungai yang mengalirkan air hingga jatuh di tebing Curug tersebut.

image2

Curug Cigangsa dilihat dari kejauhan

Setiap Curug memiliki keunikannya masing-masing, termasuk Curug Cigangsa ini. Satu hal yang paling membedakan Curug Cigangsa dengan Curug lainnya adalah kontur tebing Curug yang berundak-undak dan memiliki banyak lapisan dengan ketinggian kurang lebih 100 meter. Keunikan lainnya adalah curah air yang tidak terlalu deras dan dapat berubah sewaktu-waktu. Hal ini disebabkan karena debit air di Sungai Cigangsa dipengaruhi oleh sawah-sawah di sekitarnya yang menggunakan air sungai untuk irigasi pertanian. Jadi, bila saluran irigasi dibuka maka debit air akan berubah deras, namun bila distribusi air untuk irigasi sudah dirasa cukup, maka saluran akan ditutup kembali dan debit air kembali mengecil.

image2

Tampak depan Curug Cigangsa dengan air yang sedang tidak terlalu deras

Beruntung ketika datang ke lokasi Curug Cigangsa, debit air tidak deras sehingga saya dan beberapa teman dapat mencapai level undakan pertama dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Selintas, kami serasa berada di miniatur bebatuan Grand Canyon, Amerika Serikat. Pemandangan yang hampir tidak mungkin kami temukan di kota besar seperti Jakarta. Foto-foto dengan angle luar biasa pun mulai kami hasilkan satu demi satu. Namun demikian, faktor keselamatan tetap harus diperhatikan mengingat tebing Curug ini sangat curam dan penuh dengan batuan keras yang cukup licin bila terkena air.

 

Tebing batu yang menyerupai batuan Grand Canyon, USA.

    

Kondisi aliran sungai menuju Curug Cigangsa yang sedang surut

 
 

Aliran air sungai Cigangsa dengan debit yang kecil

   
Curug Cigangsa berada di Desa Batusuhunan Kecamatan Sukabumi, Jawa Barat bagian selatan. Lokasinya berada sekitar 22 kilometer sebelum Pantai Ujung Genteng yang sudah lebih dulu populer, namun bila masih bingung, kalian dapat menggunakan Maps di Smartphone atau tanya warga sekitar agar lebih jelas. Untuk mencapai Curug Cigangsa, sangat disarankan untuk membawa kendaraan sendiri seperti mobil atau sepeda motor mengingat lokasinya yang masuk hingga pelosok. Sesampainya di Desa Batusuhunan, kendaraan dapat parkir di sekitar pemukiman warga dan warga biasanya hanya memungut biaya sangat murah untuk masuk dan parkir, yaitu sekitar 3000 rupiah/org dan 5000 rupiah/kendaraan. Jumlah ini sangat wajar bila kita juga memikirkan sumbangan pemasukan untuk membantu pembangunan Desa setempat.

image1

Wilayah persawahan sebagai “pintu masuk” menuju Curug Cigangsa

Dari tempat memarkirkan kendaraan, kalian akan berjalan kurang lebih 200 meter melewati daerah persawahan yang sangat indah dan menyusuri sungai Cigangsa hingga menuju Curugnya. Uniknya, kita akan menyusuri Curug ini dari pangkal atas aliran air, kemudian turun hingga undakan pertama Curug, padahal biasanya bila kita mendatangi obyek air terjun lokasi pertama yang kita temui adalah kaki tebing air terjun tersebut. Fasilitas jalan menuju Curug memang terlihat masih sangat minim dan perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah setempat. Selain itu, kebersihan juga perlu diperhatikan dengan menyediakan banyak tempat sampah di sepanjang jalan menuju Curug. Saat ini memang belum banyak wisatawan yang datang mengunjungi tempat ini karena lokasi yang jauh ke pelosok, namun satu atau dua tahun lagi Curug Cigangsa sangat berpotensi untuk menjadi obyek wisata unggulan Jawa Barat dan memberikan banyak manfaat bagi warga setempat.

