TAK ADA YANG HARUS

unnamedKata HARUS, menurut saya adalah sebuah kata yang bermakna cukup kuat. Ada tekanan dan rasa mengikat di dalamnya, walau mungkin hal ini hanya subyektifitas diri semata.

Jika diterapkan pada berbagai lini kehidupan sehari-hari, sebuah keharusan punya dimensi yang cukup dalam bagi saya. Harus, berarti tidak bisa untuk tidak dilakukan. Keharusan dalam hidup lebih dari sekedar butuh dan perlu, bila tidak dijalani akan berdampak yang tidak diinginkan.

Mungkin saya berlebihan, tapi bagi saya hal ini cukup mendasar, mengingat perspektif hidup yang kini saya jalani. Bagi seorang relativis awam seperti saya, kata harus jelas sangat menyiksa. Menurut saya, tidak ada satupun hal di dunia ini yang harus bagi manusia.

Hidup adalah sebuah pilihan dengan berbagai konsekuensi yang mengikutinya. Manusia adalah makhluk bebas dengan segala latar belakang, pengetahuan sekaligus harapan yang membentuk alam pikirnya. Kemudian, apa yang menjadi pikirannya tersebut akan dituangkan menjadi pola laku, kebiasaan, bahkan karakter yang melekat dalam dirinya.

gauge-pressure-myb

Keharusan pun sebenarnya merupakan sebuah pilihan, artinya ada kemungkinan untuk tidak dilakukan. Selintas, pikiran saya sendiri mendebat saya, “lalu bagaimana dengan keharusan manusia untuk bernafas?”

Lagi-lagi menurut saya yang amat subyektif ini, manusia sangat mungkin untuk memilih antara bernafas dan tidak bernafas. Buktinya, ada banyak kasus bunuh diri di kehidupan yang katanya berawal dari “keharusan” manusia untuk bernafas.

Kembali lagi pada pandangan yang saya pilih, bahwa TIDAK ADA YANG HARUS bagi manusia. Semua merupakan pilihan dan selalu mengandung konsekuensi. Semua berawal dari dalam diri sendiri.

Pandangan yang saya yakini memberikan gambaran bahwa makhluk hidup tidak didesain untuk hidup dalam keharusan. Arti dasar hidup saja menurut saya jauh dari paham yang menekan seperti keharusan. Kita semua adalah makhluk yang bebas.

Menurut saya, bila seseorang memahami betul konsep ini, maka tidak perlu lagi ada perasaan tertekan dan khawatir, terlebih lagi gangguan kejiwaan yang sering kita sebut stres. Ya, tapi apa daya saya, kita semua masih manusia yang tak lepas dari kelemahan dan pengaruh ilusi kehidupan.

Tidak ada salahnya untuk terus belajar. Tidak ada yang HARUS bagi kita.

Svaha.

Feature-2_Under-pressure

UFO

029486300_1492588193-istock_000015806002small_wide-a18b23e5230e0c41f0923d72efec4a04b691374e

Aku sedang menganalisa diriku. Hari ini aku membuka mata dengan sebuah perasaan yang sulit kuidentifikasi. Berawal santai, tiba-tiba sedih, marah, senang, lalu menuju takut, bingung, kemudian sedih lagi, marah dan terus berganti. Semua terjadi secara acak dan tidak dapat kudeteksi kenapa, bagaimana, maupun apa yang harus dilakukan dalam kondisi ini. Aku menyebutnya Unidentified Feelings Object (UFO).

Sebenarnya, ada beberapa kejadian yang dapat menjelaskan beberapa perasaan (hanya beberapa). Misalnya, rasa senang karena ada seseorang yang kusukai dan setelah beberapa waktu menjadi secret admirer-nya, akhirnya aku bisa ngobrol dengan cukup panjang, walaupun topiknya busuk; kemudian rasa bingung karena aku punya kewajiban untuk menambah modal usaha kopi yang kubangun bersama beberapa teman, sayangnya sampai saat ini aku nggak tahu lagi harus mendapatkannya dari mana. Satu-satunya harapanku, yaitu ayahku terlihat tak sanggup membantuku soal ini; dan perasaan sedih yang kudapat karena aku rindu ibuku. Hanya ini, selebihnya aku tidak paham sama sekali.

Kegelisahan ini berlanjut hingga aku menaiki kuda besi yang siap mengantarku ke kantor. Sepanjang jalan, lagu “country road” yang di-cover secara acapella justru membuatku semakin merasa sendu. Ada rindu di sela rasa-rasa ini, tapi entah rindu tentang apa.

Aku semakin sulit untuk menghentikan segala pikiran yang berkembang tanpa henti ini, sepertinya makin membingungkan. Di lain sisi, rasa-rasa tadi terus berganti dalam fase yang lumayan cepat. Aku sadar, mood ku sangat mungkin ikut berganti dalam waktu yang cepat. Aku harus menjalani hari ini dengan waspada. Tanpa kusadari, aku baru saja memasukkan satu rasa lagi dalam rentetan UFO ini.

Aku merasa sejenak seperti ada hal yang akan terjadi, entah itu apa. Lalu, tetiba aku kesal dengan semua yang sudah terjadi dan tidak berhasil. Aku bisa takut menghadapi yang sama sekali belum kuketahui. Hingga akhirnya, aku diam karena tidak paham apa yang sedang terjadi di benak ini.

d0555-benang_ruwet

Sesekali, gambaran wajah itu membayangiku, perempuan baru yang entah kenapa menyita perhatianku sejak pertama melihatnya. Memang, dia sekilas mirip dengan wanitaku saat ini, yang juga sepupuku itu. Mungkinkah aku hanya mencari versi lain dari wanitaku, atau aku memang benar terpesona dengan perempuan di ‘ladang’ itu?

Selang beberapa detik menikmati perasaan itu, gambaran ibuku yang meninggal Agustus lalu mengoyak relung hati terdalam. Isyaratkan hatiku bahwa aku sudah tak punya ibu yang begitu menyayangiku tanpa syarat. Aku yakin sayangnya masih ada, tapi raga tak bisa berdusta telah tiada. Sedih dan terus meresap ke bawah sadar ini. Aku hanya bisa menghela nafas.

Sekelibat, terbayang isi dompetku yang mulai kosong, rekening tak lagi dapat memberi penghidupan. Ini busuk! Uangku habis, padahal tanggal ini masih satu digit. Entah aku besok hidup dari apa. Hebatnya, aku tak begitu kuatir soal ini, aku yakin “bahan bakar” ini baik-baik saja.

Hitungan detik berikutnya membawaku dalam fakta belum ada biaya untuk bisnis yang kujalani. saat ini sedang berkembang dan butuh asupan dana yang cukup. Saat pertama berdiri, ayahku sempat menyinggung soal modal yang kugocek dari kantongku sendiri. Ia bertanya kenapa aku tak meminta ke dia sebagai ayahku. Hal ini menjadi dasar, ketika saat ini aku sedang membutuhkan modal baru. Sayangnya, ketika aku sampaikan maksud itu, ayahku menolak secara halus dengan kata-kata ‘belum ada’. Tidak masalah, tapi ini membingungkanku.

Perasaan-perasaan aneh ini terus berotasi tanpa henti tanpa bisa kupahami. Alih-alih aku mengerti, kebingungan justru membombardir kesadaran ini. Semakin aku memaksa masuk dan mencari tahu, semakin aku tersesat dan nggak mendapat jalannya. Akhirnya aku terdiam dan memutuskan menuliskannya.

57ae8d3443142-tiga-cara-sederhana-tenangkan-pikiran-yang-sedang-ruwet_665_374

Apa yang kurasakan ini aku tahbiskan sebagai bagian dari kehidupan yang kujalani. Sulit, namun ini akan terus ada dan “show must go on“, benar kan? Biarlah semesta yang akan mengaturnya dan berkonspirasi satukan cita-cita Sang Kuasa. Aku masih di sini dan terus berusaha menikmati.

