KUTUB EKSTRIM

Pagi-pagi udah ada seorang teman yang cerita kalau di Amerika Serikat (USA) sedang terjadi sebuah fenomena. Menurut ceritanya, masyarakat USA sekarang ini semakin jelas mengelompokkan diri pada dua kutub ekstrem. Satu kutub mengidetifikasikan diri mereka sebagai kelompok kanan yang ultra-nasionalis, agamis, dan cenderung berpihak pada pemerintahan saat ini. Sedangkan, kutub lainnya adalah kaum yang lebih beraliran ke-kiri-an. Mereka lebih sosialis, humanis, dan kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah USA sekarang.

CYGY.com

Uniknya, yang jadi fenomena adalah posisi salah satu kutub makin kuat karena kutub lainnya pun menguat. Hal ini akhirnya memunculkan pertanyaan tentang keberadaan mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak tengah, atau yang biasa dikenal sebagai kaum moderat. Saat fenomena ini terjadi, bagaimana dengan kaum moderat? Apa mereka akhirnya memilih salah satu kutub ekstrim? Lalu, sebenarnya seberapa “moderat” kah pihak yang dianggap moderat tersebut?

Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang memihak. Selama manusia hidup dan bisa memilih, maka kita akan selalu punya kecenderungan memihak. Dalam hal kutub ekstrim kanan dan kiri seperti yang diceritakan tadi, manusia pun selalu memiliki kecenderungan memihak. Memang tidak semuanya ekstrim, tapi pasti ada yang lebih dominan walaupun hanya sebatas pemikiran atau cara pandang saja. Bila kita beranggapan bahwa manusia adalah makhluk merdeka sekalipun, saat sudah memilih maka manusia tetap akan punya keberpihakan. Hal ini adalah “diri” manusia itu sendiri.

Too-much-of-a-good-thing-Calcium-supplements-may-be-bad-for-heart-health_wrbm_large

Namun, muncul sebuah pandangan lain yang memperluas diskusi pagi ini. Manusia tidak harus memilih dirinya sendiri. Artinya, saat kecenderungan memihak kutub kanan atau kiri itu mulai menguat, posisi untuk berada di tengah pun tetap berpotensi kuat menjadi pilihan. Tentu saja, hal ini tidak serta-merta terjadi tanpa pengaruh apapun. Layaknya kutub aliran kanan atau kiri, latar belakang seperti pendidikan, pengalaman, pergaulan, atau hal lainnya juga mempengaruhi pilihan kaum demokrat untuk berada di tengah.

Setelah berpikir beberapa jam, akhirnya topik ini berada di sebuah kesimpulan. Kaum demokrat pun juga punya peluang berada dalam titik yang ekstrim. Posisi tersebut mungkin bisa dikatakan sebagai keengganan untuk terlibat lebih jauh dengan dua kutub ekstrim lainnya. Nah, pertanyaannya apakah kondisi ini adalah sesuatu yang baik? Tentu tidak. Dunia tidak butuh sesuatu yang sekedar baik atau jahat. Dunia dan kehidupan membutuhkan keseimbangan. Bahkan, terlalu banyak hal baik adalah perihal yang buruk (Too much a good thing is a bad thing).

Just thinking of it!

Phosphone I mind I 2018

e8c4308d7cdc9196df0a6f740b7f17cf

Advertisements

FANATISME

fanatisme01221

Manusia adalah makhluk sosial dan salah satu bentuk sosialisasi yang terjadi adalah hidup berkelompok. Kalau diperhatikan, tidak hanya senang berkomunikasi dalam kelompok tertentu, tapi manusia biasanya sangat memperhatikan dan bangga dengan label yang menempel pada kelompok-kelompok tersebut. Hal ini berlaku bagi kelompok yang memang jadi pilihan pribadi, sedangkan label kelompok yang diberikan pihak lain umumnya justru lebih sering berkonotasi negatif.

