
Suatu siang, gw duduk santai di sofa rumah gw. Gw biarkan pikiran ini melayang dengan liar dan tanpa batas. Gw memang sedang membiasakan diri untuk berpikir luas tanpa batasan ide tertentu, sekalipun nggak bisa dipungkiri bahwa gw masih terikat dengan banyak hal yang membatasi setiap pemikiran. Saat itu gw benar-benar dalam kondisi fisik santai sambil ditemani tiupan angin yang sejuk semilir.
Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di alam sadar. Gw terpikir tentang sebuah tempat yang memang dibangun untuk tujuan berpikir, diskusi, mengembangkan ide, tapi semua dilakukan dalam keadaan santai tanpa tekanan apapun. Inti tempat ini adalah ide dan pemikiran manusia adalah “nyawa”-nya dengan konsep santai yang jadi daya tarik utamanya. Entah apa yang jadi pemicu pikiran gw ini, tapi gw merasa perlu menuliskannya dalam bentuk artikel.

Pertama, yang jadi inti tempat ini adalah IDE. Kreatifitas, daya telaah, kematangan berpikir, kegilaan, ekstrimisme dalam otak, radikalisme, dan banyak konsep ide lainnya adalah makanan utama yang sebenarnya di tempat ini. Ide tak terbatas jadi sebuah kesepakatan awal bagi siapapun yang ingin bergabung atau menikmati tempat ini. Gw membayangkan bahwa siapapun yang datang berhak atas segala ide yang ada di kepalanya tanpa perlu takut disebut pemberontak, penjahat, mesum, atau hal-hal negatif lainnya. Gw ingin tempat ini jadi sebuah rumah bagi milyaran ide dari manusia-manusia yang lahir dengan bermacam latar belakang. Semua orang yang datang bisa berbicara tentang berbagai macam topik seperti politik, ekonomi, lingkungan, teknologi, masa depan, astronomi, seni, seks, bahkan pikiran kotor, jahat, maupun pemberontakan.
Namun, yang perlu diingat tentang tempat ini adalah akomodasi sebatas IDE dan bukan tentang bagaimana menerapkan atau mewujudkannya. Selama masih punya format ide, semua orang berhak mengutarakannya, mendiskusikannya, bahkan memperdebatkannya. Gw ingin pemikiran liar manusia benar-benar diperas di tempat ini tanpa manusia harus meninggalkan statusnya sebagai makhluk beradab. Artinya, perkataan keras, ide ekstrem, pertentangan, bahkan debat kusir diijinkan untuk dapat terjadi selama masih dalam kerangka ide yang menjadi topik dan tidak ada kontak fisik yang terjadi.
Selanjutnya, gw ingin semua orang yang datang ke tempat ini bebas untuk berekspresi dan mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Ingat, ini sebatas ide dan bukan penerapannya. Bila ide tersebut ingin ditindaklanjuti, orang tersebut dapat melakukannya di luar tempat ini dan tidak ada kaitannya dengan tempat ini. Gw menginisiasi tempat ini sebagai bank ide dan dapur ide dimana milyaran ide diutarakan, diolah, dikembangkan, bahkan dihancurkan. Setiap orang berhak untuk membuka forum tentang ide yang ia miliki, mempromosikan idenya untuk menarik orang lain mendiskusikannya, berdebat dengan mereka yang tidak sependapat, atau dapat juga sekedar duduk santai sambil mencari inspirasi dari setiap ide yang ada.
Memang yang menjadi kelemahan adalah tidak mungkinnya tempat ini memperkirakan efek lanjutan yang akan terjadi dari ide yang muncul pasca keluar dari tempat ini. Dampak negatif sangat mungkin muncul dan terjadi di kehidupan luar tempat ini, bahkan kekacauan juga sangat mungkin timbul di tengah masyarakat yang belum dewasa menerima berbagai macam ide (terutama yang ekstrem). Namun, bukankah hal ini adalah sebuah konsekuensi dari satu peradaban yang menjunjung tinggi asas persamaan kedudukan sesama anggota masyarakat?