UFO I phosphone I 2020

ORANG KITA

friends

Manusia sebagai salah satu warga bumi memiliki heterogenitas yang amat beragam. Jangankan bicara pekerjaan atau status sosial, berbagai hal yang sifatnya genetik pun dimiliki manusia dengan sangat beragam. Ras, suku, bahkan karakter maupun sifat menghadirkan sebuah mahakarya “sang pencipta” yang bisa dikatakan rumit dan mutakhir.

Keberagaman ini sudah tentu tidak sama dengan keseragaman, namun manusia nyatanya memiliki kecenderungan untuk mengidentifikasikan dirinya bersama segala sesuatu yang selaras (atau dapat dibilang sama) dengan dirinya. Baik itu kesukaan seperti hobi atau selera makan, atau rasa ingin berkumpul dengan orang lain yang satu “seragam” dengan dirinya.

Kecenderungan ini seringkali kita lihat misalnya pada perkumpulan satu suku (ada banyak di Indonesia: perkumpulan suku batak, suku ambon, atau kawanua-manado); kemudian klub pencinta vespa; para moviegoers; hingga ikatan alumni sekolah atau universitas yang memiliki ikatan begitu kuat.

Ikatan-ikatan ini terkadang tersusun atas kesamaan atau keseragaman. Tidak jarang, ikatan ini bahkan lebih kuat daripada ikatan darah dalam keluarga. Salah satu yang dapat menjelaskan hal ini misalnya “korsa” di profesi tentara atau polisi. Atas dasar “korsa” ikatan dalam profesi militeristik ini menjadi kuat menyatukan individu-individu di dalamnya, sampai bisa munculkan sikap saling menutupi “aib” sesamanya.

Terlepas dari dampak negatif dari “korsa” tadi, ada satu fenomena yang terkait hal ini dan sering menjadi jargon ketika satu individu atau kelompok manusia mengindentifikasikan kesamaan dengan individu atau kelompok lainnya. Saya lebih suka menyebut fenomena ini dengan istilah “ORANG KITA”.

Pada sebuah kesempatan, saya berbincang dengan seorang teman yang bercerita bahwa di kantor tempatnya bekerja lebih banyak diisi oleh lulusan sebuah universitas ternama di Yogyakarta (sebut saja UGM, hehehe). Hal ini terjadi karena direktur perusahaan tersebut juga lulusan kampus negeri tersebut. Menurut teman saya, alasan sang direktur lebih menyukai lulusam UGM adalah karena memiliki kedekatan secara emosional dan historis edukasi. “ya, ‘orang kita’ kita juga lah,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, istilah ‘orang kita’ ini erat kaitannya dengan konsep nepotisme yang bersanding mesra bersama korupsi dan kolusi dalam KKN. Bahkan, banyak sekali perekrutan atas dasar ‘orang kita’ yang berujung pada kinerja tidak baik karena tidak mempertimbangkan faktor kemampuan yang mumpuni.

Namun demikian, bagi sebagian orang lainnya, ‘orang kita’ dapat dilihat sebagai relasi atau channel yang perlu dilestarikan. Bagi mereka, mungkin suatu saat bantuan yang diberi akan menjadi sebuah “berkat” saat sebaliknya mereka butuh bantuan.

Bagi saya, hal ini hanyalah pilihan yang tentu memiliki konsekuensi saat sudah dipilih. Tidak ada yang salah mau melihat istilah ‘orang kita’ dengan cara apapun, hanya saja kita perlu menyadari resiko dan siap menerima berbagai konsekuensi yang mungkin terjadi.

Memilih rekan berdasarkan ‘orang kita’ tidak selalu negatif. Banyak terbukti, bekerja dengan orang yang memiliki latar belakang sama dengan kita justru meningkatkan kualitas kerja, misalnya dalam hal komunikasi dan koordinasi. Sebaliknya, tidak salah juga untuk tidak memilih ‘orang kita’ sebagai tim dalam kehidupan, nyatanya perbedaan sudah menjadi faktor yang justru dapat melengkapi satu individu dengan individu lainnya.

Tapi, hal buruk dari ‘orang kita’ juga berpotensi memunculkan berbagai macam polemik yang dapat melunturkan nilai-nilai positif kehidupan. Salah satunya, “korsa” yang dapat membuat para individu dalam satu kelompok saling menutupi “aib” satu dengan lainnya.

Friendship-incity-magazine

Bagi saya, bersikap fleksibel lebih baik untuk dilakukan. Artinya, saat resiko menerima atau memilih ‘orang kita’ tidak terlalu besar dan masih dapat diatasi, saya akan melakukannya dengan alasan membantu saudara/sahabat/keluarga. Namun, bila fenomena ‘orang kita’ ini dirasa menyalahi banyak aturan dan merugikan banyak orang (seperti pada proses penerimaan Pegawai Negeri Sipil), saya memilih untuk tidak melakukannya sekalipun yang meminta bantuan masih ada hubungan darah dengan saya.

Bersikap fleksibel cukup penting bagi saya, karena dalam fase inilah penyaringan antara hal baik dan buruk terjadi. Tidak ada kebaikan yang abadi, begitu juga keburukan, segalanya relatif dan kembali pada kesiapan kita menghadapi dampak yang ditimbulkan.

Akhirnya, dengan sikap yang saya ambil, fenomena ‘orang kita’ dapat menjadi faktor yang menguatkan sekaligus bencana yang dihindarkan. Semoga pandangan ini bisa menjadi manfaat bagi kehidupan di semesta.

@phosphone I orangkita I 2020

Movie Review: Bohemian Rhapsody MEMAHAMI DIRI DARI SETIAP KEKURANGAN YANG KITA MILIKI

Rhap

Menjadi salah satu legenda dalam dunia musik itu nggak mudah, Guys. Skill tingkat dewa atau polesan make up semata belum tentu cukup untuk ngebuat kita jadi sorotan media, jangankan dunia, di Negara sendiri aja bisa dipastikan amat sulit. Banyak faktor lain yang harus kita miliki, terutama dari sisi karakter dan cara kita memandang hidup ini.

Hal inilah yang jadi pemikiran gw di antara banyak pemikiran lainnya setelah nonton salah satu film biografi terbaik tahun 2018 ini. Yes, Bohemian Rhapsody!!! Ini film keren, pake dua jempol tangan plus dua jempol kaki kalo perlu. Mungkin kayaknya respon gw lebay, tapi kalian perlu nonton film itu dulu baru bisa nilai kan? Hehehe.

Oke, dalam Movie Review kali ini gw mau ngebahas bagaimana film Bohemian Rhapsody ini berhasil membuat gw terpaku untuk beberapa waktu di kursi bioskop, sekalipun filmnya udah kelar. Jadi, awalnya gw cuma iseng aja nonton film ini sendiri, gw cuma berbekal informasi kalau film Bohemian Rhapsody ini banyak bercerita tentang kehidupan si lead vocal Freddie Mercury dan Queen yang jadi Band-nya. Nggak ada motivasi atau ekspektasi berlebih tentang film ini selain kesukaan gw pada film-film tentang musik. Apalagi, beberapa waktu sebelumnya gw udah sempet nonton A Star is Born yang dibintangi Lady Gaga n Bradley Cooper dan gw anggep cukup sukses.

queen

Nah, scene pembuka adalah point of view-nya Brian May jalan tepat di belakang Fred saat menuju panggung konser Live-Aid yang jadi salah satu konser suksesnya Queen di masa-masa sebelum Fred meninggal. Konsep awal ini udah bikin gw cukup senang karena merasa nonton dokumentasi konser-konser besar macem Woodstock atau Rock in Rio, full of energy banget deh! Kemudian, alur film mundur ke beberapa belas tahun ketika Queen belum ada dan Freddie masih jadi staff “angkat2” di Bandara Heathrow London. Bahkan, namanya pun masih Faroukh Bulsara, seorang imigran India kelahiran Zanzibar yang berasal dari keluarga sederhana penganut Zoroastrianisme.