Secara umum, saya beranggapan bahwa manusia sangat suka mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok di luar status ilmiahnya sebagai spesies Homo sapiens. Suku, agama, dan ras adalah beberapa contoh kelompok dalam lingkup yang luas. Selain itum pada tataran sempit biasanya manusia suka membuat kelompok-kelompok berdasarkan hobi, profesi, atau pandangan politik. Rasa bangga adalah salah satu yang menonjol dari kesukaan manusia pada gaya hidup berkelompok ini. Lalu, pertanyaan yang muncul dalam benak saya kemudian adalah “Apa dampak dari kesukaan dan rasa bangga akan kelompok-kelompok ini?.”

Saya memikirkan pertanyaan ini cukup lama. Sambil membaca beberapa artikel terkait hal ini, kemudian muncul pemikiran dalam kepala saya bahwa nilai positif atas kesukaan manusia hidup berkelompok ada pada tataran kepuasan batin semata. Bila ingin ditelaah lagi, mungkin beberapa manfaat lain seperti dukungan moril ketika kita ada dalam kondisi terpuruk yang sangat mungkin juga didapat sebagai manusia. Tapi, pemikiran yang lebih banyak menerpa adalah sebuah sikap cinta berlebihan atas kelompok yang diyakini dan seringkali justru menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai Fanatisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Fanatisme adalah sebuah keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Keyakinan ini dapat berupa rasa bangga maupun cinta seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Frasa terlalu kuat dapat diartikan sebagai berlebihan atau tidak wajar. Sedangkan ajaran, politik, agama, atau bahkan hobi, profesi, maupun latar belakang sosial ekonomi lainnya dapat saya asumsikan sebagai kelompok-kelompok yang seringkali dianggap sebagai identitas manusia.

f2b_01

Saya memiliki sebuah anggapan bahwa segala sesuatu yang berlebihan, sekalipun itu adalah hal baik, tidak akan memberikan kebaikan. Begitu juga dengan sikap bangga yang berlebihan atas suatu kelompok sangat rentan justru menghasilkan hal-hal buruk. Kecenderungan yang saya perhatikan ketika kita suka, bangga, atau bahkan cinta secara berlebihan kepada satu kelompok adalah munculnya sikap merendahkan kelompok lain yang tidak sejalan atau berbeda dengan kita. Hal inilah yang menjadi dampak buruk karena dapat “berlipat ganda” menjadi sesuatu yang berbahaya, tidak hanya pada individu namun juga kehidupan.

Ada banyak contoh dampak buruk dari rasa bangga yang berlebihan dari sebuah kelompok. Sejarah kehidupan manusia mencatat, suku-suku primitif di seluruh belahan dunia sudah melakukan itu dari masa-masa awal peradaban manusia. Peperangan antar suku tidak hanya didasari nafsu berkuasa, namun lebih jauh terjadi karena rasa benci yang dipupuk dalam bentuk kebanggaan atas suku dimana seseorang berasal. Belum lagi ketika kita melihat perang yang dilakukan oleh Nazi Jerman. Sikap Fasis yang begitu kental sangat terlihat, bahkan Hitler pun secara terang-terangan mengungkapkan kebenciannya terhadap etnis Yahudi sekaligus kebanggaannya atas ras Arya. Ia menganggap ras Arya sebagai ras paling sempurna di muka bumi dan berhak untuk menguasai kehidupan ini. Banyak peperangan antar negara pun terjadi karena rasa bangga yang berlebihan terhadap kelompok atau negara tertentu. Mereka rela saling membunuh hanya dengan dalih membela kepentingan tanah airnya dan demi kejayaan negaranya.

Kembali berpikir tentang Fanatisme, menurut saya yang membuatnya jadi buruk adalah sikap membenci yang terjadi. Layaknya 2 kutub yang salaing bertolak belakang, rasa cinta berlebihan pada sesuatu ternyata juga menghadirkan kebencian mendalam pada pihak sebaliknya. Mungkin rasa benci juga dapat terjadi pada sikap-sikap selain rasa bangga berlebihan dalam kelompok, tetapi sepengetahuan saya pengelompokan inilah yang cukup berbahaya. Bayangkan, sejak kecil kita sudah sering disusupi oleh pemahaman salah yang menjurus pada sikap rasa bangga berlebih sebagai kelompok tertentu. Misalnya, rasa bahwa agama yang kita anut adalah agama yang paling benar, sikap toleransi atau maklum pada pihak tertentu hanya karena berasal dari suku yang sama, atau bahkan keinginan kuat mencari pasangan dari kelompok sama (suku, agama, maupun ras) yang ditanamkan sejak usia sekolah.

