Movie Review: Hacksaw Ridge

hacksaw-ridge_20161030_205858

BERPERANG TANPA HARUS MEMBUNUH!!!

Film yang mengangkat kisah-kisah tentang perang memang mempunyai pesonanya sendiri. Ketegangan medan tempur yang terbalut dinamika politik, nasionalisme, bahkan romantisme seringkali menjadi daya tarik unik dari film ber-genre peperangan. Begitu pula kesan yang muncul ketika saya menonton film perang yang bertajuk Hacksaw Ridge. Namun, ekspektasi saya menjadi lebih besar ketika mengetahui bahwa sutradara di balik karya yang diangkat dari biografi kisah nyata ini adalah aktor kawakan Mel Gibson.

hacksaw-ridge

Hacksaw Ridge adalah sebuah lokasi di pesisir Okinawa, Jepang yang menjadi medan pertempuran bagi pasukan sekutu Amerika Serikat melawan pasukan pertahanan Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Tempat ini diangkat menjadi judul film mewakili sebuah kisah luar biasa seorang prajurit muda bernama Desmond Doss yang berjuang di medan perang sebagai dokter lapangan tanpa menggunakan satu senjata pun di tangannya. Prinsip yang ia miliki adalah menyelamatkan mereka yang menjadi korban perang dan bukan membunuh dalam peperangan. Ia tidak mau menggunakan senjata sejak awal masuk dalam pelatihan tentara karena keyakinan religi yang ia pegang dengan teguh.

Awalnya, banyak pihak yang menentang keinginannya karena hampir mustahil bagi seorang tentara untuk berjuang tanpa senjata di tangannya karena dapat membahayakan diri dan pasukan lainnya. Desmond tetap berkeras untuk melanjutkan pelatihannya sebagai persiapan tugas di medan tempur, bahkan ia rela dipenjarakan dan disidang secara militer. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan orang-orang sekitarnya serta perkenanan Sang Kuasa, Desmond akhirnya menjadi prajurit pertama di Amerika Serikat atau bahkan mungkin dunia yang mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan senjata dalam peperangan dan berhasil dikabulkan.

hacksaw1

Puncak dari kisah ini adalah ketika pasukan dimana Desmond Doss berada harus merebut area Hacksaw Ridge dari pertahanan pasukan Jepang. Mereka harus memanjat tebing yang sangat tinggi terlebih dahulu hingga akhirnya berada di medan pertempuran itu. Wilayah tersebut adalah neraka bagi pasukan Amerika Serikat karena pasukan Jepang begitu dahsyat bertempur tanpa henti-hentinya. Pasukan Amerika Serikat pun terpaksa mundur dan kembali menuruni tebing tinggi tersebut. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang dokter tentara Desmond Doss. Ia tinggal paling belakang dan kembali ke medan tempur sendirian tanpa senjata untuk menyelamatkan sisa pasukan yang masih hidup, terluka, dan tidak mampu untuk muncur. Sebuah keajaiban ketika akhirnya ia berhasil menyelamatkan puluhan pasukan yang terluka dan tidak mampu berpindah tempat. Dengan sisa tenaganya, dokter Doss pun menurunkan satu demi satu korban yang masih hidup dari atas tebing Hacksaw Ridge, gilanya semua ia lakukan tanpa satu senjata pun di tangannya.

Kisah heroik inilah yang berusaha ditampilkan oleh Mel Gibson dalam karyanya. Keteguhan hati seorang Desmond Doss untuk pantang menyerah menyelamatkan mereka yang membutuhkan tanpa harus membunuh menjadi poin penting makna yang ingin disampaikan dalam film ini. Bahkan dalam satu scene, Doss juga mengobati luka salah seorang tentara Jepang yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat bersembunyi dari kejaran tentara Jepang lainnya. Hebatnya, semua cerita ini adalah kejadian nyata dan semua tokohnya pun sempat diwawancarai sebagai konfirmasi atas kebenaran cerita ini sendiri.