Kisah perjalanan sang lead vocal pun berlanjut dan terus menerus membuat gw kagum sama setiap pengalaman yang ia lewati, baik secara personal maupun ketika ia sudah mapan bersama Band-nya Queen. Bahkan, gw bisa kagum sama setiap personil Band Queen yang lain seperti Brian May sang Professor Astrofisika, Roger Meddows si Dokter gigi, dan John Deacon bassist yang punya latar belakang pendidikan elektro. Mereka semua punya latar belakang pendidikan yang bikin tercengang dan membuktikan bahwa personil Band nggak selalu serampangan, kacau, dan nggak punya masa depan.

Balik lagi ke Freddie Mercury yang jadi centre of the story di film ini. Rami Malek, menurut gw sukses besar memerankan tokoh Freddie Mercury. Kalo ada yang tahu gesture khas Freddie atau cara dia ngomong di luar panggung, pasti bakal terkesan dengan cara Rami Malek menginterpretasikannya. Hampir semua yang ada di Freddie berhasil dibangkitkan oleh Rami Malek yang juga memainkan tokoh utama film Mr. Robot ini. Kalaupun ada kekurangan yang harus dikritik, menurut gw mungkin hanya tinggi badan Rami Malek yang kalah jangkung sama Fred. Rami Malek pun sukses bikin aktingnya jadi memori menghanyutkan bagi para penggemar Queen, bahkan gw yang nggak terlalu nge-fans sama Freddie Mercury aja berbalik jadi suka banget karena bisa paham seberapa legend-nya Fred lewat cara Rami Malek memerankannya.

Freddie Mercury

Berikutnya, yang jadi kekuatan film Bohemian Rhapsody lainnya adalah kejujuran yang dibangun pada setiap adegannya, Kita semua tahu bahwa Freddie adalah seorang biseksual yang menyukai kaum sejenisnya sekaligus mencintai seorang wanita bernama Mary. Film ini bener-bener bisa menggambarkan hal ini secara jujur, terbuka, tanpa harus ada kesan menghakimi. Padahal, dalam banyak sistem masyarakat dunia, menjadi seorang gay atau penyuka sesama jenis masih dianggap penyakit, sampah, bahkan nggak dianggap layak sebagai manusia. Tapi, film ini punya edukasi yang kuat tentang kondisi biseksual yang dialami Freddie Mercury. Dalam salah satu scene dimana Fred mengakui bahwa ia adalah seorang biseksual pada Mary yang sudah lama menjadi kekasihnya, Fred menunjukkan bahwa ia sudah berusaha untuk melawan hasrat gay-nya. Namun, hal ini bukanlah pilihan dan permasalahannya bukan lagi pada bagaimana menyingkirkan kenyataan bahwa ia adalah seorang gay atau biseks, tapi tentang bagaimana ia harus berjuang menerima dirinya secara utuh sekalipun nggak sesuai yang ia harapkan. Always try to embrace whatever kind of himself. Guys, ini manusiawi banget dan sangat penting untuk dikemukakan di masyarakat dunia saat ini. Hal ini bukan soal legalisasi gay, tapi bagaimana kita bisa menerima manusia lain yang “nggak sama” dengan kita, bagaimana kita bisa hidup berbagi bumi tanpa harus menghakimi.

Hal lain yang jadi bonus di film ini adalah lagu-lagu Queen yang diputar jadi soundtrack secara bertubi-tubi. Beberapa lagu bahkan bikin gw kaget karena sering gw dengar tanpa tahu kalau ini lagunya Queen, seperti Under Pressure atau Crazy Little Thing called Love. Selebihnya, lagu-lagu Queen sukses biking w ngikutin nyanyi secara nggak sadar, macam lagi nonton konser, seperti Love of My life, Bohemian Rhapsody, atau Don’t Stop Me Now. Ditambah lagi beberapa kisah menarik tentang proses penciptaan lagu-lagu Queen, misalnya tentang bagaimana Bohemian Rhapsody ditolak oleh label rekaman karena dinilai kepanjangan, lalu tentang bagaimana konflik internal yang terjadi di Queen saat penciptaan lagu Another One Bites The Dust yang dinilai keluar dari pakem Queen, atau proses romantic terciptanya lagu Love of My Life. Sudah jelas, film ini bukan sekedar drama biasa, tapi seperti inilah seharusnya film biografi musik.

Band Queen dalam film ini bukan cuma digambarkan sebagai pelengkap kisah hidup Freddie yang jadi pokok bahasan utamanya. Queen bisa dibilang adalah nyawa dari film ini, karena band inilah maka tokoh Freddie bisa digambarkan hidup dan punya karakter kuat. Queen pun digambarkan sebagai satu band rock orkestra yang sangat solid, inovatif, dan brilliant pada jamannya. Mereka benar-benar jadi satu keluarga pendobrak musik rock mainstream yang banyak berkembang pada jaman itu. Bukan sekedar hanya ingin sukses di dunia musik, tapi mereka ingin jadi pemenangnya. Bahkan, Freddie Mercury pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin sekedar jadi rockstar, melainkan seorang legenda.

rami

Inilah kurang lebih apa yang menjadi kesan gw setelah nonton film fenomenal ini. Kalau soal teknis, film keluaran Hollywood yang model gini udah nggak perlu diragukan lagi kualitasnya. Menurut gw, casting pemerannya pun salah satu yang terbaik di 2018 ini. Bukan karena gw salah satu penggemar pemeran Mary, Lucy Boynton sejak film Sing Street, tapi karena hampir semua peran yang ada dimainkan mendekati karakter aslinya. Seandainya ada skala 10, maka film Bohemian Rhapsody ini gw nilai 9, Guys. Terakhir, untuk nutup ulasan ini gw akan ngutip satu kata-kata sang Legenda Freddie Mercury yang justru gw dapet bukan dari dialog film ini.

“The most important thing is to live a fabulous life”

BR

IDE MANUSIA ADALAH INTI TEMPAT INI

Idehh

Suatu siang, gw duduk santai di sofa rumah gw. Gw biarkan pikiran ini melayang dengan liar dan tanpa batas. Gw memang sedang membiasakan diri untuk berpikir luas tanpa batasan ide tertentu, sekalipun nggak bisa dipungkiri bahwa gw masih terikat dengan banyak hal yang membatasi setiap pemikiran. Saat itu gw benar-benar dalam kondisi fisik santai sambil ditemani tiupan angin yang sejuk semilir.

Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di alam sadar. Gw terpikir tentang sebuah tempat yang memang dibangun untuk tujuan berpikir, diskusi, mengembangkan ide, tapi semua dilakukan dalam keadaan santai tanpa tekanan apapun. Inti tempat ini adalah ide dan pemikiran manusia adalah “nyawa”-nya dengan konsep santai yang jadi daya tarik utamanya. Entah apa yang jadi pemicu pikiran gw ini, tapi gw merasa perlu menuliskannya dalam bentuk artikel.