Fanatics

Mungkin kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa kita terlahir dengan status yang sudah terbagi-bagi dalam kelompok. Namun, bagi saya pendidikan bahwa rasa bangga berlebihan itu buruk seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini. Manusia sebaiknya tidak mempertajam perbedaan yang sudah ada dalam kelompok-kelompok ini, justru sebaliknya berusaha memahami bahwa dengan perbedaan yang ada segala sesuatunya dapat mendatangkan kebaikan tanpa harus merasa kelompoknya lebih baik atau benar dari yang lain. Toh, pada akhirnya manusia dengan agama, suku, hobi, pekerjaan, atau tingkat ekonomi yang berbeda berasal dari satu spesies Homo sapiens. Bila ditarik lebih jauh lagi, Homo sapiens, hewan, maupun tumbuhan adalah makhluk hidup yang sama-sama tinggal di planet bumi. Ditarik lebih jauh lagi, maka semuanya adalah penghuni alam semesta tak terbatas. Pada akhirnya, semua memiliki kesamaan kelompok, lalu apa gunanya membeda-bedakan dengan dalih kebanggaan?

Semoga semua berbahagia,

phosphone I 2018

MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….

Movie Review: Hacksaw Ridge

hacksaw-ridge_20161030_205858

BERPERANG TANPA HARUS MEMBUNUH!!!

Film yang mengangkat kisah-kisah tentang perang memang mempunyai pesonanya sendiri. Ketegangan medan tempur yang terbalut dinamika politik, nasionalisme, bahkan romantisme seringkali menjadi daya tarik unik dari film ber-genre peperangan. Begitu pula kesan yang muncul ketika saya menonton film perang yang bertajuk Hacksaw Ridge. Namun, ekspektasi saya menjadi lebih besar ketika mengetahui bahwa sutradara di balik karya yang diangkat dari biografi kisah nyata ini adalah aktor kawakan Mel Gibson.

hacksaw-ridge

Hacksaw Ridge adalah sebuah lokasi di pesisir Okinawa, Jepang yang menjadi medan pertempuran bagi pasukan sekutu Amerika Serikat melawan pasukan pertahanan Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Tempat ini diangkat menjadi judul film mewakili sebuah kisah luar biasa seorang prajurit muda bernama Desmond Doss yang berjuang di medan perang sebagai dokter lapangan tanpa menggunakan satu senjata pun di tangannya. Prinsip yang ia miliki adalah menyelamatkan mereka yang menjadi korban perang dan bukan membunuh dalam peperangan. Ia tidak mau menggunakan senjata sejak awal masuk dalam pelatihan tentara karena keyakinan religi yang ia pegang dengan teguh.

Awalnya, banyak pihak yang menentang keinginannya karena hampir mustahil bagi seorang tentara untuk berjuang tanpa senjata di tangannya karena dapat membahayakan diri dan pasukan lainnya. Desmond tetap berkeras untuk melanjutkan pelatihannya sebagai persiapan tugas di medan tempur, bahkan ia rela dipenjarakan dan disidang secara militer. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan orang-orang sekitarnya serta perkenanan Sang Kuasa, Desmond akhirnya menjadi prajurit pertama di Amerika Serikat atau bahkan mungkin dunia yang mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan senjata dalam peperangan dan berhasil dikabulkan.