image1

Translation:

Indonesian nature is very worthy to be called “The Richest” on earth. Not without reason, almost all natural ecosystems in the world is owned by Indonesia. For example, tropical rainforest ecosystem that is the main characteristic of Indonesia, ecosystem savannas in Nusa Tenggara and a small area of ​​East Java, the marine ecosystem and its beauty which covers more than half the territory of Indonesia, ecosystem iceberg in peak Jayawijaya Papua, even ecosystem field of sand in Bromo and the surrounding region. This natural wealth is one of the advantages of Indonesia compared to other countries in the world.
One part of the tropical rainforest ecosystem of Indonesia is the waterfall or called Curug (means: waterfall in Sundanese). Lots waterfall located in Indonesia, from Sabang to Merauke we can find thousands of Curug with various uniqueness of each. There are some pretty unique waterfall located in Sukabumi, West Java, Indonesia. The waterfall, among others, Curug Cikaso, Curug Cigangsa, and several waterfall in the area Cileutuh Geo Park. One that caught my attention is Curug Luhur Cigangsa. The name was taken from the river that drains water to fall on the cliffs of the waterfall.
Each waterfall has its uniqueness of each, including Cigangsa waterfall. One thing that most distinguishes Curug Cigangsa is the contour of steps cliff waterfall that have many layers with a height of approximately 100 meters. Another uniqueness is the bulk water that is not too heavy and can be changed at any time. This is because the water discharge in River Cigangsa affected by rice fields surrounding that use water from the river for agricultural irrigation. So, when the irrigation canal is opened, the water flow will turn heavy, but if the distribution of water for irrigation has been considered, then the channel will be closed and the water flow back to shrink.
Lucky when i came to location Cigangsa waterfall, the water flow is not heavy so I and some friends can reach the level of the first steps with the most amazing scenery. A glimpse, we’d be on the rocks miniature Grand Canyon, USA. The scenery is almost impossible for us to find in a big city like Jakarta. Photographs with an incredible angle began to produced by us, one by one. However, the safety factor should always important bacause the waterfall cliff is very steep and full of hard rock that is quite slippery when exposed to water.
Curug Cigangsa located in the Batusuhunan Village District of Sukabumi, West Java. The location is about 22 kilometers before the Ujung Genteng beach that already became popular, but if you are lost, you can use Maps on your Smartphones or ask local residents to be more clear. To reach the waterfall Cigangsa, it is advised to bring your own vehicle such as a car or a motorcycle because its location that very far to reached. Arriving in the village Batusuhunan, the vehicle can be parked around the residential area and residents usually only charge a very low cost for the entrance and parking, which is about 3000 rupiah / person and 5000 rupiah / vehicle. This amount is very reasonable when we think about the contribution of income to help the development of local village.
From the parking of vehicle, you will walk approximately 200 meters past a very beautiful rice fields and along river Cigangsa up towards the waterfall. Uniquely, we are going down this waterfall from the up base on the flow of water, then dropped to the first steps of the waterfall, but usually when we come to the object falls first location we encountered was the cliff foot of waterfall. Path facilities to the waterfall is seen still very low and needs to get more attention from the local government. In addition, the cleanliness also need to be considered by providing lots of trash along the road to the waterfall. Now, this tourism object still have less of tourists who come to visit because of the far away location, but one or two more years Curug Cigangsa potential to become a leading tourist attraction in West Java and provides many benefits for local residents.

phosphone I curugcigangsa I 2016

Review: NASI GORENG LEGENDA TAPI BIASA AJA

Ceritanya gini,malem mingguan kemarin gw muter-muter di wilayah Monas dan sekitarnya. Setelah nonton bioskop di Taman Ismail Marzuki, Cikini, perut kerasa laper banget. Akhirnya gw kepikiran untuk nyobain nasi goreng yang katanya paling terkenal se-Jakarta. Namanya Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Berbekal informasi nama besar dan menu andalan berbau kambing inilah, gw akhirnya menyambangi ikon kuliner Jakarta ini.