Ideeeeeee

Pertama, yang jadi inti tempat ini adalah IDE. Kreatifitas, daya telaah, kematangan berpikir, kegilaan, ekstrimisme dalam otak, radikalisme, dan banyak konsep ide lainnya adalah makanan utama yang sebenarnya di tempat ini. Ide tak terbatas jadi sebuah kesepakatan awal bagi siapapun yang ingin bergabung atau menikmati tempat ini. Gw membayangkan bahwa siapapun yang datang berhak atas segala ide yang ada di kepalanya tanpa perlu takut disebut pemberontak, penjahat, mesum, atau hal-hal negatif lainnya. Gw ingin tempat ini jadi sebuah rumah bagi milyaran ide dari manusia-manusia yang lahir dengan bermacam latar belakang. Semua orang yang datang bisa berbicara tentang berbagai macam topik seperti politik, ekonomi, lingkungan, teknologi, masa depan, astronomi, seni, seks, bahkan pikiran kotor, jahat, maupun pemberontakan.

Namun, yang perlu diingat tentang tempat ini adalah akomodasi sebatas IDE dan bukan tentang bagaimana menerapkan atau mewujudkannya. Selama masih punya format ide, semua orang berhak mengutarakannya, mendiskusikannya, bahkan memperdebatkannya. Gw ingin pemikiran liar manusia benar-benar diperas di tempat ini tanpa manusia harus meninggalkan statusnya sebagai makhluk beradab. Artinya, perkataan keras, ide ekstrem, pertentangan, bahkan debat kusir diijinkan untuk dapat terjadi selama masih dalam kerangka ide yang menjadi topik dan tidak ada kontak fisik yang terjadi.

Selanjutnya, gw ingin semua orang yang datang ke tempat ini bebas untuk berekspresi dan mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Ingat, ini sebatas ide dan bukan penerapannya. Bila ide tersebut ingin ditindaklanjuti, orang tersebut dapat melakukannya di luar tempat ini dan tidak ada kaitannya dengan tempat ini. Gw menginisiasi tempat ini sebagai bank ide dan dapur ide dimana milyaran ide diutarakan, diolah, dikembangkan, bahkan dihancurkan. Setiap orang berhak untuk membuka forum tentang ide yang ia miliki, mempromosikan idenya untuk menarik orang lain mendiskusikannya, berdebat dengan mereka yang tidak sependapat, atau dapat juga sekedar duduk santai sambil mencari inspirasi dari setiap ide yang ada.

Memang yang menjadi kelemahan adalah tidak mungkinnya tempat ini memperkirakan efek lanjutan yang akan terjadi dari ide yang muncul pasca keluar dari tempat ini. Dampak negatif sangat mungkin muncul dan terjadi di kehidupan luar tempat ini, bahkan kekacauan juga sangat mungkin timbul di tengah masyarakat yang belum dewasa menerima berbagai macam ide (terutama yang ekstrem). Namun, bukankah hal ini adalah sebuah konsekuensi dari satu peradaban yang menjunjung tinggi asas persamaan kedudukan sesama anggota masyarakat?

Ideeee

Dasar pemikiran gw tentang tempat ini hanyalah keanekaragaman ide manusia yang memang terlahir dalam situasi dan kondisi yang beranekaragam. Gw ingin, siapapun dapat menyampaikan idenya tanpa harus takut dicemooh. Soal mana ide yang akan diterima atau ditentang, itu tergantung kualitas dari ide dan cara penyampaian orang itu sendiri. Ide yang menarik, masuk akal, dan memberi nilai positif pada kehidupan tentu akan lebih disukai daripada yang sifatnya destruktif dan terlalu fiktif. Itulah sebabnya, gw membolehkan adanya perdebatan terjadi dalam tempat ini. Ide yang kurang baik dapat di-counter dengan ide lain yang mungkin lebih baik. Sebaliknya, ide yang sudah baik dapat semakin dimatangkan dengan berbagai masukan dan kritik yang dibenturkan. Gw ingin tempat ini jadi semacam dapur, sekolah, pabrik, dan thinktank untuk berbagai ide manusia yang liar dan tak berbatas.

Di tempat yang gw khayalkan ini, semua orang bisa berpikir semau mereka. Ingat, berpikir lho, bukan berbuat! Kalau soal perbuatan yang didasari pemikiran di tempat ini mah silahkan dilakukan di luar dan tempat ini nggak punya tanggung jawab soal itu. Prinsip tempat ini hanya menjadi fasilitas berpikir tanpa batas bagi semua manusia di dunia. Kalau ada yang tanya soal batasan berpikirnya, gw akan jawab kontak fisik. Tidak ada kontak fisik ekstrem yang diijinkan terjadi di tempat ini, contohnya berkelahi, mencelakakan sesama pengunjung, atau berbuat mesum di tempat ini.

Nah, daya pikir yang mendalam tentu membutuhkan pendukung situasi yang mumpuni. Suasana jadi satu faktor yang penting dalam membangun mood berpikir dan menyampaikan ide-ide brilian dari pikiran manusia yang luar biasa. Untuk itu, gw berpikir tentang tampat yang cozy, santai, tapi juga inspiratif dan punya banyak hal menarik. Pokoknya, tempat ini harus nyaman untuk berpikir dengan berbagai spot menarik yang mendukung ide-ide muncul atau dimatangkan.

Dalam khayalan gw, tempat ini akan bertemakan industrialis dengan beberapa tema berbeda di setiap spotnya. Misalnya, ada yang temanya MAIN, isinya berbagai permainan mulai dari Board Game, mainan tradisional, sampai game machine kayak Playstation atau Xbox. Tema lainnya bisa perpustakaan, dimana buku jadi menu utama dengan berbagai topik yang ditulis, mulai dari komik, pengetahuan umum, sampai ideologi politik macam komunis atau kapitalis. Selain itu, ada area kuliner yang santai banget untuk dijadiin tempat berpikir atau diskusi.

Makanan pun  beragam mulai dari tradisional sampai Internasional, tapi uniknya semua hidangan prasmanan dan setiap pengunjung boleh meracik makan sesuai idenya masing-masing. Misalnya, sambel pecel bisa dipadukan dengan steak, susu bisa dicampur berbagai minuman alkohol, atau mie goreng instan bisa dimasak sendiri untuk jadi burger atau makanan unik lainnya. Hal menarik lain yang nggak kalah pentingnya adalah tersedianya area untuk istirahat atau tidur. Jadi, di sini setiap pengunjung bisa tidur guna mengembangkan ide yang ada di kepalanya karena ada beberapa orang harus tidur dulu baru pikirannya terbuka luas. Hehehehe.

Satu hal yang jadi keunikan tempat ini adalah satu spot yang dapat dijadikan tempat setiap ide pengunjung dipromosikan. Jadi, misalnya ada seseorang yang punya ide membangun tempat aneh semacem yang gw tulis ini, dia bisa mempromosikan idenya dengan berbagai cara kreatif. Nah, asiknya, di area ini juga disediakan tempat diskusi dan beberapa konsultan ide sehingga mereka yang kebingungan ngembangin ide atau mempromosikannya bisa ngobrol-ngobrol dulu sama para konsultan atau pengunjung lain yang bebas ngasih masukan atau kritik.

Ide

Terakhir, hal penting yang muncul di pikiran gw adalah tentang siapa yang menjadi target tempat ini. Yang jelas, gw belum membatasi siapapun untuk berkunjung ke tempat ini. Siapapun boleh, umur berapapun boleh, tidak ada batasan suku, agama, ras, atau golongan ekonomi. Masalah batasan boleh atau tidak gw kembalikan ke orang-orang yang mau berkunjung, andai ada orang tua yang mau ajak anak SMP-nya ke diskusi soal sex boleh-boleh aja, atau kalau ada manusia dengan ideologi komunis mau berorasi silahkan saja, tidak ada batasan dalam hal ini. Selama tidak ada kontak fisik yang sebelumnya gw jelaskan, semua sah-sah aja untuk dilakukan. Oh iya, terkait biaya yang harus dikeluarkan oleh para pengunjung tempat ini, gw masih berpikir untuk serelanya aja. Tapi, gw dengan terus terang akan menyampaikan setiap biaya yang dikeluarkan dalam mengembangkan tempat ini. Tujuannya, supaya setiap orang bisa estimasi hal apa yang mereka dapatkan dari tempat ini dan timbal baliknya bagi tempat ini.