hacksaw1

Puncak dari kisah ini adalah ketika pasukan dimana Desmond Doss berada harus merebut area Hacksaw Ridge dari pertahanan pasukan Jepang. Mereka harus memanjat tebing yang sangat tinggi terlebih dahulu hingga akhirnya berada di medan pertempuran itu. Wilayah tersebut adalah neraka bagi pasukan Amerika Serikat karena pasukan Jepang begitu dahsyat bertempur tanpa henti-hentinya. Pasukan Amerika Serikat pun terpaksa mundur dan kembali menuruni tebing tinggi tersebut. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang dokter tentara Desmond Doss. Ia tinggal paling belakang dan kembali ke medan tempur sendirian tanpa senjata untuk menyelamatkan sisa pasukan yang masih hidup, terluka, dan tidak mampu untuk muncur. Sebuah keajaiban ketika akhirnya ia berhasil menyelamatkan puluhan pasukan yang terluka dan tidak mampu berpindah tempat. Dengan sisa tenaganya, dokter Doss pun menurunkan satu demi satu korban yang masih hidup dari atas tebing Hacksaw Ridge, gilanya semua ia lakukan tanpa satu senjata pun di tangannya.

Kisah heroik inilah yang berusaha ditampilkan oleh Mel Gibson dalam karyanya. Keteguhan hati seorang Desmond Doss untuk pantang menyerah menyelamatkan mereka yang membutuhkan tanpa harus membunuh menjadi poin penting makna yang ingin disampaikan dalam film ini. Bahkan dalam satu scene, Doss juga mengobati luka salah seorang tentara Jepang yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat bersembunyi dari kejaran tentara Jepang lainnya. Hebatnya, semua cerita ini adalah kejadian nyata dan semua tokohnya pun sempat diwawancarai sebagai konfirmasi atas kebenaran cerita ini sendiri.

Secara teknis, film yang disutradarai Mel Gibson tidak pernah saya sangsikan. Setiap detil situasi perang ditampilkan dengan sangat jelas. Alur cerita, dialog, fotografi, bahkan properti seakan melebur menjadi satu kesatuan secara bersama menjelaskan kisah untuk diceritakan. Penggambaran tokoh Desmond Doss pun begitu kuat dan sangat lugas dalam dialognya. Andrew Garfield yang memerankan dokter Doss pun mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Bagi saya, setiap detil di film ini sudah dapat dikatakan mendekati sempurna. Bila diberi skala 10, maka film ini saya beri nilai 9 karena ketiadaan sedikit pun celah teknis untuk dikritisi.

the-real-desmond-t-doss-next-to-andrew-garfield

Kisah dokter Desmond Doss adalah sebuah anomali di tengah situasi yang mengharuskan orang bertempur dengan prinsip “kill or to be killed”. Rasanya hampir tidak mungkin seseorang bertempur tanpa menggunakan senjata untuk membunuh. Namun, Desmond Doss telah membuktikannya dan menjadi sebuah refleksi bagi generasi masa kini yang begitu rentan terhadap kekerasan dan paham untuk saling menghancurkan. Banyak sekali peperangan modern yang seakan “terpaksa” harus dilakukan dengan alasan keamanan, perdamaian, bahkan pembelaan terhadap kebenaran dan korban pun tak terelakkan. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan menusia harus mati sia-sia dan kebencian serta kejahatan pun nyatanya tetap ada. Setelah menyaksikan film ini, saya merasa malu sebagai generasi modern yang harusnya mampu berpikir lebih logis demi kemanusiaan. Melalui film Hacksaw Ridge, kisah seorang Desmond Doss telah mengajarkan saya bagaimana caranya untuk berjuang tanpa harus membunuh atau menyakiti individu lain.

phosphone I hacksawridge I moviereview I 2016

Movie Review: BEN-HUR, Kisah Kasih Yang Mengampuni

ben-hur_poster_goldposter_com_8-jpg0o_0l_800w_80q

Kisah Ben-Hur diawali dengan eratnya persahabatan antara seorang anak bangsawan Yahudi bernama Judah Ben-Hur dengan seorang anak angkat berkebangsaan Romawi bernama Messala Severus. Mereka begitu dekat layaknya saudara kandung yang saling mendukung satu dengan yang lain hingga sulit terpisahkan. Namun ketika mereka beranjak remaja dan memasuki masa pencarian jati diri dalam latar belakang mereka yang memang berbeda, keduanya berpisah dan berusaha menemukan jalan hidupnya masing-masing. Kemudian, dengan latar belakang situasi kota Jerusalem pada abad pertama yang berada di bawah otoritas kerajaan Romawi, kedua saudara angkat ini bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Suasana rindu ternyata tak bertahan lama dan keduanya terlibat dalam sebuah insiden pemberontakan kaum Zelot Yahudi terhadap penguasa Romawi dibawah pemerintahan Pontius Pilatus.

