Perikemanusiaan yang Mempersatukan

humanity-unity-27751283455583brsv

Saat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, seseorang dapat menangis karena terharu klub idolanya menang atau sebaliknya sedih karena kalah. Begitu juga saat beribadah, seseorang dapat meneteskan air mata karena kotbah yang begitu menyentuh hati. Tidak jarang rasa sedih pun menghampiri perasaan seseorang ketika menyaksikan pemberitaan tentang makhluk hidup yang dianiyaya. Bahkan dalam pertengkaran antara suami dan istri yang berumah tangga, isak tangis histeris pun seringkali menjadi hasil dari emosi yang memuncak. Perasaan manusia terasa begitu rapuh dan mudah tersentuh, namun apa sebenarnya yang membuat hal ini tidak dapat terlepas dari keseharian hidup manusia?

Manusia dikaruniai sebuah anugerah oleh penciptanya yang berupa perasaan dengan berbagai perangkat nilai kemanusiaan. Hal inilah yang membuat manusia begitu berbeda dengan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Kemanusiaan sudah seperti dasar dari eksistensi keberadaan manusia itu sendiri lebih dari perangkat lain yang mungkin membedakan seseorang dengan orang lainnya. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, perangkat kemanusiaan ini pun seringkali disebut dengan perikemanusiaan.


Manusia juga diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya. Berbagai hal yang dianggap mendasar pun mengiringi evolusi kehidupan manusia di muka bumi. Suku, agama, ras, dan perbedaan golongan ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya pun tidak dapat terhindarkan. Beberapa pandangan pun ada yang menganggap ini sebagai sebuah kekuatan yang memunculkan manusia dalam berbagai “warna” dan keunikan. Namun, sebagian manusia lainnya justru menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah alasan untuk menguasai bahkan menghancurkan kelompok lain yang tidak sama.

1-uohcup42f6h_m0qv2etgaw

Menurut saya, pada titik inilah permasalahan horisontal antara sesama manusia pun dimulai. Sejak awal keberadaan manusia, persaingan sudah ada dan perbedaan pun sudah menjadi masalah serius yang bersifat menghancurkan bahkan mampu menjadi alasan satu pihak membunuh pihak lainnya yang tidak sejalan. Padahal, manusia masih memiliki sebuah perangkat yang disebut perikemanusiaan (seperti dibahas di awal) sebagai perangkat yang membuat manusia bernilai lebih dibandingkan hewan atau tumbuhan. Dengan pola berpikir ini, saya sangat setuju bahwa perikemanusiaan seharusnya memiliki posisi prioritas lebih tinggi dari perangkat nilai manusia yang lain, terutama yang bersifat membedakan seperti suku, agama, ras, dan antar golongan.

Mungkin saya bukan ahli dalam bidang filsafat pemikiran seperti ini, namun saya belajar dari apa yang saya alami dan saksikan lewat kehidupan ini. Sudah banyak pengalaman buruk menimpa kehidupan manusia ketika menonjolkan berbagai nilai yang hanya bersifat membedakan. Bila tidak lupa, prioritas dan kesombongan akan nilai agama telah menciptakan perang salib dan konflik timur tengah yang terus terjadi hingga saat ini. Memang agama bukan masalahnya, tapi kesombongan dan cinta buta akan agama itulah yang akhirnya membuat manusia seolah lupa akan peri kemanusiaan yang menjadi esensi keberadaan manusia. Contoh lainnya, sikap mengunggulkan ras tertentu sudah meninggalkan luka yang begitu perih dalam kisah pembantaian Nazi Jerman pada perang dunia ke-2 di masa lalu. Tragedi ini sangat menunjukkan bagaimana situasi yang akan terjadi bila meletakkan ego ras tertentu di atas peri kemanusiaan. Masih banyak contoh lain seperti konflik antar golongan yang meluluh-lantakkan Kota Ambon dan Sampit, Indonesia, atau perang ideologi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia, tragedi pemusnahan Aborigin di Australia dan penolakan etnis Rohingya di Myanmar yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Kesimpulan saya, hal buruk seringkali terjadi justru ketika perikemanusiaan dibiarkan lemah di bawah perangkat nilai manusia yang hanya membenturkan berbagai perbedaan manusia.

This slideshow requires JavaScript.