Memang, artikel yang gw tulis ini sifatnya masih ide dan belum tentu dapat terwujud semuanya. Bahkan, nama tempat ini aja belum terpikir. Gw sendiri belum dapat memastikan kesulitan dan detil yang harus gw hadapi saat membangun tempat ini nantinya. Ya, layaknya manusia yang selalu berkembang dan berubah, tempat ini pun akan gw arahkan demikian. Bukan gw yang akan membentuk masa depan ide tempat ini, tapi manusia-manusia yang nanti mondar-mandir di dalamnya. Kira-kira hal ini yang terlintas di pikiran gw pada siang bolong itu. Semoga bisa menginspirasi dan artikel ini sangat terbuka untuk menerima saran maupun kritikan.

Terima kasih wahai sesama manusia. 🙂

Ide bright

Movie Review-DAYA TARIK VENOM, SI ALIEN HITAM

Venommmmm

Sebagai Fanboy-nya Spiderman, gw wajib untuk jadi yang awal-awal nonton film tentang musuh bebuyutan Spidey, Venom. Pada film Spiderman 3 di tahun 2007, karakter Venom emang sempet muncul dan jadi musuh yang cukup serius buat si Spidey yang masih diperankan Tobey Maguire. Venom sendiri sebenernya adalah alien berupa symbiote yang masuk ke tubuh wartawan saingan Peter Parker bernama Eddie Brock. Gabungan ini menghadirkan sesosok makhluk dengan kekuatan luar biasa yang bisa berbuat apapun juga.

Nah, Film Venom keluaran Marvel yang dirilis Oktober 2018 ini emang cukup menarik perhatian gw sejak pertama kali diumumkan bakal dibuat. Bukan cuma karena Venom musuh Spiderman, tapi juga beberapa hal menarik lainnya. Marvel sangat jarang ngeluarin film yang secara khusus ngangkat Villain/musuh dari Superhero-superhero mereka. Sepengetahuan gw selama ini, villain Marvel yang dibuat filmnya cuma Punisher aja. So, udah pasti Venom bikin gw tertarik. Selain itu, gw semakin tertarik ketika tahu yang bakal memerankan Eddie Brock adalah Tom Hardy. Man!! Hampir semua film yang ada Tom Hardy-nya pasti gw sukai, misalnya Legend, Child 44, Dunkirk, sampe The Dark Knight Rises. Menurut gw, orang ini pemain watak yang selalu memerankan karakternya dengan pas, walaupun mungkin punya latar belakang yang beda-beda.

Ven

Berbekal beberapa ketertarikan ini, akhirnya gw nonton Venom pas pertama tayang di bioskop Indonesia. Kebetulan ada promo tiket juga, jadi gw niatin nonton di Metropole (penting banget ya gw ceritain?? hehehe). Intinya, kalian nggak akan rugi kalo harus ngeluarin duit sekitar 35.000 – 60.000 buat nonton Venom. Dengan usaha penuh untuk nggak kasih spoiler, berikut ini adalah kesan yang gw dapet setelah nonton Venom.

  1. Film ini terkesan lebih “dark” dari film-film Marvel lainnya. Mungkin karena temanya Villain kali ya. Walaupun jadi mirip film DC Comics, ciri khas film Marvel yang punya candaan-candaan di selipan dialog tetap bisa kita temuin kok.
  2. Jalan ceritanya sebenernya sederhana, tapi karakter Eddie Brock yang complicated bikin ceritanya jadi lebih berbobot untuk ditonton.
  3. Seperti gw duga, Tom Hardy ngebawain karakter Eddie Brock dengan sangat baik. Pembawaan tengil, ambisius, tapi sebenarnya minder kelihatan banget dalam setiap adegannya. Yang paling berkesan buat gw, saat gabung sama symbiote dan jadi Venom, dia bisa kelihatan jadi Bipolar banget. Hal ini bikin gw ikut ngebayangin apa yang dirasakan oleh seorang Eddie Brock a.k.a Venom. Terkait profil Eddie Brock, kayaknya juga udah mengalami banyak banget penyesuaian dengan masa sekarang. Salah satunya adalah pekerjaannya yang bukan sebagai wartawan media cetak, melainkan media elektronik TV.
  4. Visual Effect cukup keren dan asyik ditonton. Proporsional lah untuk film Venom, nggak kurang dan nggak berlebihan juga. Salah satu adegan yang gw suka ada di belakang-belakang pas adegan klimaksnya.
  5. Kalau ada satu bagian film yang mau gw kritik, mungkin karakter Venom yang gw anggep nggak jelas. Kalau mau dibilang Protagonis jelas nggak bisa, doi makan orang brayyy!!! Sebaliknya, kalau mau dianggap Antagonis juga masih punya niat nyelametin dunia dan paham arti cinta. Menurut gw, Venom sebaiknya tetap dipertahankan jahat aja. Dualisme antara jahat dan baik udah terlalu mainstream. Tantangannya mungkin gimana caranya bikin penonton suka karakter yang jahat dengan kejahatan yang mereka lakukan. Dalam hal ini, Suicide Squad lebih dapet sih. (Tapi ya balik lagi, ini kayaknya tergantung selera tiap orang)

Ya, kira-kira begitulah kesan yang gw dapet setelah nonton Venom. Secara umum, nggak rugi sama sekali, tapi juga nggak super bagus banget sih. Nggak ada pesen-pesen moral yang terlintas di benak gw. Fine lah, cocok banget buat nonton asik-asik barengan temen atau pacar. Satu hal lagi, seperti film Marvel pada umumnya, jangan buru-buru keluar bioskop ya pas film kelar. Pokoknya ada clue yang mungkin berhubungan sama film Venom selanjutnya atau malah buat the next Spiderman movie. Sekian review dari gw, selamat nonton, Guys!

Vennnn

FANATISME BERLEBIHAN HANYA MENIMBULKAN KORBAN

herd-mentality

Baru beberapa hari berlalu, Indonesia berduka atas sebuah peristiwa berdarah yang mengakibatkan tewasnya seorang pemuda bernama Haringga Sirila. Ia adalah seorang pendukung kesebelasan Persija Jakarta yang harus meregang nyawa dalam sebuah pengeroyokan yang dilakukan oleh oknum-oknum pendukung kesebelasan Persib Bandung. Kejadian ini terjadi pada momen pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung, hari Minggu (23/09/2018) di halaman luar stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, jawa Barat.

Kematian seorang pendukung kesebelasan sepakbola tanah air sebenarnya bukan yang pertama terjadi. Setidaknya ada 56 orang, termasuk almarhum Haringga yang tewas saat mendukung kesebelasan sepakbola Indonesia sejak 23 tahun terakhir. Kasus kematian mereka pun beragam, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga bentrokan antar pendukung. Jumlah ini sebenarnya cukup banyak dan sangat menyedihkan, mengingat sebab kematian mereka yang cukup “konyol” karena sikap fanatisme berlebihan kepada salah satu kesebelasan sepakbola.

herd-mentality-2196f7z

Terkait hal ini, pasca kematian Haringga, saya dan beberapa teman membicarakan sebuah konsep psikologi yang mungkin dapat memperjelas peristiwa nahas di GBLA. Konsep ini dikenal dengan sebutan Herd Behavior atau Perilaku Kawanan. Dalam penjelasannya, Herd Behavior menggambarkan tentang bagaimana satu individu yang berada dalam sebuah kelompok dapat berperilaku sama dengan kelompoknya secara kolektif tanpa adanya sebuah arahan yang tersentralisasi. Hal ini terjadi semata-mata karena adanya tendensi kesamaan sikap dari anggota mayoritas di kelompok tersebut. Biasanya, kondisi ini sering kita temui pada kawanan hewan seperti domba, wildebeest, ikan koi, burung bangau, dan hewan berkelompok lainnya.