Messala Severus yang saat itu menjabat sebagai seorang Tribun atau Komandan pasukan secara dilematis harus menghadapi Judah Ben-Hur dan keluarga angkatnya demi mempertahankan kesetiaannya kepada Pontius Pilatus dan Kekaisaran Romawi. Konflik pun dimulai, seluruh keluarga Ben-Hur terpisah dan hidup menderita. Judah Ben-Hur sebenarnya masih sangat menyayangi sang saudara angkat, namun insiden pemberontakan Zelot yang lalu telah menorehkan luka dalam sehingga dendam pun tak terelakkan. Beberapa rangkaian peristiwa akhirnya membawa Ben-Hur kembali ke kota asalnya Jerusalem dan merencanakan sebuah pembalasan terhadap Messala Severus yang saat itu sudah menjadi aset berharga Romawi dalam pacuan kereta kuda kebanggan Pontius Pilatus. Alih – alih membunuh Messala Severus, Ben-Hur bertemu dengan Ilderim yang membawanya menjadi seorang joki kereta pacuan kuda dan berkesempatan membalaskan dendam terhadap Messala melalui pertandingan pacuan kereta kuda. Walau sebagian film diwarnai oleh adegan “berdarah”, namun film ini menyuguhkan happy ending pada akhir penampilannya.

benhur

Sepintas, kisah yang diangkat dari sebuah Karya Novel berjudul BEN-HUR: A Tale of Christ karangan Lew Wallace (1880) ini memang seperti sebuah balada konflik keluarga biasa. Namun lebih daripada itu, film Ben-Hur sudah berusaha dengan sangat baik mengangkat berbagai makna positif yang terkandung dalam kisah epik ini. Cerita fiksi Ben-Hur sudah memiliki keunggulan dengan latar kehidupan di Jerusalem yang memiliki kesamaan tempat dan waktu dengan masa hidup Yesus Kristus. Bahkan bila merujuk pada judul novel aslinya (dimunculkan dalam adegan film juga), kisah Ben-Hur nampak seperti sebuah side story dari perjalanan hidup Yesus Kristus. Inilah sebabnya tidak heran bila tokoh Yesus Kristus muncul dalam beberapa adegan di film ini.

Film ini menampilkan sebuah kisah hebat yang sarat akan makna. Pesan moral tentang pantang menyerah, saling menghormati antar manusia yang berbeda keyakinan, sikap membela yang lemah, dan mengasihi sesama manusia disampaikan dengan gamblang pada tiap adegannya. Tetapi menurut saya, inti cerita kisah ini terletak pada ajaran Kasih khas Yesus Kristus yang merupakan perwujudan Kasih Tuhan kepada manusia dan digambarkan tersirat dalam hubungan antar karakter dalam film ini.Mulai dari penggambaran hubungan antara Messala dan Ben-Hur, kisah cinta Messala dan Tirzah, perjuangan Ben-Hur membebaskan ibu dan adiknya, inisiatif Yesus Kristus memberikan air minum kepada Ben-Hur yang terhukum, hingga akhirnya keputusan Ben-Hur untuk menggantikan dendamnya kepada Messala dengan pengampunan yang tak terbatas sungguh-sungguh mengajarkan tentang intisari arti Kasih kepada siapapun yang menyaksikan film ini.