Secara teknis, film yang disutradarai Mel Gibson tidak pernah saya sangsikan. Setiap detil situasi perang ditampilkan dengan sangat jelas. Alur cerita, dialog, fotografi, bahkan properti seakan melebur menjadi satu kesatuan secara bersama menjelaskan kisah untuk diceritakan. Penggambaran tokoh Desmond Doss pun begitu kuat dan sangat lugas dalam dialognya. Andrew Garfield yang memerankan dokter Doss pun mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Bagi saya, setiap detil di film ini sudah dapat dikatakan mendekati sempurna. Bila diberi skala 10, maka film ini saya beri nilai 9 karena ketiadaan sedikit pun celah teknis untuk dikritisi.

the-real-desmond-t-doss-next-to-andrew-garfield

Kisah dokter Desmond Doss adalah sebuah anomali di tengah situasi yang mengharuskan orang bertempur dengan prinsip “kill or to be killed”. Rasanya hampir tidak mungkin seseorang bertempur tanpa menggunakan senjata untuk membunuh. Namun, Desmond Doss telah membuktikannya dan menjadi sebuah refleksi bagi generasi masa kini yang begitu rentan terhadap kekerasan dan paham untuk saling menghancurkan. Banyak sekali peperangan modern yang seakan “terpaksa” harus dilakukan dengan alasan keamanan, perdamaian, bahkan pembelaan terhadap kebenaran dan korban pun tak terelakkan. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan menusia harus mati sia-sia dan kebencian serta kejahatan pun nyatanya tetap ada. Setelah menyaksikan film ini, saya merasa malu sebagai generasi modern yang harusnya mampu berpikir lebih logis demi kemanusiaan. Melalui film Hacksaw Ridge, kisah seorang Desmond Doss telah mengajarkan saya bagaimana caranya untuk berjuang tanpa harus membunuh atau menyakiti individu lain.

phosphone I hacksawridge I moviereview I 2016

Advertisements

Review: WHIPLASH


Hello guys,

Jujur, awal gw tertarik nonton film ini hanya karena dapet salah satu gelar di piala Oscar untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik. Gw gak ada ekspektasi lebih tentang film ini, layaknya film tentang musisi lainnya. Secara pribadi, film tentang musisi selalu menarik buat gw (secara gw musisi juga), tapi sering juga hasilnya mengecewakan dan gw malah tambah ngerasa film-film tentang musisi adalah “second class” movie. FYI, film tentang musisi yang terakhir gw tonton sebelum Whiplash adalah Begin Again, dan menurut gw film itu jd bagus karena unsur drama yang dibangun (bukan karena unsur musiknya). Sama juga kaya film Ray yang jadi keren karena cerita sejarah personal Ray sebagai artis musik kulit hitam buta yang kontroversial (bukan unsur musiknya). Sedangkan, ketika gw nonton film seperti August Rush yang nonjolin musiknya justru jadi kerasa kurang greget. So, gw punya kesimpulan awal bahwa film tentang musisi itu sepertinya dianggep “second class” di Hollywood.

Kesimpulan ini ada di kepala gw sampe akhirnya gw nonton film Whiplash. Awalnya gw terpancing sama tekanan parah yang diperankan oleh J.K Simmons, dia emang layak dapet oscar. Gw gak nyangka, nonton film musik bisa setegang nonton film thriller. Terakhir gw liat peran semacem ini baru di film Inglorious Bastards (Christoph Waltz) dan dia dapet oscar untuk perannya ini. Kembali ke J.K Simmons, awalnya memang yang terbayang di gw adalah peran dia di film Spiderman, tapi setelah liat keseluruhan perannya di Whiplash, gw angkat topi buat J.K Simmons.

Lepas dari alasan utama gw nonton Whiplash, gw salut sama visualisasi setiap detil di film ini. Gw bukan seorang drummer, tapi gambar-gambar yang ditampilkan bisa bikin gw ngerasain pegelnya, susahnya, capeknya dan pusingnya jadi seorang drummer dalam tekanan. Drummer bukan posisi dalam band yang populer untuk dijadikan peran dalam film musisi (biasanya vokalis, pianis, atau gitaris). Tapi Whiplash udah ngerubah pandangan ini, dan sekarang drummer pun sangat menarik untuk diangkat ke dalam film musik seperti ini. Semua ini bisa gw rasain berkat kualitas gambar dan detil gambar yang disajikan. Menurut gw, hampir semua gambar mendukung unsur drama yang dibangun. Keren!

Berikutnya adalah isi film yang “musisi” banget. Isi film ini berbobot dan menarik bukan karena unsur dramatis yang dibentuk, tapi karena unsur musikalitas yang disampaikan. Sepertinya si pembuat film ingin memyampaikan kalau musik Jazz yang berkualitas itu ada di dalam tiap detilnya. See, bukan unsur pacaran, broken home, atau kematian yang membuat film ini jadi menarik, melainkan unsur musik itu sendiri. Disamping itu, tekanan-tekanan dalam cerita semuanya berhubungan dengan musik sehingga gw bisa merasa bahwa jadi seorang musisi itu nggak selalu senang-senang, santai, mabok, atau pesta pora, tapi juga ada disiplin, keteguhan hati, prinsip dan tekanan yang bisa buat cowok pun keluar air mata. Seperti yang gw bilang di awal, bahkan gw nonton film musik serasa nonton thriller.