Herd Behavior pada manusia ternyata juga dapat kita lihat pada berbagai peristiwa yang melibatkan kelompok, gerombolan, maupun massa. Demonstrasi, kerusuhan, acara olahraga, serta keagamaan adalah beberapa contoh aktifitas dimana Herd Behavior dapat kita temui. Kesamaan tujuan dan identitas seringkali menjadi dasar terjadinya perilaku kawanan ini. Transfer nilai serta ikatan kuat antar individu yang sama dengan mayoritas kelompok membuat mereka secara otomatis dapat bergerak atau berperilaku dengan dasar keputusan yang sama.

Uniknya, hanya karena kesamaan ini pula, terkadang akal sehat serta pertimbangan-pertimbangan positif pun mereka lupakan. Seperti halnya yang terjadi dalam peristiwa kematian Haringga Sirila, beberapa individu dapat menyerang Haringga, bahkan membunuhnya tanpa perlu alasan yang logis sebagai dasar perbuatannya. Mereka berbuat demikian hanya cukup dengan alasan bahwa Haringga adalah pendukung Persija Jakarta yang mereka anggap sebagai musuh Persib Bandung, kesebelasan favorit mereka. Tak peduli benar atau salah, Haringga dianggap musuh dan harus segera dihabisi.

Berbicara soal fanatisme berlebihan, menurut saya, peristiwa berdarah di GBLA yang lalu adalah sebuah fakta yang menjadi sebuah cerminan tentang kondisi sebagian masyarakat Indonesia di masa belakangan ini. Sejujurnya, Herd Behavior seperti yang terjadi di GBLA juga pernah terjadi dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya. Sebut saja Demonstrasi 212 pada 2017, saat menuntut Gubernur Ahok untuk mundur karena dianggap menista agama Islam, lalu kerusuhan Jakarta di tahun 1998 menjelang reformasi, juga berbagai demonstrasi politik lain yang terjadi dengan ratusan nyawa menjadi korbannya.

Menurut saya, Herd Behavior yang terjadi di Indonesia seringkali berpotensi atau bahkan sudah mengakibatkan hilangnya banyak nyawa. Ini adalah sebuah fakta yang terjadi dan penting untuk menjadi perhatian kita semua. Suka atau tidak, ada yang sesuatu yang salah dengan kondisi psikologis sebagian manusia Indonesia. Saya tidak mengatakan seluruhnya karena masih banyak juga manusia Indonesia yang menyadari kondisi menyedihkan ini dan berusaha menghindarinya, atau bahkan mengatasinya.

_99115028_herd-nc

Beberapa tahun terakhir, isu Suku, Agama, Rasa, dan Antar golongan (SARA) seringkali muncul menjadi penyebab berbagai ketegangan seperti yang terjadi di GBLA. SARA adalah satu faktor yang rentan untuk dimanfaatkan oleh sebagian kelompok elit di Indonesia untuk meraih atau mempertahankan kekuatan politik mereka. Hal ini cukup bahaya karena belum seluruh masyarakat Indonesia memiliki pertahanan yang cukup atas berbagai terpaan negatif ini. Oleh sebab itu, kerusuhan serta jatuh korban seperti di GBLA selalu memiliki potensi besar untuk terjadi.

Saya beranggapan demikian karena ada kesamaan pola antara Herd Behavior yang terjadi di GBLA dengan beberapa peristiwa bermassa besar sebelumnya. Semua didasari oleh sebuah fanatisme berlebihan atas sesuatu yang mereka yakini atau mereka bela. Mungkin tokoh intelektualnya hanya ada beberapa orang saja, namun ketika isu provokatif sudah sampai di level akar rumput, bukannya tidak mungkin membunuh sesama manusia pun dapat mereka anggap sebagai satu kebenaran.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan, apalagi bila kita sadari bahwa Indonesia merupakan sebuah negara heterogen yang memiliki jumlah warga negara keempat terbesar di dunia. Sejak pertama kemerdekaan dideklarasikan, perpecahan sudah menjadi momok bagi persatuan bangsa Indonesia. Perbedaan agama, suku, tingkat ekonomi, bahkan kesebelasan sepakbola favorit dapat menjadi alasan mendasar bagi massa yang besar untuk menimbulkan berbagai dampak negatif seperti kerusuhan, kerusakan, bahkan kematian.

Sudah saatnya kita perlu sadari betul hal ini dan mulai bergerak bersama untuk mencegah berbagai hal buruk terjadi lagi. Kematian Haringga adalah tamparan keras bagi kita dalam membina keluarga, lingkungan, atau kehidupan bernegara yang beradab. Kita tidak perlu saling menyalahkan, walaupun hukum tetap harus ditegakkan. Kesadaran diri masing-masing jauh lebih berarti agar kejadian berdarah serupa di GBLA tidak akan terulang kembali.

#RIPHaringgaSirila

Phosphone I mind I 2018

Supporter

Movie Review: SULTAN AGUNG, Cara Asyik Menikmati Film Sejarah.

Untuk para pencinta film karya Putra-Putri Indonesia….

Udah pada nonton film Sultan Agung karya Pak Sutradara Hanung Bramantyo belum?

Emang sih, film ini udah tayang di bioskop agak lama. Tapi, belum terlambat untuk saya tonton dan nyatanya LAYAK BANGET untuk DIAPRESIASI. Saya nggak akan membahas ceritanya, karena dari judul udah jelas kalo ini pasti film tentang sejarah Kerajaan Mataram. Nah, yang bikin saya tergerak untuk nulis tentang film ini lebih kepada berbagai sisi teknis pembuatan film di mata awam saya yang hanyalah penikmat film layar lebar (baik lokal maupun mancanegara).

Menurut saya, film Sultan Agung terlihat dipersiapkan secara matang dan penuh dengan dedikasi antara berbagai pihak seperti sponsor, kru, maupun para pemain. Terlepas dari berbagai kekurangan produksi yang sudah pasti ada, hasil akhir film ini SANGAT MENARIK untuk disaksikan (padahal film bertema sejarah seringkali membosankan).

Hal pertama yang saya apresiasi ada pada penulisan jalan cerita yang nampaknya memakan waktu lama dengan berbagai studi dan riset mendalam (ini ciri film2nya Hanung sih). Selain itu, cara penyampaian setiap detil film sangat artistik sekaligus runut sehingga para penonton tidak kebingungan walaupun mungkin belum pernah tahu sejarah Mataram Kuno.

Berikutnya, ada pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita. Pada setiap babak, banyak sekali perihal yang mencerminkan situasi Indonesia secara umum di masa kini, terutama dalam hal perpolitikan, sosial dan budaya. Ini menarik, karena menurut saya, rakyat Indonesia dan para elit politik bisa belajar dari apa yang dialami Kerajaan Mataram di masa Sultan Agung dulu. Selain itu, jika kita jeli, banyak sekali pesan moral kemanusiaan yang disampaikan sebagai pelajaran tanpaperlu menghakimi pihak-pihak tertentu. Salah satu yang saya ingat adalah tentang bagaimana Yang Maha Kuasa tidak bisa merubah jalan hidup seseorang bila orang itu nggak mau berubah.

Ketiga, proses pemilihan pemeran dan pendalaman karakter sangat kuat. Karakter Sultan Agung diperankan dengan sangat baik oleh Ario Bayu (udah nggak perlu diragukan sih). Bahkan, pemeran Sultan Agung muda (Marthino Lio) punya wajah yang sangat mirip Ario Bayu sehingga jalan ceritanya makin asik untuk ditelusuri. Selain itu, masih ada beberapa tokoh lain seperti Ki Jejer (alm. Deddy Sutomo), Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi), Lembayung (Putri Marino dan Adinia Wirasti), dan Kelana (Rifnu Wikana) yang menurut saya layak mendapat pujian atas keberhasilan mereka mendalami perannya.