Pribadi Ben-Hur sebenarnya tak berbeda dengan pribadi manusia normal pada umumnya yang penuh dengan kelebihan dan kekurangan. Pada dasarnya, ia adalah pribadi yang baik. Namun ketika hak-hak pribadi bahkan kebebasan keluarganya dilanggar, Ben-Hur dapat menunjukkan sisi dirinya yang kelam dan penuh dengan dendam. Walaupun demikian, Tuhan yang tergambar dalam sosok Yesus Kristus tetap mengasihi manusia apapun keadaan manusia tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang akhirnya ditiru oleh Ben-Hur yang berhasil mengalahkan ego dendamnya terhadap Messala dan berbalik mengampuni serta mengasihinya kembali. Pokok inilah yang sebenarnya menjadi pesan utama dalam film berdurasi sekitar 123 menit ini.

Film yang juga merupakan remake dari film berjudul sama (1959) ini menyampaikan pesan religius tentang kasih dengan cara yang sangat unik. Hal ini sangat menarik, karena pesan berharga ini pun dapat diterima secara umum sebagai sebuah nilai universal oleh seluruh penonton dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Ben-Hur sangat kuat pada narasi dan dialog penokohannya, hal ini yang menjadi kunci utama sarat makna dalam film ini. Sinematografinya pun tidak kalah ajib dengan visual effect berteknologi tinggi sehingga kesan latar suasana serta mood tiap pembabakannya pun tersampaikan dengan cantik. Namun demikian, bila dilihat dari alur penyampaian ceritanya, menurut saya film Ben-Hur (2016) ini masih agak terlalu terburu-buru padahal alur ceritanya tergolong cukup padat. Dapat dimaklumi mengingat sebagian karakter penonton masa kini yang cenderung cepat bosan dan menginginkan segala sesuatu yang instan. Akhirnya dari skala 1 sampai 10, film ini menurut saya pantas diberi nilai 8.5, terutama karena sarat makna penting bagi kehidupan.

Jakarta, Ibukota Seluas Pandanganku

jalan-jakarta

(gambar hanya sebagai ilustrasi)

Jakarta di mataku adalah sebuah jalan besar nan ramai yang seakan tak pernah tertidur. Satu wahana raksasa yang penuh dengan pelik problema kehidupan dan dinamika nafas yang tak pernah berhenti. Tak pernah mengecil dan semakin besar menggelora setiap masanya. Ibarat masakan, Jakarta adalah nasi rames yang berisi berbagai jenis makanan dengan citarasa yang beragam. Mungkin kita suka satu jenis lauknya, namun belum tentu suka lauk lainnya. Demi hidup, mau tidak mau harus dimakan dan ada harga yang harus terbayarkan. Heterogenitas yang tak terhindarkan.

Sejak celah mata ini terbuka di pagi hari, rombongan para petugas kebersihan sudah sibuk membersihkan setiap sudut jalan. Mereka hidup dari sampah yang warga buang, bekerja keras layaknya mempersiapkan “panggung konser” yang akan dipakai setiap harinya. Suara sapu lidi yang khas terdengar nyaring menyertai aroma busuk dan debu yang tak jarang tertiup angin. Beberapa kendaraan pun mulai berlalu-lalang, dimulai para angkot dan dilanjutkan mobil serta motor kaum pekerja ibukota. Bagiku, ini awal yang “cantik” untuk memulai hari.

Matahari tak selamanya berada di timur Jakarta, perlahan naik dan mengarah tepat ke atas kepala. Terik matahari yang menyengat tak segan-segan membakar otak dan hati warga Jakarta tercinta. Panasnya cuaca bersaing dengan panasnya hati, klakson kendaraan bertalu-talu terutama dari mereka yang terlambat karena kecerobohannya sendiri. Asap kelabu pun semakin tebal menempel pada kulit dan perlahan merubah kesegaran menjadi kengerian. Kengerian yang tanpa ujung dan seolah tak akan berakhir.