Berdasarkan pemikiran yang saya miliki ini, maka menurut saya manusia seharusnya menyadari bahwa perikemanusiaan itu adalah sebuah perangkat paling penting yang mengungkap eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa perangkat ini, bagi saya manusia tidak akan “terlihat” seperti manusia sekalipun mungkin memiliki level maksimal dalam berbagai perangkat agama, suku, ras, ataupun golongan tertentu. Namun, sayangnya sifat rakus manusia sudah mempolitisir perikemanusiaan sehingga tidak terasa penting lagi di masa kini.

Manusia abad ini terlihat justru lebih suka menempatkan berbagai nilai yang memperuncing perbedaan antar manusia sebagai prioritas penting dalam hidupnya. Dalam pengamatan saya, kini Tuhan atau Penguasa Alam Semesta seolah tak akan mampu direngkuh tanpa keberadaan agama, sentimen kesukuan sengaja dimunculkan sebagai bentuk loyalitas kelompok yang sangat perlu diperjuangkan, ras tertentu terus merasa lebih unggul dengan mengecilkan makna dari ras lainnya, bahkan konflik antar golongan pun setiap hari dapat kita saksikan mewarnai berbagai media pemberitaan dunia. Dalam benak saya, apa ini yang diharapkan Sang Pencipta manusia dari manusia ciptaanNya?

Akhirnya, saya kembali lagi kepada perikemanusiaan yang sangat penting untuk ditempatkan di atas perangkat nilai lainnya. Perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan bukan berarti tidak penting, namun membahayakan bila diletakkan di atas perikemanusiaan. Perbedaan itu perlu sebagai identitas individu yang memang diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya, namun hal ini perlu dijaga agar tidak menjadi alasan untuk sikap saling menghancurkan antar manusia. Manusia butuh sebuah perangkat yang lebih kuat untuk mempersatukan perbedaan yang ada tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Oleh karena itu, bagi saya perikemanusiaan adalah perangkat nilai yang berfungsi untuk yang mempersatukan.

humanity

God bless humanity.

SURAT UNTUK SANG PENEBAR TEROR

Dear, para penebar teror di Jakarta

Pertama-tama perkenalkan saya adalah satu di antara 250 juta rakyat Indonesia yang baru saja berhasil Anda kejutkan dengan peristiwa teror di Jalan M.H Thamrin, Jakarta. Terus terang hal ini merupakan kesedihan yang mendalam bagi kami, Bangsa Indonesia secara umum dan warga Jakarta secara khusus. Kami sangat berduka atas jatuhnya banyak korban dalam “mahakarya” Anda. Selamat, untuk awal ini Anda cukup sukses meneror kehidupan kami.

TAPI…

Perlu Anda ketahui bahwa kami bukanlah Bangsa lemah yang dengan mudah menyerah dan ikut dalam “permainan” keji Anda ini. Kami pernah selama ratusan tahun hidup dalam belenggu penebar teror seperti Anda di masa lalu. Anda harus tahu, PERSATUAN kami sudah teruji dalam masa penjajahan yang jauh lebih mengerikan dari teror Anda. Memang, kami akui akhir-akhir ini banyak sekali usaha untuk mencerai-beraikan dan mengguncang jiwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kami miliki. Namun, ketahuilah rasa CINTA dan NASIONALISME kami mungkin hanya retak…BUKAN hancur! Kami sangat mungkin meneror balik Anda dengan semangat DAMAI dan BERSATU yang kami yakini ada dalam nurani kami.

TERIMAKASIH…!

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas apa yang Anda lakukan. Melalui “mimpi buruk” yang Anda tebar ini, kami akan belajar dan mengingat lagi rasa PERSATUAN kami. Hal ini sangat berguna untuk KEBANGKITAN NASIONALISME negara tercinta kami Indonesia. Mungkin tujuan Anda melenceng dari seharusnya, sayang sekali…tapi tujuan kami sebagai satu Bangsa yang kuat dan bersatu akan segera terwujud.

Pada akhir surat ini, saya hanya ingin memaafkan apa yang sudah Anda perbuat dan meminta pengampunan Yang Maha Kuasa untuk “ketidaktahuan” Anda. Seandainya Anda tidak terlanjur meninggal dan dapat membaca surat ini, saya ucapkan terimakasih atas perhatian Anda. Tuhan memberkati.

Salam Kasih, warga NKRI