Selanjutnya, properti dan pemilihan lokasi syuting juga sangat berhasil membangun suasana di sepanjang film. Pakaian yang digunakan para pemain sangat menarik tanpa meninggalkan kesan kunonya. Berbagai lokasi yang dipilih pun cukup mewakili kemungkinan situasi yang ada pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Terakhir, pembagian porsi yang proporsional banget antara drama filosofis, konflik, romansa, komedi, sampai aksi laga. Inilah yang bikin film ini makin keren untuk ditonton. Soal adegan perang dan berantem, menurut saya nggak kalah sama film The Raid. Kisah romantis menunjukkan percintaan khas orang-orang Jawa jaman dulu tanpa kesan norak sama sekali. Komedi berhasil diselipkan dengan pas di adegan-adegan yang tampak serius. Yang terpenting, pesan moral mulus tersampaikan di sepanjang film sejak mulai hingga selesai.

Bila ada hal yang perlu dikritik, bagi saya mungkin hanya sedikit. Pertama, karakter para penjajah VOC yang masih diperankan dengan agak kaku. Tapi, hal ini pun sebenarnya sudah sangat baik, mengingat tidak mudah mencari pemain film “bule” yang mampu selaras dengan aktor dan aktris dalam film Indonesia.

Berikutnya, promosi yang saya nilai masih kurang. Untuk film sekelas Sultan Agung, menurut saya “gembar-gembornya” harusnya bisa setara dengan film Soekarno, Wiro Sableng-nya Angga Dwimas atau film Cek Toko Sebelah-nya Ernest Prakasa. Hal ini penting, terutama untuk menjaring para penonton yang terbiasa menggunakan Sosial Media untuk mencari informasi. Harusnya sih, JANGAN SAMPAI KALAH PROMOSI dengan film-film lokal lain yang temanya sekedar cinta-cintaan, setan-setanan atau komedi ringan tanpa bobot pesan moral di dalamnya.

Secara keseluruhan, Film Sultan Agung adalah film yang LENGKAP. Sejarahnya dapet, romantis ada, komedi dikit tapi asik, laga pertarungan keren, drama dan konflik politik kental, bahkan pesan-pesan moral “ngena” banget. Menurut saya, film ini nggak kalah (bahkan LEBIH BAIK) dari film-film sejarah khas Hollywood atau Bollywood.

Ya kira-kira uraian ini lah yang mau saya curhatkan, hehehehe. Terus terang, saya mengapresiasi banget film Sultan Agung. Harapan saya, ke depan makin banyak lagi film-film bertema sejarah Indonesia yang bisa diangkat dengan apik ke layar lebar. Jangan lupa juga, setelah eksekusi dan hasil yang mumpuni, tahap promosi juga harus dipikirkan secara matang supaya film Indonesia bisa jadi RAJA di rumahnya sendiri.

Terkait Dollar US yang lagi naik, nonton film buatan Anak Bangsa sendiri bisa jadi salah satu solusi ngadepinnya lho (ape sih??), hehehe. Jangan lupa, ada Wiro Sableng n Petualangan Menangkap Petir yang menarik juga buat ditonton.

Dukung film Indonesia, maju terus dan pantang menyerah dalam membuat karya!!!

Bayu Satito😁

-Orang awam yang suka nonton film-

KUTUB EKSTRIM

Pagi-pagi udah ada seorang teman yang cerita kalau di Amerika Serikat (USA) sedang terjadi sebuah fenomena. Menurut ceritanya, masyarakat USA sekarang ini semakin jelas mengelompokkan diri pada dua kutub ekstrem. Satu kutub mengidetifikasikan diri mereka sebagai kelompok kanan yang ultra-nasionalis, agamis, dan cenderung berpihak pada pemerintahan saat ini. Sedangkan, kutub lainnya adalah kaum yang lebih beraliran ke-kiri-an. Mereka lebih sosialis, humanis, dan kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah USA sekarang.

CYGY.com

Uniknya, yang jadi fenomena adalah posisi salah satu kutub makin kuat karena kutub lainnya pun menguat. Hal ini akhirnya memunculkan pertanyaan tentang keberadaan mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak tengah, atau yang biasa dikenal sebagai kaum moderat. Saat fenomena ini terjadi, bagaimana dengan kaum moderat? Apa mereka akhirnya memilih salah satu kutub ekstrim? Lalu, sebenarnya seberapa “moderat” kah pihak yang dianggap moderat tersebut?

Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang memihak. Selama manusia hidup dan bisa memilih, maka kita akan selalu punya kecenderungan memihak. Dalam hal kutub ekstrim kanan dan kiri seperti yang diceritakan tadi, manusia pun selalu memiliki kecenderungan memihak. Memang tidak semuanya ekstrim, tapi pasti ada yang lebih dominan walaupun hanya sebatas pemikiran atau cara pandang saja. Bila kita beranggapan bahwa manusia adalah makhluk merdeka sekalipun, saat sudah memilih maka manusia tetap akan punya keberpihakan. Hal ini adalah “diri” manusia itu sendiri.

Too-much-of-a-good-thing-Calcium-supplements-may-be-bad-for-heart-health_wrbm_large

Namun, muncul sebuah pandangan lain yang memperluas diskusi pagi ini. Manusia tidak harus memilih dirinya sendiri. Artinya, saat kecenderungan memihak kutub kanan atau kiri itu mulai menguat, posisi untuk berada di tengah pun tetap berpotensi kuat menjadi pilihan. Tentu saja, hal ini tidak serta-merta terjadi tanpa pengaruh apapun. Layaknya kutub aliran kanan atau kiri, latar belakang seperti pendidikan, pengalaman, pergaulan, atau hal lainnya juga mempengaruhi pilihan kaum demokrat untuk berada di tengah.

Setelah berpikir beberapa jam, akhirnya topik ini berada di sebuah kesimpulan. Kaum demokrat pun juga punya peluang berada dalam titik yang ekstrim. Posisi tersebut mungkin bisa dikatakan sebagai keengganan untuk terlibat lebih jauh dengan dua kutub ekstrim lainnya. Nah, pertanyaannya apakah kondisi ini adalah sesuatu yang baik? Tentu tidak. Dunia tidak butuh sesuatu yang sekedar baik atau jahat. Dunia dan kehidupan membutuhkan keseimbangan. Bahkan, terlalu banyak hal baik adalah perihal yang buruk (Too much a good thing is a bad thing).

Just thinking of it!

Phosphone I mind I 2018

e8c4308d7cdc9196df0a6f740b7f17cf

Movie Review: BLACK PANTHER, Pemanjaan Mata, Cerita Bermakna, dan Emansipasi Wanita.