Jangankan wajah, daun yang berwarna hijau saja berangsur berubah warna menjadi abu-abu. Dalam benakku kemudian muncul pertanyaan, apa sebenarnya yang sedang terjadi?. Kehidupan wajar atau kehidupan yang dianggap wajar? Pertanyaanku pun mengiringi jarum pendek jam menuju angka 3 sore hari. Para pegawai pemerintahan berbaju coklat pun mulai bertebaran di pinggir jalan menunggu angkutan maupun selingkuhan. Ternyata di balik panasnya gelora persaingan ibukota tetap tersimpan banyak romantika asmara yang membara. Mereka berpacu dapatkan pelampiasan birahi setelah bekerja keras membanting tulang demi mimpi.

pekerjakantor

(gambar hanya ilustrasi)

Deru kendaraan tak terbendung kembali, semakin sore semakin kencang memekakkan  telinga. Kabut asap layaknya embun petang membaurkan kebahagian. Wajah-wajah ceria pagi tadi berubah menjadi kerutan dan kertak gigi. Semua orang tampak lelah dan bergegas mencari tujuan untuk bersantai. Dari obrolan mereka yang kudengar, sebagian memilih kafe untuk santai sebelum pulang, restoran demi memenuhi kebutuhan “kampung tengah” yang tak terbendung, atau bahkan pijat refleksi memulihkan lelahnya diri. Tak sedikit pula yang bertujuan langsung menuju rumah, bertemu keluarga masing-masing dan menghabiskan waktu berkualitas home sweet home nya.

Langit terang perlahan meredup dan menghitam, matahari pun berganti bulan. Angkasa redup namun Jakarta tetap ramai dengan segala hingar bingarnya. Tampak para pedagang kaki lima mulai menjajakan sajian jalanan pengisi perut, para makhluk malam pun mulai bertebaran. Lampu-lampu kota mulai dinyalakan dan warga pekerja sepertinya berganti para penikmat kelam.Hembusan angin terasa sejuk tetapi aku sulit untuk membedakan antara udara dengan polusi dan tiupan angin dingin dari dalam toko swalayan populer di pinggiran jalan ini. Kehidupan malam ibukota pun sudah dimulai.

Kaki-kaki jenjang nan seksi tampak mulai melangkah menghiasi trotoar kumuh penuh sampah. Pinggul-pinggul yang berlenggak-lenggok dengan piawainya mulai dipamerkan di pinggiran tempatku berdiri. satu atau dua makhluk cantik bak mahakarya Dewata ini lewat tepat di depanku meninggalkan aroma wangi yang memuncakkan gairah terselubungku. Senyum-senyum nakal pun tersungging di wajah mereka menemani malam ini. Hingga akhirnya, sebelum tengah malam habis mereka pun ikut habis terbawa oleh deretan mobil mewah yang membukakan pintu selebar-lebarnya untuk mereka. Seksinya para dara itu pun digantikan kembali oleh pasukan sapu lidi yang bekerja shift malam. Malam semakin dingin disertai suara sapu yang parau terdengar, lalu kemudian menghilang perlahan.

wanita-panggilan

(gambar hanya ilustrasi)

Jakarta oh Jakarta, ibukota tercinta Republik Indonesia. Bahagia sekaligus sesak menjadi bagian hiruk pikuknya metropolitan ini. Sedih mendengar tangis kaum papa di sebelah tempatku berada. Marah mendengar teriakan para”jagoan” bermotor yang tak kalah keras dengan suara kuda besi tunggangan mereka. Hingga akhirnya, malam ini kudengar suara jangkrik bernyanyi menutup indahnya malam.

Wahai kalian manusia yang seharusnya bersyukur tidak menjadi tiang listrik yang terbujur tegak berdiri tak beranjak seperti diriku….

…Sampai jumpa esok hari, hari berikutnya, bahkan mungkin selamanya.

A SIMPLE QUESTION



Now, i’m thinking about all of mystery in my life. There’s a lot of things in my life that in my opinion don’t have a happening reason. They became unreason when the question begin noisy in my mind. For example, why we live at this era? Why i born as a boy? Who is the arranger of the universe?

There’s a lot people that have a mind like me. Maybe, it’s too hard and complicated..but i think, it’s important. This mind is a basic thing that can explained about our life as a human. Actually, every person have thought about this mind…that’s why a religion still exist until this day.

I don’t want to bring all of our mind into my “world”, but i just wanna ask you about a simple question that have a complicated answer.

How about GOD?

I’m sorry if i disturb you…enjoy your day..

Godbless