Sampai di Jalan Kebon Sirih, gak perlu khawatir kesasar. Parkiran mobil udah berderet panjang dan dimana ada titik palinh ramai, itulah tempat kuliner ini berada. Gw baru dapet parkiran sekitar 20 meter dari “TKP” dan jujur aja aroma kambing udah bisa gw cium sejak pertama buka pintu mobil. Aroma khas kambing berpadu dengan suasana yang terlihat masih ramai, padahal waktu udah lebih dari jam 12 malam. Nama besar nasi goreng ini bukan berarti membuat lapak berjualan mereka menjadi restoran besar. Nasi Goreng Kambing ini dijajakan di warung tenda yang berukuran sedang sekitar 2×10 meter di pinggiran sebuah gang kecil.

Nggak pake banyak eksplorasi, karena naga dalam perut udah kelaperan, gw pun langsung pesan dua porsi nasi goreng termasyur di Jakarta ini. Ketika pesan, satu hal yang paling “eye catching” dan khas banget adalah Nasi Goreng yang dimasak sekaligus dalam wajan super besar. Masak di wajan raksasa jadi epik karena gw merasa hal ini unik sekaligus terlihat “geli” dengan jumlah nasi yang banyak banget.



Tapi terlepas dari wajan ini, hal yang paling buat gw penasaran adalah rasa Nasi Goreng Kambing legendaris ini. Kesan pertama di aroma sih udah mantap, tempat dan ciri khas wajan raksasa juga udah “megang” banget. Akhirnya tanpa menunggu lebih dari 10 menit, Nasi Goreng Kambing pesenan gw pun jadi (karena masak nasi gorengnya “berjamaah” jadi cepet jadinya). Oia sebelumnya, pelayan warung yang semuanya laki-laki ini menaruh satu piring yang isinya timun dan potongan Kol, ini acar khas mereka yang nggak “biasa”. Nasi Goreng Kambing ini dihidangkan layaknya nasi goreng dorongan biasa, dengan pengaturan yang berantakan dan telor dadar pelengkapnya. Satu hal khas lain yang mencolok adalah 3 potongan daging kambing goreng yang melengkapi cara penyajian Nasi Goreng ini.

Nasi goreng siap! Sendokan pertama pun mengarah langsung ke dalam mulut yang sudah terbuka lebar. Perut ini seakan tidak sabar menanti masuknya makanan yang katanya jagoan Jakarta ini. Sendokan pertama sudah masuk dan berkesan BIASA!! Gw masih berpikir mungkin penyesuaian lidah gw aja. Sendokan kedua pun gw lancarkan dan hasilnya TAMBAH BIASA AJA!! Oke kali ini sendokan ketiga mungkin lebih memperjelas rasa Nasi Goreng legendaris ini. Sendokan ketiga masuk mulut, nasi goreng pun melewati lidah dan kerongkongan, perut pun memberi respon TAWAR DAN KURANG NIKMAT!!!

Tiga kali sendokan memberi kesan yang kurang baik mengenai rasa nasi goreng kambing ini. Tanpa bermaksud menjatuhkan ikon kuliner Jakarta ini, gw pun mulai mengkaji apa sebenarnya yang membuat rasa makanan ini jadi BIASA aja. Pertama, mungkin cara memasak Nasi Goreng ini yang “berjamaah” di wajan raksasa. Mungkin memasak dengan beberapa pesanan yang dijadikan satu memang sudah jadi ciri khas tukang nasi goreng. Tapi, dengan jumlah yang terlihat “geli” banyaknya ini bikin bumbu yang jadi kunci rasa kurang bercampur dengan baik. Bahkan, ada beberapa nasi yang masih terlihat putih karena belum tercampur bumbu dan kecap. 