Kalo ada pertanyaan film apa yang paling gw tunggu di 2018 ini, jawabannya adalah Black Panther. Satu film superhero Marvel Universe yang baru saja dirilis di Indonesia bertepatan dengan Hari Valentine, 14 Februari yang lalu. Satu hal yang jadi alasan gw nunggu banget film ini adalah nuansa baru dari Superhero khas Marvel yang biasanya didominasi latar belakang Eropa atau Amerika. Black Panther mengangkat kisah yang terjadi di benua Afrika yang tentunya juga akan didominasi oleh karakter dengan budaya benua Afrika juga. Buat gw, hal ini jadi satu alasan kuat untuk nungguin film Black Panther rilis dan tentu alasan tersebut juga diikuti dengan harapan besar dari berbagai macam aspek.

bp1_post_master

Akhirnya, 2 hari setelah rilis di Indonesia gw langsung nonton film ini. Layaknya film-film Marvel lainnya, premiere film Black Panther penuh banget. Bahkan, setelah gagal dapat tiket jam 16.30, di show 19.30 gw dapetnya bangku deretan paling depan. Hehehe, nggak masalah karena gw dapet tiket gratisan untuk nonton di Premiere. (Kalo bukan hadiah kuis, mana mungkin bisa)

Lanjut ke Black Panther, gw nggak akan bahas detil film-nya. Untuk masalah ini sebaiknya kalian tonton sendiri aja, biar gw nggak dihujat spoiler. Kali ini gw cuma mau menceritakan sedikit tentang kesan yang gw dapet setelah nonton film Superhero keluaran Marvel Studios ini. Jujur, setelah gw renungkan lagi, lebih banyak kesan positif yang terlintas di pikiran gw ketimbang hal negatif dari film ini.

Pertama, secara audio visual gw merasa sangat dimanjakan dengan keseluruhan kemasan film Black Panther. Sejak awal film sampai akhir (termasuk klip tambahan di akhir) film Black Panther dihiasi oleh aura khas Afrika yang menurut gw eksotis banget. Mulai dari kostum-kostum berwarna cerah khas Afrika, detil latar yang menunjukkan belantara Afrika, sampai irama-irama khas Afrika yang mistis dan memancarkan semangat. Semua hal ini sangat menyatu dan menghasilkan kemasan cantik yang cukup memanjakan secara audio visual.

Black-Panther-Golden-City-790x327

Kesan cantik benua permata hitam ini benar-benar dirangkai jadi kemasan yang unik di film Black Panther. Tradisi perang antar suku dan kisah awal mula peradaban manusia pun disinggung dalam beberapa scene yang ditampilkan. Wakanda, tempat asal T’Challa sang Black Panther pun diceritakan berada terpencil dan sangat rahasia di tengah rimbunnya hutan belantara benua Afrika. Flora dan fauna khas Afrika pun digambarkan begitu apik di seluruh bagian film, tentunya beserta alam Afrika yang indah seperti lembah, hutan, pegunungan, air terjun, bahkan momen matahari terbenam. Menurut gw, Black Panther benar-benar mengangkat Afrika beserta segala hal yang terkait di dalamnya.

Kedua, menurut gw yang jauh lebih menarik lagi adalah isi cerita yang berbobot dan penuh makna. Jadi, Wakanda ini kan satu wilayah di benua Afrika yang dapat anugerah satu mineral hebat yang namanya Vibranium. Nah, mineral inilah yang pada akhirnya jadi bahan dasar untuk Wakanda mengembangkan peradabannya bahkan jauh di atas bangsa mana pun di dunia ini. Seiring perkembangan dunia yang semakin anarkis dan sikap saling menghancurkan satu bangsa dengan bangsa lainnya, Wakanda pun memutuskan untuk mengisolasi diri dari pengaruh luar dengan merahasiakan peradaban majunya dengan bahan dasar mineral Vibranium.

Black-Panther-cast

Wakanda selalu dipimpin oleh seorang raja yang juga merupakan perwujudan dewa Bast (Macan Kumbang/Black Panther) pelindung bangsa ini. Ternyata, kekayaan serta majunya peradaban Wakanda adalah sebuah dilema besar bagi setiap Black Panther yang berkuasa di negara tersebut. Pada satu sisi, kehebatan Wakanda adalah potensi besar bangsa ini menolong bangsa lain di dunia yang mengalami penindasan atau kesusahan. Atas nama kemanusiaan, kekuatan Wakanda dapat menjadi “surga” bagi seluruh kekacauan di dunia. Namun, di sisi lain tingginya teknologi dan pesatnya peradaban Wakanda akan sangat terancam bila terekspose ke dunia luar. Selain itu, Wakanda juga tetap harus berjuang untuk fokus pada hal-hal baik, padahal dengan kekuatan yang dimiliki Wakanda mampu menguasai seluruh dunia.

Inilah dilema yang juga jadi akar permasalahan Wakan dari masa ke masa. Menurut gw, kisah bermakna ini cukup berbobot untuk dijadikan analogi kondisi peta kemajuan peradaban dunia saat ini. Ada satu sisi baik dimana negara-negara maju saat ini perlu membantu negara-negara lain yang mungkin kesusahan. Namun, di sisi lain majunya sebuah negara juga merupakan satu ancaman besar bagi keberadaan negara-negara yang tidak terlalu maju. Film ini tidak menghakimi mana yang baik dan buruk, tapi memberikan sebuah solusi bahwa kemajuan yang dimiliki sebuah bangsa dapat menjadi dasar kuat membantu bangsa lain yang berkekurangan. Namun, bersamaan dengan itu negara dalam kondisi seperti Wakanda tetap harus mempertahankan diri dari nafsu untuk menguasai bangsa-bangsa lainnya.

Hal terakhir yang jadi kesan gw terhadap film ini adalah emansipasi wanita yang terlihat cukup ditampilkan dalam setiap sisi cerita. Seperti kita ketahui, hampir seluruh bangsa di benua Afrika punya tradisi patriarkis yang cukup kental. Segala hal dalam kehidupan dikendalikan atau diputuskan oleh kaum pria. Namun dalam film Black Panther agak berbeda. Tanpa mengurangi makna “pria sebagai pemimpin”, Wakanda menempatkan wanita dalam posisi yang sangat penting, terhormat dengan peran yang cukup krusial.

BlackPanther-Women

Ibu T’Challa sang Black Panther jelas berperan sebagai ratu Wakanda yang sangat disanjung dan punya hak suara dalam pemerintahan layaknya Ratu. Selain itu, adik dari Black Panther yang bernama Shuri memegang penuh kendali teknologi di seluruh Wakanda. Shuri adalah ujung tombak pesatnya kemajuan teknologi Wakanda dibandingkan bangsa mana pun di dunia. Nakia, yang merupakan kekasih T’Challa juga bukan karakter yang biasa. Ia adalah seorang aktivis kemanusiaan, mata-mata, sekaligus wanita perkasa yang sangat berperan untuk mengembalikan tahta T’Challa setelah kalah dari Killmonger. Akhirnya, yang paling penting adalah para pasukan elite Wakanda yang berfungsi sebagai pengawal raja. Pasukan ini bernama Dora Milaje dan seluruhnya merupakan wanita-wanita petarung yang sangat loyal pada pemerintahan Wakanda.

Berbagai karakter wanita di film Black Panther menurut gw merupakan hal baru dalam Marvel Cinematic Universe yang didominasi oleh kaum adam. Memang ada superhero wanita semacam Black Widow dari Avenger atau Gamorra dalam Guardian of Galaxy, tapi sepengetahuan gw belum ada Superhero Marvel yang dikelilingi oleh karakter wanita hebat seperti Black Panther.

Secara keseluruhan, gw merasa film Black Panther seolah ingin mengangkat berbagai pihak yang dianggap minoritas dalam kehidupan. Ras kulit hitam, bangsa-bangsa di benua Afrika, dan para wanita adalah beberapa contoh yang kuat menjadi karakter inti dalam Black Panther. Hal ini baik sekaligus menarik mengingat superhero Marvel banyak didominasi oleh pria. Dari segi teknis, penyampaian cerita, dan visual effect yang ditampilkan, bagi gw sudah mendekati kata sempurna. Jujur nih, agak sulit bagi gw untuk menemukan kekurangan di film ini. Satu-satunya yang menurut gw jadi kekurangan adalah Black Panther tergabung dalam The Avengers, hehehe.

Khusus untuk yang belum nonton, selamat menikmati filmnya ya. (Poin 4,5 dari skala 5)

black-panther-2017-101010-1

phosphone I Movie review I Black Panther I 2018