MAU “MELIHAT” APA?


Haiiii….

Pagi ini, di sepanjang perjalanan saya melalui jalur bebas hambatan, pikiran saya melayang pada banyak hal. Sambil fokus pada laju kendaraan dan arah yang dituju, pikiran ini pun tersudut di satu titik henti. Pernahkah berpikir bahwa manusia selalu memikirkan apa yang memang ingin kita pikirkan?.

Sembari memikirkan pertanyaan tersebut, memori saya pun terbawa pada beberapa pengalaman yang pernah saya alami. Pada satu waktu, saya memiliki tokoh idola dalam dunia perpolitikan yang bersaing dalam sebuah ajang pemilihan pemimpin daerah. Idola saya tersebut memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan saingannya. Namun, tak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, idola saya ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang tidak dapat dipungkiri seperti sikap dan perkataan buruk. Sebenarnya, kekurangan ini adalah “cacat” yang dapat menjadi titik jatuh sang idola. Namun, sebagai pendukung sejati kinerjanya yang saya nilai jauh lebih jujur daripada calon lainnya, saya pun mengesampingkan fakta kekurangan pribadinya.


Pada sisi lain, saya melihat saingan idola saya sebagai sosok negatif dengan berbagai keburukan yang mendominasi. Padahal, sebagai seorang pribadi manusia, ia seharusnya juga punya cukup banyak kelebihan. Tapi, karena saya bukan pendukungnya, saya mengesampingkam berbagai fakta positif dari dirinya.

Dari pengalaman yang saya alami ini, saya melihat bahwa cukup sulit untuk bersikap obyektif saat diri kita ada di dalam keberpihakan. Ternyata, sebuah kalimat bijak lama “people only see what they want to see” benar terjadi secara nyata. Saya tidak dapat menghindari ini dan semakin yakin bahwa obyektifitas adalah konsep yang mustahil diwujudkan oleh pribadi manusia yang terlahir subyektif.


Kemudian, kesimpulan saya ini berlanjut pada sebuah pertanyaan lain. Lalu, bagaimana memilih sebuah keberpihakan yang benar atau baik bila memang obyektifitas adalah hal mustahil dalam kehidupan?. Sekarang, saya melihat adanya konsekuensi atas kesimpulan yang saya pikirkan ini.

Bagi saya, karakter, pengetahuan, dan lingkungan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya sangat menentukan keberpihakannya dalam pilihan baik-benar atau buruk-salah. Pasangan kenyataan nilai ini pada akhirnya selalu muncul untuk dipilih dalam subyektifitas kehidupan manusia. Paradoks yang hampir tidak mungkin hilang sepanjang perjalanan kehidupan manusia.

Namun demikian, menurut pandangan saya manusia masih memiliki freewill untuk mendapatkan posisi yang mendekati netral. Kita tetap dapat memilih untuk tidak memihak kubu manapun dan memposisikan diri di tengah titik imbang antara hal-hal yang dianggap baik dan buruk oleh mayoritas nilai kehidupan manusia. Ya hal ini memang kondisi yang paling baik untuk menjadi manusia obyektif, walaupun memilih untuk berdiri di tengah kenetralan sebenarnya juga merupakan sebuah keberpihakan….hehehehehe.

Tanpa sadar, mobil sudah terparkir di sebuah rest area dan sebotol jus jeruk pun hampir saya minum habis. Seperti pilihan saya untuk mengunjungi warung kopi terkenal tetapi membeli jus jeruk, kehidupan pun kadang kita lewati dengan berbagai pilihan sekaligus bermacam twist yang terjadi di dalamnya. So, just relax and enjoy the show!.

Jangan lupa bahagia….

Advertisements

Perikemanusiaan yang Mempersatukan

humanity-unity-27751283455583brsv

Saat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, seseorang dapat menangis karena terharu klub idolanya menang atau sebaliknya sedih karena kalah. Begitu juga saat beribadah, seseorang dapat meneteskan air mata karena kotbah yang begitu menyentuh hati. Tidak jarang rasa sedih pun menghampiri perasaan seseorang ketika menyaksikan pemberitaan tentang makhluk hidup yang dianiyaya. Bahkan dalam pertengkaran antara suami dan istri yang berumah tangga, isak tangis histeris pun seringkali menjadi hasil dari emosi yang memuncak. Perasaan manusia terasa begitu rapuh dan mudah tersentuh, namun apa sebenarnya yang membuat hal ini tidak dapat terlepas dari keseharian hidup manusia?

Manusia dikaruniai sebuah anugerah oleh penciptanya yang berupa perasaan dengan berbagai perangkat nilai kemanusiaan. Hal inilah yang membuat manusia begitu berbeda dengan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Kemanusiaan sudah seperti dasar dari eksistensi keberadaan manusia itu sendiri lebih dari perangkat lain yang mungkin membedakan seseorang dengan orang lainnya. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, perangkat kemanusiaan ini pun seringkali disebut dengan perikemanusiaan.