Kedua, memang aroma khas kambing dan sedikit rasa nuansa nasi kebuli terasa di makanan ini, tetapi nggak berani dan terkesan “malu-malu”. Berkaitan dengan analisa pertama, seharusnya proporsi bumbu dipersiapkan dengan baik sehingga berbanding tepat dengan banyak nasi yang dimasak. Mengingat jumlah nasi yang dihabiskan hingga kira-kira 1-2 kuintal setiap malamnya, seharusnya bumbu pun dipersiapkan dalam jumlah banyak. Hal ini perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas rasa otentiknya. 

Ketiga, kemungkinan yang membuat rasa nasi goreng ini biasa aja adalah kurangnya improvisasi, riset dan perbandingan pada para pesaing nasi goreng lainnya di Jakarta. Nasi goreng adalah makanan malam yang banyak dijajakan di seluruh penjuru Jakarta. Menurut gw, udah banyak nasi goreng lain yang rasanya sama kayak nasi goreng kebon sirih ini, bahkan lebih enak dengan rasa yang nggak terlupakan. Beberapa diantaranya adalah nasi goreng PSJ di Universitas Indonesia, atau nasi goreng Golek yang rasanya tergolong unik, dan juga masih banyak lagi nasi-nasi goreng enak di Jakarta. Nah, sebagai salah satu kuliner legendaris di Jakarta uang namanya besar sejak lama, nggak ada salahnya berimprovisasi dan membuat perbandingan dengan nasi-nasi goreng lain. Kemudian, tanpa meninggalkan rasa khas otentik Nasi Goreng Kebon Sirih, improvisasi dilakukan supaya kuliner ini tetap dapat menjadi primadona di Jakarta.

Ini tiga hal yang jadi pemikiran gw ketika makan Nasi Goreng Kebon Sirih yang legendaris tapi rasanya BIASA. Sayang sebenernya, kalo makanan dengan resep warisan leluhur ini dibiarkan terus larut dalam popularitas dan meninggalkan kualitasnya. Belum lagi harga per porsi yang gak sebanding dengan kualitas rasa Nasi Gorengnya. Masa 1 porsi Rp 30.000? Kalo beli Nasi Goreng enak langganan gw di Depok bisa dapet 2 porsi. Mungkin ada beberapa dari kalian yang berpikir gw “lebay” karena hal sepele gini aja dipikirin banget. Guys, warisan kuliner buat gw bukan hal biasa. Kuliner ini adalah warisan, sehingga perlu dipertahankan dan diperjuangkan supaya bisa terus kadi warisan bagi generasi selanjutnya.

By the way, akhirnya makan gw pun gak habis. Makanan sisa dan terpaksa gw tinggal gitu aja. Perut emang kenyang, tapi kepuasan rasa nggak gw dapetin. Namun, bagaimanapun juga gw salut sama pemilik Nasi Goreng Kebon Sirih yang begitu legendaris ini. Buat kalian yang belum pernah nyobain, dateng aja ke warung tenda mereka di jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat. Mereka biasanya buka dari sore-sore jam 18.00 sampai larut malam. Tetep cintai kuliner Indonesia sebagai bagian warisan budaya Bangsa Indonesia.

God bless.

phosphone | Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih | Jakarta | 2015



UJUNG TOMBAK KEINDAHAN RAJA AMPAT YANG SIAP DITUSUKKAN

IMG_3693

Langit yang berwarna biru muda membaur dengan kelamnya biru lautan. Terpisah oleh cakrawala yang begitu megah membawaku pada indahnya bumi khatulistiwa. Gumpalan-gumpalan putih awan pun cantik menghiasi langit hari itu yang akan membawaku lebih terpana lagi oleh magisnya panorama Kepulauan Raja Ampat, Indonesia.