Dalam setiap kelebihan tentu ada kekurangan, dan menurut gw kekurangan Whiplash ada di ending yang menyisakan pertanyaan seperti apa akhir hubungan dari rivalitas Andrew dan Fletcher sang guru. Ya, mungkin ini hak prerogatif si pembuat film untuk “menggantungkan” cerita seperti ini, tapi buat gw untuk film yang udah keren dari awalnya seperti ini, sayang kalo harus ditutup tanpa konklusi.

Intinya, gw puas nonton Whiplash karena kecerdasan yang ada dalam film ini. Tidak mudah mengemas sebuah film tentang musisi dan musiknya sampai jadi menarik, apalagi posisi yang diperankan adalah seorang drummer yang tidak populer. Buat gw, skala 1-10, Whiplash punya angka 8. Keren!

Enjoy your life…

Godbless

Review: DRAGON BLADE



This is my first blog about movie review….okay, i’ll try…hehhee

Dragon Blade, sebuah karya layar lebar yang menurut gw cukup memberi kesegaran di tengah serangan film-film mainstream “barat” di awal tahun 2015.

Secara umum gw puas dengan interpretasi sang sutradara pada cerita yang ingin disampaikan. Ide ceritanya menarik dan konsep filmnya pun cukup menghibur (layaknya film-film jackie chan sebelumnya). Makna sejarah yang ingin disampaikan pun rapih tersampaikan di tiap narasi dan dialog para pemainnya. Soal tampilan gambar di film ini, gak perlu diragukan “kolosal” banget dan pemandangan padang pasir Jalur Sutera berhasil digambarkan dengan apik (baik secara digital maupun asli).

Terlepas dari benar ada atau tidaknya kota hilang “regvm”, pesan yang paling melekat di ingatan gw adalah di akhir film, dimana dua orang ilmuwan asia yang bertugas mencari kota hilang ini sepakat untuk tetap menyimpan rahasia kota tersebut walaupun mereka sudah menemukannya. Hal ini buat gw agak politis, dan bisa diterjemahkan sebagai bentuk perlawanan bangsa Asia terhadap dominasi negara-negara barat yang selalu ingin menguasai (sekalipun pada situs-situs sejarah Asia).

Kembali lagi ke isi film, menurut gw hal lain yang mencolok adalah sisi sejarah yang ditonjolkan. Entah benar atau tidak, sang penulis cerita tampak seperti ingin lebih menjelaskan situasi Jalur Sutera pada masa itu ketimbang konflik cerita yang dibangun di film. Memang keduanya disampaikan bersamaan, tapi sisi sejarah situasi Jalur Sutera lebih dominan teringat di benak gw setelah nonton film ini.

Yang terakhir dan ini merupakan kelemahan terbesar film yang katanya berbiaya sangat besar ini adalah pemilihan pemainnya. Gw gak ada masalah dengan Jackie chan yang kocak, John cusack yang heroik, atau Adrien Brody yang kejam dan dingin. Bahkan gw juga gak ada masalah dengan pemilihan pemain dari anggota boyband Asia seperti Vanness Wu atau Siwon. Masalah gw justru ada di pemilihan para pemain pembantu dan cameo-cameo dalam film seperti para budak pembangun Gerbang Angsa Liar, tentara-tentara romawi, dll. Mereka terlihat kaku seperti pemain film amatir yang main di film-film “murahan”. Mereka keliatan baca script banget dan ekspresinya pun terkesan dipaksakan (contohnya waktu ada adegan nyanyi-nyanyi bareng dan adegan saling olok antar bangsa di Gerbang Angsa). Sorry kalo kasar, tapi menurut gw untuk film epik kolosal sekelas Dragon Blade sangat disayangkan kalo pake pemain-pemain pendukung model ini. Ini “failed” terbesar yang gw rasa saat nonton film ini. Sayang, karena ekspektasi kesan megah (seperti film Troy atau 14 Blades) harus di”racun”in sama hal-hal nyampah macem cameo-cameo gagal ini.

Overall, gw apreciate banget sama Dragon Blade karena berani angkat tema yang gak terlalu populer dengan biaya yang besar. Dari skala 10, buat gw film ini punya nilai 7.5. Cukup untuk ngehibur hari-hari penat kalian yang pusing sama kerjaan. Hehehehe.

C u guys, keep enjoy your life.

Godbless!