Manusia juga diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya. Berbagai hal yang dianggap mendasar pun mengiringi evolusi kehidupan manusia di muka bumi. Suku, agama, ras, dan perbedaan golongan ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya pun tidak dapat terhindarkan. Beberapa pandangan pun ada yang menganggap ini sebagai sebuah kekuatan yang memunculkan manusia dalam berbagai “warna” dan keunikan. Namun, sebagian manusia lainnya justru menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah alasan untuk menguasai bahkan menghancurkan kelompok lain yang tidak sama.

1-uohcup42f6h_m0qv2etgaw

Menurut saya, pada titik inilah permasalahan horisontal antara sesama manusia pun dimulai. Sejak awal keberadaan manusia, persaingan sudah ada dan perbedaan pun sudah menjadi masalah serius yang bersifat menghancurkan bahkan mampu menjadi alasan satu pihak membunuh pihak lainnya yang tidak sejalan. Padahal, manusia masih memiliki sebuah perangkat yang disebut perikemanusiaan (seperti dibahas di awal) sebagai perangkat yang membuat manusia bernilai lebih dibandingkan hewan atau tumbuhan. Dengan pola berpikir ini, saya sangat setuju bahwa perikemanusiaan seharusnya memiliki posisi prioritas lebih tinggi dari perangkat nilai manusia yang lain, terutama yang bersifat membedakan seperti suku, agama, ras, dan antar golongan.

Mungkin saya bukan ahli dalam bidang filsafat pemikiran seperti ini, namun saya belajar dari apa yang saya alami dan saksikan lewat kehidupan ini. Sudah banyak pengalaman buruk menimpa kehidupan manusia ketika menonjolkan berbagai nilai yang hanya bersifat membedakan. Bila tidak lupa, prioritas dan kesombongan akan nilai agama telah menciptakan perang salib dan konflik timur tengah yang terus terjadi hingga saat ini. Memang agama bukan masalahnya, tapi kesombongan dan cinta buta akan agama itulah yang akhirnya membuat manusia seolah lupa akan peri kemanusiaan yang menjadi esensi keberadaan manusia. Contoh lainnya, sikap mengunggulkan ras tertentu sudah meninggalkan luka yang begitu perih dalam kisah pembantaian Nazi Jerman pada perang dunia ke-2 di masa lalu. Tragedi ini sangat menunjukkan bagaimana situasi yang akan terjadi bila meletakkan ego ras tertentu di atas peri kemanusiaan. Masih banyak contoh lain seperti konflik antar golongan yang meluluh-lantakkan Kota Ambon dan Sampit, Indonesia, atau perang ideologi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia, tragedi pemusnahan Aborigin di Australia dan penolakan etnis Rohingya di Myanmar yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Kesimpulan saya, hal buruk seringkali terjadi justru ketika perikemanusiaan dibiarkan lemah di bawah perangkat nilai manusia yang hanya membenturkan berbagai perbedaan manusia.

This slideshow requires JavaScript.

Berdasarkan pemikiran yang saya miliki ini, maka menurut saya manusia seharusnya menyadari bahwa perikemanusiaan itu adalah sebuah perangkat paling penting yang mengungkap eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa perangkat ini, bagi saya manusia tidak akan “terlihat” seperti manusia sekalipun mungkin memiliki level maksimal dalam berbagai perangkat agama, suku, ras, ataupun golongan tertentu. Namun, sayangnya sifat rakus manusia sudah mempolitisir perikemanusiaan sehingga tidak terasa penting lagi di masa kini.

Manusia abad ini terlihat justru lebih suka menempatkan berbagai nilai yang memperuncing perbedaan antar manusia sebagai prioritas penting dalam hidupnya. Dalam pengamatan saya, kini Tuhan atau Penguasa Alam Semesta seolah tak akan mampu direngkuh tanpa keberadaan agama, sentimen kesukuan sengaja dimunculkan sebagai bentuk loyalitas kelompok yang sangat perlu diperjuangkan, ras tertentu terus merasa lebih unggul dengan mengecilkan makna dari ras lainnya, bahkan konflik antar golongan pun setiap hari dapat kita saksikan mewarnai berbagai media pemberitaan dunia. Dalam benak saya, apa ini yang diharapkan Sang Pencipta manusia dari manusia ciptaanNya?

Akhirnya, saya kembali lagi kepada perikemanusiaan yang sangat penting untuk ditempatkan di atas perangkat nilai lainnya. Perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan bukan berarti tidak penting, namun membahayakan bila diletakkan di atas perikemanusiaan. Perbedaan itu perlu sebagai identitas individu yang memang diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya, namun hal ini perlu dijaga agar tidak menjadi alasan untuk sikap saling menghancurkan antar manusia. Manusia butuh sebuah perangkat yang lebih kuat untuk mempersatukan perbedaan yang ada tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Oleh karena itu, bagi saya perikemanusiaan adalah perangkat nilai yang berfungsi untuk yang mempersatukan.

humanity

God bless humanity.