Angin mengiringi perahu motor yang kunaiki menyusuri ombak teduh perairan ini. Hampir 2 jam aku berlayar dari pelabuhan Waisai, namun rasa lelah sama sekali tidak terasa. Perjalanku sungguh menarik dan sangat berkesan. Aku semakin tak sabar menyaksikan keindahan alami yang segera akan kutemui. Aku menuju sebuah lukisan alam yang bertajuk Piaynemo.

IMG_3602 IMG_3607

Piaynemo adalah sebuah gugusan pulau karang nan indah yang membentuk gumpalan-gumpalan hijau di atas permukaan laut. Tempat ini adalah sebuah obyek wisata unggulan yang dimiliki oleh kawasan Kepulauan Raja Ampat. Piay dalam bahasa lokal berarti mata tombak dan Nemo berarti ditusukkan, maka secara umum Piaynemo berarti Mata tombak yang ditusukkan. Menurut warga setempat yang bertugas menjaga obyek ini, nama Piaynemo diberikan karena keindahan tempat ini dianggap setajam ujung tombak dan siap untuk ditusukkan.

Memasuki perairan Piaynemo, perahu motor yang kunaiki harus merapat di sebuah dermaga yang menjadi tempat tinggal penjaga tempat ini. Perlu diketahui, perairan Piaynemo adalah perairan adat yang mengharuskan para pengunjung untuk melaporkan kedatangannya terlebih dulu kepada penjaga tempat ini yang merupakan penduduk lokal. Setelah melaporkan kedatangan, sejenak aku berkeliling dermaga tersebut. Menariknya, bukan hanya sekedar dermaga, tempat itu juga memiliki penangkaran anak-anak ikan hiu. Ikan-ikan hiu ini datang sendiri karena memang wilayah Piaynemo adalah salah satu habitat hiu yang ada di Raja Ampat.

Tidak hanya sampai di penangkaran ikan hiu, tempat ini juga memiliki sebuah pantai tersembunyi yang terletak di bagian belakang salah satu pulau karang terbesar di Piaynemo. Pantai ini membentuk setengah lingkaran dengan pasir putih yang membaur dengan indahnya pepohonan hijau yang memikat serta birunya lautan lepas Raja Ampat. Aku terdiam sejenak menikmati pemandangan ini dan rasa syukur tak ada hentinya terucap di hatiku akan anugerah alam dari Tuhan ini.

IMG_3938IMG_3939

Setelah beberapa saat beristirahat di pos jaga dan dermaga Piaynemo ini, aku pun segera beranjak untuk menikmati Piaynemo yang sesungguhnya. Perahu yang bersandar pun segera bergeser ke satu tempat di Piaynemo yang bernama bukit bintang. Awalnya aku heran mengapa dinamakan bukit bintang, sampai akhirnya aku sampai di tempat tersebut dan mulai memanjat sebuah bukit yang penuh dengan karang. Pijakan demi pijakan kulalui di bukit karang tajam ini. Memang pendakian ini terasa berat karena tajamnya karang dan curamnya bukit tersebut. Sesekali aku melihat ke bawah dan ketakutan pun muncul membuatku ragu untuk melanjutkan. Namun, akhirnya aku pun berhasil sampai di puncaknya dan tahu benar kenapa bukit ini dinamakan bukit bintang. Dari titik paling atas bukit ini, aku dapat menyaksikan sebuah gugusan kecil pulau yang membentuk formasi unik dan membuat laut di bawahnya menjadi seperti bintang.

Tidak lama di bukit bintang, aku pun beranjak ke lokasi selanjutnya. Tempat ini adalah sebuah bukit yang lebih tinggi dari bukit bintang, namun sudah lebih nyaman untuk didaki karena pemerintah setempat sudah membangun deretan tangga sehingga memudahkan pengunjung untuk sampai di titik tertinggi bukit tersebut. Dengan adanya tangga ini, pengunjung tidak lagi harus mendaki karang-karang nan tajam seperti di bukit bintang. Sekitar 200 anak tangga aku naiki hingga aku sampai di sebuah balkon yang memiliki pemandangan luar biasa. Konon, titik tertinggi ini adalah tempat dengan pemandangan paling indah di Piaynemo karena dapat melihat seluruh gugusan pulau karang yang ada di Piaynemo.