Dasar pemikiran gw tentang tempat ini hanyalah keanekaragaman ide manusia yang memang terlahir dalam situasi dan kondisi yang beranekaragam. Gw ingin, siapapun dapat menyampaikan idenya tanpa harus takut dicemooh. Soal mana ide yang akan diterima atau ditentang, itu tergantung kualitas dari ide dan cara penyampaian orang itu sendiri. Ide yang menarik, masuk akal, dan memberi nilai positif pada kehidupan tentu akan lebih disukai daripada yang sifatnya destruktif dan terlalu fiktif. Itulah sebabnya, gw membolehkan adanya perdebatan terjadi dalam tempat ini. Ide yang kurang baik dapat di-counter dengan ide lain yang mungkin lebih baik. Sebaliknya, ide yang sudah baik dapat semakin dimatangkan dengan berbagai masukan dan kritik yang dibenturkan. Gw ingin tempat ini jadi semacam dapur, sekolah, pabrik, dan thinktank untuk berbagai ide manusia yang liar dan tak berbatas.
Di tempat yang gw khayalkan ini, semua orang bisa berpikir semau mereka. Ingat, berpikir lho, bukan berbuat! Kalau soal perbuatan yang didasari pemikiran di tempat ini mah silahkan dilakukan di luar dan tempat ini nggak punya tanggung jawab soal itu. Prinsip tempat ini hanya menjadi fasilitas berpikir tanpa batas bagi semua manusia di dunia. Kalau ada yang tanya soal batasan berpikirnya, gw akan jawab kontak fisik. Tidak ada kontak fisik ekstrem yang diijinkan terjadi di tempat ini, contohnya berkelahi, mencelakakan sesama pengunjung, atau berbuat mesum di tempat ini.
Nah, daya pikir yang mendalam tentu membutuhkan pendukung situasi yang mumpuni. Suasana jadi satu faktor yang penting dalam membangun mood berpikir dan menyampaikan ide-ide brilian dari pikiran manusia yang luar biasa. Untuk itu, gw berpikir tentang tampat yang cozy, santai, tapi juga inspiratif dan punya banyak hal menarik. Pokoknya, tempat ini harus nyaman untuk berpikir dengan berbagai spot menarik yang mendukung ide-ide muncul atau dimatangkan.
Dalam khayalan gw, tempat ini akan bertemakan industrialis dengan beberapa tema berbeda di setiap spotnya. Misalnya, ada yang temanya MAIN, isinya berbagai permainan mulai dari Board Game, mainan tradisional, sampai game machine kayak Playstation atau Xbox. Tema lainnya bisa perpustakaan, dimana buku jadi menu utama dengan berbagai topik yang ditulis, mulai dari komik, pengetahuan umum, sampai ideologi politik macam komunis atau kapitalis. Selain itu, ada area kuliner yang santai banget untuk dijadiin tempat berpikir atau diskusi.
Makanan pun beragam mulai dari tradisional sampai Internasional, tapi uniknya semua hidangan prasmanan dan setiap pengunjung boleh meracik makan sesuai idenya masing-masing. Misalnya, sambel pecel bisa dipadukan dengan steak, susu bisa dicampur berbagai minuman alkohol, atau mie goreng instan bisa dimasak sendiri untuk jadi burger atau makanan unik lainnya. Hal menarik lain yang nggak kalah pentingnya adalah tersedianya area untuk istirahat atau tidur. Jadi, di sini setiap pengunjung bisa tidur guna mengembangkan ide yang ada di kepalanya karena ada beberapa orang harus tidur dulu baru pikirannya terbuka luas. Hehehehe.
Satu hal yang jadi keunikan tempat ini adalah satu spot yang dapat dijadikan tempat setiap ide pengunjung dipromosikan. Jadi, misalnya ada seseorang yang punya ide membangun tempat aneh semacem yang gw tulis ini, dia bisa mempromosikan idenya dengan berbagai cara kreatif. Nah, asiknya, di area ini juga disediakan tempat diskusi dan beberapa konsultan ide sehingga mereka yang kebingungan ngembangin ide atau mempromosikannya bisa ngobrol-ngobrol dulu sama para konsultan atau pengunjung lain yang bebas ngasih masukan atau kritik.

Terakhir, hal penting yang muncul di pikiran gw adalah tentang siapa yang menjadi target tempat ini. Yang jelas, gw belum membatasi siapapun untuk berkunjung ke tempat ini. Siapapun boleh, umur berapapun boleh, tidak ada batasan suku, agama, ras, atau golongan ekonomi. Masalah batasan boleh atau tidak gw kembalikan ke orang-orang yang mau berkunjung, andai ada orang tua yang mau ajak anak SMP-nya ke diskusi soal sex boleh-boleh aja, atau kalau ada manusia dengan ideologi komunis mau berorasi silahkan saja, tidak ada batasan dalam hal ini. Selama tidak ada kontak fisik yang sebelumnya gw jelaskan, semua sah-sah aja untuk dilakukan. Oh iya, terkait biaya yang harus dikeluarkan oleh para pengunjung tempat ini, gw masih berpikir untuk serelanya aja. Tapi, gw dengan terus terang akan menyampaikan setiap biaya yang dikeluarkan dalam mengembangkan tempat ini. Tujuannya, supaya setiap orang bisa estimasi hal apa yang mereka dapatkan dari tempat ini dan timbal baliknya bagi tempat ini.
Memang, artikel yang gw tulis ini sifatnya masih ide dan belum tentu dapat terwujud semuanya. Bahkan, nama tempat ini aja belum terpikir. Gw sendiri belum dapat memastikan kesulitan dan detil yang harus gw hadapi saat membangun tempat ini nantinya. Ya, layaknya manusia yang selalu berkembang dan berubah, tempat ini pun akan gw arahkan demikian. Bukan gw yang akan membentuk masa depan ide tempat ini, tapi manusia-manusia yang nanti mondar-mandir di dalamnya. Kira-kira hal ini yang terlintas di pikiran gw pada siang bolong itu. Semoga bisa menginspirasi dan artikel ini sangat terbuka untuk menerima saran maupun kritikan.
Terima kasih wahai sesama manusia. 🙂