IMG_3625

Bagiku, tempat ini seperti mimpi. Terik matahari siang yang begitu menusuk pun sudah tak kurasakan lagi. Tempat ini benar-benar luar biasa seperti memiliki kekuatan magis untuk memesona siapapun yang mengunjunginya. Setelah hampir 3 jam di tempat ini, aku pun bersiap pindah ke obyek wisata lainnya. Kembali dari Piaynemo, aku seperti belum terbangun dari mimpi. Obrolan Piaynemo nampaknya akan menjadi topik utama sepanjang satu minggu ke depan. Nampaknya tepat, bila dikatakan bahwa Piaynemo adalah ujung tombak keindahan Raja Ampat yang siap ditusukkan ke hati setiap pengunjungnya.

SUKU DANI, TUAN RUMAH LEMBAH BALIEM

Seorang lelaki paruh baya berdiri tegak di tengah lapangan luas dengan gagahnya. Ia seperti menunggu sesuatu yang sepertinya tidak lama lagi akan terjadi. Tubuh yang kekar berkulit hitam legam begitu mencolok terlihat diantara rerumputan hijau. Pria ini berdiri tanpa sehelai kain pun melekat di tubuhnya. Ia hanya berhiaskan gelang-gelang kayu, sebuah penutup kepala, bulu-bulu burung dan sebuah benda berbentuk kerucut panjang yang menutupi kemaluannya. Wajah sang pria nampak tenang tetapi memancarkan sikap keras yang dimiliki pria tersebut. Sosok itu adalah sebuah penggambaran seorang prajurit suku Dani, Papua.

IMG_2303

Suku Dani merupakan suku asli Papua yang mendiami wilayah pegunungan tengah pulau Papua, Indonesia. Suku yang besar dan terkenal hingga mancanegara ini berasal dari lembah Baliem, sebuah lembah yang sangat luas di daerah pegunungan tengah, dengan ibukota Wamena. Warga suku Dani dikenal sangat menyukai peperangan dan berwatak keras. Namun demikian, suku yang masih hidup tradisional ini mempunyai jiwa yang lembut dan sangat mahir dalam bidang seni. Bahkan, keramahan seringkali terpancar di wajah mereka ketika pertama bertemu wisatawan dari luar Wamena. Mereka biasanya menyambut dengan teriakan khas mereka “wa…wa……wa…..wa…..”, yang memiliki arti damai sejahtera bagi kamu.

Berbagai hasil kesenian yang sangat unik banyak sekali dimiliki oleh suku yang mulai dikenal oleh para ilmuwan Eropa pada awal tahun 1900-an. Berbagai ukiran-ukiran kayu, tari-tarian, naynyian, bahkan pernak-pernik seperti gelang, kalung, atau tas Noken (sejenis tas yang dibuat dari tali akar tumbuhan yang dianyam) menjadi kerajinan primadona yang semakin mangangkat nama besar suku Dani. Walaupun hidup secara tradisional, namun suku ini sudah cukup cerdas untuk menjual barang-barang kesenian ini dengan harga yang tergolong mahal. Mereka mendapatkan pengetahuan ini dari wisatawan-wisatawan yang silih berganti datang ke Lembah Baliem.

Secara umum, warga suku Dani mempunyai matapencaharian bercocok tanam ubi dan sayur-sayuran. Kondisi cuaca Baliem yang sejuk membuat berbagai tanaman sayur akan tumbuh dengan subur di tanah sekitar pegunungan tengah. Ketika panen, para kaum wanita Suku Dani pun akan menjual hasil panennya ke pasar-pasar di kota Wamena. Selain bercocok tanam, bagi kaum pria, mereka lebih suka berburu hewan-hewan liar seperti rusa atau babi hutan untuk dijadikan bahan makanan mereka. Suku Dani juga hidup dari beternak babi karena khusus bagi sebagian besar daerah di Papua, harga seekor Babi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

IMG_2347

Hal unik lain dari keberadaan suku Dani adalah sistem kekerabatan yang dimiliki. Warga suku Dani memiliki sistem keluarga komunal, tidak seperti masyarakat Indonesia modern yang sistemnya keluarga inti dimana satu keluarga berisi ayah, ibu, dan anak saja. Dalam sistem keluarga komunal, keluarga suku Dani dibagi menjadi komunitas yang terdiri dari 8-10 orang dan tinggal dalam satu area rumah yang disebut Silimo bersama komunitas keluarga lain. Hal ini membuat dalam satu Silimo dapat berisi sekitar 30-40 orang. Beberapa Silimo yang digabungkan akan menjadi sebuah satu kesatuan Kampung yang merupakan anggota dari sebuah Klan. Pada akhirnya, klan-klan inilah yang merupakan kumpulan suku Dani dan tersebar luas di seluruh wilayah Lembah Baliem.

Kerumitan sistem kekerabatan ini pula lah yang menjadi alasan kuat mengapa Suku Dani menyukai peperangan. Banyaknya komunitas yang terbentuk membuat mereka jadi lebih agresif ketika kelompok, kampung, bahkan klan mereka merasa direndahkan oleh kelompok lainnya. Biasanya pemicu terjadinya perang adalah perebutan tanah, pencurian ternak, dan persaingan untuk mendapatkan perempuan. Bagi mereka, nyawa seperti tidak ada harganya ketika melakukan peperangan. Namun seiring perkembangan dunia modern, kini mereka sudah mengenal sistem ganti rugi uang untuk menyelesaikan masalah. Ganti rugi ini dapat mencapai milyaran rupiah. Nyawa melayang pun dapat dihindari dan perang hanya menjadi sebuah tradisi yang direkonstruksikan ketika saat-saat tertentu saja.

IMG_2425

Walaupun dalam beberapa aturan adat mereka mau untuk menyesuaikannya dengan aturan pemerintah modern yang berlaku, masih banyak pula tradisi mereka yang tetap mereka pertahankan hingga kini. Salah satunya adalah cara mereka berpakaian, mereka masih mempertahankan adat mereka yang tidak menggunakan kain sehelai pun. Untuk kaum pria hanya memakai Koteka, sejenis labu panjang yang digunakan untuk ‘membungkus’ kemaluan dan rok rumbai-rumbai dari akar-akar tumbuhan yang dipakai kaum wanita menutupi tubuh bagian bawah mereka. Selebihnya, Suku Dani lebih bangga bertelanjang dada dalam kehidupan sehari-hari mereka. Selain pakaian, tempat tinggal Honai (rumah khas Papua dengan atap jerami, berdinding kayu, dan berbentuk jamur) pun masih mereka pertahankan. Mereka juga lebih fasih berbahasa asli daripada bahasa Indonesia dalam komunikasi antar mereka sehari-hari.

IMG_2426

Di tengah kehidupan Suku Dani yang masih sangat tradisional, mereka memiliki nilai-nilai kehidupan yang luar biasa. Sikap penghormatan mereka terhadap alam patut kita acungi jempol. Mereka sangat menghormati lingkungan mereka dan tidak akan sekalipun mereka rusak hanya untuk kepentingan modernisasi. Suku Dani percaya bahwa ketika mereka menghormati alam, sebaliknya alam pun akan menghormati serta menghargai hidup mereka. Sikap inilah yang layak dijadikan teladan bagi orang-orang kota seperti kita yang sudah terlalu banyak menghirup racun modernisasi dan lupa akan pentingnya menjaga alam. Padahal, seperti halnya Suku Dani, hidup kita pun banyak sekali ditopang oleh lingkungan alam ini.


@phosphone I dani I 2014